Februari 2016
Mobil yang mengantarnya berhenti di depan Gate 5 terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Jam menunjukkan pukul 9.30 pagi, suasana Bandara sudah sangat ramai dengan para travellers yang penuh semangat walaupun langit Jakarta hari ini sedikit lebih mendung dari biasanya.
"I'll call you back, after check in, bye Saz!" ujar seorang wanita kemudian merapikan beberapa dokumen di pangkuannya dan mengambil tasnya, "Bagasi belakang ya Pak!" lanjutnya kemudian membuka pintu mobil dan beranjak menuju bagasi dan mengambil kopernya, "Terima kasih Pak!" lanjutnya lalu berjalan dengan anggun memasuki ruang bandara.
Rehavia Marz, 35 tahun, memiliki banyak hal yang diimpikan oleh setiap perempuan. Paras menawan dan unik dengan sepasang mata coklat tembaga yang berkilau dengan tegas, warisan dari ayahnya yang berdarah Jerman, rambut ikal karamel tergerai lembut hampir sebatas pinggang, kulit kuning langsat yang indah dan postur yang elegan. Reha lulus dengan gelar cumlaude dalam 3.5 tahun dari Universitas Indonesia, mendapatkan beasiswa S2 di Melbourne dan saat ini tengah menikmati karirnya sebagai Presenter TV yang sedang bersinar. She is the ideal epitome of beauty pageants, the perfect blend of brain, beauty, and behavior.
Setelah menyelesaikan Check In dan mendapatkan boarding pass Reha melenggang dengan santai menuju Airport Cafe untuk memesan Kopi dan menelfon editornya, Sazkia, untuk melanjutkan obrolan mereka yang tertunda tentang buku yang sedang ditulisnya.
"Mau pesan apa mbak?" tanya waitress kafe dengan ramah.
Reha membuka kaca matanya dan menelusuri papan menu sesaat, "Caramel Macchiato, Hot." Ujarnya.
Waitress di hadapannya tersenyum dengan penuh semangat, "Mbak ini, Rehavia Marz kan ya, presenter Travel Culture di Channel One!" ujarnya sambil menatap Reha dengan antusias.
Reha tersenyum dan mengangguk, "Bingo!" candanya
"Wah saya Fans mbak Reha loh! Boleh selfie ya mbak sekali aja?" pintanya
"Boleh." sahutnya dengan ramah.
"Terima kasih ya Mbak Reha cantik!" ujar gadis muda itu setelah mereka berfoto bersama.
Reha selalu senang bertemu dengan para penggemar acaranya dan terkenal ramah dalam berinteraksi dengan fansnya. Ia paham tanpa dukungan para pemirsa, sebagus apapun acara TV yang dibawakannya, tidak akan banyak memberikan manfaat bagi masyarakat. Itulah sebabnya Reha selalu berusaha untuk sebisa mungkin berinteraksi dengan baik kepada semua orang yang telah mendukungnya selama ini, walau sesibuk apapun.
Reha memilih duduk di sudut ruangan dekat jendela kaca lebar yang menampilkan pemandangan pesawat yang hilir mudik di landasan. She loves airport. She loves travelling. She practically breathes on it. Sejak kecil, Julian, ayahnya sering mengajaknya untuk berjalan-jalan dan berpetualang di sekitar kota mereka sendiri. Terkadang mereka berjalan kaki, naik sepeda atau menggunakan motor Vespa tua kesayangan ayahnya menjelajahi jalan jalan dan perkampungan. Seringkali mereka nyasar atau bertemu jalan buntu, tapi Reha dan ayahnya selalu bersemangat dengan semua petualangan mereka. Sekarang, situasinya terbalik, setiap bulan Reha yang selalu menyempatkan untuk mengajak ayahnya berlibur. Ibunya, Dayu, tidak terlalu suka travelling, jadi biasanya saat Reha dan ayahnya menjelajah, Ibunya memilih untuk bersantai di hotel.
Aroma harum semerbak Caramel Macchiato memenuhi udara saat waitress mengantar ke mejanya, "Ini ada complimentary Croissant untuk Mbak Reha. Terima kasih sudah order di Aiport Cafe ya mbak!" ujar waitress itu bersemangat.
"Wah, Danke schoen, darling, danke schoen!" Sahut Reha.
Ia mengambil foto Kopi dan Croissantnya dan beberapa sudut cafe lalu memposting di Instagramnya;
Rehaviamarz #travelculture
"Do Good and it will back to you tenfold."
Refreshing Caramel Macchiato and a tasty Croissant by @airportcafe
Dalam beberapa menit hampir seratus like dan comment memenuhi postingannya. Beberapa ada yang membagikan pengalaman dan review yang menyenangkan tentang kafe tersebut. Ada pula yang menanyakan letak kafe di dalam bandara. Ada yang sekedar memberi emoji, menawarkan iklan dan bahkan jualan follower. Reha tersenyum, ia senang mempromosikan tempat-tempat yang ia singgahi, terutama yang memang unik, customer oriented dan berkualitas. Apalagi kalau itu adalah tempat usaha yang baru dirintis. Ayahnya selalu mengingatkan membantu sesama itu seperti menebar bibit yang akan bertumbuh membesar membawa kebaikan dalam hidup.
Reha baru akan menelfon Sazkia untuk membicarakan tentang buku yang sedang mereka kerjakan, ketika seorang pria menghampiri mejanya dan menyapanya dengan ramah, "Reha!" Reha mendongak dan mendapatkan seraut wajah tampan yang dikenalnya dengan baik selama beberapa tahun terakhir, "Adrian, hey! apa kabar?" ujarnya setengah kaget.
"I'm good!" sahutnya, "Boleh duduk disini?" tanyanya kemudian.
Reha tersenyum, "Sure thing! kebetulan banget...kamu lagi ada tugas ke luar kota?"
Adrian menarik kursi dan duduk di hadapannya sambil tersenyum tipis, "Actually, i was nearby and i saw your i********: post, so i decide to jump in and said hello..." ujarnya dengan bersemangat lalu suaranya melembut, "It's been a while..." lanjutnya, "You look splendid!" pujinya.
Reha tersenyum kecil, dia pernah menjadi penggemar suara merdu Adrian sampai setahun yang lalu, kemudian banyak hal terjadi dan mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan dan berjalan masing-masing. Kalau dipikir-pikir, Adrian merupakan satu-satunya pria yang menjalin hubungan cukup lama dengannya. It last for two years and 8 months with him.
"So you still stalk me on i********:?!" Gurau Reha mencairkan suasana.
Adrian berdecak, "Wohh, Stalking is harsh! Kamukan public figur sekarang, everyone loves to see what you're doing...let me check..." Adrian membuka ponselnya, "53k plus plus followers! amazing!" ucapnya santai.
"I can give you autograph or mau selfie juga boleh." canda Reha lagi, walaupun sudah lama berpisah, berbicara dengan Adrian selalu dapat mengalir dengan mudah, maybe because they started it first as a friend and remain cordial when it ends.
Adrian menyeruput kopinya, " Just small talk before flight, i'd prefer that!" jawabnya "How's life?" tanyanya.
Reha memotong croissant di piringnya, "Baik, everything is good, alhamdulilah, you know me i'm famous these days!" celotehnya.
"Jadi, ada liputan kemana kali ini? Kalau melihat kamu serapih dan seformal ini sepertinya bukan untuk liputan acara petualangan in some exotic isolated islands?" Adrian bertanya sambil memperhatikan penampilan Reha.
"Palembang. One Week. Cultural Conference mixed with city tour and adventure. I'm thinking to visit Lahat too, we'll see!" Jawab Reha kemudian menikmati potongan Croissantnya.
"Lahat. Interesting. Kamu dulu sering bilang mau adventure escape kesana kan, tapi akhirnya nggak jadi-jadi, walaupun udah ke Palembang beberapa kali." Sahutnya, "Make sure you go this time, You've always wanted to visit that grandiose Megaliths land in the archipelago anyway!" Adrian mengingatkan.
Reha mengerjapkan matanya, Adrian selalu seperti itu. Memotivasinya dan mendukungnya sejak dulu. He's always been such a gentleman. "You're just so good! Remind me again why are we breaking up?" celotehnya yang disambut dengan tawa lirih Adrian.
"Entahlah. Aku juga udah nggak terlalu ingat." sahutnya. "Mungkin karena.... selera makan bubur kita berbeda, kamu tim diaduk vs aku yang nggak diaduk!" candanya sambil tertawa riang. "...but seriously I will never understand why humans would want to eat something that looks like baby vomit" lanjutnya sambil menghela nafas
"Oh, Bollocks!" Sahut Reha, "Sekarang aku ingat..." Ujarnya " We just keep having different opinions...and these voices of dissent grew louder and louder and turns astronomical..." kenangnya kemudian menghela nafas.
"Itu dan...pada akhirnya kita mungkin grow tired of each other, memilih untuk menjadi terlalu sibuk untuk satu sama lain." lanjutnya dengan sedikit sedih, "It's so unfortunate isn't it?"
Reha tersenyum, "Hey, we're a good people...we're just not a good couple..." hiburnya sambil mengedipkan mata. "Anyway, you haven't answered my questions before, where do you want to go? Business trip?"
Adrian tertawa lirih, "Bali!" jawabnya singkat.
"Lucky people!" seloroh Reha, " Jadi kangen lihat Lumba-Lumba di Pantai Lovina!" lanjutnya. "So, Martell akan buka outlet baru lagi di Bali?" tanya Reha kemudian sambil menikmati potongan Croissantnya yang terakhir.
Adrian menggeleng. "Bukan business trip." sahutnya kemudian menyesap kopinya lagi, " It's a honeymoon trip." lanjutnya.
Sepasang mata indah Reha membeliak, "Bulan madu?" tanyanya ragu-ragu.
Adrian tersenyum, kemudian membuka ponselnya dan menunjukkan sebuah foto. "Aku menikah bulan lalu." nampak foto seorang wanita mungil di samping Adrian tersenyum bahagia mengenakan baju pengantin adat Sunda. "Lila. Met her when i was in business trip to Tokyo, we talked back and forth for 6 months, it was a click and we decided to get married!" Adrian menceritakan tentang istrinya, "Sorry nggak ngasi kabar soal ini, our wedding is simple, just family." lanjutnya.
Reha mengangguk-angguk, ada sedikit rasa sedih menyelinap dihatinya, "Oh well, she seems such a sweetheart." ujarnya kemudian tersenyum, "Selamat ya Adrian..." ia menepuk jemari Adrian, "I'm happy you find someone yang... at least nggak harus berdebat soal sarapan bubur lagi..." guraunya dan Adrian tertawa lirih, "I'm happy for you both..." tandasnya.
"Thanks, Reha. Appreciate that...really..." Adrian menatap Reha sedikit sendu, bagaimanapun dulu ia pernah berharap wanita yang duduk di hadapannya ini akan menjadi pendamping hidupnya, hanya saja takdir memang memiliki jalannya sendiri.
"Jadi, kemana Nyonya Besar? Kok kalian nggak bareng, kan lagi mau honeymoon?" tanya Reha penasaran.
"Lila berangkat duluan, soalnya aku ada beberapa meeting yang nggak bisa ditinggal, dan ada pertunjukan yang mau dia tonton, waktunya nggak match, jadinya aku nyusul belakangan. Dan kita ketemu langsung di Hotel." terangnya.
"Seriously, Adrian!" sahut Reha, "Oh this reminds me, you and your job! kita dulu juga pernah berantem nih gara-gara soal pekerjaan kamu! But, it's your honeymoon trip, you shouldn't do this!" katanya nyaris tidak percaya.
Adrian mengangkat bahunya, "Yah, namanya juga pekerjaan, can't say anything about that!" sanggahnya.
"Of course you can! Apa maksudnya kamu nggak bisa?" sahut Reha cepat.
Adrian tersenyum, "Are we going to argue again after one year?" godanya.
Reha berdecak, "Beneran deh, do something about managing your priority!" ujarnya, "Else, Kamu bakalan kehilangan Lila, someday." ucapnya lagi, "I mean it." tandasnya, "Perjalanan bulan madu, and you let your wife flying solo." Reha menggelengkan kepalanya, "I'm glad we're not married." sindirnya.
Adrian tertawa, "I'll keep that in mind." ujarnya. Adrian melirik jam tangannya, "Woops, sudah hampir waktunya untuk boarding!" ujarnya kemudian menatap Reha lagi, "Aku senang kita bisa ketemu dan ngobrol, let's catch up next time!" lanjutnya kemudian berdiri dan mengulurkan tangan, "Sampai ketemu lagi." ujarnya.
Reha meraih jemari Adrian dan tersenyum, "Be safe, enjoy your honeymoon, salam untuk Lila." sahutnya.
Adrian mengangguk, "Oh, kamu bisa mampir untuk makan malam di rumah kami kapan-kapan, Lila is your fans anyway!" ujarnya.
"Seriously, inviting your ex to meet your wife?" Reha menahan tawa mendengar ide spontan Adrian.
"Nggak masalah kok, she knows about us." Ujar Adrian santai.
Reha menahan diri untuk tidak membalas ucapan Adrian dan menjelaskan kepada pria itu, bahwa ada perbedaan besar antara mengetahui melalui cerita dan melihat secara langsung, apalagi berinteraksi dengan seseorang yang pernah memiliki tempat yang penting dalam hidup pasangan kita. Ia hanya tersenyum tipis sambil menatap sosok Adrian yang berjalan menjauh kemudian duduk kembali menghabiskan kopinya.
Reha menghela nafas. Sudah hampir 15 tahun sejak ia mulai berkencan dan selama itu sepertinya tidak ada satupun hubungannya yang bertahan cukup lama. It's hard for her to fall in love and it's harder to keep it. Bahkan selama hampir 3 tahun bersama Adrian, Reha tetap merasa ada sesuatu yang kurang. Ia tentu saja menyukai pria-pria yang pernah singgah dalam hidupnya dan peduli terhadap mereka, hanya saja something is missing. Reha tidak merasakan ikatan emosional yang kuat, gairah yang menggebu-gebu, dan kerinduan apabila mereka berjauhan. Ia menikmati waktu-waktu saat mereka bersama dan bagaimana mereka saling menyemangati, tapi tanpa kehadiran mereka pun, Reha tidak merasakan ada yang kurang.
Ia merasa sedih saat Adrian memutuskan untuk pergi, tapi tidak cukup hampa untuk membuatnya berusaha meraih pria itu kembali. You are gone, we are done, it was sad, hurt even but I will be fine.
Seperti itu, menangis sesaat, dan Reha kembali menjalani hari-harinya dengan penuh semangat seperti biasa. Dan larut dalam excitement akan petualangan-petualangannya menjelajah tempat yang baru.
Entah kapan dan siapa, tapi Reha, di sudut hatinya, berharap suatu saat ia akan bertemu dengan Pria yang dapat membuatnya merasakan semua emosi itu. Her missing puzzle. Seseorang yang hanya dengan menatapnya dari kejauhan dapat menghangatkan hatinya dan membuatnya merasa it was him, one of the reason of her existence.
***
Orchid Hall, Windsor Hotel Palembang, sudah ramai dipenuhi oleh tamu undangan dan beberapa pembicara. Reha akan menjadi moderator dalam diskusi pengembangan wisata budaya di Sumatera Selatan selama tiga hari ke depan. Seminar ini juga dihadiri oleh perwakilan dari beberapa negara di asia tenggara yang berbagi akar kebudayaan Melayu. Reha sedang berbincang dengan salah satu pembicara dari Melaka ketika salah seorang panitia menghampirinya dan memberikan catatan bahwa salah satu Narasumber jatuh sakit dan tidak bisa datang. Sementara penggantinya masih dalam perjalanan menuju hotel. Dan kemungkinan acara akan sedikit mundur dari jadwal yang sudah ditentukan.
"Apa kita sudah punya CV dari pembicara pengganti? " tanya Reha
Pria muda yang mewakili tim acara itu menggeleng, "Karena kami juga baru dapat beritanya jam 7 pagi tadi mbak Reha, jadi kami juga belum dapat dokumen apapun. Kami juga hanya dapat Nama saja. Nanti kalau CV sudah dikirimkan, kami akan update secepatnya." ia memastikan walaupun terdengar agak panik.
"Ok, no worries, kalau nanti belum ada update juga, kita akan improve saja di panggung." Sahut Reha, "Jadi siapa nama pembicara pengganti Professor Hamid?" tanya Reha kemudian.
Saat akan menjawab pertanyaan Reha, ponsel pria itu berdering, "Maaf sebentar mbak Reha, telpon dari Bu Kabid saya jawab dulu." Ujarnya kemudian berjalan menjauh dari tempat Reha dengan terburu-buru.
"Mbak Reha, ke ruang VIP ya, pembicaranya sudah kumpul semua disana." ujar seorang panitia lainnya.
Reha mengangguk, "Ok, on my way!" sahutnya kemudian beranjak menuju ruang tunggu para pembicara.
"Selamat pagi bapak dan ibu, saya Rehavia Marz, moderator untuk diskusi selama acara ini." Reha memperkenalkan diri dengan ramah saat memasuki ruangan tunggu, "And good morning to You, Mrs. Linz, such pleasure to have you joining the discussion for the week." Ujar Nara menyambut salah satu pembicara tamu dari Singapura.
"Pleasure is mine." Jawab Mrs. Linz
"Senang bertemu dengan semuanya hari ini, mohon bantuannya selama beberapa hari ke depan." lanjut Reha lagi.
"Sama-sama mbak Reha, saya termasuk yang sering nonton acara Mbak Reha loh, episode ke Pulau Saparua, Maluku Tengah, dua minggu yang lalu itu bagus sekali. Indonesia memang kaya dengan sejarah dan warisan budaya, harus sering dipromosikan, agar fasilitas dan akses ke tempat-tempat tersebut dapat segera dikembangkan oleh pemerintah dan businesses." ujar salah satu pembicara.
"Iya pak betul, sepertinya butuh lebih dari seumur hidup untuk menjelajahi semua tempat di Nusantara." sahut Reha, "There's always something new and a hidden gem behind the vast ocean." ujarnya sambil tersenyum ke arah Mrs. Linz.
"Mbak panitia boleh ya kami foto bareng Mbak Reha dulu sebelum acara dimulai." Ujar pembicara lainnya yang disambut dengan hangat oleh para Narasumber di ruangan tersebut.
Saat akan mengambil foto tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan seorang panitia acara masuk sambil tersenyum, "Mohon maaf bapak dan ibu, saya mengantarkan pembicara pengganti Professor Hamid, Doktor Nara Maurya untuk bergabung." ujarnya dengan sopan.
Seorang Pria berpostur tinggi tegap melangkah masuk ke dalam ruangan, " Selamat pagi bapak dan ibu, saya Nara pengganti mas Hamid, mohon maaf agak telat." Ujarnya sambil tersenyum menampilkan sepasang lesung pipinya yang dalam.
Sekilas tatapan Reha dan pria itu bertemu lalu dalam beberapa detik itu ada sesuatu yang hangat mengalir di d**a Reha. Ia sering bertemu dengan pria yang tampan, melebihi Pria di hadapannya ini, namun ada sesuatu yang lain dengan Nara Maurya. Ada kharisma yang terpancar dari balik sepasang mata hitamnya yang teduh itu.
"Apa kabar Mas Nara? hampir setahun ya kita nggak bertemu, terakhir waktu acara Kementerian di Ritz Carlton Jakarta ya!" Sambut salah satu pembicara .
"Ya Prof Retno sudah lumayan lama juga ya, alhamdulilah senang ketemu Prof lagi masih tetap sehat dan makin awet muda aja Prof Retno nih!" candanya disambut dengan derai tawa wanita yang sudah berusia 70 tahun itu.
"Mas Nara ini memang paling bisa deh. Dulu saya kirain bintang film atau model dari mana gitu loh, Prof Budi, waktu pertama ketemu, tahunya sesama rekan researcher juga." Ujar Prof Retno kepada kolega di sebelahnya memuji ketampanan pria yang baru datang tersebut.
"Penggemarnya di kantor pasti banyak ya Mas Nara. Apalagi kalau ngajar pasti mahasiswinya berebutan duduk di depan." timpal Prof Budi sambil terkekeh.
"Kalau soal mengajar, Saya masih harus banyak belajar dari Prof Retno , Prof Budi dan senior-senior saya disini." sahutnya kemudian tersenyum ke arah Mrs. Linz, "I have such a great time reading your book Mrs. Linz. Some of the discussion about cross-cultural issues in your book caught my attention, and I hope to have more discussions with you later." ujarnya.
"I'm glad you love the book. Sure we can catch up later, i'll be happy to have some insightful discussion." sahutnya
"Bapak Ibu , punten, kita jadi foto dulu ya dengan mbak Reha sebelum acara mulai." Panitia kembali mengingatkan.
"Oh iya tadi kita mau foto bersama ya dengan Moderator Seleb kita mbak Reha." Sahut Prof Retno, "Maaf ya mbak, malah kami jadi asyik ngobrol sendiri." lanjutnya.
"Nggak papa Prof Retno masih cukup waktu kok." Ucap Reha lalu beralih menatap pria yang berdiri di sampingnya, "Rehavia Marz." ia memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.
"Saya pernah beberapa kali menonton acara mbak Reha, tapi ternyata memang lebih keren kalau bertemu secara langsung!" pujinya sambil menjabat tangan Reha, "Salam kenal mbak, nanti boleh minta foto selfie-nya ya!" gurau Nara kemudian disambut suara tawa beberapa koleganya yang juga menginginkan hal yang sama.
Usai berfoto bersama rombongan berjalan menuju aula, Reha merapikan beberapa cue card di mapnya, dan Nara menghampirinya, "Rehavia Marz." ucapnya sambil tersenyum, tatapan Reha segera beralih dari mapnya ke arah suara pria itu yang terdengar lembut saat mengucapkan namanya, "Namanya mbak Reha indah dan kuat sekali." ucapnya, "Orang tua mbak Reha pasti memilih nama itu dengan hati-hati dan menyimpan banyak doa di dalamnya."lanjutnya sambil memberikan selembar kertas yang berisi resume singkatnya. "Maaf tidak sempat mengirimkan via email tapi saya masih ada satu copynya." ia menjelaskan.
Biasanya, pria memujinya dengan mengatakan, nama yang cantik secantik pemiliknya and its tone is heavily s****l. Tapi, pria ini memujinya dengan cara yang tidak biasa. Indah dan kuat. Tidak ada tendensi seksual di dalamnya. It feels more graceful and sincere compliment daripada sebuah rayuan picisan yang seringkali bersliweran di telinganya.
"Terima kasih." Sahut Reha agak kikuk sambil mengambil kertas resume itu lalu membacanya sekilas, dan terkejut saat melihat tempat kelahiran Nara, "Mas Nara lahir di Dresden? Jerman?" ujarnya.
Nara mengangguk, "Ayah saya diplomat dan saya lahir saat beliau bertugas di Jerman." jawabnya.
Reha menatap Nara dengan takjub, "Ayah saya juga lahir di Dresden, tapi beliau besar di Jakarta, karena kakek saya bekerja di perusahaan Jerman di Indonesia." jelasnya.
"Sounds like a fate! kata orang tua jaman dahulu dunia itu memang kecil." guraunya. "Panggil saja saya Nara, sepertinya kita seumuran atau mungkin hanya beda beberapa tahun. " lanjutnya.
"Lima tahun lebih tua. " Sahut Reha sambil melihat kembali resume Nara.
"Siapa tepatnya yang lebih tua?" tanya Nara penasaran.
Reha memutar bola matanya, "Anda, tentu saja Doktor Nara Maurya." sahut Reha sambil tertawa lirih.
"Ah!" ucapnya, "Age is just a number. It's totally irrelevant, unless of course, you happen to be..."
Reha menyela, "A bottle of wine." Ujarnya meneruskan sambil tersenyum, "Quote from the famous Joan Collins."
Nara tersenyum, "Age is mostly a matter of mind..." ia melirik ke arah Reha menantangnya untuk menyelesaikan ucapannya.
Reha tertawa lirih, "...if you don't mind it doesn't matter." ucapnya. "Mark Twain." lanjutnya.
"Mungkin kita cocok untuk berbalas pantun nanti. Tanah melayu terkenal dengan ribuan pantunnya." canda Nara.
"Reha...panggil saja Reha." Ujar Reha kemudian.
Nara kembali memamerkan senyum manisnya, "Rehavia." ucapnya dengan ekspresi seolah-olah nama tersebut merupakan sesuatu yang sangat istimewa untuknya. "Rehavia..." ulangnya lagi.
"Yes, I am." tukas Reha sambil tertawa berusaha menyembunyikan debaran halus yang menyelinap ke dalam jantungnya setiap Nara mengucapkan namanya.
Mereka masuk ke dalam Orchid Hall dan Reha menaiki panggung lalu duduk di kursi Moderator, untuk mulai membuka acara. Dan sekali lagi, saat mendapati tatapan Nara tertuju kepadanya, Reha merasa tak dapat mengalihkan dirinya dari pandangan Nara yang lembut dan menenangkan, seperti semilir angin setelah hujan di musim panas. Seperti partitur musik romantis yang mengalun di saat senja. Dan secangkir teh hangat di udara yang dingin.
Sederhana, manis, and it was meant to be, seperti cinta pada pandangan pertama.
***