Wellton 1560.
“Ada apa?” tanya Althaf ketika melihat Dandelion sedang berpikir keras, Dirga dan Cadmus juga berada disana.
“Kurasa Aracelli bertemu dengan Ignatius.” Jawab Dandelion.
“Apa? Apa kau yakin?” tanya Dirga “bukankah Ignatius sudah diasingkan?”
“Aku tidak melihatnya, tapi Aracelli bilang wajahnya bersisik dan bola matanya putih, dan pria itu bilang bahwa dia sepupuku.” Kata Dandelion terdengar cemas.
“Sepertinya memang dia.” Sahut Cadmus.
“Tapi beraninya dia menampakan diri disini, bukankah dia akan dihukum jika menganggu kehidupan disini?” Sahut Dirga juga.
“Kurasa Ignatius memang berani, tapi apa tujuannya? Apa dia belum menyerah untuk merebut tahta kerajaan?” Althaf menerka-nerka.
“Entahlah, tapi kenapa dia mendekati Aracelli?” tanya Dandelion.
Tanpa sengaja Aracelli mendengarkan percakapan para Pangeran itu saat ia hendak mencari Dandelion, tapi diurungkannya dan ia kembali kembali ke kamarnya.
“Nona, apa anda memanggilku?” tanya seorang pelayan yang sudah cukup akrab dengan Aracelli, gadis itu bahkan memanggilnya Embu karena wanita tua ini sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.
“Umm..sudah berapa lama kau tinggal diistana ini bu?” tanya Aracelli.
“Sudah lama sekali, bahkan sebelu Ratu melahirkan Pangeran Dandelion. “
“kalau begitu apa kau mengenal Ignatius?”
“Pangeran Ignatius?”
“Iya, jadi benar dia sepupu Dandelion?” tanya Aracelli lagi.
“Dia dan ayahnya adalah sejarah kelam kerajaan ini,” Embu mulai bercerita, “Ayahnya adalah Tuan Drunkola, beliau adalah kakak dari Raja Cirus, awalnya memang Tuan Drunkola adalah calon Raja di istana ini, tapi sifat Tuan Drunkola begitu kejam dan jahat, dia dan anaknya bahkan mendalami ilmu hitam dan sering kali menindas orang-orang, itu membuat sebagian besar pemimpin istana marah, mereka dan para bangsawan memutuskan untuk mengasingkan Tuan Drunkola dan keluarga nya.”
“Benarkah? Apa mereka tidak pernah datang ke istana lagi setelah itu?”
“Pernah, saat itu Tuan Drunkola datang dan begitu murka saat mengetahui bahwa istrinya dihukum mati disini?”
“Dihukum mati?”
“Benar, saat Tuan Drunkola dan anaknya diasingkan, istrinya bahkan sudah dipenjara terlebih dahulu karena berusaha meracuni ibu Dandelion, beliau dihukum mati saat berhasil kabur dari penjara dan mencoba membunuh Pangeran Dandelion. “
Aracelli menghela nafas, ia hampir tidak percaya kehidupan di istana ini begitu menyeramkan.
* * *
Wellton 2020
Siang ini, matahari bersinar begitu terik, bahkan sepertinya mampu membuat pakaian yang basah menjadı kering dalam sekejap.
“Panasnya..” keluh Jessica sambil menyeka keringat di dahinya, “Dasar penyihir berhati batu, matahari bersinar begitu terik seperti ini ia bahkan tidak mengajakku untuk pulang bersama.” Katanya sambil berpegangan pada handle bus, ia berdiri.sepanjang perjalanan.
“Apa kalian sedekat itu?” tanya Dara yang kebetulan berada di sebelh Jessica.
“Hah? Apa?”
“Kau dan Dandelion,,” ucap Dara, “Apa kalian sedekat itu hingga ia akan mengantarmu pulang? Bukankah kalian tidak akur?”
“Umm.. Iya, maksudku dia..Ah.. Lupakan saja, kami memang tidak akur.” Jessica gagal mencari alasan untuk berdusta, bisa bahaya jika orang-orang tahu kalau aku menginap dirumah Dandelion. Pikirnya.
Sementara itu Dandelion baru saja sampai dirumahnya, sengatan matahari begitu terasa panas diwajahnya seketika begitu ia keluar dari mobil.
"Althaf...," ucapnya heran saat melihat sepupunya itu sedang berenang di kolam. "Kapan kau datang?"
Sejak dulu Dandelion selalu mencurahkan segala isi hatinya kepada sepupunya yang satu ini. Begitu pula sebaliknya, Maka tidak heran jika Althaf adalah sepupu sekaligus sahabat baik Dandelion. Sifatnya yang lembut dan penuh pengertian membuat Dandelion mudah dekat dengannya.
"Tadi pagi, tapi kau sudah pergi," jawab Althaf "Kau dari mana?”
"Aku kuliah," jawab Dandelion.
Althaf tertawa melihat gaya Dandelion. "Wah, baru beberapa hari di sini, kau sudah bersikap seperti ludzi," kata Althaf.
"Kenapa kau datang?” Tanya Dandelion lagi, tidak menanggapi ejekan Althaf.
“Untuk menemanimu." jawab Althaf singkat.
"Menemani atau mengawasi?" tanya Dandelion curiga. "Ibuku tahu aku di sini?"
"Hufh... bukankah sang Ratu tahu segalanya," ucap Althaf santai.
Dandelion merengut.
"Pantas saja hari ini matahari terasa sangat terik. Kau mengumpulkan semua awan di sini? sindir Dandelion saat menyadari cuaca di sini begitu sejuk. Tampak sekumpulan awan bergerombol di langit. Tepat di atas kolam rumah mereka.
"Hari ini memang cuacanya sangat panas. Karena itu, aku mengumpulkan sedikit awan untuk melindungiku dari sengatan matahari. Hari ini aku ingin berenang," jawab Althaf.
Dandelion tak menanggapi ucapan sepupunya itu. la lalu duduk di tepi kolam renang.
"Boleh aku bertanya?" lanjut Althaf. Tiba-tiba ia sudah duduk di samping Dandelion.
"Mmm...." Dandelion mengangguk. "Ada apa?"
"Kau...," ucap Althaf ragu.
“Aku kenapa?”
“Kau terlihat sangat berbeda," kata Althaf. "Aku seperti menemukan kembali sepupuku yang hilang tiga tahun lalu, apa yang kau dapatkan di sini?"
Hari ini adalah pertama kalinya ia melihat Dandelion terlihat sering tersenyum. Kepergian ayahnya dan Aracelli membuat Dandelion menjadi pemuda yang pemurung dalam kurun waktu hingga ratusan tahun. Tapi, kali ini, kegembiraan Dandelion kembali terpancar jelas di wajahnya, senyumnya merekah lebar dan matanya pun berbinar-binar.
Sambil tersenyum, Dandelion mulai bercerita. la mengulurkan tangannya seperti menyibak udara, lalu muncul gambaran Jessica yang sedang berjalan pulang menuju rumah Dandelion.
“Aracelli?” ucap Althaf heran.
"Bukan, dia teman kuliahku. Bukankah dia mirip.Aracelliku?" tanya Dandelion. Lalu lanjutnya, "Awalnya, aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Tapi mereka benar-benar sangat mirip."
"Benar, mirip sekali. Siapa namanya?"
"Jessica Deaphenia Adna," jawab Dandelion dengan mata seperti sedang menerawang, membayangkan wajah Jessica."Namanya indah, ya?!"
"Iya, iya, indah," kata Althaf meski merasa biasa saja.
"Gadis ini, jika sedang merasa malu, parasnya merah merona. la jadi semakin kelihatan imut dan sangat lucu, Al,” Dandelion menerangkan.
"Hah, imut atau lucu?"
"Imutnya lucu-lucu gitu deh, pokoknya gemesin.”
"Imut, lucu, atau gemesin nih? Yang jelas dong informasinya."
"Ah, pokoknya manis bangetlah."
“Jadi, dia imut, lucu, gemesin, tambah manis juga?" ujar Althaf dengan tampang bodohnya.
"Iya, dong. Cantik banget!" ujar Da, menanggapi Althaf dengan semangat dan pujian yang menggebu-gebu.
“Ly, kau...," Althaf tidak tega melanjutkan kata-katanya.
"Aku tahu," Dandelion sudah bisa menebak apa yang ingin dikatakan Althaf. "Aku tak akan berjalan terlalu jauh, sebisa mungkin aku akan tetap membatasi perasaan dan hubunganku dengannya, hubungan kami bahkan tidak akur”
"Baiklah," Althaf mengangguk. "Hanya saja..., ah, sudahlah. Kau tahu apa yang harus kau lakukan."
Dandelion tidak boleh terjerumus terlalu dalam oleh perasaannya sendiri. Sebab
pada kenyataannya, Jessica adalah seorang ludzi. Sedangkan Dandelion merupakan seorang penyihir.
Kegelisahan, kecemasan, kebahagiaan, dan semua yang dialami Dandelion sudah menelan waktu yang sangat panjang.
Kini, semua perasaannya itu telah memuncak dan menemukan jawabannya, setelah kembali menemukan cintanya. Namun, ia semakin tenggelam dalam rasa yang telah mengepungnya begitu lama.
"Al, apakah ibuku baik-baik saja?" tanya Dandelion.
Althaf mengangguk, "Tentu saja."
“Apa dia marah?” tanyanya lagi.
"Itu sudah jelas. Tapi ia masih belum menyerah untuk menjodohkanmu dengan Abigael. Pertunanganmu ditunda sampai kau kembali, jawab Althaf serius.
"Ck..., dia benar-benar egois," Dandelion berdecak.
“Ada yang datang.” Althaf mendengar langkah kaki dari kejauhan.
Dandelion ikut mendengarkan.
“Ly, kau tega sekali, kenapa meninggalkanku.” Kata Jessica tiba-tiba. “Eh.. ada tamu?”
“Dia sepupuku.” Jawab Dandelion.
Althaf menatap Jessica tanpa berkedip, bingung tentang bagaimana bisa wanita itu mirip sekali dengan Aracelli? Dan kenapa wanita itu disini?
“Hai.. Aku Jessica, umm.. Karena sesuatu aku sementara menumpang disini.”
“Maksudnya dia tinggal disini?” tanya Althaf mempertegas pada Dandelion.
“Akan kujelaskan nanti.” Kata Dandelion.
“Kalau begitu aku permisi.” Kata Jessica lalu pergi ke kamarnya.
“Bukankah kau menjaga jarak dengannya?” tanya Althaf.
“Iya, begini..”
“Lalu apa yang dia lakukan disini?”
“Seseorang menyerangnya, Seorang Warlock.” Jawab Dandelion.
“Ignatius?” tanya Althaf hampir tidak percaya.
“Aku tidak yakin, tapi dia meninggalkan begitu banyak energi elektromagnetik, karena itu aku yakin dia seorang Warlock. “
“Siapa lagi seorang Warlock yang mempunyai kekuatan sebesar itu kecuali Ignatius?” Kata Althaf sambil berpikir, “Lalu kenapa dia menyerang Jessica? “
“Aku tidak yakin dia Ignatius , tetapi aku yakin dia seorang yang mempunyai dendam padaku.”
Malam hari pukul 19.00
“Al, apa kau ingat Bill?” tanya Dandelion saat mereka makan malam.
“Bukankah dia anak laki-laki dengan rambut ikal itu?” Althaf mengingat-ingat, “Aku ingat saat kau menangis karena tidak bisa turun dari pohon.”
“Iya benar, itu pertama kalinya aku diijinkan masuk ke dunia Magica Mundi .” ucap Bill, “Aku benar-benar tidak menyangka bahwa aku sudah setua ini, dan kalian tidak berubah sama sekali. “
“Iya kau benar, kami bahkan tidak bisa mati meski kami ingin.” Kata Dandelion.
“Umm.. Ngomong-ngomong kemana nona Jessica? “ tanya bill, “Aku belum melihatnya turun sejak tadi sore.”
“Mungkin dia tidur. “ kata Dandelion.
“Aku akan memanggilnya, dia bisa sakit kalau tidur dengan perut kosong.” Kata Bill lalu pergi ke kamar Jessica.
“Jessica ,” Bill mengetuk pintu kamar Jessica, “Kami akan makan malam, apa kau mau bergabung?”
“Iya paman, kalian makan saja duluan,” jawab Jessica terdengar keskitan.
“Apa kau sakit?” tanya Bill lalu membuka pintu kamar Jessica.
Jessica sedang meringis memegangi perutnya.
“Kau sakit nak?” tanya Bill mulai khawatir.
Mendengar itu dari kejauhan, Dandelion segera berlari ke kamar Jessica.
“Kau tidak apa-apa? “ tanya Dandelion tiba-tiba lalu memegang dahi Jessica.”Badanmu panas, ayo kita kerumah sakit saja.” Kata Dandelion lalu menggendong Jessica dan bersiap menghilang.
“Kau bisa mengendarai mobil.” Secepat kilat Althaf memegangi tangan Dandelion.
Dandelion begitu panik hingga tidak sadar bahwa Jessica tidak mengetahuin tentang siapa dia sebenarnya.