Reza tidak menyangka hari Rabu akan jadi hari yang mengubah segalanya.
Dia datang membawa jas hujan kuning yang sudah dicuci bersih dan dilipat rapi, ditambah sekotak donat sebagai alasan tambahan. Dia naik lift dengan senyum yang sudah dia pasang sejak parkiran, melatih basa-basi ringan di kepalanya. Tapi saat lift terbuka di lantai sembilan, dia mendengar suara.
Suara laki-laki. Tinggi. Memohon. Lalu suara Sasa, tajam dan menahan amarah.
Reza melangkah pelan ke koridor dan melihatnya: seorang laki-laki berpakaian rapi, rambut klimis, parfum menyengat sampai ke ujung koridor, berdiri di depan pintu Sasa yang terbuka setengah. Sasa berdiri di ambang, lengan bersedekap, wajah dingin.
"Sas, ayolah. Aku salah. Aku tahu aku salah," kata laki-laki itu. "Putus kemarin itu emosi sesaat doang. Aku kangen. Cimol gimana? Apartemen kita gimana?"
"Apartemen KAMU, Bagas. Aku udah pindah. Sendiri. Pakai duitku sendiri," balas Sasa, suaranya menusuk. "Dan Cimol itu kucingku, bukan kucing kita."
Bagas. Jadi inilah buaya berkedok kucing itu, pikir Reza, berhenti beberapa meter dari mereka, ragu apakah harus maju atau mundur.
"Sas, please. Kita udah dua tahun. Masa gara-gara salah paham kecil—"
"Salah paham KECIL?" Suara Sasa naik satu oktaf. "Kamu lupa ulang tahunku, kamu chat sama mantanmu di belakangku, kamu nggak pernah sekali pun bantuin aku waktu aku sakit, dan kamu nyebut itu salah paham kecil?"
"Aku berubah, Sas. Aku—" Bagas terdiam saat matanya menangkap sosok Reza yang berdiri di koridor memegang kotak donat dan jas hujan kuning. Alisnya mengernyit. "Ini siapa?"
Sasa menoleh. Wajahnya yang tadi keras langsung berubah—ada kepanikan kecil, lalu, anehnya, sesuatu yang seperti kelegaan.
Dan di sinilah Reza, dalam pecahan detik, mengambil keputusan paling berani sekaligus paling konyol dalam hidupnya. Entah dorongan dari mana, mungkin karena melihat Sasa yang biasanya tegar terlihat sedikit terdesak, mungkin karena tatapan meremehkan Bagas, Reza melangkah maju, tersenyum lebar, dan berkata:
"Oh, halo. Saya Reza. Pacar Sasa."
Hening total di koridor.
Sasa membeku. Bagas membeku. Cimol, yang mengintip dari balik kaki Sasa, mengeong seakan dia juga kaget.
"Pacar?" Bagas memandang Reza dari ujung kepala sampai sepatu, menilai. "Kamu kerja apa?"
"Kurir," jawab Reza mantap, walau jantungnya berdebar liar. "Kurir paket. Yang ngantar barang ke rumah orang. Yang kerja keras tiap hari. Yang—" dia melirik Sasa, "—selalu ada kalau dibutuhin."
Bagas menyeringai meremehkan. "Kurir? Sas, kamu serius? Dari aku ke... kurir?"
Dan kalimat itu, kalimat menghina itu, menyalakan sesuatu di dalam diri Sasa. Dia melangkah maju, berdiri di samping Reza, dan dengan sengaja menggandeng lengannya.
"Iya, kurir," kata Sasa, dagu terangkat. "Kurir yang benerin atap bocorku waktu kamu cuma bisa ngeluh. Kurir yang bawain aku makan waktu aku kelaparan. Kurir yang bantuin aku pindahan waktu kamu sibuk sama mantanmu. Dan kamu tahu apa, Bagas? Dia lebih jantan dari kamu, meski gajinya seperlima gajimu."
Wajah Bagas memerah. "Sas—"
"Pulang, Bagas." Suara Sasa dingin dan final. "Jangan ke sini lagi. Aku udah punya hidupku sendiri sekarang. Yang lebih baik. Tanpa kamu."
Bagas membuka mulut, menutupnya, lalu, dengan ekspresi terhina, berbalik dan berjalan ke lift dengan langkah cepat. Pintu lift menutup. Dia pergi.
Koridor sunyi. Hanya terdengar napas Reza dan Sasa yang masih saling berpegangan lengan.
Lalu Sasa sadar dan langsung melepaskan, mundur selangkah, wajahnya memerah hebat. "Eh—itu—maaf. Aku cuma kepancing. Aku nggak bermaksud—"
"Nggak apa-apa," kata Reza cepat, wajahnya tak kalah merah. "Saya juga yang mulai. Ngaku-ngaku pacar. Maaf, kelepasan. Saya cuma... liat kamu kayak butuh bantuan, jadi—"
"Makasih," potong Sasa pelan. Dia menatap lantai. "Beneran. Makasih, Rez. Aku... aku udah lama nunggu bisa ngomong gitu ke dia. Dan kamu bikin aku bisa."
Mereka berdiri canggung. Kotak donat masih di tangan Reza. Jas hujan kuning terselip di lengannya.
"Eh, ini." Reza menyodorkan jas hujan. "Udah saya cuci. Dan ini donat. Buat... ya, buat kita berdua kayaknya. Setelah drama tadi."
Sasa menerima keduanya, lalu, dengan suara yang sangat pelan, hampir tidak terdengar, dia berkata: "Masuk dulu. Kita makan donat. Aku... butuh temen ngomong abis ini."
Reza mengangguk, dan masuk. Tapi di kepalanya, satu kalimat berputar terus seperti kaset rusak: pacar Sasa. Dia bilang dia pacar Sasa. Dan yang lebih membingungkan—dia tidak menyesali ucapannya sedikit pun.