Pelukan dan ciuman mewarnai percintaan Norbert dan Inggrid yang menggelora. Peluh menghias tubuh keduanya. Desahan demi desahan keluar dari bibir Inggrid. Belaian jemari Norbert di sekujur tubuh Inggrid membuat wanita itu seperti hilang kendali. Untunglah tak ada siapa pun yang berkeliaran di kediaman Norbert malam ini. Ada paviliun tersendiri yang terletak di samping bangunan utama yang dikhususkan untuk para pembantu di rumah Norbert. Ketika pekerjaan mereka sudah selesai, mereka lebih suka berada di paviliun untuk beristirahat.
Malam ini di rumah Norbert hanya ada Norbert dan Inggrid. Mereka bebas berbuat apa saja, termasuk bercintα di sofa ruang tengah. Sebagai buktinya, pakaian Norbert dan Inggrid sudah terlepas dari tubuh masing-masing. Mereka asyik bergumul dan memagut bibir masing-masing, tak peduli andai ada gempa yang mengguncang rumah Norbert.
“Oh, Norbert…”
Inggrid berkali-kali menyebut nama suaminya saat dia mencapai klimaks. Napasnya yang berembus cepat perlahan mengendur. Dia semakin erat memeluk Norbert, yang juga telah mencapai klimaks. Mereka kini berpelukan erat, meski tentu saja Norbert tak terlalu terhanyut dengan hal itu. Baginya ini seperti kewajiban saja, karena dia adalah suami Inggrid.
Setelah percintaan mereka di sofa, Norbert dan Inggrid kini bergelung di balik selimut kamar tidur mereka yang berukuran besar. Dengung AC mendesis samar. Detik jam berdetak seirama denyut jantung keduanya. Apabila dilihat sekilas, Norbert dan Inggrid seperti pasangan yang tengah berbahagia. Sayangnya, tak seorang pun tahu apa yang ada dalam pikiran Norbert. Meski dia memeluk erat Inggrid, tapi pikirannya berada di tempat lain. Lebih tepatnya dia masih memikirkan rencana untuk balas dendam pada Inggrid.
“Jadi, apa kau masih ingin beristirahat dari rutinitas pekerjaan? Masih ingin berlibur?” tanya Inggrid tiba-tiba, sedikit mengagetkan Norbert.
“Sepertinya begitu. Kau tidak keberatan, kan?” Norbert memastikan.
“Tentu saja tidak.” Inggrid menatap Norbert penuh kasih. Dia tersenyum manis. “Aku akan menantimu pulang nanti. Hmm… kupikir kau memang harus istirahat sejenak. Kau terlalu giat bekerja, Norbert. Biarlah anak buahmu yang mengurus pekerjaan. Lagipula kau kan bosnya. Seharusnya kau agak santai sedikit.”
“Karena aku bosnya, jadi tanggung jawabku lebih besar.” Norbert ingin memberi tahu apa-apa saja tanggung jawabnya, tapi dia urung melakukannya. Inggrid tak akan pernah memahami hal itu sepenuhnya.
“Aku tahu. Tapi tetap saja…” Inggrid mengeratkan pelukannya pada tubuh Norbert, seperti enggan jauh-jauh dari laki-laki itu. Sikapnya seolah menyiratkan kehangatan tubuh Norbert tak cukup baginya.
Norbert tak bereaksi apa-apa. Dibiarkannya saja Inggrid melakukan apa yang dia mau. “Jangan khawatir. Aku tahu kemampuanku sendiri. Karena itu, aku ingin rehat sejenak dari rutinitas pekerjaanku supaya pikiranku jadi segar lagi.”
“Di mana tepatnya kau ingin berlibur?”
Norbert mengelus dagunya. “Mungkin di vila yang kubangun setahun lalu. Vila itu letaknya di pinggir kota. Tempatnya masih tergolong asri dan banyak pohon. Setelah vila itu dibangun, aku belum pernah mengunjunginya sama sekali.”
“Sama sekali?”
“Ya. Aku cukup sibuk dan sering keluar negeri. Tenang saja, ada beberapa orang yang kutugaskan mengurus vila itu, jadi vila itu tidak terlantar begitu saja. Mereka mengurus vila itu dengan baik. Secara berkala aku menerima laporan siapa saja yang menginap di sana, juga laporan keuangannya.”
“Hmm… aku jadi penasaran dengan vila itu. Aku jadi ingin pergi ke sana juga.”
“Kau harus latihan,” sanggah Norbert cepat. Dia tak mau Inggrid mendadαk ikut dengannya ke vila. Itu bukan sesuatu yang dia rencanakan.
“Aku tahu. Aku tak mungkin mangkir dari latihan…” Inggrid mendesah. “Resital ini akan jadi pagelaran yang spektakuler. Aku ingin kau meluangkan waktu untuk menontonku.”
“Aku pasti datang. Jangan khawatir.”
“Terima kasih, Norbert.” Inggrid tersenyum manis.
Norbert diam saja. Tentu saja dia harus meluangkan waktu demi menonton resital piano Inggrid. Dia tak mau media sampai mengendus ketidakharmonisan pernikahannya. Lagipula dia sedang berperan sebagai suami ideal sekarang. Sampai waktunya tiba, dia akan mempertahankan topengnya ini, sampai rencananya selesai dilaksanakan.
Tiba-tiba saja, ponsel Norbert berbunyi. Ponsel itu diletakkan di nakas di samping tempat tidur. Norbert dan Inggrid seketika menoleh. Sayangnya, dering telepon itu tak lekas berhenti, membuat wajah Inggrid berubah masam.
“Siapa yang menelepon?” tanya Inggrid ingin tahu. Dia tak suka ada yang menginterupsi waktunya bersama Norbert.
“Sebentar.” Norbert beringsut menjauh dari Inggrid dan meraih ponselnya. Nama Farah Hasmi tertera di layar ponsel. Norbert memandang layar ponselnya lama, tapi tak juga mengangkatnya.
“Siapa, Norbert?” Nada suara Inggrid sedikit meninggi.
“Dia kolegaku. Sepertinya ada hal penting yang terjadi.”
“Haruskah semalam ini? Ini hampir pukul sebelas!” Suara Inggrid terdengar ketus. Dia menyilangkan tangan di depan dadα sebagai bentuk protes atas gangguan yang dia terima.
Norbert mengernyitkan kening melihat reaksi Inggrid yang tak disangka-sangka. “Pasti ada hal serius yang terjadi. Aku pergi sebentar.” Akhirnya, Norbert berpakaian sejenak, meraih ponsel, lalu pergi keluar kamar. Dia tak mau Inggrid mendengar pembicaraannya dengan Farah.
Begitu tak ada siapa pun di sekelilingnya, Norbert pun mengangkat telepon Farah. “Ada apa?” sapa Norbert lugas. “Apa ada masalah? Kenapa kau menelepon selarut ini?”
Samar-samar terdengar dentum musik di ujung sana. Suara musiknya begitu menggelegar. Norbert tak tahu pasti. Tapi, sepertinya Farah sedang berada di tempat yang ingar bingar. Buktinya suara musiknya sampai terdengar sekeras ini.
“Kau di mana?” tanya Norbert lagi begitu dirasanya Farah tak menjawab pertanyaannya.
“Aku sedang berada di diskotek. Maukah kau menjemputku, Norbert? Kepalaku pusing. Sepertinya aku tak bisa menyetir sendiri.”
“Ini sudah jam sebelas malam.”
“Jadi, tidak mau?” Farah sedikit merengek. “Aku minum banyak sekali tadi.”
“Kenapa kau minum sebanyak itu kalau tahu harus menyetir? Kau bisa naik taksi tadi.”
“Ah, cerewet sekali kau, Norbert. Kau kan bukan ibuku. Kenapa menceramahiku terus? Atau kau butuh alasan untuk datang ke sini?” Farah mendengus. “Yah, yah, baiklah. Aku akan cerita selengkapnya. Apa kau punya waktu untuk mendengarkan? Istrimu tidak marah kan kalau kau datang menemuiku sekarang?”
“Kenapa kau terus-terusan bertanya tentang istriku?”
Farah terkekeh. “Hanya formalitas saja. Kau kan bukan lajang lagi. Kecuali kalau kau belum menikah, aku pasti akan memaksamu datang, tak peduli kondisimu seperti apa... hmmphh…”
“Farah, kau tidak apa-apa?” Samar-samar Norbert mendengar suara muntahan. Alis Norbert berkerut dalam. Sepertinya gara-gara kebanyakan minum, Farah sampai mabuk dan muntah-muntah. Pasti kondisinya parah sekali sekarang.
“Oh, Norbert, aku seperti mau mati. Kepalaku makin pusing saja. Tubuhku pun lemas. Aku juga baru saja muntah. Bisakah kau menjemputku sekarang? Kumohon?” pinta Farah dengan nada lemas.
Norbert berdecak. Dia paling tak tega mendengar suara Farah yang terdengar begitu menderita. “Baiklah, baiklah. Tunggu aku di sana. Sekarang, beri tahu aku kau ada di mana?”
-to be continue-