Musim ramai akhirnya mereda, meninggalkan Reza dengan punggung yang lebih kuat, dompet yang sedikit lebih tebal dari biasanya, dan satu malam libur yang akhirnya bisa dia habiskan dengan tenang bersama Sasa.
Mereka duduk di atap apartemen—bukan rooftop mewah, hanya area servis di lantai paling atas yang biasanya kosong, tempat Pak Karyo mengizinkan penghuni naik kalau sopan—dengan dua gelas kopi sachet dan sepiring pisang goreng yang dibeli dari gerobak depan lobi. Kota terbentang di bawah mereka, ribuan lampu kecil seperti paket-paket yang menunggu diantar.
"Rez," kata Sasa, memeluk lututnya sambil menatap lampu kota. "Kamu pernah mikir nggak, mau jadi apa nanti? Selain kurir, maksudku."
Reza terdiam. Pertanyaan itu, anehnya, jarang ada yang menanyakannya. Orang biasanya menganggap kurir hanya kurir, titik, tanpa masa depan, tanpa mimpi. Bahkan kadang Reza sendiri lupa bahwa dia boleh punya mimpi.
"Pernah," jawabnya pelan, menggenggam gelas kopinya. "Tapi aku jarang ngomongin. Takut keliatan muluk. Anak kos yang gajinya tipis ngomongin mimpi gede, kan kedengeran kayak lelucon."
"Coba ceritain." Sasa menoleh, matanya serius. "Aku nggak akan ketawa."
Reza menatap kota di bawah, dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, dia membiarkan dirinya bermimpi dengan suara keras. "Aku pengen punya usaha sendiri, Sas. Kecil aja. Nggak usah jadi konglomerat. Cuma... sesuatu yang punyaku sendiri. Yang nggak bisa diambil orang. Yang kalau aku kerja keras, hasilnya buat aku, bukan buat numpuk bonus orang lain." Dia tersenyum tipis, malu. "Aku tiap hari nganterin barang punya orang lain, ke rumah orang lain, buat untung orang lain. Kadang aku mikir—kapan ya aku ngantarin barang yang punyaku sendiri?"
Sasa tidak tertawa. Dia menatap Reza dengan ekspresi yang membuat Reza merasa, untuk pertama kalinya, mimpinya tidak konyol.
"Itu bukan mimpi muluk, Rez," kata Sasa. "Itu mimpi yang masuk akal. Kamu udah punya skill-nya. Kamu ngerti logistik, ngerti antar barang, ngerti pelanggan, ngerti kota ini sampai ke gang-gang sempitnya. Kamu cuma belum punya wadahnya."
"Tapi modal, Sas. Usaha butuh modal. Aku nggak punya."
"Modal itu bisa dicari. Yang nggak bisa dicari itu otak yang ngerti caranya, sama tangan yang mau kerja keras. Dua-duanya kamu udah punya." Sasa menggigit pisang goreng. "Bagas punya modal segunung, tapi nggak punya dua hal itu. Makanya dia cuma bisa boros, nggak bisa bikin apa-apa."
Reza menatapnya, dan sesuatu yang lama tertidur di dalam dirinya mulai menggeliat bangun. "Kamu beneran mikir aku bisa?"
"Aku nggak mikir kamu bisa. Aku tahu kamu bisa." Sasa meletakkan pisang gorengnya, lalu menatap Reza lurus. "Tapi kamu harus berhenti mikir kamu cuma 'anak kos yang gajinya tipis.' Itu cuma kondisi sekarang, bukan harga diri kamu. Mimpi kamu boleh setebal apa pun, Rez, walaupun gaji kamu tipis. Justru orang-orang kayak kita yang mimpinya harus tebal—karena cuma mimpi itu yang bikin kita nggak nyerah."
Reza menyandar ke dinding, menatap langit yang berbintang samar tertutup polusi kota, dan merasakan sesuatu yang sudah lama hilang: harapan. Bukan harapan kosong, tapi harapan yang punya bentuk.
"Tahu nggak, Sas," katanya pelan. "Selama ini aku cuma mikirin gimana caranya bertahan hidup. Bayar kos, makan, nyisihin dikit. Bertahan, bertahan, bertahan. Aku lupa kalau hidup itu bukan cuma soal bertahan."
"Nah." Sasa tersenyum. "Itu yang aku maksud. Bertahan itu lantai. Mimpi itu langit-langit. Kamu nggak harus tinggal di lantai terus, Rez."
Mereka duduk dalam diam yang nyaman, menatap kota yang berkelap-kelip. Reza memikirkan setiap paket yang pernah dia antar, setiap pintu yang pernah dia ketuk, setiap rute yang dia hafal di luar kepala. Selama ini dia menganggap semua itu hanya pekerjaan. Tapi malam itu, di atap, dengan kopi sachet di tangan dan Sasa di sampingnya yang percaya pada mimpinya bahkan sebelum dia sendiri berani, Reza mulai melihat semua pengalaman itu sebagai sesuatu yang lain.
Bukan beban. Tapi modal. Modal yang tidak ada di rekening mana pun, tapi ada di kepalanya, di tangannya, di setiap gang yang dia hafal.
"Sas," katanya, dan ada nada baru di suaranya—nada seseorang yang baru saja menemukan ujung benang yang bisa ditarik. "Aku rasa aku punya ide. Tapi aku butuh kamu buat mikirinnya bareng."
Sasa menoleh, matanya berbinar. "Aku dengerin."