Sabtu pagi, jam delapan kurang lima menit, Reza sudah berdiri di depan unit 1208 dengan dua gelas kopi besar, mengenakan kaus oblong dan celana training—pakaian "kerja berat" yang tidak pernah dia kira akan dia pakai untuk membantu seorang macan pindahan.
Sasa membuka pintu dengan ekspresi terkejut yang langsung dia tutupi. "Tepat waktu. Kaget juga saya."
"Saya selalu tepat waktu, Mbak. Kecuali pas baca nomor unit." Reza menyodorkan kopi.
Sasa nyaris tersenyum. Nyaris. "Masuk. Kita mulai dari yang berat dulu biar nggak keburu siang dan panas."
Pekerjaan dimulai. Ternyata "pindahan" Sasa bukan pindah ke gedung lain, melainkan pindah dari unit 1208 yang disewa mantannya ke unit 0905—unit lebih kecil dan lebih murah di lantai sembilan, yang dia sewa sendiri dengan uangnya sendiri sebagai pernyataan kemerdekaan.
"Aku nggak mau ngutang sama dia lagi seumur hidup," kata Sasa sambil mengangkat satu kardus buku yang berat. "Lebih baik sempit tapi punya sendiri."
"Setuju banget, Mbak," kata Reza, mengangkat dua kardus sekaligus dengan otot kurir yang sudah terlatih. "Mandiri itu mahal tapi worth it."
Selama dua jam, mereka mengangkut kardus demi kardus naik turun lift. Cimol diangkut dalam keranjang khusus, mengeong protes sepanjang perjalanan seolah seluruh dunia berutang penjelasan padanya. Reza, yang setiap hari mengangkat paket, ternyata jauh lebih kuat dan efisien daripada yang Sasa duga. Dia tahu cara mengikat barang, cara menumpuk agar tidak roboh, cara mengangkat lewat lutut bukan punggung.
"Kamu jago juga," komentar Sasa, terengah, sambil mengelap keringat. "Aku kira kurir cuma bisa naik motor."
"Kurir itu separuh atlet angkat besi, Mbak. Cuma gajinya nggak setara." Reza meletakkan kardus terakhir dari ronde itu. "Tinggal lemari nih kayaknya yang paling berat."
Lemari. Di situlah drama dimulai.
Lemari pakaian Sasa terbuat dari kayu solid, tinggi, berat, dan—yang paling penting—tidak bisa dibongkar karena kunci L-nya hilang entah ke mana. Reza dan Sasa berdiri di depannya seperti dua jenderal menatap benteng musuh.
"Kita dorong aja," usul Sasa.
"Lewat pintu nggak muat, Mbak. Harus dimiringin."
"Ya udah, miringin."
Mereka memiringkan lemari. Lemari itu mengeluarkan suara berderak protes. Reza memegang satu sisi, Sasa sisi lain, dan mereka mulai menggeser perlahan menuju pintu.
"Pelan-pelan, Mbak. Kiri kamu dulu."
"Ini udah kiri!"
"Itu kanan, Mbak."
"Ya kiri aku kan kanan kamu!"
"Oh iya juga."
Lemari tersangkut di kusen pintu. Reza dan Sasa terjepit di kedua sisinya, sama-sama mendorong, sama-sama tidak mau mengalah, sama-sama berkeringat. Wajah mereka berhadapan melalui celah di atas lemari, jarak hanya sejengkal.
Untuk sepersekian detik, keduanya terdiam. Sasa menyadari betapa dekatnya wajah Reza, betapa ada bekas keringat di pelipisnya, betapa matanya yang lelah itu sebenarnya cukup teduh kalau sedang tidak panik. Reza menyadari bahwa macan ini, dari jarak sedekat ini, ternyata punya tahi lalat kecil di pipi kiri yang membuatnya terlihat... entahlah. Manusiawi. Manis.
"...Apa liat-liat," kata Sasa, suaranya tidak segalak biasanya.
"Nggak. Eh. Dorong, Mbak. Satu, dua, tiga!"
Lemari meluncur lewat pintu dengan suara gedebuk besar dan keduanya nyaris jatuh ke koridor. Cimol, yang menonton dari keranjang, mengeong seolah memberi nilai atas pertunjukan itu.
Saat lemari akhirnya tiba di unit baru lantai sembilan dan diletakkan di tempatnya, Reza dan Sasa duduk di lantai berdampingan, sama-sama kelelahan, sama-sama bernapas berat.
"Makasih, Rez," kata Sasa pelan, untuk pertama kalinya tanpa nada galak sama sekali. "Beneran. Aku... nggak nyangka bakal ada orang yang mau bantu aku. Apalagi orang yang aku kasih satu bintang."
"Sama-sama, Mbak." Reza tersenyum. "Anggap aja ini kompensasi balik. Buat tulang ekor Mbak."
Sasa tertawa kecil. Lalu, sambil mengeluarkan ponselnya, dia mengetik sesuatu dan menunjukkan layarnya pada Reza. Ulasan baru. Lima bintang.
"Kurir terbaik yang pernah saya temui. Jujur, kuat, dan baik hati. Selalu bawa kopi. Sangat direkomendasikan. — Pelanggan yang dulu galak."
Reza membaca, dan sesuatu yang hangat menyebar di dadanya. "Makasih banyak, Mbak Sasa. Ini menyelamatkan bonus tim saya."
"Panggil Sasa aja. Tanpa Mbak." Sasa berdiri, mengulurkan tangan untuk membantu Reza bangun. "Kita kan udah seperjuangan ngangkat lemari."
Reza menyambut tangan itu. Hangat. Sedikit kasar karena kerja berat barusan. Dia segera melepasnya, pura-pura sibuk membersihkan celana.
"Oke, Sasa," katanya. "Tanpa Mbak."
Dan tanpa keduanya sadari, "ganti rugi" yang seharusnya berakhir hari itu, baru saja dimulai.