Pagi itu Reza dan Sasa berdiri di koridor lantai tiga belas seperti dua orang yang akan mengikuti wawancara kerja paling penting dalam hidup mereka. Reza memegang sebuah buku catatan murah bersampul kotak-kotak, sementara Sasa menggenggam ponsel berisi daftar harga yang sudah mereka utak-atik sampai tengah malam.
"Yakin nggak apa-apa mulai dari Bu Hartini?" bisik Sasa, walau tidak ada siapa-siapa di koridor selain mereka dan seekor cicak yang menempel di dinding.
"Bu Hartini itu nenek paling baik di gedung ini," kata Reza. "Lagipula, dia yang paketnya dulu salah aku antar ke kamu. Rasanya pantas kalau dia jadi pelanggan pertama. Kayak nutup lingkaran."
Sasa mendengus geli. "Filosofis lagi kamu pagi-pagi."
"Kurir punya banyak waktu mikir di lampu merah, Sas. Kamu lupa."
Reza menekan bel. Dari dalam terdengar suara langkah kecil yang tergesa, lalu pintu terbuka. Bu Hartini, dengan rambut putih disanggul dan celemek bermotif daun, mengintip dari balik kacamata tebalnya.
"Reza! Aduh, anak baik. Sasa juga ada. Masuk, masuk. Nenek baru bikin wedang jahe."
Apartemen Bu Hartini adalah hutan kecil. Pot-pot tanaman berbaris di setiap permukaan datar—di jendela, di rak, di atas kulkas, bahkan di kamar mandi katanya. Aroma tanah basah dan daun bercampur wedang jahe membuat tempat itu terasa hidup.
"Begini, Bu," kata Reza setelah mereka duduk dan masing-masing memegang gelas hangat. "Saya sama Sasa lagi coba bikin usaha kecil. Jasa titip sama antar. Jadi kalau Bu Hartini butuh apa-apa—beli pupuk, beli sayur di pasar, ambil obat di apotek, atau kirim sesuatu ke anak—Bu Hartini tinggal kasih tahu kami. Nanti kami yang lariin. Ongkosnya hemat. Buat tetangga sendiri."
Bu Hartini meletakkan gelasnya. Untuk sesaat dia diam, dan Reza sempat khawatir idenya terdengar konyol di telinga seorang nenek.
"Jadi," kata Bu Hartini perlahan, "nenek nggak perlu turun ke pasar lagi naik lift bolak-balik sambil gendong belanjaan?"
"Nggak perlu, Bu. Tinggal pesan ke kami."
Mata Bu Hartini berkaca-kaca di balik kacamata. "Anak nenek di luar kota semua. Kalau lutut nenek lagi sakit, mau beli pupuk aja susah. Kemarin nenek sampai nyuruh tukang galon, kasihan dia kerepotan." Dia menepuk tangan Reza. "Nenek mau. Nenek jadi pelanggan kalian. Sekarang juga ada yang nenek butuh."
Sasa langsung membuka aplikasi catatan di ponsel. "Apa, Bu?"
"Pupuk organik. Yang dulu itu, lho. Yang paketnya nyasar ke Sasa." Bu Hartini terkekeh, kerutan di wajahnya melipat ramah. "Kalau dipikir-pikir, gara-gara pupuk nenek nyasar, kalian berdua jadi kenal, ya? Nenek ini secara nggak langsung jadi mak comblang."
Reza dan Sasa saling pandang, lalu sama-sama tertawa. Sasa yang biasanya pasang tameng pun tidak bisa menahan senyumnya. "Iya, Bu. Bu Hartini biang keroknya. Eh, jodohnya."
"Dua-duanya," kata Bu Hartini bangga.
Reza mencatat pesanan dengan teliti: dua karung kecil pupuk organik, satu botol cairan anti hama, dan—Bu Hartini menambahkan setelah berpikir—sekilo gula merah karena katanya wedang jahe tanpa gula merah asli rasanya seperti hidup tanpa cinta. Sasa mencatat itu juga, lengkap dengan tanda seru, sambil menahan tawa.
Saat mereka keluar dari apartemen Bu Hartini dengan pesanan pertama di tangan, Reza merasa dadanya penuh oleh sesuatu yang lama tidak dia rasakan. Bukan sekadar lega. Lebih seperti harapan.
"Sas," katanya di dalam lift, "kita baru aja dapat pelanggan pertama."
"Aku tahu. Aku yang nyatet." Tapi suara Sasa pun bergetar tipis oleh semangat yang sama.
"Nggak, maksudku—" Reza mencari kata-kata. "Selama ini aku cuma ngantar barang orang. Barang yang dibeli orang lain, dikirim orang lain, ditujukan buat orang lain. Aku cuma perantara. Tapi ini—" dia mengangkat karung pupuk, "—ini punya kita. Usaha kita. Pelanggan kita. Pertama kali dalam hidupku, ada sesuatu yang aku punya, bukan cuma yang aku antar."
Sasa menatapnya. Lift terus turun dengan dengung pelan, melewati lantai dua belas, sebelas, sepuluh.
"Kamu tahu nggak," kata Sasa pelan, "waktu Bagas dulu, dia selalu ngomong soal jadi kaya. Investasi ini, bisnis itu, koneksi anu. Tapi semua cuma omongan. Nggak ada yang jadi. Kamu malah kebalikannya. Kamu nggak banyak ngomong, tapi pupuk satu karung ini lebih nyata dari semua mimpinya selama dua tahun."
Pintu lift terbuka di lobi. Pak Karyo mengangkat kepala dari teka-teki silangnya. "Wah, berdua. Mau kemana, Pengantin?"
"Pak Karyo!" Sasa melempar tatapan macan, tapi pipinya memerah.
"Mau ke toko pertanian, Pak," kata Reza sambil menggendong karung pupuk imajiner yang belum dibeli. "Ada pesanan."
"Pesanan apa? Kamu kan kurir."
Reza tersenyum lebar, dan untuk pertama kalinya dia mengucapkannya keras-keras pada seseorang di luar Sasa. "Pesanan usaha kami, Pak. Jasa titip. Lagi mulai."
Pak Karyo menurunkan pulpennya, menatap mereka berdua dengan tatapan yang tiba-tiba lunak. "Bagus itu. Bagus. Anak muda harus punya usaha sendiri. Nanti kalau butuh tetangga buat nitip, kasih tahu saya. Saya juga sering males turun beli rokok."
Mereka tertawa, pamit, dan melangkah keluar ke jalanan pagi yang ramai. Matahari belum terlalu tinggi, udara masih sejuk, dan di tangan Reza ada catatan pesanan pertama dari pelanggan pertama. Kecil. Receh. Tidak akan membuat siapa pun kaya dalam semalam.
Tapi setiap pohon besar, pikir Reza sambil menyalakan motornya, dulu cuma biji yang nyasar ke tanah yang salah. Dan kadang, nyasar ke tanah yang salah justru jadi awal dari segala yang benar.