"Hiks.. lepaskan aku.."Isabella terisak. sungguh itu benar-benar sakit.
Rafael menatap Isabella yang terisak dan dia menyeringai puas"layani aku, karena aku adalah suamimu. layani aku sampai puas hari ini sayang"bisiknya ditelinga Isabella, setelah itu dia melumat daun telingan Isabella dengan lembut. tak ada gigitan lagi seperti diawal tapi sangat lembut.
Isabella kembali bergetar, pengalaman pertama ini membuat bulu roman ya merinding. dia bahkan lupa dengan rasa nyeri di pangkal pahanya akibat keperkasaan Rafael yang memaksa masuk tadi.
setelah melumat dan menjilat daun telinga Isabella, Rafael beralih kembali mengecup bibir Isabella yang sudah bengkak dengan kecupan-kecupan kecil, tubuh Isabella tak lagi menegang seperti diawal tapi mulai rileks.
"Mari kita buat malam pertama kita yang tertunda menjadi tak terlupakan"bisik Rafael ketelinga Isabella sambil kembali melumat dan memberi jilatan disana. tangan Rafael bergerilya meremas dua gunung kembar Isabella yang montok.
"Aakhhh..."Isabella mengerang saat Rafael menjilat lehernya dan menghisap nya sangat kuat. hisapan itu menimbulkan rasa nyeri tapi juga membuat perut Isabella merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan. dia meremas sprey disamping kepalanya dan tak berani memegang Rafael.
"Aakhh.."lagi-lagi Isabella mengerang. setelah pria itu membuat banyak kismark di lehernya, pria itu turun kedua buah dadanya, meremasnya bergantian dan menyusu disana. menghisap putingnya dengan sangat kuat."sakiit.. jangan digigit"ucap Isabella tak tahan dengan rasa perih.
melihat Isabella yang kesakitan, Rafael mengubah dari menghisap menjadi jilatan. dia terus turun hingga ke depan kewanitaan Isabella.
"kamu sudah basah sayang.."ucap Rafael membuat wajah Isabella memerah. dia berusaha menyatukan pahanya tapi terhalang oleh kepala Rafael. dia merasa sangat malu apalagi dengan pencahayaan yang begitu terang didalam kamar.
Rafael mengendus kewanitaan Isabella, aroma wangi yang bercampur dengan cairan yang keluar dari lubang kenikmatan Isabella, membuat gairahnya memuncak. dengan cepat Rafael meraup v****a Isabella, menjilat, mengisapnya kuat membuat Isabella menjerit nikmat.
Rafael memasukkan lidahnya dan istrinya mengejang karena nikmat.
"Aakkhh.. aku mau pipis.. menjauh dari situ"pekik Isabella, tapi Rafael mengacuhkannya dan tetap memasukkan lidahnya. hingga tiba-tiba cairan yang banyak keluar dari v****a Isabella. kakinya mengejang dan kemudian lemas.
tanpa menunggu Isabella siap, Rafael segera bangun. mengarahkan tombak besarnya, dan menghujam kewanitaan Isabella dengan cepat. dia sudah tak tahan lagi.
"Aakkkhhh... sakit"jerit Isabella. tapi Rafael tak perduli. dia memompa miliknya dengan cepat. dia dia merasakan kenikmatan yang tiada tara. kenikmatan yang baru pertama kalu dirasakannya. yaa.. diusianya yang ke dua puluh tujuh, inilah pertama kalinya dia menyalurkan hasrat seksualnya pada seorang wanita.
dia tak menduga, wanita yang telah sah menjadi istrinya tiga tahun lalu, yang sangat dibencinya dan selalu diacuhkannya. malah mampu membangkitkan hasrat seksualnya. dia bahkan hampir berfikir kalau dia homo karena sikapnya yang dingin terhadap perempuan. serta reaksi juniornya yang begitu adem saat dia bersentuhan dengan yang namanya wanita.
Rafael tidak yakin dengan perasaannya saat ini, tapi dia begitu menikmati saat miliknya menghujam dengan dalam ke kewanitaan Isabell.
"Ahhh.. kamu sangat nikmat sayang"bisik Rafael ke telinga Isabella.
Wanita itu mengerang antara sakit dan nikmat, tapi dia lebih banyak merintih karena vaginanya begitu perih dengan paksaan benda tumpul nan keras milik rafael. tapi pria di atasnya tak mengindahkan teriakan dan tangisan rasa sakitnya.
.
.
Matahari masuk melalui jendela yang terbuka. setelah akhirnya Isabella pingsan karena permainan Rafael yang terus menerus, dia mulai mengerjapkan matanya. sedikit silau dengan cahaya matahari yang bersinar terang.
"aakkhh..."Isabella mengaduh saat bergerak. tubuhnya terasa remuk dan perih disana-sini, apalagi didaerah kewanitaannya, benar-benar perih. wanita itu menatap kesisinya, dan Rafael sudah tidak lagi berada disana. mengingat bagaimana brutal nya Rafael menyetubuhinya semalam, membuat Isabella mendesah berat dan berharap tak pernah ingin bertemu dengan pria itu lagi.
"Apa yang salah dengannya?"Isabella bergumam "bukankah dia selama ini mengacuhkanku? mengapa dia justru melampaui batas saat kakek sudah tak ada?"Situasi ini benar-benar membuat dirinya bingung.
apa maksudnya dengan 50 persen harta warisan? mengapa Rafael menyalahkan dirinya?
"Akhh.."Isabella merintih saat berusaha bangun.
ceklek
Pintu terbuka dan menampilkan seorang pembantu berusia sekitar empat puluh tahun yang masuk.
"Ana?"Isabella mengerutkan keningnya, dengan cepat dia menutup tubuh bugilnya dengan selimut. Pelayan itu tersenyum dan melangkah masuk.
"Nyonya.. saya akan siapkan air hangat untuk anda mandi"ucap Ana sopan sambil berjalan menuju kamar mandi.
"Tunggu.. Ana, mengapa kamu disini?"tanya Isabella heran.
"Mulai hari ini, saya akan bekerja disini untuk melayani segala keperluan Nyonya atas perintah Tuan Rafael"jawab Ana ramah.
"Tapi mengapa?"Ana adalah pelayan senior di Mansion kakek Ragandra, mengapa Rafael mempekerjakannya disini?"dimana Rafael?"tanya Isabella lagi.
"Tuan sudah berangkat ke Jepang. Beliau yang memerintahkan saya dan beberapa pembantu disini untuk melayani Nyonya" jawab Ana sopan
Isabella menarik tubuhnya untuk bersandar di sandaran ranjang"Apa sebenarnya yang terjadi? mengapa jadi begini? bukankah seharusnya aku sudah tidak lagi berada disini?"Ana menatap kebingungan di wajah Isabella dan tersenyum.
"Maaf Nyonya.. saya tidak bisa menjawab"
"berhenti memanggil Nyonya padaku.. bukankah kamu juga tau kalau Rafael sangat membenci sebutan itu disematkan padaku?"sela Isabella
"Tapi sebutan itu Tuan yang meminta kami untuk melakukannya"jawab Ana dengan nada yang tetap tenang.
"Yaa Tuhan.. apalagi ini? mengapa jadi begini?"gumam Isabella bingung dan frustasi.
Ana tak menanggapi kebingungan Isabella. dia masuk kekamar mandi dan menyiapkan air hangat untuk Isabella. tak berapa lama dia sudah keluar.
"Nyonya.. silahkan mandi, air hangatnya sudah siap"pinta Ana sopan.
"keluarlah.. lain kali tak perlu repot-repot melakukannya untukku"Isabella mengibaskan tangannya. Ana adalah pembantu di mansion yang cukup akrab dengannya, tapi saat ini dia melihat Ana seakan menjaga jarak darinya. bahkan dulu Ana yang suka memanggilnya dengan nama saja saat ini berubah menjadi begitu formal padanya.
"lagi pula, setelah mandi aku akan pergi dari rumah ini. urusan antara aku dan Rafael sudah selesai. kami tak punya hubungan apa-apa lagi"ucap Isabella sambil bangun dengan susah payah masih dengan selimut membungkus tubuhnya.
"Isabella..."Langkah Isabella terhenti saat Ana menyebut namanya. dia menoleh dan mendapati wajah serius Ana.
"Akhirnya kamu mau menyebut namaku"ujar Isabella tersenyum.
"Mungkin ini yang terakhir"jawab Ana membuat Isabella terkejut "setelah ini, aku harus memanggilmu dan memperlakukan mu layaknya majikan"
"mengapa?"tanya Isabella heran
"Kamu harus tetap menjadi istri Tuan Rafael setidaknya sampai kalian memiliki keturunan.."mata Isabella membulat karena terkejut
"tapi kenapa?"
"Lima puluh persen harta kekayaan Tuan Besar, akan dikembalikan kepada Rafael dengan syarat kalian harus memiliki keturunan. jika syarat itu tidak terpenuhi, maka harta itu akan dihibahkan ke pesantren dan sekolah tahfiz Qur'an"seluruh persendian Isabella tiba-tiba menjadi lemas