Reza berdiri di depan pintu unit 1208 untuk kedua kalinya dalam dua hari, kali ini memegang dua gelas kopi dari kedai di seberang jalan dan sebuah kantong kertas kecil berisi dua donat yang dia beli atas inisiatif sendiri, dengan logika bahwa donat mungkin bisa meredam macan.
Dia menarik napas. Mengetuk pintu. Tiga kali, sopan.
Pintu terbuka. Hari ini Sasa tidak memakai piyama kucing marah, melainkan kaus oblong dan celana pendek, dengan rambut yang masih sama berantakannya. Tapi ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya yang membuat Reza merasa, entah kenapa, sedikit bersalah.
"Kopinya?" Sasa langsung menodongkan tangan.
"Eh, ini." Reza menyodorkan satu gelas. "Saya nggak tahu Mbak suka yang mana, jadi saya beliin latte. Aman buat semua orang, katanya."
Sasa menerima, mencium aromanya, lalu menyesap. Ekspresinya melunak setengah derajat. "Lumayan."
"Saya juga bawa donat. Buat kompensasi tambahan." Reza mengangkat kantong kertas. "Yang satu cokelat, satu lagi tiramisu. Saya nggak yakin Mbak suka tiramisu, tapi—"
"Saya suka tiramisu." Sasa merebut kantong itu. Lalu, seakan baru sadar nada bicaranya, dia berdeham. "Maksudnya. Terima kasih. Masuk dulu. Saya ambil paketnya."
Reza ragu di ambang pintu. "Eh, saya tunggu di sini aja, Mbak. Nggak enak."
"Masuk. Saya nggak gigit." Sasa berbalik masuk, lalu menambahkan dari dalam, "Biasanya."
Reza melangkah masuk dengan hati-hati. Apartemen Sasa kecil tapi rapi, kecuali tumpukan kardus di pojok ruangan yang jelas menandakan proses pindahan. Seekor kucing oranye gemuk berbaring di sofa, menatap Reza dengan tatapan menghakimi yang persis seperti pemiliknya.
"Itu Cimol," kata Sasa, menunjuk si kucing. "Dia yang muntah di sepatu kerja saya kemarin. Jadi kita berdua sama-sama lagi musuhan sama dunia."
"Halo, Cimol," sapa Reza. Cimol mendengus dan memalingkan muka.
"Dia juga galak," kata Reza tanpa berpikir.
"Apa?"
"Eh, nggak. Saya bilang dia... gagah. Kucingnya gagah."
Sasa menyipitkan mata, tapi tidak menekan lebih jauh. Dia menyodorkan kotak pupuk yang menjadi biang masalah. "Nih. Paket sialan penyebab segala drama ini. Bawa pergi sejauh-jauhnya."
Reza menerimanya. "Makasih, Mbak. Dan sekali lagi, saya minta maaf. Sungguh. Saya lagi banyak banget paket kemarin, mata saya udah kabur, jadi—"
"Berapa paket?" potong Sasa, menyesap kopinya sambil bersandar di meja dapur.
"Tujuh belas. Yang Mbak itu nomor tujuh belas."
Sasa terdiam. "Tujuh belas dalam sehari? Sendirian?"
"Iya. Biasanya sih dua belasan, tapi kemarin hari gajian, jadi membludak."
Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang melunak di wajah Sasa. "Itu... banyak banget. Kamu makan siang nggak kemarin?"
Reza menggaruk tengkuk. "Eh, sempet beli risol di pinggir jalan. Sambil jalan. Itung-itung sambil ngirim juga."
Sasa mendengus, tapi kali ini bukan dengusan galak. "Pantesan mata kamu kabur. Otak butuh makan, Mas. Reza, ya?"
"Iya, Reza. Mbak siapa?"
"Sasa." Dia menyilangkan tangan. "Dan dengar, soal ulasan satu bintang itu—"
Reza langsung menegakkan badan. "Iya, soal itu, Mbak Sasa. Saya mau minta tolong banget. Kalau bisa direvisi, atau dihapus. Soalnya rating cabang saya bisa turun, terus bonus tim saya kepotong, terus Bang Topan supervisor saya bisa makin galak, dan jujur dia lebih nyeremin dari—" Reza menghentikan ucapannya tepat waktu.
"Lebih nyeremin dari saya?" Sasa mengangkat alis.
"...Saya nggak bilang gitu."
"Tapi kamu mikir gitu."
"Saya menolak menjawab atas dasar bisa memberatkan diri saya sendiri."
Sasa tertawa. Tawa lepas yang sesungguhnya, yang membuat lingkaran hitam di bawah matanya jadi tidak terlalu kentara. Reza, untuk alasan yang tidak bisa dia jelaskan, merasa lega luar biasa mendengar tawa itu.
"Ya udah," kata Sasa setelah tawanya reda. "Saya revisi ulasannya. Tapi ada syaratnya."
Perasaan Reza langsung waspada. "Syarat apa, Mbak?"
Sasa menyeringai, dan untuk sesaat dia benar-benar terlihat seperti macan yang menemukan mangsa. "Saya lagi pindahan. Banyak kardus, barang berat, dan saya nggak punya siapa-siapa buat bantu sejak putus sama si brengsek itu. Kamu bantu saya pindahan, saya hapus ulasannya dan kasih lima bintang. Adil, kan?"
Reza menatap tumpukan kardus di pojok ruangan. Lalu menatap Sasa. Lalu menatap Cimol, yang seolah menyeringai juga.
"Pindahannya... kapan, Mbak?"
"Sabtu ini. Jam delapan pagi. Jangan telat." Sasa menyesap kopinya dengan kemenangan. "Dan bawa kopi lagi. Yang besar."