Friska dan yang lain sudah sibuk merapikan meja. semua hidangan spesial di kafe itu, disajikan diatas meja sesuai pesanan pelanggan. sepertinya Rafael memesan semua jenis menu yang ada membuat meja itu menjadi penuh.
"Isabella.. duduklah disini"Friska menarik tangan Isabella dan memaksanya untuk duduk di kursi yang berseberangan dengan Rafael, tapi Isabella bertahan untuk tetap berdiri.
"berdiri saja Friska.."tolak Isabella
"tapi kenapa?"tanya Friska heran
"lihat.. aku takut dengan bodyguardnya yang garang-garang itu"bisik Isabella dengan mimik dibuat seserius mungkin.
"duduklah.."Rafael berbicara dengan suara dinginnya. Isabella menatapnya tak percaya, sejak kapan pria dingin dan arogan ini mengajaknya bicara?
Friska mendorong Isabella dan memaksanya agar duduk, membuat Isabella mau tidak mau mendudukkan bokongnya ke kursi dengan sangat terpaksa. kursi yang selama ini begitu empuk dan dirasa Isabella sangat nyaman saat dia duduki, tiba-tiba menjadi berduri.
setelah semua menu sudah tersaji diatas meja. rekan-rekan Isabella yang ikut merapikan meja, sudah menghilang dari pandangan sebelum memberi isyarat kepada Isabella agar berbuat baik kepada pelanggan baru. mereka takut berlama-lama disana karena tatapan bodyguard Rafael yang penuh ancaman.
Tapi dibalik rasa takut mereka, tersimpan harapan besar terhadap Isabella. semoga teman mereka mampu melayani pengunjung tampan tapi dingin itu dengan ramah. siapa tau pria tampan itu bisa menjadi pelanggan tetap kafe mereka. kan lumayan buat nambah penghasilan. dan lagi, mereka tidak akan sibuk karena tempat itu hanya dihuni oleh satu orang saja.
Rafael menatap Isabella sekilas, kemudian meraih sendok di depannya.
"makanlah.."ucapnya hampir seperti gumaman kearah Isabella.
"apa?"Isabella bertanya tak percaya. Rafael mendengus.
"Aku tidak suka mengulangi ucapan ku"Isabella kembali menegakkan tubuhnya. dia terlalu terkejut mendengar ucapan Rafael. tiga tahun berlalu tanpa komunikasi, mengapa sekarang pria itu datang dan mengajaknya makan?
Trangg
Rafael meletakkan sendok ditangannya dengan agak keras membuat Isabella terkejut. pria itu membuang pandangannya kearah lain, sebelum kembali menatap wanita didepannya.
Isabella menatap pria itu bingung"mengapa kamu tidak makan?"tanyanya sambil mengerutkan keningnya. Rafael bersikap acuh, dia tak menjawab pertanyaan Isabella dan hanya sibuk mengawasi seisi kafe.
"jadi disini tempat kamu bekerja?"tanya Rafael, membuat Isabella kesal karena pertanyaannya tidak dianggap oleh Rafael. malah pria itu balik bertanya padanya.
"jika bukan untuk makan, buat apa kamu kesini?"tanya Isabella dingin. pria itu menatap kearahnya dengan tenang.
"mengapa tidak datang ke mansion?"tanya Rafael lagi
"Aku sudah tidak ada urusan lagi disana"jawab Isabella acuh tanpa menatap Rafael "lagi pula kakek baru meninggal. mengapa kalian terburu-buru untuk membagi warisan?"cibir Isabella
"Apa kamu berpura-pura sok suci sekarang? bukankah ini kesempatan yang kamu tunggu-tunggu? kamu dan kakek sudah membuat kesepakatan bukan?"Isabella menatap tak terima kearah Rafael. sudah cukup pria itu mengabaikannya selama tiga tahun, sekarang dia tak berhak lagi bersikap seenaknya padanya.
"Makanlah dan pergilah dari sini secepatnya, kita berdua sudah tidak ada urusan lagi."ucap Isabella tajam. dia tak gentar lagi dengan pria didepannya. pria yang selalu membuatnya gemetar tiap berpapasan, kali ini dia tak takut lagi padanya. bahkan dia sangat membencinya.
"Urus saja surat perceraian kita secepatnya. setelah itu kita tak perlu saling mengganggu kehidupan masing-masing"tambah Isabella dengan wajah masam.
"Hahh.. semuanya sesuai dugaan ku. memang ini yang kamu inginkan"Rafael tertawa mengejek sambil menatap Isabella dengan wajah mencemooh membuat jantung Isabella berdenyut sakit
Sudah ku lepaskan keluarganya dengan pergi dari kehidupannya? tapi mengapa dia masih membenciku?
"Apa maksudmu?"tanya Isabella dengan suara sedikit bergetar.
Rafael tertawa kecil dan dengan pandangan menghina dia kembali menatap Isabella. memperhatikan wajah dan tubuh wanita didepannya membuat Isabella merasa risih.
Rafael memajukan wajahnya dan berucap setengah berbisik "Ucapan dan tindakanmu benar-benar bertolak belakang. kau bilang ingin bercerai? begitu semangatnya kamu ingin segera mendapatkan lima puluh persen harta kekayaan kakekku"
"Aa..apa maksudmu?"suara Isabella bergetar, dia merasa semakin bingung.
"Sayaang... selamat karena kamu berhasil mempengaruhi kakek di akhir-akhir hidupnya. dan... mengenai perceraian kita... "Rafael berhenti sejenak, mengamati wajah Isabella yang pucat"Aku tidak akan pernah menceraikan kamu sebelum aku mendapatkan kembali harta ku yang kau rampok.."
degg
Jantung Isabella bagai ditonjok dengan sangat keras. apa maksudnya ini?
"Jangan bicara omong kosong.. kamu sudah keterlaluan"mata Isabella memerah marah. dia sudah pergi dari hidup pria ini, mengapa dia berkata kalau dirinya berpura-pura? cobaan apa lagi ini?
"Baiklah.. buktikan kalau ucapan ku omong kosong. kamu pergi menemui Pak Gandhi dan bertanya soal isi wasiat kakek. dan rubah lah isi wasiat itu jika kamu bisa"ucap Rafael dingin. dia bangkit dari kursinya, dia melangkah mendekati Isabella yang membeku ditempatnya.
Menunduk sedikit dia berbisik"Apa kamu benar-benar ingin tidur denganku hingga menjadikan syarat memiliki keturunan dariku agar aku mendapatkan posisiku dan hartaku kembali?"
plak
Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Rafael membuat pria itu dan bodyguard disampingnya terkejut.
"Kamu sudah keterlaluan..!!"suara Isabella meninggi dengan air mata diwajahnya. dia berdiri dengan sangat dekat dihadapan Rafael. menatap pria itu dengan kemarahan yang meluap -luap"apakah tiga tahun tidak cukup bagimu untuk menghina ku? aku sudah pergi dari hidupmu dengan senang hati, tapi kamu masih mencari ku dan bicara omong kosong begini?
baiklah.. aku yang akan mengurus perceraian kita. dan soal wasiat itu, bukan urusanku sama sekali. apa kamu puas?"bentak Isabella
Rafael menatap tajam Isabella yang sedang meluapkan emosinya. dia menoleh kearah bodyguardnya dan berkata"bawa Nyonya keluar dari ini"titahnya