Wellton 1560
Suatu hari ketika Aracelli terbangun dari tidurnya, ia mendapi dirinya berada disebuah tempat yang asing, sebuah ruangan gelap dan tidak terawat.
“Kau berada dirumahku.” Kata seseorang yang berdiri di dekat pintu.
Aracelli mengerjapkan matanya, mencoba mengokuskan pandangannya yang kabur karena ia baru saja terbangun dari tidurnya.
“Ignatius?” tanya Aracelli, gadis itu mulai panik.
“Jadi kau sudah tau siapa aku?”
“Dengar, apapun yang kau inginkan, kau tidak akan mendapatkannya dariku, aku tidak punya kuasa sedikitpun di istana itu.”
“Memangnya apa yang kuinginkan?”
“Umm.. Kenapa kau menculikku?”
“Justru hanya kaulah yang bisa mewujudkan keinginanku.” Ignatius terdengar begitu serius.
“Apa maksudmu?”
“Semua orang juga tahu betapa Dandelion tergila-gila padamu, Pangeran itu bahkan tidak malu untuk menjadi b***k cinta dari gadis sepertimu, dan aku perintahlan kau untuk meninggalkannya.” Kata Ignatius, wajahnya mendekati wajah Aracelli.
Sisik yang tumbuh di pipi kiri pria itu semakin terlihat jelas karena wajahnya begitu dekat, aura pria itu bahkan begitu gelap.
“Tapi jangan buru-buru, tinggalkan dia dengan cara yang paling menyakitkan.” Perintahnya lagi.
“Memangnya siapa kau benrani memerintahku?” Aracelli terdengar marah meski sebenarnya ia ketakutan.
“Aku?” Ignatius lalu tertawa, “Aku adalah orang yang bisa membunuh kekasihmu dalam sekejap, Pangeran bodoh itu bahkan begitu malas, ia baru mencapai gelar Wizard dengan umurnya yang sudah cukup dewasa.”
Tak memperdulikan kata-kata Ignatius , Araceli turun dari ranjang dan berlali menuju pintu, gadis itu hendak melarikan diri dari sana, tapi tiba-tiba tubuhnya terasa kaku, ia tidak bisa bergerak.
“Dengar Tuan Puteri, seorang Wizard tidak akan bisa mengalahkan seorang Warlock, meski ia dibantu saudara-saudaranya yang juga bodoh itu.”
Aracelli tidak bisa mengatakan apapun, air matanya mengalir di pipi, entah kenapa Ig terasa begitu menakutkan.
“Baiklah, kau bisa pulang sekarang, dan ingat..”kata Ignatius menekankan pada Aracelli, “Dengarkan setiap suara yang ku bisikan adamu, jika suatu saat kuperintahkan padamu, apapun itu, maka kau tidak akan bisa menolaknya.” Katanya mulai menghipnotis Aracelli.
Dalam sekejap Aracelli sudah kembali berada di kamarnya, ia menangis sambil memegangi dadanya, rasa takut itu membuatnya begitu sesak.
“Ar..” Panggil Dandelion, “ada apa?” katanya panik saat melihat gadis kesayangannya itu menangis.
Aracelli memeluk Dandelion, haruskan kuceritakan padanya? Pikirnya sambil menangis dipelukan Dandelion.
“Ada apa?” tanya Dandelion lagi.
“Tidak ada apa-apa, aku hanya bermimpi buruk.” Aracelli berdusta, ia memutuskan untuk tidak menceritakan tentang apa yang baru saja ia alami kepada Dandelion,
Itu hanya akan membuat Dandelion marah, dia pasti akan mengejar Ignatius, dan itu akan semakin membahayakan Dandelion, pikir Aracelli lagi.
* * *
Wellton 2020
Sesampainya dirumah sakit, Dandelion menggendong Jessica sambil berlari, secepatnya para perawat membawakan kursi roda dan mengambil alih Jessica, lalu membawanya ke UGD.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Dandelion khawatir.
Jessica mengangguk, “kau seharusnya tidak membawaku kerumah sakit, tidak separah itu.”
“Sudahlah, kau harus diperiksa.” Kata Dandelion. “Sebentar lagi dokter akan membawakan hasil diagnosis nya.”
“Baiklah, Terimakasih ya.”
“Selamat malam,” sapa seorang dokter sambil membawa selembar kertas hasil diagnosis nya. “Hasil tes nya sudah keluar.”
“Malam dokter, bagaimana hasil tes nya?” tanya Dandelion cemas. “apa ada masalah serius dengannya?”
“Tidak juga.” Jawab dokter.
“Lalu kenapa dia sangat kesakitan?” tanya Dandelion lagi.
“Nona Jessica hanya sedang mengalami sembelit.” Jawab dokter santai, sepertinya ia menahan tawa.
“Apa?” Jessica shock.
“Apa? Kenapa? Apa itu penyakit serius?” tanya Dandelion ketika melihat reaksi Jessica, “Apa dia perlu dioprasi dokter?”
“Nona Jessica tidak buang air besar secara teratur, karenanya ia mengalami nyeri di peru, lihat ini...” Kata dokter menjelaskan dan menunjukan hasil rotgen, “bagian buram ini adalah tumpukan gas dan kotorab yang tidak keluar selama beberapa hari.”
Dandelion ternganga, ia tidak percaya dirinya begitu panik hanya karena masalah sembelit.
“Ish..”Jessica meringis dan hampir menangis karena terlalu malu.
“Dengar, makanlah banyak serat dan sayur, juga hindari minuman beralkohol.” Saran dokter, “Aku akan memberi sedikit pencahar dan obat yang mengandung serat.” Katanya lalu memberikan secarik kertas berisi resep obat.
Cepat-cepat Jessica berlari dan pergi saat dokter sudah meninggalkan mereka.
“Ish.. yang benar saja, memalukan sekali.” gerutu Jessica duduk di halte menunggu bus yang datang untuk membawanya pergi, kemana saja asal bukan kerumah Dandelion, rasanya tidak sanggup melihat wajah pria itu setelah apa yang terjadi barusan.
Tin..Tin..
Mobil Dandelion berhenti tepat didepan Jessica, pria itu membuka kaca mobilnya.
“Ayo pulang.” Ajak Dandelion.
Jessica tidak menghiraukannya.
“Apa kau akan terus berada disini sampai besok?” tanya Dandelion lagi, “bus terakhir sudah lewat.”
Jessica meringis lagi, "Sial.. Sial sekali hidupku.”
“Sudahlah.. Ayo pulang.” Ajak Dandelion lagi.
Dengan langkah lemas Jessica menuruti ajakan Dandelion, lalu duduk tenang dalam diam.
Sesekali Dandelion menoleh pada Jessica.
“Kumohon,berkendara saja, jangan perdulikan aku dan jangan bertanya apapun.” Kata Jessica begitu pelan tanpa semangat hidup.
Dandelion tertawa terbahak-bahak, sudah sejak tadi pria itu menahan tawanya yang akhirnya pecah juga saat melihat ekspresi Jessica, “Kau benar-benar wanuta aneh, bisa-bisanya masuk rumah sakit karena itu.”
“Hiks.. Hiks.. Huaaaa.. “ Jessica malah menanfis sejadi-jadinya, “kaulah yang membawaku kerumah sakit, ini begitu memalukan.” Katanya sambil terisak.
Dandelion malah semakin tertawa.
Jessica berlari langsung menuju ke kamar begitu mereka sampai dirumah, melawati Althaf dan Bill yang sedang menunggu dalam.cemas.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Althaf pada Jessica.
Tak menjawab, Jessica hanya melewatinya.
“Ada apa? Kenapa dia menangis?” tanya Althaf pada Dandelion.
Sekuat tenaga Dandelion menahan tawanya lagi, tapi tetap pecah dan pria itu kembali tertawa terbahak-bahak.
“Ish..” Jessica memendamkan wajahnya dikasur, “kenapa ini semua terjadibpadaku? Bagaimana aku akan hidup besok?”
Dandelion masih saja cengengesan saat ia dan Althaf sedang menikmati udara malam di pinggir kolam renang.
“Sebenarnya ada apa?” tanya Althaf.
Alih-alih menjawab, Dandelion hanya natap Althaf dan sedikit menyipitkan matanya, ia mengirimkan sinyal dari gambaran kejadian saat dirumah sakit kepada Althaf,.
“Apa?” kini Althaf juga tertawa.
Dandelion kembali tertawa terbahak-bahak.
“Entah kapan terakhir aku melihatmu tertawa seperti itu.” Kata Althaf saat melihat sepupunya begitu ceria.
Dandelion menghentikan tawanya, “Kau merusak suasana saja.”
“Apa Jessica membuatmu bahagia?” tanya Althaf, antara senang dan khawatir.
Dandelion tidak menjawab.
"Ly, bukankah ditempat ini hanya akan memberatkanmu?" tanya Althaf lagi.
"Maksudmu?" tanya Dandelion.
"ini tentang Jessica. " ujar Althaf serius.
"Apa hubungannya dengan dia?"
"Aku yakin kau ingin memilikinya, kan?"
Mendengar ucapan sepupunya itu, Dandelion tidak menjawab. Ia hanya diam sembari menarik napas dalam-dalam.
"Setelah bertemu Jessica, kau pasti semakin enggan bertunangan dengan Abigael," lanjut Althaf.
"Dari awal, aku memang tidak ingin dijodohkan dengannya, kata Dandelion.
"Dan kau ingin bersama Jessica?" Althaf menegaskan.
"Ckk..., sebisa mungkin, aku akan menjaga jarak dengannya," jawab Dandelion yakin. "Aku cukup sadar diri tentang tanggung jawabku, aku juga tidak tega jika harus meninggalkan ibuku. Tapi, aku ingin dia sadar bahwa aku berhak memilih jalan hidupku sendiri," kata Dandelion mulai murung. "Saat dia tahu aku pergi, apakah dia mencemaskanku?"
"Tidak, sikapnya biasa saja," jawab Althaf mencoba berbohong.
Dandelion mengerutkan keningnya. "Benarkah?"
Althaf tertawa. "Tentu saja cemas, Bodoh," katanya, “tapi Ratu bisa dengan cepat mengerahui keberadaanmu, dia memutuskan untuk membiarkanmu pergi sementara agar pikiran masing-masing dari kalian bisa lebih tenang.”
"Baguslah," kata Dandelion menyeringai.