"Seriously, Reha, First Love?" Suara Sazkia terdengar penuh ketidakpercayaan, "Let me get this straight..." tegasnya, "...the first thing we discussed setelah 12 jam akhirnya lo ngehubungin gue, adalah... apa pendapat gue tentang Cinta. Pada. Pandangan. Pertama?" lanjutnya sambil memberikan penekanan terhadap 4 kata terakhir.
Reha tertawa lirih, "I know it sounds cheesy. Norak. Dan bukan sesuatu yang biasanya keluar dari seorang Rehavia Marz. But i do really want to hear your view on it." Lanjutnya sambil melepaskan stiletto heels putihnya dan meletakkan goodie bag dari acara seminar hari ini, "anggap saja i'm doing a social experiment quiz?!"
Sazkia berdecak, "I have a feeling that this is more than just a sheer of curiosity." sahutnya.
Reha tersenyum kecil, menuangkan air panas dan menyeduh tehnya, "Uh oh..., sejak kapan lo jadi cenayang? come on Saz, just help me on it, give me some insight!" pinta Reha lagi.
Sazkia menghela nafas, "Ok.." ujarnya kemudian, "But explain to me first,...kalau gue ngejawab pertanyaan lo, how will it even help us to finish stuff that we're working on? karena terakhir kali seinget gue, kita sepakat untuk memprioritaskan diskusi kita untuk mematangkan konsep tulisan tentang 'Menafsirkan Kehidupan Sosial Masyarakat Prasejarah di Sulawesi Melalui Lukisan Peninggalan Gua di Kawasan Pegunungan Karst yang Terbentang di Maros-Pangkep.' a very scientific stuff." ujar Sazkia sambil membacakan judul materi tulisan yang mereka sepakati minggu lalu.
"Well.." Reha duduk di tepi kasur sambil menikmati aroma teh mawar yang menenangkan sarafnya, "Falling in love, i believe, is part of social life, even for A Cave Man. Else, how will they reproduce?" guraunya.
"Ever heard something called Instinct?' tukas Sazkia cepat dan Reha dapat membayangkan ekspresi kesal sahabatnya itu.
"Come on Madam, give it a shot!" Reha menyesap tehnya, "Love at the first sight. Your view!" ucapnya lagi.
Sazkia berdehem, "Fine!" sahutnya, " Menurut gue...alasan dibalik pertanyaan konyol lo adalah sebenarnya...you met with someone now, in that travelling culture forum, and you need some justifications, apakah perasaan yang lo alami saat ini valid atau hanya sekedar a business trip romance." tandasnya.
Reha tersenyum simpul sambil menggeleng-geleng, "Sazkia Lim, You are so Brutal!" komentar Reha.
"Spill the bean, darling! What's his name?" tanya Sazkia tanpa mengindahkan reaksi Reha.
Seulas senyum otomatis mengembang di segaris bibir indah Reha. Sosok Nara yang mempesona berkelibat dan membuatnya mendesah, " Nara Maurya." jawabnya. "Have you heard anything about him?" tanya Reha kemudian.
"Nara...hmm...namanya sih nggak asing ya. Kayaknya gue pernah denger. It's quite familiar actually." Sazkia mencoba mengingat-ingat dimana ia pernah mendengar nama itu, "Tell me more about him, siapa tahu gue pernah ketemu." katanya lagi.
"Better! I'll send you his CV." sahut Reha kemudian mengeluarkan ponselnya dan memfoto resume Nara kemudian mengirimkannya kepada Sazkia, " Done. Sending. Check your w******p!" infonya dengan sigap.
"God My Oh!" seru Sazkia beberapa detik kemudian, "Are you sure he's a Researcher? Not a movie star or model? he could easily attend Met Gala, acting like one of those celebrity, and no one will ever bat an eyelid!" lanjutnya dengan bersemangat.
"Right!" sahut Reha kemudian menghempaskan tubuhnya ke kasur, "Dia sangat menawan saat tersenyum and is an absolute incarnation of man with sophisticated mind when he start talking about his field." ujarnya sambil membayangkan sosok Nara yang penuh semangat dan bersinar saat memberikan presentasi di Podium.
"Sepertinya ada yang benar-benar terpikat!" Sazkia tergelak, "Can't blame you tho! He's down right Hot, cukup satu senyuman dan kebanyakan perempuan normal pasti akan bertekuk lutut." lanjutnya. "I wonder how many woman offered their bed to him?"
Reha menarik nafas dan menutup matanya, "Ini lebih dari ketertarikan secara fisik." Katanya kemudian, "Gimana ya cara menjelaskannya, Saz. Each time he smiled at me i feel drawn to him. Each time he called my name my heart is fluttering. And our conversation sparks like a flying color. It feels like..."
"Tunggu...tunggu darling..." Sazkia segera memotong ucapan Reha, "Now, you freak me out." ungkapnya. "Gue bisa ngerti kalau lo terpesona, he's a total gem, i get it!" lanjutnya dengan cepat, " But call for love? Love at the first sight?" Sazkia menjentikkan jarinya, "...wakey wakey sweetie, you're not Cinderella and He ain't no Prince Charming."
Reha bermaksud untuk mengatakan sesuatu, tetapi Sazkia dengan cepat memotongnya lagi, "Re, you just met him today, baru beberapa jam yang lalu, what can you do in this few hours? a hey, hello, smile, nod, some small talks, perbincangan kecil di forum mungkin, ketawa saat joke makan siang, at max lo berdua lirik-lirikan, curi-curi pandang.... It's not a connection honey, It's Infatuation." tandasnya.
Reha bangun dari kasurnya dan berjalan menuju jendela kamar hotelnya yang menampakkan pemandangan Kota Palembang menjelang malam, "Saz, gue bisa banget bedain antara urusan kebirahian sama emotional connection. They are on two different realm." ucapnya, " Kalau gue Clubbing, terus stumble into sexy man and i cant get my eyes off him, it is most likely infatuation. But this, Saz, i met him on scientific forum! Now you tell me what are the chances of feeling on heat over a man in the conference that talk heavily tentang warisan budaya, coba?"
"Biarpun 1 persen tetap juga disebut sebagai sebuah kemungkinan 'kan?" Sazkia bersikukuh.
"Oh, Please, Saz!" sahut Reha
"Don't Please me but Please your sense!" tanggapnya, "Reha, he's 40 years old, a handsome and refining man, wouldn't that alarm you?" pancing Sazkia, "Menurut lo masuk akal gitu kalau cowok se 'sempurna' Nara di usia segitu masih sendiri?"
Reha berdehem, "I don't see any ring on his finger." sahutnya sekenanya.
"Johan juga nggak pake cincin di jari manisnya, but he's very much married to me, our twin toddlers, three cats and one hedgehog. There you go!" Ujar Sazkia. "Absence of ring does not equal to absence of wife or family." imbuhnya.
Reha juga menyadari hal ini. Tentu saja. Sejak awal ia sudah terpikir tentang status Nara. Tapi, sekali saja dalam kehidupannya yang selalu dipenuhi oleh rasionalitas dan logika, ia ingin percaya tentang takdir dan keajaiban.
"Tapi, probabilitas dia masih Single juga tetap masih ada kan!" Sahut Reha tidak mau kalah.
"Cowok ganteng, mapan di umur 40 tahun tapi belum menikah. Kemungkinannya cuma he's a gay or he's a player!" oceh Sazkia.
"Or..." Reha berujar, "He's simply belum nemu yang cocok aja." tukasnya.
Sazkia berdecak jengkel, "Up to you, then, nona besar. Lo kan yang nanya pendapat gue dan udah gue jawab. Kalau lo masih mau trying your luck, go a head, date him!" ucapnya, "Let me know how the story goes." ujar Sazkia lagi, "I'll cheer you when things running well and I'll hear you with open ears if you broken heart." Sazkia mengakhiri kalimatnya dengan dramatis.
"Ouch, aren't you such a good friend!" sindir Reha sambil tertawa lirih.
"I am darling. True friend will stab you on the front. Giving a slap of reality. Kalau cuma ngangguk, ngikut ngikut aja sama membeo doang sih namanya bukan sahabat tapi bayangan." tegas Sazkia.
"And I love you for that!" tanggap Reha sambil meletakkan cangkir tehnya yang sudah kosong.
"You're welcome. Love accepted. Anyway, cukup dengan urusan cinta-cintaan. Jangan lupa Send me My Cave Man Social Life draft framework secepatnya!" Sazkia mengingatkan.
"Iya...iya... bawel banget sih, nanti juga gue kirim." sahut Reha kemudian mematikan ponselnya dan bergegas untuk mandi.
***
Banyak tulisan bijak menyatakan bahwa di Dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan. Dan Reha tidak pernah benar-benar menganggap bahwa ungkapan itu memiliki arti yang khusus, hingga beberapa detik yang lalu saat ia keluar dari kamar hotelnya untuk makan malam, dan mengetahui bahwa kamar Nara ternyata tepat bersebelahan dengannya.
Nara melemparkan senyum manisnya dan menatap Reha dengan mata berbinar, "wah, mbak Reha ternyata kita tetanggaan." ujarnya ceria.
Reha balas tersenyum, Nara terlihat sepuluh tahun lebih muda dari usianya saat mengenakan kaos putih polos, celana jeans biru dan sneakers putih yang sporty. His beautiful jawline goodness me...hati Reha mencelos. Nara terlihat seperti seorang model yang keluar dari cover majalah Vogue.
"Hey, we have a deal. Just call me, Reha." sahut Reha sedikit canggung, tidak yakin harus bicara apa karena kata-katanya seolah menguap begitu saja di udara.
"Reha, ok " ujarnya. "Mau makan malam di hall atau ada acara lain?" tanya Nara, "You look..." Nara terdiam sesaat berusaha menemukan kata yang tepat sambil memperhatikan penampilan Reha yang kasual dan anggun dalam balutan gaun vintage midi floral berwarna lilac, make up yang natural, dan rambut coklat ikalnya yang tergerai, "Poetic..." lanjutnya dengan suara dan sorot mata yang melembut.
Again. Setiap pujian yang dilontarkan Nara kepada dirinya is smoother than butter, dan selalu berbeda. He's a real gentleman.
"Well, thank you." Kata Reha kemudian merasa salah tingkah " And yes, dinner at the hall, lapar banget habis seharian ngomong ngalur ngidul di panggung." sahutnya berusaha bergurau untuk mencairkan suasana hatinya sendiri.
Nara menekan tombol lift dan pintunya langsung terbuka, tidak ada satupun tamu hotel lain di dalam lift. Mereka ada di lantai 16 dan Dinner Hall ada di lantai 2. Ini mungkin akan menjadi perjalanan 14 lantai terpanjang yang pernah terjadi dalam hidupnya, pikir Reha.
"Ladies First." Canda Nara sambil mempersilahkan Reha masuk duluan ke dalam lift.
"Very Well " Reha segera melangkah masuk ke dalam lift sambil tersenyum kikuk.
"Aku penasaran." Ujar Nara tiba-tiba sambil menekan tombol menuju lantai dua. " How do you get your british accent, itu terbawa waktu kuliah di luar negeri atau bagaimana?"
Reha tersenyum, "Nggak juga sih. Aku S2 di Melbourne, i should have Aussie accent if it was the case, tapi mungkin karena sering nonton British Drama dan BBC?" sahutnya.
Nara mengangguk, " By the way..." Ia mendekat ke arah Reha dan bersandar di dinding lift, "Gimana kalau kita kabur dan makan malam ke tempat lain?"
Jejak tipis parfum Nara yang beraroma antara fruity, rempah-rempah dan musk kayu, berpendar lembut di penciuman Reha dan cukup membuatnya sulit berkonsentrasi. Reha mendengar apa yang Nara katakan tapi bibirnya seolah terkunci dan pada akhirnya ia malah mengatakan, " I'm sorry, what?" sambil mencoba mengalihkan pandangannya dari lekukan leher Nara yang membuat imajinasinya melebar kemana-mana. Damn, Saz was right, i do have infatuation! gerutunya dan raut wajah Saz yang penuh kemenangan dan seolah mengatakan 'kan gue udah bilang It ticks the infatuation box' otomatis terbayang di kepalanya.
"Dinner outside." Sahut Nara, " Tapi kalau kamu prefer makan di hotel, it's totally fine." Nara lekas menambahkan tidak ingin membuat Reha merasa tidak nyaman dengan idenya untuk makan di luar. "Aku cuma berpikir bosan aja karena sudah seharian di hall dan ingin cari pemandangan lain."
Reha segera menggeleng, "No..no of course not..." melihat pandangan Nara yang kurang paham dengan jawabannya, membuat Reha buru buru menjelaskan, "Maksudku, I'm good to go, it's a good idea!" serunya, "Makan di luar, lihat pemandangan kota. It's going to be a nice Date!" lanjutnya, "Experience!" Ia spontan mengoreksi ucapannya sambil menggeleng, "...maksudku Nice Experience!" Ia segera menegaskan lagi sambil merutuk kebodohannya sendiri. Date??? dasar i***t!
Nara tersenyum, tidak pernah terpikir di benaknya bahwa seorang Rehavia Marz yang selalu penuh percaya diri dan berkilau di balik layar TV bisa menjadi canggung juga. Reha terlihat sangat menggemaskan dan somehow lebih nyata saat menunjukkan sisi ekspresinya yang lain dan Nara menikmatinya.
"Fantastic!" Sahutnya, "Mau makan apa?" tanya Nara dengan bersemangat sambil merubah tujuan mereka ke lantai lobby.
"Terserah!" Jawab Reha spontan.
"Ufff salah satu kata kata sakti Perempuan yang akan membuat dialog panjang yang membingungkan." ujarnya sambil pura pura membuat ekspresi ketakutan, " Don't 'terserah' me" lanjutnya.
Reha tergelak melihat reaksi Nara kemudian berkata, "Ok let me think first..." tiba tiba pintu lift terbuka di lantai lima dan serombongan orang masuk memenuhi lift dengan koper dan barang lainnya, membuat Nara dan Reha terdesak dan terdorong ke belakang.
Jantung Reha seolah melonjak tajam saat Nara menarik lengannya mendekat sambil tersenyum. Dia dapat merasakan kehangatan tubuh Nara dengan sangat jelas.
"Ibu hamil" Nara berbisik di telinga Reha sambil memberikan isyarat dari sudut matanya, tentang alasan ia menarik Reha mendekat agar ada ruang lebih untuk perempuan yang sedang mengandung dan berdiri di samping Reha sambil menggandeng anaknya.
Reha sudah berkencan dengan banyak pria. Holding hand is pretty basic. Dan memegang lengan seseorang is very much a courtesy, most non s****l act of all, that's it until tonight. Reha dapat merasakan darahnya berdesir hanya karena Nara memegang lengannya selama di Lift. She wants him to hold her longer, dan pikiran itu membuatnya yakin bahwa ia sudah setengah tidak waras.
Nara melepaskan pegangannya saat lift sampai di Lobby dan para tamu keluar.
"Jadi, sudah kepikiran mau makan apa?" tanya Nara sambil mengeluarkan ponselnya.
Reha mengerjapkan sepasang bola matanya yang bulat, satu-satunya hal yang sedang memenuhi kepalanya saat ini adalah Nara and his very existence.
"Reha?" Nara menatap Reha memastikan.
"Oh that's..." Reha berpikir dengan cepat tentang kuliner legendaris di Palembang, "Mie Celor!" sahutnya kemudian.
"Mie Celor 26 Ilir Hm. Syafei ?" Ujar Nara.
Reha mengangguk, " Is that fine?'"
Lesung pipi yang dalam terukir di seraut wajah tampan Nara, "Sempurna!" ujarnya kemudian segera memesan mobil online.
***
Pemandangan Sungai Musi lebih sempurna dinikmati di pagi atau sore hari. Tetapi cahaya keemasan lampu di sepanjang selasar Plaza tugu ikan belido dan kemilau merah jembatan Ampera berhasil membangun romantisme kawasan tersebut untuk di nikmati sambil berjalan kaki di malam hari.
Nara dan Reha memutuskan untuk menyusuri pinggiran Musi setelah makan malam sambil menikmati segelas kopi hangat. Nara berhenti di salah satu sudut dan bersandar sambil memandang ke arah Benteng Kuto Besak yang berdiri dengan megah.
"Dibangun pada tahun 1780 dan selesai sekitar 17 tahun kemudian." Nara menatap bangunan tersebut dengan kagum, "Benteng ini merupakan salah satu Master Piece di masanya dan sedikit dari Benteng yang dibangun oleh penguasa lokal yang masih tersisa." lanjutnya.
Reha mengangguk, " Aku meliput tentang Kesultanan Palembang pertama kali sekitar 3 tahun yang lalu and was amazed to learn that It once had a sizable library and houses a large collection of Malay and Arabic literature. And some even rare manuscripts." ujarnya.
"Ya kalau dilihat sejarahnya memang Sultan Bahauddin membawa kesultanan Palembang pada masa keemasannya. Bukan hanya seorang Agamawan tapi beliau juga dikenal sebagai sosok yang realistis dan praktis dalam perdagangan internasional, serta kecintaannya terhadap literatur menjadikan Palembang sebagai pusat sastra agama di nusantara." tutur Nara.
"Benteng, Perpustakaan, Masjid Agung, Diplomasi, He's for sure a busy king and such an accomplished ruler isn't he?" Ucap Reha penuh kekaguman.
"Begitu juga Putranya, Sultan Mahmud Badaruddin II. Wise Yet Fierce." Ujar Nara.
" The National Hero who tamed the British Army, beat the hell out of the Dutch Navy, but unfortunately betrayed by one of his own family dan berakhir di asingkan Belanda ke Ternate." Reha berdiri dan menunjukkan jarinya ke suatu tempat, "Lawang Borotan, pintu belakang benteng, terakhir kalinya SMB II keluar dari Keraton Kuto Besak untuk dibawa ke Batavia menuju ke pengasingannya."
Nara mengangguk sedih, "Sebuah simbol penghinaan." ujarnya. "Sultan Melayu terkuat dan terkaya digelandang untuk meninggalkan Istananya lewat jalan belakang."
" For me It's the betrayal part that was uber Disgraceful!" Sahut Reha dengan kesal.
Nara mendesah, "Pengkhianatan...." ujarnya
"I know it happens di setiap sejarah kerajaan dan kesultanan Nusantara di masa itu. Terlepas dari it was part of the Dutch strategy, the divide et empera stuff, tapi tetap saja it's unacceptable!." Reha berdecak kesal, " Salah satu hal yang paling sulit untuk dimaafkan adalah dikhianati oleh orang orang dekat kita sendiri." lanjutnya.
Nara tersenyum, "Sepertinya diskusi sejarah kita malam ini ruining your mood." godanya, " Jadi sebaiknya kita hentikan saja dan melanjutkan jalan menikmati keindahan malam ini?"
Reha tertawa lirih, "I'm sorry." sahutnya, "Nggak bermaksud jadi party pooper!"
Nara menggeleng, "No worries, we're not doing party." ia tersenyum, "We're dating." goda Nara sambil mengedipkan matanya
"Nara!" protes Reha gemas.
"Reha!" balas Nara sambil tertawa.
"Bagaimana kalau kita ngobrolin soal kuliner aja?" usul Reha
"Masih lapar? Apa kita perlu mampir ke Martabak Har?" sahut Nara.
"Oh no thank you!" Reha menggeleng cepat. Kalori dari seporsi penuh Mie Celor tadi saja masih belum terbakar sepertiganya. Ia tidak sanggup untuk memikirkan untuk makan lagi.
Angin dingin yang cukup kencang bertiup dan samar samar aroma hujan sepertinya mulai memenuhi udara malam. Reha merapikan rambutnya yang berantakan tertiup angin dan Nara tersenyum, kemudian mengulurkan jemarinya menyelipkan rambut Reha ke telinganya. Itu hanya sebuah sentuhan yang ringan tapi cukup untuk membuat jantung Reha berdegup.
"Kamu ngingetin aku sama Viola." Kata Nara
"Viola?" ulang Reha penasaran. Siapa Viola apakah pacarnya? batin Reha diselusupi kecemburuan.
"Anjing tetanggaku." Nara tertawa lirih. "Bulunya gondrong gondrong gitu sampai nutupin muka dan dia jadi suka bingung sendiri." katanya lagi.
"Oh, anjing." Reha seketika merasa lega. "Kamu suka anjing?" tanyanya kemudian.
"Suka." Nara meminum sisa kopi terakhirnya lalu membuang paper cup nya ke tong sampah, "tapi I'm more a Cat person than a dog person." lanjutnya.
Mata Reha seketika berbinar, "Piara kucing dong? Aku juga punya satu."
"Di piara maksudnya? Cat praised as a god in ancient Egypt and Human is their humble Slave. Dan somehow itu hubungan kok ya tetep relevan sampai sekarang." gerutunya.
"Jadi punya kucing apa?" tanya Reha bersemangat.
"Kampung. Betina. Belang Telon." Jawab Nara kemudian menunjukkan foto kucingnya di layar ponsel.
Reha terbelalak, "Hah kok samaan sih kita?"
Nara tertawa, "Bagus dong nanti kita bisa ke Salon kucing bareng." guraunya.
"What's her name? she's sooo sweet."
"Caramel.Caramia. Caramiaw. Caragirl. Carakus" Nara tergelak, "Namanya ada banyak tergantung situasi." lanjutnya, "and your Cat?" Nara balik bertanya.
"Sophie. Si galak Sophie." Jawab Reha kemudian membuka ponselnya dan menunjukkan foto kucingnya.
"She looks so Royal." ujar Nara, kemudian menatap Reha, " Delicate." Ia tersenyum tipis, "Like you."
Nara memiliki bulu mata yang panjang dan alis tebal sempurna yang membingkai sepasang mata teduhnya, Reha, selalu merasa tertarik ke dalam tatapan pria itu. She wants him more.
"Kayaknya udah mau hujan." Ujar Reha mengalihkan topik dan menepis pikirannya sendiri, "Sebaiknya kita balik ke Hotel."
Nara mengangguk, "Sure, it's been a really nice night walking experience. " ujarnya. "...and ehmm..dating." godanya.
"Oh, Shut Up Nara!" protes Reha kemudian mereka berdua tertawa.
***
11 Februari 2016
Connection Check. Infatuation Check.
Sepertinya aku telah menemukan semuanya di dalam sosok Nara. Jadi mungkin kali ini aku boleh sedikit berharap musim semi akan singgah kan?
Ps: Rehavia Marz.