Wellton 1560
Pagi-pagi sekali kereta kuda sudah terparkir di halaman rumah Aracelli.
“Ayah, Ibu, aku pamit, jaga diri kalian ya, jangan sampai sakit.” Aracelli memeluk kedua orang tuanya bersamaan.
“Kau yang harus berhati-hati nak, istana tidak semudah yang kau bayangkan.” Kata sang ayah, dengan sangat berat hati.
Aracelli mulai menaiki kereta kuda yang sudah siap membawanya menuju istana, pikirannya berkecamuk selam diperjalanan, datang ke istana adalah keputusan paling gila dalam hidupnya, sebelumnya ia sama sekali tidak pernah memikirkan hal itu.
Apa aku sudah gila? Apa aku secara suka rela menyerahkan hidupku kepada pangeran bodoh itu? Aracelli membatin.
“Tidak,tidak..aku tidak akan pergi ke istana.” Katanya lalu bersiap melompat dari kereta kuda, “tapi aku ingin bersamanya. “ pikirnya lagi lalu mengurungkan niatnya, wajah tampan Dandelion berkelebat di pikirannya.
Perasaan dan logika terus bertengkar dalam pikiran Aracelli, mereka sama sekali tidak menemukan kata sepakat, logikanya tidak mengijinkan Aracelli pergi ke istana, tapi perasaannya ingin berada disana untuk bisa bersama Dandelion.
Tak lama kereta kuda berhenti, Aracelli baru menyadari bahwa ia sudah berada tepat di depan sebuah istana yang begitu megah.
Sudah begitu lama aku membangun pertahanan diriku, aku begitu mencintai diri sendiri agar tidak bisa direndahkan orang lain, aku belajar begitu giat agar bisa lebih kuat, tapi setelah berada disini, kenapa aku merasa berada di istana ini bisa begitu mudah menghancurkanku? Aracelli membatin, ia hanya berdiri mematung di depan istana sambil memegangi tas yang lumayan besar.
Tidak ada penyambutan apapun disana, bahkan nyaris tak ada seorangpun, dari kejauhan terlihat seseorang sedang berlari ke arah Aracelli, dia adalah Dandelion.
“Maaf terlambat, aku begitu sibuk mempersipkan kamar untukmu hingga tidak tahu kalau kau sudah tiba.” Kata Dandelion sedikit terengah-engah.
“Tidak apa-apa. “ jawab Aracelli.
“awalnya aku ingin menjemoutmu dengan teleport saja, tapi ku urungkan karena aku ingin menikmati setiap proses nya, hehee..” Dandelion cengengesan, entah bagaimana caranya tapi sekarang ia adalah pria melankolis yang begitu diperbudak oleh cinta.
Aracelli hanya membalas dengan tersenyum, ia sedang tidak.bisa membalas candaan Dandelion apalagi harus bersikap romantis, kakinya serasa terpaku ditanah, lututnya melemah dan jantung nya berdegup kencang, ia tidak ingin masuk, tapi juga tidak bisa melarikan diri.
“Kau harus menyapa ayah dan ibu dulu, mereka sudah menunggu didalam, ayo..”ajak Dandelion.
Sekuat tenaga Aracelli melangkahkan kakinya memasuki istana, sekuat itu juga ia meyakinkan dirinya bahwa ia mampu mengatasi ketakutannya.
“Ayah, ibu Aracelli sudah tiba.” Ucap Dandelion.
“Selamat pagi Yang Mulia Raja,” sapa Aracelli kepada ayah Dandelion , “Selamat pagi Yang Mulia Ratu.” Sapanya lagi kepada sang ibu, “Salam hormatku untuk kalian.”
“Iya baiklah, silahkan duduk.” Ucap Sang Raja mempersilahkan Aracelli duduk di sofa yang berseberangan dengannya.
Perbincangan berlangsung cukup lama, begitu banyak.pertanyaan yang Ratu ajukan kepada Aracelli, sementara Sang R cenderung mendengarkan dan hanya bertanya rentang kabar ayah Aracelli yang berarti adalah sepupu Raja.
* * *
Wellton 2020
Sudah seminggu sejak Dandelion menginap dirumah Jessica, pria itu tidak pernah menunjukan lagi hidung nya, tidak disekolah, apalagi Ditempat lain.
“Dia Kemana ya?” ucapnya sambil melihat layar ponsel nya, “Aku tidak tahu nomor hape ny.”
Apa dia sakit? Tapi sepertinya tetakhir kali saat pulang kerumahnya dia sudah sehat, atau dia pindah? Tapi kenapa? Pikiran Jessica sibuk berbicara pada dirinya sendiri ketika sedang sendirian di malam hari.
“Ya Tuhan, aku sangat merindukannya,” ucap Jessica lirih, “mungkin karena nenek juga sudah pulang ke Newels, aku jadi kesepian.” Katanya lalu membenamkan wajahnya di kasur.
Tiba-tiba Jessica merasa lehernya seperti tercekik, begitu sesak dan panas melingkari tenggorokannya, perlahan tubuhnya terangkat melayang di udara.Ada seseorang brrdiri di sudut ruangan, Seorang pria dengan jaket hitam menutupinya hingga kepala.
8 Jessica tidak bisa bernafas, sekuat tenaga ia mencoba meraih lehernya, berharap bisa melepaskan sesuatu yang mencekiknya, tapi tidak.ada apapun yang melilit lehernya.
“Tolong..,” Kata nya sekuat tenaga ingin berteriak, tapi ia begitu tercekat.
Jessica hampir kehabjsan nafas, oksigen hampir benar-benar tidak bisa masuk ke paru-parunya, “Obicham te dhue.” Ucapnya tanpa.sadar.
Tak lama Jessica terjatuh dan pingsan.
“Hahh.. Astaga..” teriak Jessica begitu ia sadarkan diri, 3 jam sudah berlalu sejak kejadian itu. “Dimana aku?” ucapnya ketika melihat-lihat sekeliling ruangan.
“Kau dirumahku.” Jawab seseorang yang tiba-tiba berada di sana.
“Ly..” Panggil Jessica. “Sejak Kapan kau disana?”
“Sebelum kau bangun.” Dusta Dandelion, karena ia baru saja melakukan teleport begitu ia mendengar Jessica sudah bangun.
“Kenapa aku ada disini?” tanya Jessica lagi.
“Aku kebetulan lewat saat Kudengar suara gaduh yang berasal dari kamarmu.” Dusta Dandelion lagi, “Saat aku masuk kau sudah pingsan dan rumahmu berantakan.”
“Iya benar, seseorang masuk kerumahku, dia seperti punya kekuatan suoer, dia bahkan mencekik ku dari jarak jauh.” Kata Jessica antusias, “Tapi aku tidak bisa melihat wajahnya,apa dia tertangkap?”
Dandelion menggeleng, “Saat aku tiba sudah tidak ada siapapun disana.”
Krukkkk....
Terdengar suara gemuruh yang berasal dari perut Jessica.
“Hehee.. Aku lapar.”
“Bisa-bisanya kau lapar disaat seperti ini.”
“Takut ya takut, lapar ya lapar, itu dua hal yang berbeda,aku tidak akan bisa kenyang hanya karena aku takut.” Kata Jessica.
“Yasudah.. Ayo makan”
“Ly.. Tapi kenapa kau membawaku ke rumahmu?” tanya Jessica sambil mengunyah.
“Sudah kubilang rumahmu berantakan hancur,lagipula kurasa tidak akan aman jika kau tetap tinggal disana.” Jawab Dandelion.
“Apa dia perampok?”
“Mana kutahu.” Kata Dandelion, “Kau tinggal disini saja untuk sementara, sebelum aku menemukan tempat yang aman untukmu.”
“Ok.. Jika itu mau mu.” Kata Jessica sambil senyum-senyum.
“Jangan merasa terlalu nyaman dan jangan anggap sebagai rumahmu sendiri, Tidak usah banyak tanya dan jangan terlalu menggangguku.” Lanjut Dandelion.
“Ish.. Dasar pelit, aku pikir kau sudah berubah.”
“bersikaplah dengan tenang,hingga aku tidak menyadari kau ada disini,ok?”
“Hee.. Dasar manusia plin-plan, Sebentar kau baik Sebentar mulutmu itu sangat jahat.” Omel Jessica. “Umm.. Aku termasuk orang yang sulit untuk tidur,dan sangat rapi, kau tenang saja.”
“Baguslah.” Kata Dandelion Lalu beranjak.pergi meninggalkam Jessica yang masih menyantap makanannya.
“Dia bahkan meninggalkan aku sendirian, Dasar Tuan rumah tidak sopan, penyihir jahat.” Maki Jessica.
“Siapa dia?” Gumam Dandelion ketika sudah berada dikamarnya.
Ia meningat-ingat kejadian itu, ketika ia tiba-tiba muncul dirumah Jessica lagi, dan mendapati seseorang sedang berusaha membunuh Jessica, Dandelion sempat menyerang nya, tapi pria itu begitu gesit dan kabur dengan sangat cepat.
“Bahkan aku tidak bisa mencari jejaknya.” Gumamnya lagi.