Ide itu datang pada Reza tidak seperti petir di langit cerah, melainkan seperti potongan-potongan puzzle yang selama ini berserakan di sekitarnya dan tiba-tiba ada yang menyusunnya jadi gambar utuh.
"Coba dengerin," kata Reza, duduk tegak di atap, kopi sachetnya hampir tumpah karena tangannya mulai bergerak-gerak penuh semangat. "Tiap hari aku nganter paket ke Graha Asri, kan. Tower B doang ada ratusan unit. Dan kamu tahu apa yang aku perhatiin?"
"Apa?"
"Banyak penghuni yang males turun. Atau nggak sempat. Atau lansia kayak Bu Hartini yang susah jalan jauh." Reza menghitung dengan jari. "Mereka pengen beli galon air, tapi berat. Pengen beli gas, tapi nggak kuat angkat. Pengen nitip beli sayur di pasar tapi nggak ada waktu. Pengen jemput paket di lobi tapi lagi rapat online. Semua orang butuh sesuatu diantar atau dititip, tapi nggak ada yang ngelayanin khusus buat satu apartemen ini."
Sasa mengerutkan kening, mulai menangkap arah pembicaraan. "Maksud kamu... jasa titip dan antar? Khusus penghuni Graha Asri?"
"Persis!" Reza nyaris berdiri saking semangatnya. "Jasa titip dan antar hemat. Buat warga sini. Galon, gas, belanja harian, jemput paket dari lobi ke unit, beli makan, apa aja. Mereka tinggal chat, kita yang urus. Tarifnya murah, karena jaraknya deket, semua di satu tower. Untungnya tipis per transaksi, tapi kalau banyak yang pakai—"
"—jadi tebal," sambung Sasa, matanya mulai berbinar. "Prinsip paket hemat. Untung kecil dikali banyak."
"Dan yang paling penting," Reza menatap Sasa, "ini bukan modal besar. Aku nggak butuh toko, nggak butuh gudang, nggak butuh karyawan dulu. Aku udah punya motor. Aku udah hafal seluruh tower ini. Aku udah kenal Pak Karyo, kenal sebagian penghuni. Modalnya cuma tenaga, waktu, sama—" dia menelan ludah, "—keberanian."
Sasa terdiam, menatap Reza dengan ekspresi yang sulit dibaca. Lalu dia mengeluarkan ponselnya dan mulai mengetik cepat.
"Lagi ngapain?" tanya Reza.
"Ngitung." Sasa menunjukkan layarnya. "Misalnya, anter galon dari minimarket lobi ke unit, tarif dua ribu. Sehari kalau ada lima puluh penghuni yang pakai jasa apa pun, dengan rata-rata tarif tiga ribu... itu seratus lima puluh ribu sehari. Sebulan empat juta lebih, Rez. Itu di luar gaji kurir kamu."
Reza menatap angka itu dengan mata membesar. "Empat juta? Cuma dari titip-titip galon?"
"Itu kalau lima puluh transaksi. Bisa lebih, bisa kurang. Tapi intinya—" Sasa meletakkan ponselnya, dan ada api di matanya yang Reza belum pernah lihat sebelumnya, "—ini masuk akal, Rez. Ini bukan mimpi muluk. Ini bisa beneran jalan."
"Tapi gimana caranya warga tahu? Aku nggak bisa ngetok satu-satu pintu nawarin jasa kayak sales."
Sasa tersenyum, senyum yang penuh rencana. "Itu bagianku. Aku desainer grafis, Rez. Inget? Aku bikin brosur. Bikin poster digital. Bikin grup. Aku tahu cara bikin sesuatu kelihatan menarik dan dipercaya. Kamu yang antar, aku yang promosi. Kita berdua—" dia menunjuk Reza lalu dirinya sendiri, "—satu tim."
Reza menatap Sasa, dan tiba-tiba seluruh ide itu terasa berbeda. Bukan lagi sekadar khayalan satu anak kos di atap apartemen. Ini rencana nyata, dengan dua kepala, dua keahlian yang saling melengkapi—dia yang mengerti jalanan dan beban, Sasa yang mengerti desain dan cara meyakinkan orang.
"Kamu serius mau ikutan?" tanya Reza pelan. "Ini bukan kerjaan kamu. Kamu udah punya desain lepas—"
"Aku mau ikutan karena ini ide bagus, dan karena ini kamu." Sasa menatapnya lurus. "Aku capek liat orang berbakat kayak kamu cuma dianggep tukang antar. Kamu lebih dari itu, Rez. Dan aku mau bantu kamu nunjukin itu. Ke dunia, dan ke diri kamu sendiri."
Reza menelan sesuatu yang menyesak di tenggorokannya. Dia menatap kota di bawah, lalu menatap Sasa, lalu menatap tangannya sendiri—tangan yang setiap hari mengangkat beban milik orang lain.
"Kita kasih nama apa?" tanyanya akhirnya.
Sasa berpikir sejenak, lalu tersenyum. "Sesuatu yang nyambung sama kita. Yang membumi. Yang ngerti rasanya hidup hemat."
Reza menatap kopi sachetnya, lalu menatap lampu-lampu kota yang seperti ribuan paket menunggu, dan tiba-tiba nama itu muncul begitu saja, sederhana dan pas, seperti kunci yang masuk ke gembok yang tepat.
"Titip Hemat," katanya pelan. "Atau—Paket Hemat. Antar apa aja, hemat aja."
Sasa mengulang nama itu di mulutnya, lalu mengangguk, matanya berkaca-kaca entah karena angin malam atau karena sesuatu yang lebih besar. "Bagus. Itu kita banget."
Dan di atap apartemen murah itu, di antara kopi sachet dan pisang goreng dingin, dua orang yang hidupnya pas-pasan baru saja menanam benih sesuatu yang—mereka belum tahu—akan tumbuh jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.