Isabella dan Friska sibuk melayani para pengunjung kafe. sudah setahun sejak dia lulus kuliah, dia memilih bekerja di kafe ini. walau kakek Ragandra pernah menawarinya pekerjaan di kantor, tapi karena ada Rafael di sana, Isabella menolaknya.
dia memilih pekerjaan yang disukainya. meskipun belum tentu Rafael mengenalnya, namun dia sangat ingin menghindari pria yang berstatus suaminya itu.
Sudah tiga tahun berlalu, dia menjadi istri Rafael. tapi pria itu tak pernah sekalipun menyentuhnya. jangankan bersikap manis atau mesra. pria itu bahkan menganggapnya tak pernah ada.
Entah bagaimana dia dimata Rafael. pria itu memberinya tempat tinggal yang megah, tapi dia bahkan tak pernah sekalipun tinggal di sana. jika kakek Ragandra meminta mereka berkunjung setiap akhir bulan, maka Rafael akan menunggunya di pertigaan tak jauh dari kompleks mansion keluarga besar mereka.
"Jadi kamu sudah benar-benar keluar dari rumah besar itu?"Tanya Friska disela makan siang mereka.
"Hmm"Isabella mengangguk
"Kasihan sekali nasib kamu yaa... menikah selama tiga tahun tapi jadi istri yang tidak dianggap"
"Mungkin aku lagi sial"Seloroh Isabella. Tak ada raut kesedihan terpancar di wajahnya. dia terus menikmati makan siangnya.
"Sudah berapa lama kamu tinggal di apartemen?"
"Tiga hari"
"Apa kamu nggak nyesel keluar dari rumah besar itu? kamu bisa kan minta rumah itu sebagai kompensasi kepada pria itu? hitung-hitung kamu sudah mengorbankan tiga tahun hidupmu sebagai istri yang tidak dianggap"saran Friska
Isabella menggeleng" Aku bersyukur bisa keluar dari pernikahan palsu ini"Ucapnya
"Bel, apa dia sama sekali tidak pernah menyentuh kamu?"Isabella menggeleng"Kamu kurang apa coba? cantik, baik, rajin, pintar, ramah dan penuh perhatian. bagaimana bisa gadis sebaik kamu diabaikan oleh seorang pria?"
"Apa suamimu punya kelainan seksual dan penyuka sesama jenis?"Isabella mengedikkan bahunya.
"Udah.. jangan bahas dia lagi.."Sela Isabella malas.
"Jadi pengen lihat seperti apa tampang pria bodoh yang mengabaikan berlian seperti kamu"Isabella tersenyum.
"Dia punya wajah yang agak menyeramkan. hidungnya sedikit besar, bibirnya juga besar, rambutnya ikal dan kasar kayak sapu ijuk "Friska menatap horor kearah Isabella.
"Segeralah urus perceraian kalian, pria sejelek itu, mana pantas bersanding darimu..."Ucap Friska dengan wajah ngeri."Udah jelek, ngelunjak lagi"Tambahnya.
Diam-diam Isabella bersorak dalam hati. Friska tau tentang pernikahannya, tapi Isabella tak pernah mengatakan kebenaran tentang Rafael. seorang pria tampan berdarah campuran Turki china dan Indonesia. Kakeknya asli Turki dan neneknya Indonesia. Sementara ayahnya menikah dengan gadis asal china.
Matanya sedikit cipit, tapi hidungnya mancung dengan garis wajah dan mata orang Turki. tubuhnya tinggi tegap dan berotot hampir 190. Isabella pernah menyukainya dan menyimpan harapan padanya.
Tapi setelah berlalunya waktu dan pria itu tak pernah menghargainya, bahkan cenderung menganggapnya angin lalu, membuat Isabella membuang jauh-jauh perasaan itu . hingga sekarang, keinginan terbesarnya adalah lepas dari belenggu pernikahannya setelah kakek Ragandra wafat.
Di mansion kakek, hanya kakek saja yang menganggapnya ada. selebihnya hanya menganggapnya bagai debu yang tersapu angin lalu.
Isabella tidak tau mengapa Rafael begitu membencinya. padahal selama tiga tahun ini dia sudah bersikap cukup baik.
"Bella.. Isabella"Friska menggoyang bahu Isabella
"Kenapa Fris.. kamu ngagetin aku tau nggak..."Tanya Isabella sedikit kesal
"Habis kamu di panggil nggak nyahut-nyahut.. kenapa? lagi mikirin pria jelek yang mengabaikan kamu itu?"
"Nggak.. cuman kangen sama kakek saja"Sela Isabella
uhuk..uhuk
Tiba-tiba Friska tersedak"Kamu kenapa? makanya minumnya pelan-pelan.."Isabella menepuk punggung Friska sambil terus mengomel.
Friska minum dengan cepat, tatapannya lurus ke pintu masuk kafe
"Sumpah.. cowok itu ganteng banget.."Gumam Friska dengan mulut sedikit terbuka.
"Hush.. kalau ngomong mulutnya di tutup, nanti kamu ileran"Goda Isabella tapi diabaikan oleh Friska
"Sial.. aku kalah cepat dari Ceni, harusnya aku yang membawa daftar menu ke cowok itu"Umpat Friska dengan kesal.
Isabella sedikit mengerutkan keningnya. pelayan kafe pada heboh karena kehadiran seorang pelanggan. apa mereka sampai harus segitunya hanya karena dia tampan?
Friska sudah pergi meninggalkan Isabella tanpa gadis itu sadari. dia menoleh kearah sumber keheboan. tapi dia tidak melihat pengunjung tampan yang dimaksud karena terhalang oleh teman-temannya.
Isabella yang sudah selesai makan. segera merapikan bekas makannya dan Friska sambil geleng-geleng kepala menyadari sikap Friska barusan.
"Dasar cewek.. udah punya Ardi tapi masih saja jelalatan dengan pria lain"Gumam Isabella pelan sambil menggeleng tak mengerti.
"Bella.."Friska dan beberapa pelayan kafe, berdiri di pintu dapur dan menatap Isabella yang sedang meletakkan piring kotor.
"Kenapa kalian?"Tanya Isabella yang mendapati rekan-rekannya berkumpul untuknya.
"Pria tampan itu membooking seluruh meja, minta disediakan seluruh menu kita."Jawab Friska
"Baguslah.. "senyum Isabella. tapi dia lagi-lagi mengerutkan keningnya karena rekan-rekannya masih berdiri disana"lalu...?"Tanya Isabella
"Dia minta kamu yang melayaninya dan menemaninya makan"Ucapan Ceni membuat Isabella membatu di tempatnya
"Aku..?"Isabella mengarahkan telunjuknya ke d**a nya dan dijawab anggukan oleh mereka"Tapi. kenapa harus aku?"Tanya Isabella bingung.
"Maaf Isabella.. dia bertanya siapa pelayan kafe yang paling ramah dan cantik di sini. jadi kami mengatakan kalau itu kamu..."Rekan yang lain menimpali.
Isabella menatap mereka tak percaya, bisakah mereka lebih pandai sedikit? bukankah pelayan kafe ini semuanya cantik? mengapa dia yang mereka sebut sih? ada apa sebenarnya?
"Dia pengunjung tampan yang dingin"Friska mengeluh" Hanya kamu yang bisa melayani pelanggan yang dingin kayak gitu. mau yaa bella.. pliss"Mohon mereka
"Bukannya kalian antusias tadi menyambutnya?"Tanya Isabella setengah meledek
"Nggak jadi dehh.. buat kami yang setengah tampan saja asalkan ramah dan tidak ada bodyguardnya."Ucap Friska "dan juga kamu tak perlu khawatir. kami yang akan membantu merapikan meja. kamu hanya perlu berada di samping pelanggan itu saja"
Isabella menunduk sejenak "Baiklah.."Jawabnya akhirnya membuat yang lain merasa lega.
.
.
Langkah Isabella terhenti, pengunjung tampan sekaligus menakutkan yang digambarkan teman-temannya, duduk tak jauh darinya. Dia sedikit menyamping dengan tatapannya yang tak pernah beralih dari ponsel ditangannya.
Sesekali dia mengetik sesudah itu membuat panggilan.
Bukan wajah arogannya yang membuat Isabella sedikit gentar. Tapi keseluruhan yang ada pada nya. karena pria itu adalah Rafael. suaminya selama tiga tahun, tapi tak pernah menganggapnya ada.
tapi... sedang apa dia di sini?