Wellton 1560
“Apa lukamu sudah sembuh?” tanya Aracelli saat Dandelion berada dikamarnya, setelah beberapa hari gadis itu menghindari Dandelion karena rasa bersalah.
“Akhirnya kau menemuiku.” Ucap Dandelion.
“Maaf, tapi aku benar-benar takut dan bingung.” Kata Aracelli benar-benar merasa tertekan.
“Kalau kau benar-benar meminta maaf, kau bisa melakukan sesuatu untukku.” Ucap Dandelion dengan wajah menggoda.
“Apa?” tanya Aracelli.
Dandelion mendekati gadis itu dan memeluknya seraya mendekatkan wajahnya, semakin dekat, dan semakin dekat.
Jantung Aracelli hampir meledak karena berdegup dengan sangan kencang, ia merasakan wajahnya memanas.
“Maaf, apa aku mengganggu?” suara seorang wanita tua memhancurkan suasana.
“Embu?” kata Aracelli lalu melepaskan diri dari Dandelion.
“Benar, kau mengganggu.” Kata Dandelion tanpa basa-basi, sebelum melayani Aracelli, sebenarnya Embu adalah pengasuh Dandelion sejak ia masih bayi, namun sejak Aracelli berada di istana, Dandelion meminta Embu untuk memperlakukan Aracelli seperti ia memperlakukan Dandelion.
“Tapi kau tidak boleh menyentuhnya sebelum kalian resmi menikah.” Kata Embu sambil menarik telinga Dandelion.
“Awww.. Iya-iya aku tahu.” Teriak Dandelion, “lagipula aku tidak berniat melakukan apapun, hanya sekedar itu.”
“Itupun tidak boleh.” Bentak Embu dengan khas seorang ibu, “jika ada rumor jelek yang beredar tentang Nona Aracelli, maka dia tidak akan lolos untuk menjadi calon istrimu, mengerti?”
“Iya-iya baiklah,maaf.” Ucap Dandelion.
* * *
Wellton 2020
Seseorang mengetuk pintu kamar Jessica saat waktu masih menunjukan pukul 06.00 pagi.
“Iya, ada apa?” Jessica membuka pintu kamarnya sambil menggosok-gosok matanya dengan tangan.” Ly..? Kapan kau pulang? Apa kau baik-baik saja?” tanya Jessica karena semalaman ia sangat mengkhawatirkan Dandelion.
“Aku pulang tengah malam.” Jawab Dandelion, “Apa siang ini kau akan bekerja?”
“Tidak, aku off.”
“Kalau begitu, jam 11 kita akan pergi.” Ajakan kencan Dandelion terdengar seperti perintah.
“Apa? Kemana?” tanya Jessica, “Apa ini kencan?”
“Terserah kau saja.” Kata Dandelion lalu buru-buru pergi, sebenarnya sejak tadi pria itu sudah menahan diri saking gugupnya.
“Hei.. Kita mau kemana? Aku harus mengenakan pakaian seperti apa?” teriak Jessica dan berakhir tanpa jawaban.
Pukul 11.00.
Siang yang cerah dan hari yang indah. Paling tidak, itulah yang dirasakan Jessica sejak pagi, sejak Dandelion mengajaknya pergi berkencan.
Waktu terus merayap. Setiap menit yang berlalu terasa begitu cepat, Jessica.bahkan belum selesai memilih baju untuk dipakainya hari ini, berkali-kali ia melirik jam di dinding, waktu sudah menunjukan pukul 10.55.
“Haduhhh.. Aku harus pakai yang mana?” ucap Jessica masih membongkar pakaiannya, satu persatu dikeluarkannya dari lemari.
Tin.. Tin..!!!
Suara klakson mobil berbunyi beberapa kal, Dandelion terlihat sudah berada di dalam mobilnya.
“Iya.. Iya baiklah, aku keluar.” Teriak Jessica dari jendela, cepat-cepat Jessica bersiap, memakai baju seadanya.
Tak lama Jessica terlihat berlari keluar dari rumah, “Baiklah, ayo..” ucapnya setelah duduk di samping Dandelion.
Dandelion mulai menstarter dan mengendarai mobilnya dengan santai.
"Kita mau ke mana?" tanya Jessica.
“Emmm..., enaknya ke mana?” Dandelion balik bertanya.
"Terserah. Kan kamu yang ngajak aku,” jawab Jessica.
"Gimana kalau ke kafe?" tanya Dandelion.
"Oke," jawab Jessica cepat. Apa rencananya? Apa kami hanya akan makan siang? Pikir Jessica.
"Jadi, dimana ayah dan ibumu?” tanya Jessica memulai pembicaraan. Kini, mereka berdua tengah duduk santai di sebuah kafe yang cukup terkenal di kota ini.
"Orang tuaku berada di Berhine." Jawab Dandelion.
"Kau berasal dari Berhine?"
“Mmm....” Dandelion mengangguk. Lagi-lagi ia berdusta.
“Kenapa kau memilih tinggal di sini?”
“Uhm..., aku hanya ingin mencari suasana baru saja.”
“Bagaimana?”
"Apanya?”
“Katanya mencari suasana baru. Menurutmu, bagaimana suasana di sini?"
"Menyenangkan. Bahkan, aku sempat melihat seseorang yang sepertinya aku sangat mengenalnya," jawab Dandelion.
"Siapa?”
"Pacarku," jawab Dandelion.
Wajahnya Jessica langsung mendung. "Lalu?” tanyanya penasaran.
Dandelion menggeleng. "Aku salah lihat, mereka hanya mirip."
"Memangnya, kenapa kau bisa mencarinya hingga sampai di sini? Apa kalian bertengkar?" tanya Jessica lagi.
"Aku tidak mencarinya," jawab Dandelion, "dan tidak perlu mencarinya.”
"Kenapa?"
"Dia sudah meninggal, Jess," kata Dandelion.
Jessica terperangah. Owh, maat, suaranya mendadak pelan.
Lalu mereka sama-sama terdiam.
"Ly, kau tidak harus menceritakannya padaku jika hal itu membuatmu sedih," kata Jessica merasa tidak enak saat melihat kesedihan di wajah Dandelion.
"Mungkin aku hanya belum bisa menerima kepergiannya,” kata Dandelion kembali tersenyum. "Sekarang, ceritakan tentang dirimu,” pintanya.
"Tidak ada yang bisa kuceritakan," kata Jessica setelah terdiam beberapa saat.
"Maksudmu?" tanya Dandelion.
Jessica terdiam seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.
Sedangkan Dandelion menatap wajahnya dengan serius, menunggu apa yang akan diucapkan Jessica.
"Seperti yang pernah kukatakan sebelumnya aku sama sekali tidak tahu bagaimana hidupku sebelumnya. Tiga tahun lalu, saat aku sadar, aku sudah berada dirumah sakit. Tapi, aku tidak ingat apa pun tentang diriku, termasuk namaku,” cerita Jessica lagi.
"Lalu?” Dandelion serius mendengarkan,” ceritakan lagi, waktu itu aku tidak benar-benar mendengarkanmu.” Katanya.
“Menurut cerita orang-orang, mereka menemukanku tergeletak dalam keadaan kritis di pinggir jalan. Di dekatku ada mobil yang sudah hangus terbakar bersama dua penumpangnya. Menurut mereka, mungkin orang yang berada di dalam mobil itu adalah orang tuaku. Tapi sayangnya, tubuh mereka sudah hangus dan tidak bisa dikenali lagi mereka juga tidak pernah melihatku sebelumnya. Mungkin kami adalah keluarga yang sedang pergi bertamasya ke sini sebelum kecelakaan itu terjadi. Sehingga, tidak ada sedikitpun petunjuk untukku. Di mana sisa keluargaku dan dari mana asalku." Jessica bercerita panjang lebar.
“Jadi, nenek bukan keluarga kandungmu?” tanya Dandelion.
“Iya, bukan, tapi dia sudah seperti nenekku sendiri.”
"Sudahlah, kau wanita yang kuat. Buktinya, sampai detik ini kau masih hidup dan menjalanı harimu dengan baik," kata Dandelion menyemangati.
Jessica tersenyum. "Ya, untung saja ada seorang wanita tua yang hidup sendiri dan mau menerimaku tinggal bersamanya. Dia menanggung semua biaya rumah sakit dan merawatku hingga aku sembuh."
"Oke," Dandelion mengalihkan pembicaraan, karena tidak ingin melihat Jessica bersedih, "bagaimana hubunganmu dengan Dira?"
"Dira?" kening Jessica berkerut. Lalu tegasnya, “kami hanya berteman, tidak ada hubungan apa pun.”
"Ooo..." ucap Dandelion pendek.
Mereka lalu sama-sama terdiam. Sibuk dengan pikirannya masing-masing. Namun, hal itu tak berlangsung lama kebekuan itu pecah oleh sebuah suara seseorang yang menyapa Jessica dari belakang tempat duduk mereka.
"Hai, Jess," ternyata Dira yang tiba-tiba muncul.
"Hai, Dira," balas Jessica.
Dandelion mendengus, “baru saja dibicarakan, malah muncul orangnya disini.” Ucapnya pelan.
"Kau bersama anak baru ini?” tanya Dira dengan angkuh.
Dandelion mengernyitkan keningnya menatap Dira.
"Kenapa?” tanya Dira seperti menantang Dandelion.
"Dira!" bentak Jessica. "Bisakah kau sedikit sopan?”
Dira tersenyum sinis.
"Sudahlah, kita pergi saja, Ly!" ajak Jessica. Ia lalu beranjak pergi sambil menarik tangan Dandelion.
“Jess..” panggil Dira sambil mengikuti langkah Jessica. "Untuk apa kau pergi bersamanya?”
Jessica terus berjalan tanpa mempedulikan Dira.
"Jess!” Dira menarik tangan Jessica dengan kasar.
"Hei!" bentak Dandelion, melepaskan genggaman Dira dari tangan Jessica.
"Apa?" bentak Dira pada Dandelion.
Dandelion kembali menggandeng Jessica, lalu pergi.
Karena merasa kesal, Dira menarik bahu Dandelion dan berusaha memukul wajah Dandelion dengan kepalan tangannya. Namun, pukulannya meleset.
Dengan cepat, Dandel mendorong Dira hingga terpental jauh. Napasnya seperti mengerang.
“Ly...!” Jessica mengingatkan dan terperangah. "Matamu...?” katanya heran melihat mata Dandelion yang kembali berubah menjadi hitam keseluruhan. Dandel cepat-cepat membuang muka.
"Ly...!" Jessica berusaha melihat wajah Dandelion.
"Sudahlah, ayo masuk!" kata Dandelion membukakan pintu mobil untuk Jessica. Matanya sudah kembali normal.
"Tapi, tadi.."
"Ayo!" Dandelion tidak ingin membahas.
"Ly, tadi aku lihat matamu hitam seperti...."
"Aku tidak apa-apa!” kata Dandelion.
"Ly, tapi aku pernah melihatmu seperti itu sebelumnya," kata Jessica masih penasaran.
"Kau hanya sedang panik. Aku tidak apa-apa," ucap Dandelion sedikit keras pada Jessica.
"Uhm... ya, mungkin saja," gumam Jessica. Lalu terdiam.
“Apa kau benar-benar baik-baik saja?” tanya Jessica lagi.
“Dira bahkan tidak berhasil memukulku, seharusnya kau tanyakan pada pacarmu itu, apa dia baik-baik saja.” Kata Dandelion.
“Kau benar, sepertinya pukulanmu tadi lumayan kuat.” Ucap Jessica.
“Mau kuantar kembali padanya?” kata Dandelion begitu kesal. Aku bahkan bisa dengan mudah membunuh pecundang itu, gerutunya dalam hati.
“Tidak.. Tidak.. Biarkan saja dia, dia pantas menerimanya.” Kata Jessica, “kenapa kau begitu kesal? Apa kau cemburu? “
“Apa? Cemburu? Yang benar saja.” Ucap Dandelion sambil tertawa sinis.
“Lalu kita akan pergi kemana?” tanya Jessica.
“Pulang, aku sudah tidak mood.” Kata Dandelion masih terdengar kesal.
Jessica cemberut, sia-sia aku berdandan habis-habisan, ini semua gara-gara Dira, gerutu Jessica dalam hati.
“Kenapa kau cemberut?” tanya Dandelion memergoki wajah masam Jessica.
“Tidak apa-apa, ayo kita pulang saja.” Kata Jessica sambil menghentakan tasnya di paha.
“Tapi kau terlihat kesal.” Ucap Dandelion.
“Dengar, sejak.pagi aku sudah sibuk berdandan dan bersiap-siap, karena ku pikir kita akan kencan,” kata Jessica lalu melampiaskan unek-uneknya, “kalau kau hanya berniat mengajakku makan siang, seharusnya jangan bersikap seperti tadi pagi, kalau begitu kau membuatku bingung.”
“Kencan?” ucap Dandelion, “kukira kita hanya berteman.” Tiba-tiba Dandelion merasa sepeti dejavu.
“Ishh.. Sudahlah hentikan mobilnya aku turun disini saja.” Ucap Jessica semakin kesal.
“Kenapa?” tanya Dandelion.
“Berhentilah bersikap plin plan dan membuatku bingung,” teriak Jessica, “cepat hentikan mobilnya.”
“Tidak, kita pergi jalan-jalan saja.” Kata Dandelion.
Jessica memelototi Dandelion dengan sangat kesal, rasa kesalnya sebenarnya ditujukan untuk dirinya sendiri, seharusnya aku tetap menolak dan minta diturunkan lalu pergi, ucapnya dalam hati, tapi aku ingin pergi bersamanya, hiks..hiks.. Batin nya semakin tertekan.
“Kau mengajakku kesini?” tanya Jessica.
“Iya, ini Gua Haske. “ jawab Dandelion, entah kenapa aku mengajaknya kesini, gumam Dandelion dalam hati.
“Gua Haske?” tanya Jessica, “Ini glow cave.”
“Glow cave?”
“Iya glow cave.” Ucap Jessica, “nama itu diberikan karena didalam ada begitu banyak serangga bercahaya di dinding gua.”
“kau tahu?” tanya Dandelion.
“tentu saja aku tahu, kami bahkan pernah berkaryawisata disini.” Jawab Jessica, “tapi hari ini gua sedang tutup, gua ini hanya buka pada haru-hari tertentu, dan pengunjung juga dibatasi.”
“Sekarang banyak yang berkunjung kesini?”
“iya tentu saja, gua ini merupakan salah satu destinasi wisata terbaik di wellton. “
“Padahal dulu hanya aku yang tahu tempat ini.” Gumam Dandelion.
“Hahaa.. Yang benar saja,” sahut Jessica yang rupanya mendengar gumam Dandelion. “Kurasa kau salah tempat, ini bukan gua yang kau maksud.” Kata Jessica lalu membaca papan yang bertuliskan sejarah glow cave yang dipajang tetap di pintu gua.
“Iya mungkin saja. “ ucap Dandelion.
“Hah?” seketika Jessica terkejut, lalu menoleh pada Da, “Gua ini dulunya memang disebut Gua Haske. “
Dandelion mencibir, “Bukankah kau pernah berkaryawisata disini? Bagaimana kau bisa tidak tahu.”
“Waktu itu aku tidak memperhatikan,” jawab Jessica, “tapi bagaimana kau tahu? Apa kau benar-benar penemu gua ini?”
“mana mungkin, “ sanggah Dandelion, “sebelumnya aku juga pernah datang kesini, dan aku membaca sejarahnya juga.” Dustanya.
“Benarkah?”
“Iya, ayo masuk.” Ajak Dandelion sekedar ingin memeriksa apakah keadaan didalamnya masih tetap sama.
“Tapi hari ini gua sedang tutup, apa kau tidak lihat? Tidak ada pengunjung yang datang.” Kata Jessica.
“Pintunya terbuka.” Kata Dandelion.
“Tentu saja, memangnya siapa yang bisa menutup pintu gua.”
“Sudahlah, kita tetap bisa masuk.” Dandelion menarik tangan Jessica.
“Tapi kita bisa tertangkap.”
“Tidak akan.” Kata Dandelion, karena sebenarnya ia membuat Jessica dan dirinya menjadi tidak terlihat.
“Gua ini terlihat berbeda.” Ucap Jessica saat mereka sudah berada di dalam, “mungkin karena tidak.ada orang lain disini.”
Dandelion memegang tangan Jessica, membantunya naik ke perahu.
Tidak seperti Aracelli yang dulu memilih menjaga jarak dengan Dandelion saat di perahu, Jessica malah duduk sangat dekat dengan Dandelion.
Mereka jelas orang yang berbeda, ucap Dandelion dalam hati sambil memperhatikan Jessica.
Jessica bercerita panjang lebar tentang ini dan itu selama mereka menyusuri sungai, sedangkan Dandelion hanya diam sambil memperhatikan tingkah Jessica, sekilas gadis itu mirip.sekali dengan Aracelli, tapi tingkah gadis ini benar-benar sering kali konyol dan anehnya Dandelion malah menyukai sikap konyolnya itu.
“Apa yang kau pikirkan?” tanya Jessica setelah merasa ceritanya tidak mendapat respon.
“Tidak ada,” jawab Dandelion, “aku mendengarkanmu.”
“Sejak tadi kau hanya sibuk dengan pikiranmu sendiri.” Kata Jessica kembali merasa kesal, “seharusnya kita tadi pulang saja jika kau tidak ingin pergi.” Katanya sebisa mungkin terdengar biasa saja.
Tanpa disangka Dandelion malah menarik Jessica kearahnya lalu mencium gadis itu, Jessica terkejut tapi tidak ingin melepaskan diri, alih-alih menolak, Jessica malah membalas ciuman Dandelion dengan lebih agresif.
Dandelion mengerjap-ngerjapkan matanya saat merasa Jessica melumat bibirnya dengan bersikap lebih dominan, mereka melakukannya dengan cukup lama, Jessica semakin mencondongkan tubuhnya dan bersandar pada Dandelion, kedua tangan Jessica kini melingkari leher pria itu.
Byurrr..
Kegiatan mereka berakhir saat keduanya terjatuh ke sungai.
Tanpa berkata apapun keduanya langsung naik kembali keatas kapal dan bergegas untuk pulang.
“Pakai ini.” Kata Dandelion seraya menutupi tubuh Jessica dengan jaketnya.
“Tidak usah, kau pakai saja, tidak terlalu dingin.” Ucap Jessica mengembalikan jaket Dandelion.
“Pakaianmu basah, dan membuatnya tembus pandang.” Kata Dandelion.
“Apa?” ucap Jessica terkejut, “kenapa baru bialng sekarang, sejak tadi kau melihat apa?” katanya kesal karena Dandelion baru menutupinya setelah mereka berada diluar, “Dasar mesum.”
“Apa? m***m? Aku?” tanya Dandelion.
“Iya, kau.”
“Wahh.. Yang benar saja.”
“Iya, kenapa kau memperhatikan aku saat pakaianku tembus pandang? Lagipula tadi kau menciumku tanpa aba-aba.”
“Benar, aku yang mulai, tapi kau membalas dengan lebih agresif, akulah yang kewalahan mengimbangimu.”
Jessica memelototi Dandelion tanpa berkata apapun, batinnya membenarkan kata-kata pria itu, dasar bodoh, kenapa aku melakukannya? Gerutunya pada diri sendiri.
“Tidak ada toko yang buka disini, karena tempat ini sedang libur, lalu bagaimana kita akan pulang?” tanya Jessica seraya mengalihkan pembicaraan.
Benar juga, Jessica bisa terserang flu jika pulang dengan pakaian yang basah,tapi aku tidak boleh mengeringkan pakaian kami dengan sihir, pikir Dandelion.
“kita harus bagaimana?” tanya Dandelion.
“Sudahlah, mau bagaimana lagi, kita pulang saja semoga pakaian kita cepat kering selama perjalanan.” Kata Jessica memutuskan.
Selama diperjalanan, sebisa mungkin Dandelion menggunakan sihirnya untuk mengeringkan pakaian mereka dengan sangat perlahan agar Jessica tidak curiga.