Jam sembilan malam, Reza berdiri di depan pintu unit 0905 dengan tubuh yang remuk setelah seharian bekerja, hati yang berdebar, dan sebuah kotak kecil di tangannya yang sudah agak penyok karena dia bawa naik motor dengan terlalu hati-hati.
Di dalam kotak itu, sebuah tiramisu—bukan dari kafe mahal, melainkan dari toko kue rumahan dekat kosnya yang dia tahu rasanya lumayan dan harganya terjangkau. Dia sudah mengeluarkan separuh isi toples receh untuk membelinya, dan entah kenapa, itu terasa pantas.
Dia mengetuk. Tiga kali, pelan.
Hening. Lalu suara langkah kaki dari dalam, dan pintu terbuka separuh. Sasa berdiri di sana, masih dengan kaus rumahnya, matanya sedikit bengkak seperti habis menangis atau habis begadang, atau keduanya. Ekspresinya datar, pertahanan macan yang dipasang kembali.
"Ngapain ke sini malem-malem," kata Sasa, suaranya berusaha dingin. "Kamu kan capek. Nggak bisa janji apa-apa, katanya."
Reza menahan diri untuk tidak langsung membela diri. Dia tahu, dari pengalaman jadi anak kos yang banyak salah, bahwa membela diri di saat seperti ini hanya menyiram bensin.
"Aku minta maaf, Sas," katanya, tulus, lelah, tanpa pertahanan. "Aku salah ngomong semalem. Aku ngetik asal-asalan karena udah setengah tidur, dan kata-katanya nyakitin kamu. Itu salah aku. Sepenuhnya."
Sasa tidak menjawab, tapi tidak juga menutup pintu.
"Aku tahu kamu bukan beban," lanjut Reza. "Kamu nggak pernah jadi beban. Yang berat itu paketnya, bukan kamu. Kamu itu satu-satunya alasan aku masih bisa senyum di tengah musim gila ini." Dia mengangkat kotak penyok itu. "Aku bawa ini. Tiramisu. Bukan yang mahal, maaf. Tapi aku inget kamu suka tiramisu dari donat pertama yang aku bawa dulu. Aku inget hal-hal kecil tentang kamu, Sas. Selelah apa pun aku, aku selalu inget."
Sasa menatap kotak itu, lalu menatap Reza, dan pertahanan di matanya mulai retak. "Kamu... ngabisin receh buat ini, ya?"
"Setengah toples." Reza nyengir lelah. "Pasal lima. Dana darurat. Ini darurat, kan? Hubungan kita lagi darurat."
Dan itu—entah kenapa—adalah kalimat yang menjebol bendungan. Sasa menutup wajahnya dengan satu tangan, bahunya bergetar, dan saat dia menurunkan tangannya, matanya basah tapi bibirnya tersenyum. "Kamu ini bodoh banget, Rez."
"Aku tahu." Reza melangkah maju selangkah. "Boleh masuk? Aku capek, tapi aku lebih nggak tahan kalau kita masih berantem."
Sasa membuka pintu lebar, dan Reza masuk. Mereka duduk di lantai, di tempat yang sama mereka menyusun pasal-pasal hemat dulu, dengan tiramisu di antara mereka dan dua sendok. Cimol datang mengendus, lalu duduk di antara mereka seperti mediator berbulu.
"Aku takut, Rez," kata Sasa pelan, mengaduk-aduk tiramisu tanpa benar-benar memakannya. "Tiap kamu nggak ada kabar, tiap janji batal, aku langsung mikir—oh, mulai lagi. Mulai diabaikan lagi. Kayak dulu. Otakku langsung lari ke situ, padahal aku tahu kamu beda. Tapi luka lama itu... susah hilang."
Reza meletakkan sendoknya. "Dan aku takut nggak cukup, Sas. Aku kerja keras tapi tetap pas-pasan. Aku takut suatu hari kamu sadar kamu pantes dapet yang lebih dari kurir yang gajinya cuma cukup buat tiramisu rumahan." Dia menarik napas. "Jadi pas kamu marah, aku langsung defensif, karena aku ngira kamu mulai nyesel."
Mereka berdua terdiam, menyadari bahwa pertengkaran itu sama sekali bukan soal janji yang batal. Itu soal dua ketakutan lama yang kebetulan bertabrakan di malam yang lelah.
"Janji satu hal," kata Sasa akhirnya, menyodorkan sesendok tiramisu ke arah Reza. "Kalau kamu capek, bilang capek. Jangan bilang 'nggak bisa janji apa-apa.' Itu beda banget, Rez. Yang satu jujur, yang satu kayak nyerah."
"Janji." Reza menerima sendok itu. "Dan kamu janji satu hal juga. Kalau kamu takut diabaikan, bilang. Jangan dibungkus 'santai aja.' Aku ini kurir, Sas, aku nggak bisa baca kode. Aku cuma bisa baca alamat, dan itu pun kadang salah."
Sasa tertawa, tawa yang basah dan lega sekaligus, dan untuk pertama kalinya sejak musim ramai dimulai, ketegangan di dada Reza benar-benar mencair. Mereka menghabiskan tiramisu rumahan itu berdua, sendok bergantian, di lantai apartemen kecil dengan Cimol di tengah, dan Reza menyadari bahwa baikan yang sejati bukan soal siapa yang menang—melainkan soal dua orang yang akhirnya berani jujur soal hal-hal yang paling mereka takutkan.