Wellton 1560
Aracelli menangis dan berteriak ketika mendapati Dandelion tergeletak di taman bunga tempat mereka biasa berdua. Pria itu memuntahkan darah segar, dadanya biru lebam.
Sebelumnya, saat Dandelion dan Aracelli sedang bermesraan berdua di taman, tiba-tiba Aracelli kehilangan kendali lalu menyerang Dandelion, alih-alih melwan, Dandelion hanya menghindar dan akhirnya jatuh tersungkur.
“Ly. “ teriak Aracelli, “Tolong..” teriaknya lagi berharap ada yang mendengar.
Tak lama Althaf dan yang lainnya datang, tanpa banyak bertanya mereka segera menghilang, melakukan teleport, membawa Dandelion untuk mendapat pertolongan.
Aracelli masih berdiri disana, diam dan kebingungan, gadis itu belum bisa melakukan teleport dan kakinya masih lemas karena shock.
“Bagus sekali.” Ucap seseorang tiba-tiba datang.
Aracelli menoleh, “Apa yang kau lakukan?”
“Aku?” Ignatius tertawa puas, “aku tidak nelakukan apapun, kau yang melakukannya.”
“Tidak, aku tidak akan melakukan itu pada Dandelion, lagipula aku tidak mempunyai kekuatan sebesar itu hingga sanggup melukainya.”
“Kau punya, kekuatanmu sangat besar, aku bahkan sangat terkejut melihatnya.” Kata Ignatius semakin tertawa. “Pangeran itu sungguh tidak berguna.”
“ini semua pasti ulahmu, kenapa kau melakukan itu padaku?” teriak Aracelli, “dasar pengecut, jika kau ingin melawannya,kalahkan dia dengan tanganmu sendiri.”
“Kau benar, jika aku mau, aku bisa mengalahkannya, tapi aangat menyenangkan melihatnya mati ditanganmu,” Ucap Ignatius, “dia bahkan tidak melawan sedikitpun ketika kau memukulnya dengan kekuatan sihirmu.”
Aracelli menangis sejadi-jadinya, gadis itu masih sangat bodoh dalam hal ilmu sihir, dia tidak bisa melakukan apapun untuk melawan Ignatius.
“Meski akhirnya Dandelion selamat, kau tetap tidak akan bisa bersamanya, kejadian seperti ini akan terus terulang sampai akhirnya Dandelion akan mati ditanganmu, saat itulah aku baru akan berhenti.”
* * *
Wellton 2020
“Hachiii.. “ Jessica bersin dan menggosok-gosok hidungnya.
Dandelion menoleh, “Kau terserang flu?” tanya Dandelion.
“Entahlah, sepertinya memang agak tidak enak badan.”
“Badanmu panas nona.” Kata Paman Bill setelah memeriksa dahi Jessica. “cepat habiskan sarapanmu lalu minum obat.”
“Panggil aku Jessica saja paman, kenapa harus Nona sih?”
“beberapa hari ini begitu panas, bagaimana kau bisa terserang flu?” tanya Althaf, lalu menoleh pada Dandelion, Sang Pangeran rupanya sedang mengingat tentang kejadian siang tadi.
“Apa?” ucap Althaf terkejut, “Kalian?”
Dandelion ikut terkejut karena menyadari bahwa Althaf baru saja berhasil membaca pikirannya, semua itu karena Dandelion lengah, karenanya Althaf bisa dengan mudah masuk ke pikiran Dandelion.
“Apa?” tanya Jessica sesekali melirik Dandelion, Jangan-jangan dia sudah menceritakan kejadian itu pada Althaf, pikir Jessica.
Althaf kembali berkonsentrasi dan mencoba membaca pikiran Jessica, tapi tidak berhasil.
“Kau tidak akan bisa melakukannya.” Kata Dandelion pada Althaf.
“Benarkah? Kau juga gagal?” tanya Althaf.
“Iya,” jawab Dandelion lalu bergegas pergi, “Minum obat flu dan hari ini kau tidak usah pergi kuliah jika masih sakit.” Perintahnya pada Jessica.
Althaf menghampiri Dandelion saat pria itu duduk sendiri di balkon tanpa mengatakan sepatah katapun.
“Iya aku melakukannya.” Dandelion lalu membuka suara, terdengar olehnya begitu banyak pertanyaan yang dipikirkan Althaf, “Kenapa pikiranmu berisik sekali.”
“Hehee.. Aku hanya agak terkejut dengan pemandangan yang kulihat tadi, bagaimana bisa kau kalah dengan Jessica. “ kata Althaf lalu tertawa.
Dandelion hanya mendengus, ingin menyangkal, tapi ia terlalu malu untuk membahasnya, “Sudahlah, jangan bahas tentang itu.” Katanya.
Di kejauhan Dandelion melihat seseorang berjalan dari arah pekarangan rumah, tempat pintu rahasia yang menyambungkan dunia Magica Mundi dan dunia ludzi.
“Siapa?” tanya Althaf lagi-lagi karena mendengar suara hati Dandelion.
“Berhentilah membaca pikiran ku,” ucap Dandelion kesal.
“Baiklah, aku tidak sengaja.” Kata Althaf lalu mereka berdua melakukan teleport untuk menghampiri seseorang di pekarangan rumah.
“Kau?” tanya Dandelion saat melihat bahwa ternyata Adair lah yang datang.
Adair adalah tangan kanan Sang Ratu, ia datang karena Ratu memerintahkannya untuk pergi melihat keadaan Dandelion.
“Bilang pada Ratu bahwa aku baik-baik saja.” Kata Dandelion sedikit cemas.
“Aku merasakan aura seorang ludzi di tempat ini.” Kata Adair menghirup nafas dalam-dalam dan mengamati.
“Oh.. Itu hanya Bill, pengurus rumah ini.” Ucap Althaf membantu Dandelion menjawab.
Pergi periksa apa yang dilakukan Dandelion disana, jika kau mencurigai sesuatu, bereskan saja tanpa meninggalkan jejak. Dandelion dan Althaf masuk ke dalam pikiran Adair dan melihat apa yang dikatakan Ratu sebelum Adair pergi mencari Dandelion.
“Apa maksudnya dengan bereskan?” tanya Dandelion.
“Aku diperintahkan untuk mengingatkan anda agar tetap tidak ada seorangpun yang tahu tentang dunia kita, jika.ada, maka manusia itu harus dibunuh.” Jawab Adair.
“Tapi kau tidak perlu melakukannya pada Bill kan?” tanya Althaf, “Pria tua itu memang tahu segalanya tentang kita sejak dulu.”
“Benar,Bill adalah pengecualian.” Jawab Adair dengan tegas. “Maaf aku harus pergi memeriksa.” Lalu Adair masuk ke dalam rumah tanpa menunggu ijin Dandelion.
“Hei.. Apa kau tidak menghargaiku?” bentak Dandelion, “Aku tudak mengijinkanmu masuk.”
Bagaimana dengan Jessica, pikir Dandelion panik.
“aku harus menjalankan perintah Ratu.” Jawab adair tanpa ragu.
Lalu pria kekar itu mulai menyisir setiap bagian rumah tanoa terkecuali, tidak ada seorangpun disana termasuk Bill.
“Sudah puas?” tanya Dandelion merasa kesal dan sedikit lega karena Adair tidak menemukan Jessica.
“Baiklah aku pamit sekarang juga.” Ucap Adair begitu kaku.
“Ok, mau kuantar?” tanya Althaf merangkul Adair dan menuntun nya kembali kepekarangan rumah agar pria itu segera pergi.
“Kemana Jessica? “ tanya Althaf setelah memastikan Adair kembali ke Magica Mundi.
“Entahlah.” Jawab Dandelion masih menenangkan diri setelah panik karena Ada, lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya. “Dimana kau?” tanya Dandelion setelah Jessica mengangkat telepon.
“Aku bersama Paman Bill, katanya ada hal penting dan aku harus ikut dengannya.” Jawab Jessica.
Sebelumnya ternyata Paman Bill menyadari kedatangan Adair dan sempat menguping pembicaraan mereka, karena itu Bill cepat-cepat membawa lari Jessica.
“Ly.. Haloo.” Panggil Jessica.
“Iya, Oke baguslah.” Kata Dandelion.
“Apa aku harus pulang kerumahku?” tanya Jessica, “Paman Bill bilang ibumu akan datang hari ini, kesannya tidak akan baik jika aku berada dirumahmu.”
“Iya benar Jess,” sahut Althaf tiba-tiba merebut ponsel Dandelion, “Kau sebaiknya pulang saja dulu.”
“Tidak, jangan pulang ke rumah itu, aku akan meminta Bill untuk mencarikanmu rumah baru, tidak aman jika kau pulang ke rumah lama mu.” Kata Dandelion kembali mengambil ponsel nya.
“Ok baiklah. “ jawab Jessica, “Jangan lupa siang ini kita ada kuliah.”
Lalu Dandelion menutup telepon nya, wajahnya terlihat sangat kebingungan dan cemas.
“Ibuku tidak akan berhenti mencari tahu hanya sampai disini kan?” tanya Dandelion pada Althaf.
“Kau paling tahu seperti apa Ratu.” Jawab Althaf.
“Apa menurutmu dia mencurigai sesuatu?” tanya Dandelion lagi.
“Entahlah, yang jelas Ratu ingin mengawasimu, tidak akan baik jika Dia tahu tentang Jessica.” Kata Althaf sambil menatap iba pada Dandelion, padahal baru saja Dandelion terlihat begitu bahagia, pikirnya.
Siang hari, pukul 13.00.di kampus.
“Siang!" sapa riang Jessica saat ia baru saja tiba.
Dandelion terlihat serius meski tidak sedang mengerjakan apa pun. la hanya membalas sapaan Jessica dengan senyuman setengah hati. Dingin.
"Andrew ingin duduk di sini," kata Dandelion, sebelum Jessica sempat menduduki kursi yang baru saja disahkan olehnya dua hari lalu, tepat berada di samping Dandelion.
Mendengar namanya disebut, Andrew yang sebenarnya hanya ingin lewat spontan menghentikan langkahnya tepat di depan mereka.
"Aku?” ucap Andrew bingung. la mengarahkan jari telunjuknya ke d**a.
"Tapi ini kursiku, " ujar Jessica mencoba menjelaskan.
"Andrew ingin duduk di sini," ulang Dandelion. "Benarkan, An? Tatap mata Dandelion berkilat, mengirimka selarik cahaya yang mampu mempengaruhi Andrew.
“Ya, tentu saja,” kata Andrew, lalu menduduki kursi yang sebenarnya milik Jessica.
Jessica masih bingung, tidak bergeming dan masih saja berdiri di depan Andrew dan Dandelion.
Atau, kau duduk saja di kursiku, karena hari ini aku sedang tidak mood belajar, ucap Dandelion, lalu pergi tanpa menunggu jawaban.
"Ly...” panggil Jessica.
Dandelion tidak menghiraukannya sama sekali.
"Eheemm, ada pasangan kekasih yang sedang bertengkar nih!" ejek Gilbert, disambut tawa teman-temannya.
Sebagian dari mereka bahkan meneriakkan ejekan yang tidak kalah menyebalkan. Sebagian lagi hanya mengacungkan ibu jarinya ke bawah dengan tawa yang semakin membuat Jessica kesal.
"Huhhh...!" Jessica mendengus kesal sembari menjatuhkan dirinya di kursi.
"Kalian bertengkar?" tanya Fiola cepat-cepat mencari tempat strategis untuk menginterogasi Jessica, dikuti dengan Dara yang tidak kalah antusias.
"Entahlah!" ucap Jessica setengah menanggapi.
"Jadi, kalian putus? tanya Dara penasaran.
"Ck...," Jessica berdecak, masih sarat dengan kekesalan, “kalau belum jadian, bagaimana mau putus?"
"Oh, belum jadian?!" ucap Dara setengah berpikir, setengah heran.
Sepulang kuliah, Jessica memutuskan untuk mencari Dandelion. Ia ingin tahu apa yang menyebabkan sikap Dan terhadapnya bisa berubah, padahal sejak kemarin, bahkan tadi pagi Dandelion masih baik-baik saja.
Dan, Jessica semakin risau saat taksi yang ditunggunya tak kunjung datang.
Hatinya kalut, apalagi, mendung kian menebal di atas kepalanya, sepertinya hari ini akan turun hujan, batin Jessica.
Betul saja, beberapa detik kemudian, butiran-butiran halus air mulai menetes lembut di wajah Jessica.
“Uhm.., gerimis," keluhnya pelan. "Lengkap sudah penderitaanku hari ini."
“Jess!" teriak Dara.
Jessica menyipitkan matanya. Menoleh dengan tas diatas kepala. Sebuah usaha yang baik meski tidak sepenuhnya berhasil melindunginya dari tetesan air yang sebentar lagi akan menjadi hujan lebat. Dilihatnya Dara yang sedang berlari terengah-engah ke arahnya.
“Kau ingin mencari Dandelion, kan?” tanya Dara masih dengan napas yang terengah-engah.
"Mmm...." Jessica mengangguk. "Tadi sih niatnya seperti itu.”
"Jess, kulihat tadi Dandelion berjalan ke arah sana," Dara mengarahkan telunjuknya ke arah kebun belakang kampus.
"Hutan?” Jessica meyakinkan.
Tempat itu memang sering disebut hutan, karena memang lebih mirip hutan daripada sebuah kebun. Di dalamnya, tumbuh berbagai pohon yang rimbun dan besar. Mungkin karena kota ini sangat melestarikan hutan tengan kota. Karena itu, udaranya masih terasa sangat sejuk dan tak banyak tercemar polusi.
"Ya. Tadi aku melihat dia. Aku juga bertanya pada mereka, mereka bilang Dandelion memang berjalan masuk ke sana.” Kata Dara menunjuk segerombolan laki-laki yang sedang asyik bersantai sambil merokok. "Ayo...” ajak Dara.
"Ke mana?"
"Mencari Dandelion," ucapnya. "Mari, aku temani!”
Jessica mengikuti langkah Dara. Hatinya dipenuhi keheranan. Sebab, yang ia tahu, temannya satu ini paling tidak mau berkotor-kotoran, apalagi dalam cuaca hujan dan becek seperti ini. Ditambah pula ia sedang memakai sepatu high heels, yang tentu saja akan membuat sepatunya itu berubah warna menjadi cokelat dengan balutan lumpur di setiap sisinya.
"Dara!” panggil Jessica saat Dara sudah berjalan mendahuluinya.
"Sepertinya kita sudah terlalu jauh. Lagi pula, untuk apa Dandelion pergi ke tempat seperti ini?" Jessica menghentikan langkahnya.
“Aku yakin dia di sini. Kita berjalan sebentar lagi saja,” ucap Dara tanpa menoleh dan terus berjalan.
"Dara, sudahlah. Lagi pula, hujannya sangat lebat!" teriak Jessica yang sudah basah kuyup oleh air hujan.
"Bukankah kau yang ingin mencarinya, hah?!" ucap Dara dengan suara yang berubah menjadi besar dan aneh. Seperti suara orang yang sedang kerasukan.
"Hah..., kerasukan?" Jessica teringat pada film-film yang sering ditontonnya, yang akan selalu membuatnya merinding jika pemerannya berubah menjadi menyeramkan.
Benar saja, saat Dara berbalik, meski tidak begitu menyeramkan, tapi matanya kini mengeluarkan cahaya terang. Seperti ada lampu senter di dalamnya. Ia berubah menjadi sosok yang menakutkan.
Jessica terlonjak dan terjatuh karena kaget. "Dara...?” ucapnya ketakutan.
Dara mendekat. Kini, ia telah berdiri tepat di hadapan Jessica. Tangannya menjulur membelai pipi Jessica yang hampir mati ketakutan. "Kau seperti dia. Cantik dan mempesona," katanya mengamati wajah Jessica. "tapi sayang sekali, sekarang kau juga harus mati!"
"Ta... tapi kenapa?" ucap Jessica terbata-bata dan hampir menangis. "Apa salahku?"
"Salahmu?" kata Dara seperti sedang berpikir. "Kau tak bersalah, tapi nasib burukmu adalah karena D mencintaimu, dan itu membuatku menginginkan kau mati."
la mengangkat tangannya dan bersiap memukul Jessica.
Meski Dara bertubuh mungil, tapi dengan kondisi seperti ini, tentu saja akan membuat Jessica terkapar seketika, walau hanya dengan sekali pukulan.
Namun, belum sempat tangan itu terayun, tanpa ada yang menyadari, tiba-tiba sesosok tubuh berkelebat cepat. Mendorong Dara hingga jatuh tersungkur.
“Jangan ganggu dia!” teriak sosok itu yang ternyata Dandelion.
Ia kini berdiri tegap di depan Jessica. Tidak limbung sedikit pun walau telah melakukan gerakan yang begitu cepat.
Sekilas, Dandelion menoleh pada Jessica dengan pandangan mata yang tajam. Mata indah itu kini berubah hitam pekat. Sementara, di tangan kiri dan kanannya, dua buah bola petir berputar cepat. Siap dilemparkan kapan saja.
Kejadian itu berlangsung begitu cepat. Jessica hanya bisa bengong
Memandangi Dandelion penuh keheranan. Jantungnya berdetak kencang. Sedang tubuhnya gemetar ketakutan.
Dandelion kembali berkonsentrasi. Matanya tertancap lurus pada Dara. Dara tertawa. Suaranya berat dan menyeramkan. Seperti suara iblis. "Aku adalah kutukan bagimu," desis Dara, "kau tidak akan pernah mendapatkannya selagi masih ada aku!”
Beberapa orang lagi muncul tiba-tiba dari kepulan asap yang berubah menjadi tubuh manusia dengan ekspresi dingin dan siap menyerang.
"Cari tempat bersembunyi dulu, ya!" ucap Althaf yang muncul tiba-tiba di samping Jessica dan membuat wanita itu berteriak histeris karena kaget.
Althaf menghilang membawa Jessica, dan dalam sekejap sudah kembali berada di dekat Dandelion.
Sejurus kemudian, keadaan semakin kacau. Mereka saling serang dengan ganas. Di mana-mana, bola petir berseliweran mencari sasaran. Sedangkan, Jessica yang bersembunyi dibalik sebatang pohon hanya berani mengintip keadaan.
DIsapukannya pandangan dengan panik, wanita itu menciutkan tubuh sekecil-kecilnya saat melihat mereka semua sibuk bertarung. Hutan berubah menjadi arena pertarungan bagi para penyihir.
Sesuatu keluar dari tangan mereka dalam bentuk gumpalan cahaya seperti petir. Menumbangkan tubuh lawannya. Membuat suara gemuruh yang tak kalah mengerikan dibanding dengan suara petir itu sendiri. Cahaya terangnya membuat tempat itu seperti sedang mengadakan pesta kembang api.
Suasana semakin riuh oleh pekik dan gemuruh bola petir itu. Ditambah dengan suara-suara tubuh yang tersungkur di tanah, dan terkadang terpental membentur pohon. Kejadian itu membuat Jessica semakin shock. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Seperti mimpi. Bahkan, ia tak sempat mencerna dengan baik kenapa dan apa yang terjadi. la hanya mati-matian berdoa semoga tidak terjadi apa-apa dengan Dandelion, Dara, dan Althaf.
Jumlah mereka memang tidak seimbang, lima banding dua, dihitung dengan Dara yang berada di posisi musuh.
Serangan mereka semua terfokus pada Dandelion yang hanya di bantu oleh Althaf. Sesekali, Dandelion hampir terjatuh karena menahan serangan mereka yang membabi buta.
Namun, serangan yang dikembalikan Dandelion jauh lebih kuat dan mampu membuat mereka tumbang.
Lambat laun, kini jumlah mereka menjadi dua banding tiga. Saat Dara melihat Jessica di balik pohon, serangan itu kini tertuju pada Jessica. Satu bola petir milik Dara sanggup menumbangkan pohon besar tempat Jessica bersembunyi.
Pohon itu tumbang hanya dalam hitungan detik. Melayang ke arah tubuh Jessica. Seketika, Jessica tersentak. Tubuhnya semakin membeku karena panik.
Namun, Dandelion dengan langkahnya yang lebih cepat berhasil mendorong pohon itu hingga terjatuh ke arah yang berbeda. Jessica bangkit dan berdiri merapat di punggung Dandelion.
Baginya, posisi paling aman saat ini adalah berada sedekat mungkin di sisi Dandelion.
Mengingat keselamatan Jessica, perhatían Dandelion tidak lagi tertokus pada lawan. la lebih memikirkan setiap serangan yang datang agar jangan sampai mengenai Jessica.
Tangannya digerakkan seperti menarik sesuatu dari dalam tanah, kemudian akar pohon itu keluar dan menyerang musuhnya dengan dikendalikan oleh Dandelion. Satu penyihir lagi tumbang.
Ranting-ranting pohon pun ikut ambil bagian dalam pertempuran itu. Kali ini dikendalikan oleh Althaf. Hingga satu penyihir lain terikat di sana. Althaf lalu memutar tangannya. Sebuah pusaran angin terbentuk dengan cepat dan dahsyat. Pusaran itu menerpa salah seorang penyihir yang masih berdiri hingga terpental dan berhasil dilumpuhkan.
Kini, tinggal Dara yang masih bertahan. Kepintaran sekalıgus Sikap pengecut penyihir ini adalah dengan menggunakan tubuh Dara untuk melawan Dandelion. Ia tahu Dandelion dan Althaf tidak akan menyerang Dara dengan kekuatan penuh.
Walau bagaimanapun, Dara adalah seorang manusia. Jika mereka menyerangnya, maka Dara akan ikut terluka.
Dara menyerang Dandelion dengan satu serangan yang berhasil ditahan, kemudian disusul dengan serangan lain yang hampir saja mengenai Jessica. Dandelion menoleh untuk melihat keadaan Jessica.
Namun satu serangan lagi saat Dandelion lengah itu berhasil membuatnya tumbang.
Sontak, Jessica menjerit meneriakkan nama Dandelion.
Dengan cepat, Althaf membalas serangan itu. Melumpuhkan Dara dan membuat penyihir di dalamnya keluar. Kemudian menghilang diikuti oleh para pengikutnya, Rupanya mereka tidak mudah mati. Satu hal lagi peristiwa nyata dan aneh yang Jessica tahu hari ini.
Jessica duduk bersimpuh di samping Dandelion yang sedang terluka. Kausnya terlihat seperti hangus dan dadanya biru lebam. Namun ia mencoba bangkit.
"Ly...!" Jessica menangis.
"Aku baik-baik saja!" Dandelion mencoba menenangkan Jessica
meski napasnya kini terdengar sangat sesak dan terengahengah. "Kau tidak perlu!" la bangkit dan menghampiri Dara yang terkapar tak bernapas.
Althaf memegang leher Dara untuk mengetahui apakah masih ada denyut nadi atau tidak. Namun tidak terasa denyut di sana. Althaf menggeleng prihatin. Jessica mulai menangis cemas. Tubuhnya yang masih gemetar memeluk Dara erat-erat.
Tidak ingin berputus asa, Dandelion meminta Jessica untuk merebahkan Dara kembali. Sekuat tenaga, ia mencoba bertumpu pada lututnya. Merentangkan tangannya keatas, menyerap energi dari matahari hingga terkumpul di tangannya. Kemudian, 1a menyentakkannya kuat-kuat ke d**a Dara berkali-kali.
Sayang, Dara masih tetap tak bergerak. Wajah mereka kian sarat dengan kecemasan.
Tegang menunggu reaksi selanjutnya. Sekali lagi, Dandelion mencoba hal yang sama. Kali ini, ia berhasil. Dara menarik napas panjang. Kemudian terbatuk-batuk, ada sedikit rasa lega di hati ketiga orang itu.
"Kau baik-baik saja?" tanya Jessica pada Dara.
Dara mengangguk lemah. "Ada apa?"
"Kau pingsan," jawab Jessica.
Dara melihat ke sekelilingnya. "Kenapa kita berada disini?"
"Oblivisci," ucap Althaf sebelum Jessica sempat menjawab pertanyaan Dara. Lalu Dara kembali tidak sadarkan dirí.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Jessica.
"Memangnya apa yang akan kau jelaskan padanya? tanya Althaf. "Kau bawa saja dia pulang. Saat sadar, dia tidak akan ingat apa pun."
Sementara, Dandelion terlihat begitu lemah. la terjatuh pingsan karena terluka.
“Ly..” teriak Jessica kembali panik.
“Sudahlah, ayo.” Althaf memegang tangan Jessica dan Dara lalu mereka menghilang dan langsung tiba di klinik kampus.
Tak berkata apapun, Althaf kembali menghilang untuk mengurus Dandelion.