"Apa yang mau kau lakukan!"Isabella berteriak marah saat dua bodyguard Rafael sudah berdiri disisi kanan dan kirinya.
"Ada apa ini?"Jemy manajer kafe datang dengan wajah masam. dia baru saja datang dan melihat pemandangan yang kurang menyenangkan. Friska dan yang lainnya juga sudah berdiri dibelakangnya, menatap Isabella antara penuh tanya dan rasa takut
Jemy adalah pria tampan yang seusia Rafael, pria yang sudah dikagumi Isabella setahun belakangan ini karena sikapnya yang ramah dan sangat penuh perhatian.
"Jemy, tolong aku. pria ini mau membawa ku pergi"Pinta Isabella dengan panik. dia membenci Rafael dan mulai menyukai Jemy. tentu saja dia berharap akan lolos dari genggaman Rafael.
"Lepaskan dia.. anda tidak berhak mengganggunya"bentak Jemi marah kearah Rafael.
Rafael sedikit menyipitkan matanya, dia mengamati tatapan penuh harap Isabella pada pria didepannya, dan dia menyeringai.
"Apa hak anda melarang saya membawa pergi istri saya?"ucap Rafael sinis membuat Isabella dan yang lainnya terkejut.
"Rafael, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi"bantah Isabella cepat. bagaimana bisa pria b******k ini membuka identitasnya secara terang-terangan. bukankah selama ini dia yang tidak mau mengakui hubungan mereka?
"benarkah?"Rafael mencibir dingin. ada kemarahan di mata nya untuk Isabella"kamu benar-benar istri yang mau seenaknya. kamu sudah berjanji untuk hamil di tahun ini, tapi menundanya demi pekerjaan hina seperti ini"
"hentikan omong kosong mu!!"teriak Isabella
"Bung, Isabella sudah tidak menyukaimu lagi. lepaskan dia"bentak Jemy geram.
buk buk
tiba-tiba bodyguard Rafael sudah maju dan memukuli Jemy dengan sangat keras.
"hentikan apa yang kalian lakukan?"Isabella ingin menghalangi bodyguard tapi Rafael mencekal pergelangan tangannya."lepaskan aku dasar bajingan..!!"
"Sudah cukup bersenang-senangnya sayang.. sekarang waktunya kamu menjadi istri yang sesungguhnya"ucap Rafael penuh penekanan sambil menyeret Isabella yang masih menjerit memanggil nama Jemy.
tidak ada yang berani bertindak lebih, karena sekitar sepuluh pria berbadan kekar sudah mengawal Rafael dan Isabella pergi. Friska dan yang lainnya hanya bisa merawat Jemy saat rombongan para psikopat itu pergi.
***
Buk
Rafael menjatuhkan Isabella dengan cukup keras diranjang king size dalam kamar yang mewah.
"Mengapa kamu seperti ini? bukankah selama ini kamu tidak perduli padaku?"tanya Isabella ketakutan dengan air mata di pipinya
"Aku tidak perduli padamu. Aku hanya ingin hartaku kembali bagaimanapun caranya"jawab Rafael sinis. dia mendekati Isabella dan menarik rambut gadis itu "meskipun itu dengan harus membuatmu hamil"
Isabella meringis merasakan perih di kulit kepalanya"lepaskan.."ringis Isabella dengan air mata di pipinya.
Rafael menghempaskan tubuh Isabella keranjang"cepat mandi, aku tidak ingin menyentuh tubuh yang kotor"perintah Rafael. tapi Isabella tidak beranjak dari ranjang. dia masih menangis terisak "jangan menguji kesabaranku, cepat mandiiii!!!"bentak Rafael sambil melayangkan tinju kearah kepala ranjang yang hampir mengenai wajah Isabella membuat gadis itu menggigil ketakutan.
Dia bangun dan berlari kearah kamar mandi. sampai didalam dia terjatuh dan menangis sesegukan. setelah tiga tahun tertekan dengan sikap dingin Rafael, dia berfikir kalau akhirnya dia bebas, tapi siapa yang menduga jika dia harus berhubungan kembali dengan pria itu dalam situasi yang mencekam seperti ini.
"Cepat bersihkan dirimu, aku tidak ingin menunggu lama"teriak Rafael dari arah luar membuat Isabella terkejut. dia bergegas membuka pakaiannya dan membersihkan seluruh tubuhnya.
"Apakah Rafael akan menyentuh ku?"Isabella membatin. dia mulai gemetar lagi. selama dua tahun dia selalu bermimpi jika pria itu suatu hari mau menatapnya dan menyentuhnya. dia selalu berandai-andai akan bercinta dengan suaminya yang diciptakan Tuhan dengan begitu sempurna.
Tapi selama dua tahun pula, dia selalu kecewa dan kecewa dengan sikap cuek pria yang berstatus suaminya, seolah dia tak pernah ada sama sekali. sampai satu tahun terakhir, dia memutuskan untuk melupakan cinta sepihaknya dan berusaha menyukai Jemy yang begitu perhatian padanya. tapi siapa yang menduga, pria itu tiba-tiba berubah menjadi ganas setelah kakeknya meninggal.
"Isabella..!!"Rafael menggendor pintu dengan keras.
Isabella keluar dari kamar mandi, dengan hanya menggunakan jubah yang berwarna biru muda. rambutnya yang basah, dibungkus dengan handuk sedang. wajahnya terlihat puas, dengan bulir-bulir air yang lupa dikeringkan.
Rafael mengamati Isabella dari kepala hingga kaki. dia merasa heran kenapa kakeknya begitu memuja gadis asing ini sejak dibawa masuk dalam keluarganya. padahal dia tak ada istimewanya sama sekali. kulitnya bersih, tapi tidak putih, wajahnya juga biasa saja.
"Buka jubahmu"perintah Rafael. mata Isabella membulat, bibirnya bergetar.
"Rafael. a..aku tau ada... ada salah paham. ayo kita bicarakan baik-baik"suara gemetar Isabella mulai melunak. dia tau bahwa tak mungkin melawan Rafael dengan kekerasan, atau dia akan kesakitan lagi.
Rafael menyipitkan matanya merasa tak senang. Apakah wanita jelek ini menolaknya berhubungan badan? beraninya dia menghina ku. pekik Rafael dalam hatinya.
"Buka.."lagi-lagi Rafael memerintah
"Aku tidak pernah berniat mengambil hartamu. ini pasti hanya salah paham.."Isabella tersudut. dia ingin memberi pengertian pada Rafael, tapu suasana hati pria itu makin memburuk.
Begitu banyak wanita yang mati-matian berusaha agar bisa tidur dengannya, tapi wanita jelek ini nampak keberatan? bukankah dia w************n yang bahkan sudah menjual harga dirinya pada kakek?. mengingatnya membuat hati Rafael makin kesal.
Dia ingin mencari wanita yang bisa berhubungan dengannya terlebih dahulu, tapi tak satupun yang mampu membangkitkan gairah nya. tapi Isabella... wanita jelek ini, benar-benar menghinanya dengan sebuah penolakan.
"Rafael.. aku mohon. kamu tenang dulu, mari kita bicara"bujuk Isabella lagi. Rafael lebih merasa marah dengan bujukan Isabella.
Dengan langkah cepat, dia mendekati Isabella dan membungkam mulut gadis itu dengan mulutnya.
hump.. uummp
Isabella berusaha mendorong Rafael, tapi pria yang memiliki tubuh tinggi dan kekar didepannya ini, sama sekali tak terpengaruh. dia melumat bibir Isabella yang bergetar kaku, menahan tangan yang selalu memukulinya serta menahan pinggangnya karena tubuh Isabella yang bergetar dan lemas.
ahh haa.. haa
Isabella menghirup udara sebanyak-banyaknya saat Rafael melepaskan pagutannya."hentikan.."lagi-lagi Isabella berusaha mendorong Rafael. tapi pria itu kembali melumat bibirnya dengan kasar. Rafael menghisap bibir Isabella dengan kuat dan menuntut.
"Sialan.. mengapa bibirnya membuatku sangat terangsang?"umpat Rafael disela ciumannya. dia sudah berkali-kali berciuman dengan wanita, tapi tak satupun yang bisa membuat juniornya bangun. mengapa justru gadis yang dipandangnya sangat jelek yang mampu membuat libidonya naik?
hahh. haahh
Rafael dan Isabella sama-sama terengah-engah saat Rafael melepas ciuman panasnya.
"katakan.. siapa saja yang sudah menciummu?"tanya Rafael dengan wajah mereka yang begitu dekat. dia menatap bibir Isabella yang sudah merah dan bengkak akibat hisapannya."katakan dengan jelas?"tanya Rafael saat Isabella hanya menggeleng sambil memejamkan matanya.
"Katakan atau aku akan melakukan yang lebih buruk"ancam Rafael membuat nyali Isabella menciut. ini ciuman pertamanya, teman-temannya bilang kalau itu sangat nikmat, tapi dia justru merasa kesakitan dengan ciuman itu.
"ti... tidak ada"jawab Isabella terbatas. jawaban Isabella membuat Rafael terkejut selama beberapa saat. imajinasinya sudah berlari jauh.
"Apakah aku yang pertama?"tanya Rafael sangsi. dan Isabella hanya mengangguk takut.
"Lepaskan aku.. aku mohon.. aku akan pergi jauh dari kehidupanmu dan tidak akan mengganggu mu lagi"pinta Isabella memelas.
"tapi itu sudah terlambat.."Rafael menyeringai. dia kembali memagut bibir bengkak Isabella dengan penuh nafsu membuat air mata Isabella meleleh karena rasa sakit di bibirnya.
Rafael mengangkat tubuh kecil Isabella dan membawanya keranjang. masih dengan ciumannya dia melepas jubah mandi Isabella yang sudah tak mampu melawan karena lemas. sementara handuk di kepala Isabella sudah jatuh kelantai sejak tadi.
tatapan Rafael menyapu tubuh Isabella yang sudah bugil. dia tidak putih, tapi kulitnya bersih tanpa goresan apapun. menatap kulit mulus itu membuat juniornya tegak dan membesar. tak menunggu lama, Rafael segera membuka jubah mandinya.
"Aaakhh.. sakit.. jangan"Isabella menjerit kuat saat Rafael berusaha memasukkan miliknya. dia berontak dan mendorong Rafael dengan keras. sejenak Rafael tertegun, apakah ini juga pertama kalinya bagi Isabella.
"Apakah ini juga pertama kalinya bagimu?"tanya Rafael
"lepaskan aku.. itu sangat sakit"rintih Isabella. mereka memiliki perbedaan tubuh yang cukup mencolok. Isabella berbadan mungil, sementara Rafael memiliki tubuh yang tinggi besar, dengan otot-otot yang terbentuk sempurna karena dia yang rajin olah raga.
memasukkan miliknya yang besar ke milik Isabella yang belum pernah tersentuh, pasti akan sangat menyakitkan.