Senin pagi, Reza menerima daftar pengiriman hariannya dan nyaris menjatuhkan ponsel.
Tiga paket. Ke Graha Asri Tower B.
Salah satunya, ke unit 0905.
"Sasa pesen sesuatu?" gumamnya. Lalu dia melihat penerima dua paket lainnya: unit 0903 dan unit 0907. Tetangga kiri-kanan Sasa. Entah kebetulan macam apa yang mengatur ini.
Saat Reza tiba di lantai sembilan dan mengetuk pintu unit 0905, Sasa membuka dengan rambut basah habis keramas dan ekspresi yang—untuk standar Sasa—nyaris ramah.
"Lho, kamu lagi?"
"Saya lagi," kata Reza, menyodorkan paket kecil. "Mbak—maksudnya Sasa—pesen apa nih? Ringan banget."
"Vitamin kucing buat Cimol. Dia masih sensian." Sasa menerima paket. "Eh, kamu udah sarapan?"
Reza mengerjap. Pertanyaan itu tidak masuk dalam protokol pengiriman manapun. "Belum, sih. Tapi nggak apa-apa, saya—"
"Bentar." Sasa menghilang ke dalam, lalu kembali dengan sepiring nasi goreng yang masih mengepul, dibungkus tisu di bawahnya. "Aku masak kebanyakan tadi. Bawa aja. Daripada lambung kamu rusak ngangkut paket sambil laper."
Reza menatap nasi goreng itu seperti menatap keajaiban. "Eh, nggak usah repot, Sasa. Saya—"
"Ambil. Sebelum aku berubah pikiran dan masukin cabai sepuluh biji."
Reza menerima dengan kedua tangan, seperti menerima piala. "Makasih banyak. Beneran. Ini... baik banget."
Sasa membuang muka, pura-pura menyibukkan diri membaca label paket. "Bukan apa-apa. Cuma nasi goreng sisa."
Tapi telinganya memerah, dan Reza, meski tidak komentar, menyimpan detail itu di suatu sudut hatinya.
Selama dua minggu berikutnya, sesuatu yang aneh dan lucu terjadi. Reza mendapati dirinya selalu punya minimal satu paket ke Graha Asri Tower B hampir setiap hari. Kadang ke Sasa, kadang ke tetangga lain. Dan setiap kali ke Sasa, selalu ada sesuatu—segelas teh, sepotong roti, atau sekadar obrolan lima menit di ambang pintu yang melebar jadi sepuluh menit, lalu lima belas.
Reza belajar banyak tentang Sasa dalam obrolan-obrolan singkat itu. Bahwa Sasa bekerja sebagai desainer grafis lepas dari rumah, makanya dia selalu di apartemen. Bahwa mantannya bernama Bagas, seorang yang Sasa deskripsikan dengan kata-kata pilihan seperti "buaya berkedok kucing" dan "manusia paling pelit dalam hal perasaan." Bahwa Sasa sebenarnya tidak galak—dia hanya capek dikecewakan, jadi dia memasang duri lebih dulu sebelum disakiti.
"Aku tahu aku galak," kata Sasa suatu sore, sambil menyandar di kusen pintu, memegang gelas teh. "Tapi galak itu tameng. Lebih gampang bikin orang takut daripada bikin orang sayang terus ditinggal."
Reza, yang sedang bersandar di dinding koridor sambil menghabiskan teh pemberian Sasa, mengangguk pelan. "Saya ngerti, kok. Tameng itu wajar. Cuma kadang tameng yang ketebelan bikin orang baik juga ikut nggak berani masuk."
Sasa menatapnya. "Filosofis juga kamu buat kurir."
"Kurir itu punya banyak waktu mikir di lampu merah, Sasa."
Sasa tertawa. Dan kali ini Reza menyadari sesuatu: dia mulai menunggu tawa itu. Dia mulai mengatur rute pengirimannya—secara tidak sadar, lalu secara sangat sadar—agar Graha Asri Tower B masuk di urutan akhir, supaya dia bisa berlama-lama tanpa terburu paket berikutnya.
Sampai suatu hari, di pos, Bang Topan menepuk pundaknya.
"Rez, rating kamu naik drastis nih. Banyak yang kasih bintang lima khusus nyebut nama kamu. Apa rahasianya?"
Reza tersenyum kaku. "Pelayanan prima, Bang."
"Bagus. Pertahankan." Bang Topan menyeringai. "Eh, tapi kok aku perhatiin kamu selalu minta jatah rute Graha Asri ya? Kemarin sampe tukeran sama si Dian segala."
Reza tersedak kopinya. "Eh, itu... rutenya enak, Bang. Deket sama warung makan."
"Hmm." Bang Topan menatapnya dengan tatapan curiga seorang supervisor berpengalaman. "Warung makan, atau warung lain?"
"Warung makan, Bang. Beneran." Reza buru-buru mengangkat tumpukan paketnya dan kabur ke motor sebelum kumis Bang Topan bisa mengendus lebih jauh.
Tapi di lubuk hatinya, Reza tahu Bang Topan tidak sepenuhnya salah. Ada sesuatu di Graha Asri Tower B, lantai sembilan, unit 0905, yang membuat hari-harinya yang melelahkan terasa sedikit lebih ringan. Sesuatu yang galak, hangat, suka tiramisu, dan punya tahi lalat kecil di pipi kiri.
Reza tidak berani menamainya. Belum. Tapi dia tahu, setiap kali ada paket ke alamat itu, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari yang seharusnya untuk seorang kurir profesional.