Wellton 1560
2 bulan berlalu sejak pertama kali Aracelli pindah ke istana, semua sangat tidak mudah, sesekali Sang Ratu masih saja menyinggung soal Abigael, wanita yang ingin sekali dijodohkan dengan Dandelion.
“Hari ini kita pergi bersama saja ya.” Kata Dandelion saat mereka sedang sarapan.
Berpikir sejenak, “apa tidak apa-apa?” tanya Aracelli.
“Sejak awal juga tidak ada masalah, kau selalu menolak saat ku ajak pergi kesekolah bersamaku.” Kata Dandelion dengan kesal, “kau seolah malu jika semua orang tahu bahwa kau bersamaku.”
“Bukan malu, hanya saja aku masih belum yakin.” Ucapan Aracelli.
“Balum yakin untuk bersamaku? Kenapa kau melangkah bsejauh ini jika kau tidak yakin?” Dandelion segera menyudahi sarapan paginya lalu pergi.
“Ayo pergi bersama.” Ucap Aracelli seraya menggandeng Dandelion ketika pria itu sudah berada di luar.
“Bukankah kau belum yakin.”
“Aku bukannya belum yakin tentang perasaanku padamu atau tentang hubungan kita,” ucap Aracelli menjelaskan , “aku tidak yakin pada diriku sendiri, aku tidak percaya diri bahwa aku layak untuk mendampingimu.”
Menggenggam lebih erat, “Tidak ada yang lebih layak dibandingkan denganmu, kau sudah yang terbaik untukku,” ucap Dandelion, “Sekarang ayo kita tunjukan pada semua orang bahwa kau adalah calon Ratuku.”
Wellton 2020
“Good morning..,” Sapa Jessica ketika melihat Dandelion datang. “Apa pagi ini terasa melelahkan?” Katanya sambil mengaduk-aduk nasi di wajan.
“Sedang apa kau? Kenapa semuanya jadi begini?” tanya Dandelion dan melihat seisi dapur begitu berantakan.
“Aku sedang memasak nasi goreng, agar kau bisa kembali bersemangat.” Jawab Jessica.
“Hanya karena kau, rumahku terlihat seperti rumah yang berbeda.” Sindir Dandelion.
“Benar kan? Aku tidak yakin tetapi ketika ada seorang wanita dirumah, maka suasana nya jadi lebih hangat kan?” Kata Jessica masih sibuk dengan wajan dan nasi yang diaduk-aduk dan terpental-pental, “Maaf kalau kau tidak bisa tidur semalam, hatimu pasti berdebar-debar karena aku ada disini, maaf ya, maaf..”
“Aku benci rumahku berantakan.”
“Ayo duduk, kau sarapan dulu Lalu pergi mandi ya.” Kata Jessica sambil menarih Dandelion untuk duduk di kursi Lalu meletakan sepiring nasi goreng buatannya.
Dandelion menghela nafas, sambil mencicipi nasi goreng buatan Jessica “Lain kali jangan memasak lagi.” Kata Dandelion ketika rasa asin yang begitu pekat menyengat lidahnya.
“Kenapa? Ini enak.” Kata Jessica, “Ayo makan lagi, Aaaaaa..” Ucapnya berniat menyuapi Dandelion.
“Kau makan saja sendiri.” Ucap Dandelion berniat pergi tapi dihalangi Jessica.
“Coba sekali lagi, Aaaa..” Kata Jessica hampir duduk di pangkuan Dandelion.
“Astaga.” Ucap seseorang yang terkejut di pintu.
Dandelion dan Jessica menoleh berbarengan.
“Paman.” Panggil Dandelion.
“Umm.. Maaf aku seharusnya minta ijin saat masuk, aku tidak tahu anda sedang ada tamu.”
“Paman?” tanya Jessica., “Selamat pagi Paman, aku Jessica.”
“Iya selamat pagi, aku Bill pamannya Dandelion. “
“Kau bawa apa?” tanya Jessica melihat kantong belanjaan yang dibawa Bill.
“Ohh.. Ini bahan makanan dan sayur,” Jawab Bill.
“Apa kau akan memasak disini?” tanya Jessica lagi.
“Iya aku akan memasak disini.”
“Woww.. Ly, kau punya Paman yang begitu baik.” Ucap Jessica sambil menepuk bahu Dandelion. “Ayo.paman sini aku bantu.”
“Awas,” Ucap Dandelion mendorong Jessica Lalu pergi ke kamarnya.
“Biar aku bersihkan dulu ya Paman.” Ucap Jessica Lalu segera merapikan seisi dapur.
30 menit kemudian
“Bill apa pesananku sudah kau belikan?” tanya Dandelion setelah selesai mandi, ia menuruni tangga sambil mengusap kasar rambutnya yang masih basah.
Gubrakkk...
“Astaga..” teriak Jessica, “kok bisa jatuh sih? Ayo bangun.” Katanya mengulurkan tangan pada Dandelion yang terpeleset karena lantai yang basah.
Dandelion hanya bangun dan diam saking tidak tahu harus berkata apa.
“Ayo makan..” Ajak Jessica.
Semua makanan sudah tertata rapi di meja.
“Bill mana pesananku?” tanya Dandelion.
“Kau ini..” bentak Jessica, “meski sifatmu buruk, paling tidak kau masih harus sopan kepada orang tua, mana boleh kau memanggil nya seperti itu, aku benar kan Paman?”
“Ohh.. Iya benar.” Jawab Bill sambil tersenyum ragu.
“Kau tahu apa tentang umurku.” Jawab Dandelion.
“Ini.” Bill menyerahkan sebuah kotak berisi ponsel model terbaru.
“Memangnya berapa umurmu? Apa kau lebih tua dari Paman Bill?” tanya Jessica lagi.
Dandelion tidak menjawab.
“Hmm.. Makanan ini enak sekali, kau benar-benar pintar memasak Paman.”Puji Jessica, “Kenapa kau makan seperti itu?” tanya Jessica ketika melihat Dandelion makan drngan sangat lembut dan elegan.
“Kau seharusnya diam saat makan.” Kata Dandelion.
“Umm.. Kau tidak tahu hangatnya kebersamaan dalam sebuah keluarga adalah disaat kita berbincang dan bercanda sambil makan.” Kata Jessica, “Benar kan Paman?”
“Iya benar.” Jawab Bill.
“Penyihir ini sangat kaku.” Ucap Jessica.
Dandelion tersedak dan terbatuk-batuk, “Apa katamu?”
“Penyihir.” Ulang Jessica, “Kau itu seperti penyihir, galak, dan begitu misterius.”
Dandelion menoleh sinis pada Bill yang sedang menahan tawa.
“Apa kau membeli ponsel?” tanya Jessica.
“Hmm..” sahut Dandelion.
“Boleh aku tahu nomor ponsel mu?”
“Tidak.” Jawab Dandelion singkat.
Jessica mencibir, “Pelit sekali.” Gumamnya.
“Aku pergi.” Kata Dandelion sesaat setelah selaesai sarapan.
Jessica buru-buru meneguk jus nya, “Umm.. Aku juga, bye paman Bill.” Ucapnya melambaikan tangannya kepada Bill, mulutnya masih sibuk mengunyah.
“Hati-hati ya, jangan bertengkar.” Kata Bill sambil tersenyum, dia begitu senang Dandelion mempinyai seorang teman.
“Ly.. “ Jessica menjerit karena Dandelion sudah berada di salam mobil, “tunggu aku.” Katanya lalu cepat-cepat masuk dan duduk di sebelah Dandelion.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Dandelion.
“Berangkat ke kampus.” Jawab Jessica.
“Kenapa duduk disitu?”
“Lalu? Apa sebaiknya aku duduk di belakang?”
“Tidak, jangan dibelakang.” Kata Dandelion.
“Lalu? Hah..?” Jessica terlihat terkejut sambil menutup mulutnya,”apa kau ingin aku duduk di pangkuanmu?”
“Keluar.” Kata Dandelion.
“Keluar?” tanya Jessica, “ Ayolah.. Kita pergi bersama saja ya, jangan terlalu malu, mungkin awalnya orang-orang akan bergosip tentang kita, memang tidak nyaman bersama wanita popular seperti aku tapi lama-lama kau akan terbiasa.”
“Dengar.. Aku tidak tertarik dengan kepopularan mu, dan aku tidak ingin pergi ke kampus bersamamu.” Kata Dandelion ketus.
Sesaat, raut wajah Jessica terlihat kecewa, “rumahmu inibterpencil, bagaimana aku bisa pergi sendiri, butuh waktu 20 menit untuk sampai di jalan utama,aku akan terlambat.”
“Kalau begitu seharusnya kau berangkat lebih pagi.”
“Baiklah, aku turun.” Katanya sambil membuka pintu, “Ya Tuhan, bagaimana jika diperjalanan aku bertemu psikopat semalam?” katanya lirih.
“Duduk diam saja, janan banyak bicara apalagi bertanya.” kata Dandelion tiba-tiba berubah pikiran.
Jessica tersenyum menang, akting nya berhasil, “Iya baiklah..” katanya menutup kembali pintu mobil dan memasang sabuk pengaman.
10 menit diperjalanan suasana begitu hening, Jessica benar tidak mengatakan sepatah katapun.
“Ly, dimana orang tuamu?” akhirnya Jessica tidak tahan untuk membuka suara,suasana yang begitu kaku seakan membuatnya sakit kepala.
Dandelion tidak menjawab.
“Apa kau pernah mempunyai seorang pacar?” tanya Jessica lagi.
“Apa kau mau turn disini? “ tanya Dandelion lebih terdengar mengancam.
“Maaf.” Ucap Jessica pelan, lalu diam hingga mereka sampai di tujuan.