Wellton 1560
Dandelion baru saja siuman setelah lebih dari satu minggu pria itu tidak sadarkan diri, kali ini Dandelion bear-benar mengalami luka serius di bagian ulu hatinya. Rupanya saat itu Aracelli menggunakan kutukan mortu untuk melukai Dandelion, kutukan yang sangat terlarang dan tak termaafkan, karena kutukan ini mampu membunuh korban dalam sekejap.
Beruntung Sang Pangeran mampu bertahan dan selamat, meski ia harus mengalami masa kritis selama berhari-hari.
“Akhirnya kau siuman anakku.” Ucap Sang Ratu sangat bersyukur.
“Anakku memang benar-benar tanggung.” Ucap Raja takjub karena Dandelion berhasil selamat dari kutukan mortu.
Dandelion mengerjap-ngerjapkan matanya pelan, seketika setelah sadarkan diri, “Dimana Aracelli? “ tanya Dandelion karena semua orang berada disana kecuali kekasihnya.
Semua hanya diam, tak ada yang mengatakan apapun.
“Aaarrggh...” Dandelion merintih kesakitan saat ia mencoba membaca pikiran Althaf.
“Kau baru saja siuman, jangan menggunakan kekuatanmu dulu.” Kata Althaf seraya memegang tangan Dandelion.
Kami tidak mengatakan apapun tentang Aracelli yang melakukan kutukan mortu, tapi Aracelli memutuskan untuk pergi meninggalkan istana.
Althaf mencoba berbicara pada Dandelion lewat sentuhannya,karena disana ada Raja dan Ratu, dan kenyataan bahwa Aracelli lah yang menyerang Dandelion adalah rahasia.
Dandelion sangat terkejut mengetahui Aracelli akan pergi, tapi sebisa mungkin dia menguasai emosinya dan tetap tenang.
“Baiklah kau istirahat saja, kita kan bicara setelah kau benar-benar pulih.” Ucap Raja lalu memerintahkan semua orang untuk membiarkan Dandelion sendiri.
Dandelion memejamkan matanya lalu berkonsentrasi untuk mencari tahu keberadaan Aracelli, sesaat setelah semua orang pergi. Gadis itu masih baru saja keluar dari istana.
“Ar..” panggil Dandelion tiba-tiba muncul dihadapan Aracelli, tapi gadis itu mengacuhkannya. “Ar, kenapa kau meninggalkan istana?”
“Kau sudah siuman?” tanya Aracelli, “Baguslah..” ucapnya dingin.
“Benar, aku baru siuman, dan apakah kau tidak ingin menyambutku atau apapun?”
“Tidak.” Jawan Aracelli, “aku sudah cukup lelah bermain-main dan sekarang aku ingin kita berpisah, aku tidak tahan jika terus bersamamu.”
"apa kau bercanda?" tanya Dandelion tidak terima, "itu sama sekali tidak lucu."
"Aku serius," tegas Aracelli, "aku benar-benar ingin pergi dari sini, sudah kubilang aku tidak ingin lagi bersamamu, aku benar-benar sudah muak." ucapnya lalu bergegas pergi.
“Tapi kenapa?” tanya Dandelion meminta penjelasan, “aku bahkan melakukan apapun yang kau inginkan tanpa terkecuali, aku sangat menyayangi mu.”
“itu karena kau bodoh, bukankah kau tahu sejak.awal aku sangat membenci semua orang di istana ini?” kata Aracelli dengan sikap dingin, “seharusnya kau sadar bahwasejak awal aku hanya berniat untuk mempermainkanmu.”
“Kau bohong,” sanggah Dandelion masih tidak percaya, “selama ini kau tulus padaku.”
Aracelli tersenyum sinis, “awalnya aku tidak ingin sejauh ini, tapi ternyata mempermainkanmu sangat menyenangkan,” katanya masih dengan sikap dingin, “jangan salahkan aku, kaulah yang memaksaku tinggal di istana, aku bahkan sangat kerepotan dan merasa tidak nyaman disana.”
Dandelion tak bergeming, ia hanya diam dan mencerna kata-kata Aracelli, ia tidak percaya gadis itu selama ini hanya mempermainkannya, sayangnya Dandelion tidak.bisa membaca pikiran Aracelli untuk mengetahui bahwa gadis itu aedang berbohong atau tidak.
“Dengar,” tambah Aracelli, “Jujur saja aku mulai merasa bersalah padamu, karena itu aku memutuskan untuk mengakhiri semua ini.”
“Jika kau merasa bersalah, tidak bisakah kau tetap berada disisiku?” pinta Dandelion dengan sangat menurunkan egonya, “jika kau ingin mempermainkanku, seharusnya kau terua bermain-main sampai akhir.”
“Sudahlah, jangan cengeng, seorang Pangeran tidak boleh lemah, aku memutuskan untuk pergi karena aku tidak bisa mencintaimu, berada di istana membuatku sangat muak,” jawab Aracelli, “aku tidak akan meminta maaf ataupun berharap kau mau memaafkanku, tapi tolong viarkan aku pergi.” Katanya lalu bergeas meninggalkan Dandelion.
* * *
Wellton 2020
Sudah dua hari sejak kejadian hari itu, Jessica belum pernah bertemu kembali dengan Dandelion, dihubungi lewat ponsel tak pernah dibalas, di kampus pun Dandelion tak pernah muncul.
“Apa dia baik-baik saja?” ucap Jessica saat dalam perjalanan menuju halte bus untuk pergi ke kampus.
Berkali-kali Jessica menasehati dirinya sendiri, Dandelion bukan manusia? Apa dia monster? Atau vampire? Wajahnya hari itu sedikit menakutkan, matanya yang hitam keseluruhan terlihat begitu mencekam, Jessica sibuk berbicara pada dirinya sendiri saat duduk di halte sambil menunggu bus.
"Tapi bagaimana bisa dia tetap terlihat tampan? Ah.. Sial.. Kenapa aku masih saja terpesona olehnya?" Gerutunya.
“Tapi dia menyelamatkanku, paling tidak aku harus memastikan bahwa dia baik-baik saja.” Katanya lalu gadis itu memanggil taksi untuk pergi ke rumah Dandelion .
Meski ia sangat takut untuk menemui Dandelion di rumahnya, karena masih teringat kejadian waktu itu. Suatu peristiwa yang nyata dan semu itu belum bisa ia terima dengan akal sehatnya.
Namun, di sisi lain, ia masih penasaran dan khawatir dengan kondisi kesehatan Dandelion.
Waktu itu saat Dara pingsan, Jessica hanya bisa menemani Dara ke rumah sakit. Sedangkan Althaf membawa Dandelion pulang.
Kini, Jessica telah berdiri di depan pintu gerbang rumah Dandelion. Pintu gerbang itu amat besar dan berdiri kokoh dengan ornamen-ornamen patung dan ukiran-ukiran ala Yunani.
“Haruskah aku masuk?” ucapnya pada diri sendiri.
Meski sebelumnya gadis itu pernah tinggal di rumah besar ini, tapi saat ini keadaan sedikit berbeda karena Jessica tahu fakta bahwa Dandelion bukan manusia biasa, dan itu membuatnya sedikit ragu tentang apa yang menunggunya di dalam jika dia masuk.
Apa mereka akan membunuhku karena aku telah melihat semuanya? Atau mereka akan menghisap darahku? pikirnya, bulu kuduknya berdiri dan kakinya sedikit gemetar.
Jessica masih berdiri disana, ia hanya diam sambil memperhatikan sekelilingnya. Di kejauhan.
Kreekk..
Pintu gerbang terbuka sendiri dengan perlahan. Jessica terlonjak kaget. "Mungkin aku tidak tahu kalau selama ini gerbang ini otomatis," gumam Jessica menenangkan diri sendiri. Meski jantungnya nyaris saja terlepas dari tempatnya semula. la memberanikan diri memasuki gerbang.
Jessica melihat Althaf sedang berdiri di halaman. Di depan pintu utama.
"Siang!" sapa Jessica pada Althaf begitu ia tiba di halaman rumah itu.
“Siang!" jawab Althaf singkat. "Masuk saja, Dandelion ada di dalam."
Jessica tersenyum meringis.
Althaf menyeringai ketika menyadari bahwa Jessica saat ini sedang sangat berhati-hati dan ketakutan, "Jangan takut. Aku tak akan memakanmu. Aku hanya suka memakan anak kecil. Dagingnya lebih manis dan empuk," canda Althaf yang membuat Jessica menoleh kaget.
“Just kidding," ujar Althaf kemudian sambil menyeringai.
"Uhm..., boleh aku bertanya?"
"Mmm...?” Althaf menaikan alisnya. "Bukankah sebelumnya kita akrab? Kau tidak perlu canggung begitu.”
“Umm.. Iya, hehe..” Jessica mencoba tetap santai meski hatinya saat ini sedang panik, “ Kalian ini sebenarnya apa?”
“Kalian ini apa?” kata Althaf mengulang pertanyaan Jessica. "Hmm..., kau bertanya seolah kami adalah makhluk aneh."
"Sorry, maksudku, kalian..,” katanya mencari-cari kata yang tepat.
“Menurumu kami ini apa?” Althaf ingin mendengar pendapat Jessica.
“Umm.. Setelah aku berpikir selama beberapa hari ini aku menemukan beberapa spekulasi.” Ucap Jessica ragu.
“Baiklah, apa itu?”
Jessica tiba-tiba mencubit pipi Althaf kuat-kuat.
“Aww..” teriak Althaf kesakitan.
“Kupikir kalian semacam Alien, tapi kulitmu asli, jika kau Alien, seharusnya mereka mengelupas saat ku tarik.” Kata Jessica menjelaskan.
“Jika kami Alien seharusnya bibir Dandelion juga mengelupas saat kau melahapnya.” Ledek Althaf.
“Apa?” ucap Jessica sangat panik dan malu, “Kau.. Apa dia menceritakannya padamu?”
Althaf terkekeh, “Bagaimana rasanya mencium Alien? Kau beruntung karena dia tidak memakanmu saat itu.”
“Tidak, kalian bukan Alien, kata Jessica, kalian tidak memiliki kulit seperti reptil atau apapun.”
“Lalu?”
“Umm.. Apa kalian Vampire?”
Althaf kembali tertawa karena Jessica semankin melantur.
“Bukan kan? Kalian tidak meminum darah kan?” Jessica jelas terlihat agak takut.
"Mulai sekarang berhentilah menonton film horor,” kata Althaf, “ Kami manusia.” Katanya memutuskan berhenti menggoda Jessica.
“Oo..” Jessica mengangguk tidak puas, tanda mengerti tapi bukan itu yang sebenarnya ia maksudkan.
“Kalau tentang manusia apa, Dandelion yang lebih berhak menjelaskannya," lanjut Althaf.
"Baiklah!" Jessica mengangguk setuju. "Bagaimana keadaan Dandelion? Apa dia baik-baik saja?”
"Hanya luka ringan. Luka seperti itu tak akan membuatnya terkapar terlalu lama," jawab Althaf enteng. “Dia sedang mandi.”
Kemudian mereka duduk di ruang utama.
"Coke?” tanya Althat menyodorkan sebuah minuman kaleng pada Jessica. Kemudian, ia menyingkirkan buku-buku yang berserakan di meja hanya dengan menjentikkan jarinya, tanpa mempedulikan Jessica yang masih tercengang-cengang dan belum terbiasa melihat hal aneh seperti itu.
Buku-buku itu melayang masuk kembali pada barisan buku-buku yang
tertata rapi di lemari.
Althaf tersenyum lebar. Memainkan alisnya sesaat. Lalu tersenyum memandang wajah bingung Jessica. "Kau akan terbiasa." la lalu memandang langit-langit rumah dan berujar, "Ayolah, Ly.. Aku tahu kau mendengarkan kami."
"Dandelion?" tanya Jessica. "Di mana?”
"Di kamarnya.”
"Dikamarnya?” tanya Jessica hanya memastikan,” Bagaimana dia bisa mendengarmu berbicara dari sini?” katanya karena tahu letak kamar Dandelion lumayan jauh dari tempat mereka saat ini.
"Dia bisa mengetahui apa pun yang sedang kau lakukan, meski kau berada di rumahmu," katanya menambahkan.
"Benarkah?" tanya Jessica kali ini, masih tidak percaya.
"Mmm... Althaf mengangguk. Kemudian ia menyapukan tangannya di udara. Maka, bermunculanlah kepulan asap. Di sana, terlihat Dara sedang membaca novel yang tebal.
Jessica menarik napas panjang, lalu menghembuskannya lagi. la tak percaya, tapi ini nyata di hadapannya.
“Yups..., jadi berhati-hatilah saat kau sedang mandi," canda Althaf yang terdengar sangat tidak lucu bagi Jessica.
Dandelion menghampiri mereka. Kali ini tidak dengan muncul tiba-tiba.
"Sebaiknya aku...," ucap Althaf sambil berpikir, "ke mana saja, asal tidak berada di antara pasangan yang canggung ini." Lalu, ia berjalan ke luar dan menghilang.
"Hai," sapa Jessica.
"Hai," balas Dandelion. la lalu duduk di tempat yang agak jauh dari Jessica. "Bukankah hari ini ada kuliah?"
"Ya. Aku tidak bisa konsentrasi belajar jika masih mencemaskanmu," jawab Jessica cepat-cepat, berharap jantungnya tidak lompat dari dadanya hanya karena mengucapkan kata-kata itu.
Sesaat, Dandelion menatap Jessica tanpa bicara sedikitpun. Sebenarnya kata-kata itu sangatlah sederhana. Tapi, entah nengapa hal itu mampu membuatnya kikuk.
Bagi Dandelion, melihat Jessica saat ini mampu mengobati sedikit luka
hati yang membuatnya muram dalam beberapa hari belakangan ini. Ia khawatir kalau gadis itu akhirnya akan membenci dan menjauhinya karena takut.
"Uhm..” Jessica merasa tidak nyaman dengan tatapan Dandelion,” Rumah ini bagus.” Katanya karena terlalu canggung.
Dandelion hanya tersenyum karena tahu persis Jessica tidak benar-benar ingin membicarakan ini,” Bukankah sebelumnya kau juga tinggal disini?”
“Hehe.. Iya.” Jessica meringis, "Ly, kita pergi jalan-jalan saja yuk!" ajaknya.
“Hmmm..., boleh. Ke mana?” katanya meski ingin menolak.
"Terserah!"
Lalu mereka memutuskan untuk pergi ke pantai.
“Ly,” panggil Jessica ketika mereka sudah berada di sebuah pantai dan duduk di hamparan pasir yang sangat halus.
"Mmm.... Dandelion menoleh dan menatap Jessica.
"Ngg...," sambil mengumpulkan tekad untuk mengungkapkan isi hatinya pada Dandelion, "kenapa tidak ada pengunjung sama sekali di pantai ini?"
"Entahlah. Mungkin belum banyak orang yang tahu tempat ini."
“Hemmm..., apakah Dara tidak akan ingat tenta kejadian hari itu?"
Tidak," jawab Dandelion. "Apa yang terjadi kemarin di luar kesadarannya."
"Siapa orang-orang yang menyerangku kemarin?" tanya Jessica lagi.
"Mungkin mereka orang-orang yang tidak menyukaiku,” iawab Dandelion singkat.
"Ooo..," Jessica mengangguk-angguk. Bibirnya membulat membentuk huruf O. "Tidak suka padamu, kenapa malah mau membunuhku?" pancing Jessica mengingat kata-kata Dara waktu itu, bahwa ia ingin membunuh Jessica karena Dandelion mencintainya.
"Karena...," Dandelion hampir saja kelepasan bicara, "karena dia pikir aku menyukaimu.”
Dia pikir? Kenapa harus ada kata dia pikir? Kenapa tidak bilang karena aku menyukaimu? Bukankah akan kedengaran lebih baik? gerutu Jessica dalam hati.
"Ngg., Ly,” panggil Jessica lagi.
"Kenapa? tanya Dandelion mulai serius menanggapi Jessica.
“Tentang yang kau ceritakan waktu itu. Mmm..., mantan pacarmu, apa kau masih mencintainya?”
Dandelion mengernyitkan keningnya.
“Aku hanya...," kata Jessica merasa tidak enak.
“Aracelli itu...," Dandelion mulai ingin menceritakannya.
“Aku menyukaimu," cepat-cepat Jessica memotong kata-kata Dandelion.
Dandelion ternganga. Ia masih tak percaya dengan apa yang diucapkan Jessica barusan. Gadis ini benar-benar nekat.
"Jess.”
"Aku menyukaimu!" ulang Jessica, "Aku tidak peduli betapa kau sangat mencintai mantan pacarmu, tapi aku sangat menyukaimu. Bisakah kau memberiku kesempatan untuk menggantikannya? Maksudku, aku tak akan memaksamu untuk melupakannya, tapi bisakah kau berusaha mencintaiku juga?” ujar Jessica memohon.
Mata Dandelion membulat lebar. la tak mengeluarkan sepatah kata pun. Saking bingungnya, ia tidak tahu harus berkata apa.
"Sejak dulu, aku sudah sangat menyukaimu, Ly. Jauh sebelum aku melihatmu untuk pertama kalinya," suara Jessica bergetar.
"Tidak!" tiba-tiba bantah Dandelion tandas. "Kau tidak boleh menyukaiku. Tidak, bisa kubiarkan sampai seperti ini."
“Tapi, Ly."
"Jangan, Jess. Tidak akan kubiarkan kau terlibat dalam duniaku,” tegasnya berharap Jessica tidak membantah lagi.
"Tapi kenapa?" kata Jessica hampir menangis. "Kumohon beri aku kesempatan. Aku akan berusaha semampuku agar kau bisa menyukaiku. Beri aku waktu. Kupikir suatu saat kau akan bisa menyayangiku."
Sebenarnya Dandelion tidak membantah jika dalam hatinya justru ia sangat bahagia atas kejujuran Jessica itu. Dandelion pun sebenarnya memiliki perasaan yang sama.
"Ly,” panggil Jessica meminta jawaban Dandelion.
Tapi Dandelion tak bergerak sedikit pun. Ia hanya terdiam.
Matanya memandang Jessica, sarat dengan kepedihan. Ia sedang bingung. Di satu sisi, ia sangat mencintai Jessica. Tapi di sisi lain, dunianya tak akan mungkin bisa menerima keberadaan wanita yang sangat dicintainya itu.
Jessica terbelalak ketika berhenti menatap Dandelion dan menoleh, lalu menyadari bahwa hujan telah turun dengan sangat deras, sedangkan tak setitik pun air hujan membasahi tubuh mereka.
Seperti ada sebuah tirai tak kasat mata yang melindungi mereka dari derasnya hujan.
Kembali ditatapnya Dandelion dengan heran. Wajah pria itu sangat datar saat mereka saling pandang.
"Sudah bisa mengerti?” tanya Dandelion dengan wajah yang tak kalah mendung dibandingkan langit yang sedang menurunkan hujan.
Jessica masih menatap Dandelion dengan tajam tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
"Aku tidak sepertimu, Jess,” katanya dengan suara lembut.
"Aku tahu," sela Jessica meski sepertinya Dandelion masih ingin menjelaskan. "Tapi aku yakin, aku bisa mengerti. Jadi bisakah kau menjelaskannya padaku?”
"Aku seorang penyihir," kata Dandelion. Hal itu membuat Jessica semakin terbelalak. "Sebagian besar dari kalian memang hanya menganggap kami sebagai legenda. Hanya karena ketakutan dan kebencian kalian yang mengasosiasikan kami dengan setan. Itulah sebabnya mengapa kami bersembunyi dan memisahkan diri. Hingga sampai sekarang pun kalian tak akan pernah diizinkan masuk ke dunía kami."
“Jadi kau seperti dukun?” tanya Jessica kembali berspekulasi.”Tapi bukankah dukun juga tinggal disini, kami tidak mempermasalahkannya.”
Ya Tuhan, gadis ini benar-benar tidak terduga. Gerutu Dandelion sedikit gemas dan kesal karena ucapan Jessica yang tiba-tiba merusak suasana.
“Walau bagaimanapun, tapi aku tidak bersalah," bantah Jessica. "Aku tidak peduli kau siapa dan seperti apa. Aku hanya ingin bersamamu, walaupun duniamu tak menerimaku, asal kau bersedia berada di sampingku, akan kujalani sesulit apa pun itu"
Kemudian, ia membenamkan wajahnya ke d**a Dandelion sembari menangis.
"Kau tak tahu resikonya jika hidup bersamaku,' kata Dandelion dengan suara yang semakin bergetar karena sedih.
Jessica menggeleng.”Jika kau tidak ingin bersamaku, seharusnya sejak awal kau jangan menggidaku, kau terus saja menoling dan mendekatiku, sekarang kau harus bertanggung jawab karena aku sangat menyukaimu.” la masih tetap membenamkan wajahnya di pelukan Dandelion. Ia menangis memeluk erat tubuh Dandelion.
Sebenarnya Dandelion tak kuasa membendung keinginannya untuk memilikı Jessica. la semakin tak tega melihat Jessica menangıs seperti itu.
“Memangnya kapan aku menggodamu?” ucap Dandelion mengejek tapi juga bersedih, lalu ia mencium kening Jessica dan memeluknya.