Hari itu hujan turun seperti langit sedang menumpahkan seluruh dendam musimnya. Reza, yang sedang dalam perjalanan ke Graha Asri Tower B untuk paket terakhir, basah kuyup meski sudah memakai jas hujan murahan yang lebih banyak bocornya daripada melindunginya.
Dia tiba di lobi dengan air menetes dari ujung rambut, sepatu mengeluarkan bunyi becek setiap langkah. Pak Karyo menatapnya iba. "Astaga, Rez. Kayak abis nyemplung kali."
"Begitulah, Pak. Berkah profesi." Reza mengangkat satu paket yang untungnya terbungkus plastik anti air. "Ke 0905."
Saat dia tiba di depan pintu Sasa dan mengetuk, Sasa membuka pintu, melihat keadaan Reza, dan ekspresinya langsung berubah dari kaget jadi cemas.
"Ya ampun, kamu basah kuyup! Masuk, masuk, nggak boleh ditolak."
"Eh, nggak apa-apa, Sasa, nanti lantai kamu basah—"
"Lantai bisa dipel. Kamu masuk angin nggak bisa dipel. Masuk!" Sasa menarik lengan Reza masuk dengan kekuatan macan yang tidak bisa dibantah.
Di dalam, Sasa menyodorkan handuk bersih dan secangkir teh jahe panas yang entah bagaimana sudah siap. "Lap rambut kamu. Duduk. Jangan sampai sakit gara-gara nganterin paketku."
Reza duduk di sofa, mengelap rambut dengan handuk, menggenggam teh hangat dengan kedua tangan. Cimol melompat ke sampingnya dan, untuk pertama kalinya, tidak mendengus—malah mendengkur pelan sambil menggosokkan kepala ke lengan Reza.
"Wah, Cimol nerima saya," kata Reza takjub.
"Berarti kamu lulus tes." Sasa duduk di kursi seberang, memeluk lututnya. "Cimol itu hakim yang lebih galak dari aku. Kalau dia suka kamu, berarti kamu emang orang baik."
Reza tersenyum, menggaruk dagu Cimol yang langsung memejamkan mata penuh kepuasan. "Tekanan banget jadi orang baik di depan kucing."
Mereka tertawa. Di luar, hujan masih menderu. Suasana di dalam apartemen kecil itu terasa hangat, nyaman, seperti gua yang aman dari badai. Untuk beberapa saat, tidak ada kurir, tidak ada pelanggan galak, hanya dua orang yang menikmati teh sambil mendengar hujan.
Lalu, dari sudut langit-langit kamar, terdengar bunyi tetesan. Tes. Tes. Tes.
Sasa menoleh, wajahnya langsung berubah panik. "Oh, nggak. Atapnya bocor lagi. Ini ketiga kalinya minggu ini. Bangunan ini emang murah karena ada alasannya."
Reza langsung berdiri. "Mana? Saya cek."
"Nggak usah, kamu masih basah—"
Tapi Reza sudah berjalan ke kamar, menatap titik di langit-langit tempat air merembes. Dia memang bukan tukang, tapi sebagai orang yang sering berurusan dengan barang dan logistik, dia punya akal praktis.
"Punya ember? Sama lakban yang tebal?" tanyanya.
Sasa mengambilkan keduanya. Reza meletakkan ember di bawah tetesan, lalu naik ke kursi dan menempelkan lakban di sekitar celah rembesan sebagai solusi darurat. "Ini cuma sementara, ya. Besok mendingan lapor ke pengelola gedung biar dibenerin permanen. Tapi malam ini, ini cukup nahan."
Sasa menatapnya dari bawah, tangan bersedekap. "Kamu ini... kok bisa-bisanya serba bisa sih."
"Anak kos, Sasa. Anak kos itu universitas kehidupan." Reza turun dari kursi. "Pernah ngalamin atap bocor, keran rusak, listrik konslet, semua sendiri karena nggak punya duit panggil tukang. Jadi belajar."
Sasa terdiam memandanginya. Lalu, dengan suara yang lebih pelan dari biasa, "Kamu tahu nggak, Rez. Kamu itu lawan dari Bagas."
"Hah?"
"Bagas itu, kalau ada masalah, dia ngeluh. Atap bocor, dia ngeluh ke aku seakan aku yang bikin bocor. Tapi nggak pernah benerin. Kamu... kamu langsung benerin." Sasa menunduk, memainkan ujung lengan bajunya. "Aku nggak tahu ternyata ada cowok yang kayak gitu."
Suasana mendadak berubah. Hujan di luar seakan menjauh. Reza berdiri di tengah kamar kecil itu, masih sedikit basah, jantungnya berdetak keras—dan kali ini bukan karena dingin.
"Sasa," katanya pelan.
Sasa mengangkat wajahnya. Mata mereka bertemu. Jarak di antara mereka terasa lebih kecil dari ukuran kamar.
Lalu—
KRIIING. Ponsel Reza berbunyi nyaring, memecah momen seperti palu memecah kaca. Layarnya menyala: BANG TOPAN.
Reza terlonjak, menjawab dengan gugup. "Halo, Bang?"
"Rez, kamu di mana? Hujan badai gini paket terakhir udah kelar belum? Pulang, jangan nekat di jalan!"
"Eh, udah, Bang. Bentar lagi pulang." Reza menutup telepon, lalu menatap Sasa dengan canggung. "Eh, saya... harus pulang. Hujannya."
"Iya. Hujannya." Sasa berdiri, sama canggungnya. "Hati-hati di jalan, ya. Pinjem jas hujan aku yang bener, jangan pake yang bocor itu."
"Nggak usah, Sasa, ntar—"
"Pakai. Titik." Sasa menyodorkan jas hujan tebal berwarna kuning cerah. "Balikin besok. Atau lusa. Atau kapan-kapan. Pokoknya ada alasan kamu balik ke sini."
Reza menerima jas hujan itu, dan untuk sesaat, jari mereka bersentuhan. Keduanya menarik tangan terlalu cepat.
"Makasih, Sasa," kata Reza, lalu buru-buru pamit sebelum wajahnya yang memerah terlihat jelas.
Di lift turun, Reza menatap jas hujan kuning di tangannya. Dia menyadari satu hal dengan kepastian yang menakutkan: dia tidak sabar menunggu besok.