Setiap mimpi, sebesar apa pun, pada akhirnya harus berhadapan dengan pertanyaan paling membumi di dunia: modalnya dari mana?
Maka pada malam itu, di lantai apartemen unit 0905, Reza dan Sasa duduk berhadapan dengan toples kaca bekas selai itu di tengah—toples dana darurat receh yang sudah beberapa bulan mereka isi dengan kembalian dan koin—lengkap dengan buku catatan, kalkulator di ponsel, dan tekad nekat dua orang yang memutuskan untuk memulai sesuatu tanpa menunggu kaya dulu.
"Oke," kata Sasa, menuang isi toples ke lantai dengan suara gemerincing yang dramatis. "Modal awal Paket Hemat. Mari kita hitung kekayaan kerajaan kita."
Tumpukan koin dan lembaran lecek itu berserakan di lantai. Receh lima ratusan, seribuan, dua ribuan, beberapa lembar lima ribu yang sudah kucel, dan satu lembar sepuluh ribu yang entah bagaimana nyasar ke toples.
"Aku nggak nyangka segini banyak," kata Reza, mulai memilah koin berdasarkan nilainya seperti seorang akuntan kerajaan kecil. "Padahal cuma receh."
"Itu pasal empat, Rez. 'Jangan remehin receh, receh itu numpuk.'" Sasa mulai menyusun koin lima ratusan jadi tumpukan-tumpukan kecil sepuluhan. "Bagas dulu ngetawain ini. Sekarang receh yang dia tertawakan ini jadi modal usaha. Kalau dia tahu, dia pasti kejang."
Mereka menghitung sampai larut malam, dan proses menghitung itu sendiri jadi komedi tersendiri. Cimol, yang merasa koin-koin berkilau itu adalah mainan baru, beberapa kali menerjang tumpukan yang sudah susah payah mereka susun, mengirim koin berhamburan ke kolong sofa.
"CIMOL!" jerit Sasa, sementara Reza tertawa terbahak sambil merangkak mengejar koin lima ratusan yang menggelinding di bawah lemari.
"Dia ngambil pajak, Sas," kata Reza, mengeluarkan koin dari kolong sambil meniup debu di kepalanya. "Tiap kerajaan ada pemungut pajaknya."
Setelah satu jam, beberapa terjangan Cimol, dan dua kali penghitungan ulang karena lupa di angka berapa, mereka akhirnya mendapat hasil akhir. Sasa menuliskannya di buku catatan dengan khidmat, lalu mengangkatnya untuk dilihat Reza.
"Tiga ratus delapan belas ribu lima ratus rupiah," bacanya. "Total kekayaan dana darurat receh kita."
Reza menatap angka itu. Tidak banyak. Tidak akan cukup untuk membuka toko atau menyewa gudang. Tapi anehnya, dia tidak merasa kecil. Dia merasa—kaya. Kaya dengan cara yang tidak bisa dijelaskan rekening bank.
"Cukup nggak?" tanya Sasa, menatapnya.
Reza berpikir, menghitung di kepala. "Buat awal? Cukup. Kita nggak butuh banyak. Tiga ratus ribu ini bisa buat—" dia menghitung dengan jari, "—beli bensin sebulan, beli kuota buat promosi, cetak brosur kalau perlu, sama dana cadangan kalau ada pelanggan yang minta ditalangin dulu belanjanya. Sisanya tenaga sama waktu, dan itu gratis."
"Modal nekat tiga ratus ribu," gumam Sasa, menatap tumpukan receh yang sudah rapi. "Orang pasti ketawa kalau tahu."
"Biar aja ketawa." Reza meraih segenggam koin, membiarkannya jatuh kembali ke toples satu per satu dengan suara gemerincing yang anehnya menenangkan. "Semua usaha besar mulainya dari kecil, Sas. Bedanya, kebanyakan orang nunggu modalnya gede dulu baru mulai. Akhirnya nggak mulai-mulai. Kita mulai dari yang ada. Tiga ratus ribu dan dua kepala."
Sasa menyandarkan kepala ke tumpukan bantal di belakangnya, menatap langit-langit apartemen yang dulu pernah bocor dan Reza perbaiki. "Tahu nggak yang lucu, Rez? Toples ini awalnya cuma buat hal-hal kecil. Cimol sakit, atap bocor. Sekarang malah jadi modal mimpi."
"Itu bukan kebetulan." Reza menutup toples, lalu meletakkannya kembali di tempat asalnya di rak. "Hal-hal kecil itu emang selalu jadi yang gede, Sas. Kita ketemu juga gara-gara hal kecil—aku salah baca satu angka. 1308 jadi 1208. Beda satu angka doang."
Sasa terdiam, lalu tersenyum, senyum yang lembut dan hangat di tengah malam yang sudah larut. "Beda satu angka yang ngubah hidup kita."
Reza duduk kembali di sampingnya, dan untuk beberapa saat mereka hanya menatap toples receh yang kini kembali kosong itu di rak—kosong karena isinya sudah berubah jadi sesuatu yang lebih besar: awal dari sebuah usaha, awal dari sebuah mimpi, awal dari sebuah masa depan yang mereka bangun sendiri, koin demi koin, paket demi paket.
"Mulai besok?" tanya Sasa pelan, hampir berbisik karena ngantuk.
"Mulai besok." Reza mengangguk, dan ada keyakinan baru di suaranya, keyakinan seseorang yang akhirnya berhenti hanya bertahan hidup dan mulai membangun sesuatu. "Aku antar paket pagi sampai sore kayak biasa. Habis itu, kita mulai Paket Hemat. Kurir siang, pengusaha malam."
Sasa tertawa kecil, matanya sudah hampir menutup. "Kurir siang, pengusaha malam. Capek banget kedengarannya."
"Capek." Reza tersenyum, menatap perempuan galak-tapi-hangat yang dulu membanting pintu di depan mukanya, yang sekarang jadi rekan, kekasih, dan partner mimpinya. "Tapi capek yang ada arahnya. Itu beda."
Di luar, kota terus berdenyut dengan ribuan lampunya. Dan di apartemen kecil lantai sembilan, dengan toples receh kosong di rak dan tiga ratus delapan belas ribu lima ratus rupiah yang sudah berubah jadi modal nekat, sebuah usaha kecil baru saja lahir—diam-diam, sederhana, dan penuh harapan.