Seminggu yang dilewati Anto terasa seperti siksaan batin. Kontrakan yang seharusnya menjadi tempat berlindung, kini berubah menjadi ruang sidang—Sari sebagai jaksa, dan Anto sebagai terdakwa yang selalu merasa kurang. Setiap desahan Sari, setiap hitungan uang yang terucap dari bibirnya, adalah palu hakim yang menghantam kepalanya, menegaskan kegagalannya sebagai kepala rumah tangga.
Sementara itu, di sudut pikirannya yang paling tersembunyi, ada sebuah film diputar berulang-ulang: Bayangan Luna. Senyumnya yang tipis, mata lebarnya yang tenang, dan gelas es teh dingin yang pernah disodorkannya. Kontras itu terlalu menyakitkan, dan Anto merasa otaknya terbelah dua. Satu sisi dipenuhi tuntutan, sisi lain dipenuhi harapan yang terlarang.
Tepat saat Anto sedang merenungi nasibnya di teras sambil memandangi motor bebeknya yang butuh ganti ban, ponselnya bergetar. Layar menampilkan nomor yang tidak asing, nomor yang ia kenali dengan cepat sebagai nomor Pak RT. Jantung Anto berdetak kencang, bukan karena prospek uang, tetapi karena panggilan itu adalah izin resmi untuk menengok fantasi pribadinya.
"Mas Anto, ya? Mau nawarin pekerjaan serabutan tambahan, bantu tukang bangunan. Kami lagi kejar target, Mas. Kalau bisa hari ini juga, kami butuh cepat."
Suara Pak RT terdengar tergesa, tapi bagi Anto, itu adalah melodi paling indah. "Siap, Bapak! Saya meluncur sekarang juga!" jawab Anto, nadanya penuh semangat yang sulit ia sembunyikan. Anto bahkan tidak bertanya berapa upahnya—ia hanya membutuhkan alasan. Alasan untuk pergi. Alasan untuk melepaskan penat di bawah tatapan Sari.
Dengan terburu-buru, Anto menyambar jaket lusuhnya. Ia hanya sempat berteriak pada Sari di dalam rumah, "Aku pergi, ada panggilan kerja mendadak!" tanpa menunggu jawaban. Ia melajukan motor bebeknya, meninggalkan kepulan asap dan aura dingin kontrakan di belakang.
Perjalanan kali ini terasa berbeda. Sawah-sawah yang ia lewati tampak lebih hijau, langit sore terasa lebih cerah. Pikirannya tidak dibebani oleh kalkulasi uang; fokusnya hanya pada satu hal: Luna.
Sesampainya di rumah Pak RT, Anto memarkir motornya. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan irama jantungnya yang kini berpacu kencang. Ia mencoba menyusun kalimat profesional, menyiapkan wajah datar seorang pekerja keras yang datang murni karena tugas.
Namun, semua persiapan mentalnya runtuh seketika.
Luna yang menyambutnya di teras.
Anto tertegun, terpaku di samping motor bebeknya. Hari ini, Luna tidak hanya tampil seperti gadis polos yang ia temui pertama kali. Luna menggunakan pakaian rumahan yang sederhana—kaos oblong polos dan celana longgar yang nyaman—namun ia menambahkan sentuhan yang mengubah segalanya: Riasan Tipis. Sapuan bedak yang tipis, sedikit perona pipi yang membuat wajahnya merona alami, dan lipstik warna nude yang membuat bibirnya terlihat lembap dan segar. Rambutnya yang biasa dibiarkan terurai, kini diikat setengah, menyisakan anak rambut yang membingkai wajah imutnya.
Luna yang pasrah dan polos kini tampil sebagai gadis yang sangat menarik dan sadar akan daya tariknya.
"Mas Anto, ayo masuk. Sudah ditunggu Bapak di belakang," sapa Luna dengan senyum yang ramah, sedikit berbeda, lebih berhati-hati dari senyum pertamanya.
Anto merasakan panas menjalar di lehernya. Ia merasa kembali menjadi remaja canggung yang baru pertama kali mendekati gadis. Keberadaan Luna di dekatnya seolah memiliki kekuatan magis: menghilangkan semua rasa lelah, semua beban utang, bahkan bayangan tuntutan Sari. Di sini, di depan Luna, Anto merasa ia kembali menjadi pria yang utuh, yang punya nilai, yang bisa membuat seorang gadis tersenyum.
"Eh, i-iya, Neng Luna. Makasih," Anto tergagap, meremas kunci motornya hingga buku jarinya memutih.
Luna menatapnya sejenak, tatapannya lembut, seolah menyadari kegugupan pria di hadapannya. "Mau minum apa, Mas? Kopi atau teh?"
"Kopi saja, Neng. Yang pahit," jawab Anto, berusaha agar suaranya terdengar normal.
Luna memiringkan kepala, senyumnya yang tipis berubah menjadi seringai jahil. "Ah, kopi pahit ya? Biar tidak terlalu manis melihat saya, Mas?" goda Luna, tawanya kecil dan renyah. Tawa yang sangat berbeda dengan desahan lelah Sari.
Anto terpaku, pipinya terasa menghangat. Gadis ini berani, dan dia membalas godaan Anto. Keceplosan yang selama ini ia tahan, kini meledak tanpa bisa dihentikan.
"Neng Luna kelihatan... cantik sekali hari ini," kata Anto, suaranya tercekat dan sedikit serak. Ia menunduk, menyesali kejujurannya yang tiba-tiba.
Alih-alih mengabaikannya, Luna tersenyum lagi, kali ini tawanya lebih lepas. Senyumnya yang tipis menjadi lebih lebar, memperlihatkan sedikit lesung pipi. "Ah, Mas Anto bisa saja. Padahal saya cuma pakai riasan tipis, Mas. Hari ini memang ada tamu jauh dari kota," balas Luna, tanpa sedikit pun terlihat terganggu oleh pujian yang datang dari pria beristri. Sikap santai dan polosnya justru membuat Anto semakin merasa nyaman dan berani.
"Bukan riasannya, Neng. Tapi..." Anto menggeleng, tak mampu melanjutkan. "Tapi auranya. Beda."
Luna menatapnya dengan rasa ingin tahu. "Beda bagaimana, Mas Anto?"
"Beda... menenangkan," bisik Anto, setengah ke dirinya sendiri. Luna tidak menuntut, tidak membandingkan, dan tidak menghitung. Ia hanya ada, membawa kedamaian.
"Ya sudah. Masuk yuk. Tamunya sudah mulai datang, biar Bapak senang kalau Mas sudah mulai kerja," ujar Luna, lalu berbalik dan berjalan perlahan menuju dapur.
Anto mengikuti, kakinya terasa lumpuh. Ia berjalan di belakang Luna, matanya tidak lepas dari punggung Luna yang bergerak lembut. Ia memperhatikan bagaimana Luna melayani para tamu yang mulai berdatangan dengan cekatan dan senyum yang tak pernah luntur.
Pak RT menyambutnya di halaman belakang, di mana beberapa tukang sudah mulai meratakan tanah untuk fondasi tambahan. Pak RT, dengan topi jerami dan senyum lebar, langsung menjelaskan tugas-tugas Anto: merapikan sisa-sisa kabel lama, memindahkan beberapa sak semen, dan memastikan instalasi listrik sementara aman.
"Mas Anto, kerja dulu yang benar, ya. Setelah ini ada kopi dan pisang goreng buatan Luna," ujar Pak RT, menepuk bahu Anto dengan puas.
Anto mengangguk. Ia mulai bekerja dengan cekatan yang luar biasa. Ia bekerja keras, sangat keras—bukan untuk Pak RT, bukan untuk uang, tapi untuk kesan di mata Luna. Ia ingin Luna melihat dirinya sebagai pria yang tangguh, pekerja keras, dan layak.
Saat Luna meletakkan gelas kopi pahit dan sepiring pisang goreng di dekatnya, tangan Anto terhenti.
"Silakan, Mas. Istirahat dulu sebentar," kata Luna.
"Terima kasih, Neng Luna," Anto berusaha tersenyum. Ia takut jika terlalu lama menatap Luna, seluruh isi kepalanya yang penuh rahasia akan terbaca di matanya.
Luna tidak langsung pergi. Ia berdiri sejenak, mengamati Anto yang lahap makan.
"Mas Anto kelihatan senang di sini," komentar Luna.
Anto menelan kunyahannya dengan susah payah. "Ya, Neng. Di sini, saya bisa kerja tanpa dengar teriakan." Ia keceplosan lagi, tapi ini adalah jenis kejujuran yang hanya bisa ia tunjukkan pada Luna—kejujuran tentang penderitaannya.
Luna hanya mengangguk pelan, seolah memahami. Tidak ada rasa kasihan, tidak ada penilaian. Hanya penerimaan.
"Bapak bilang, Mas itu tukang listrik yang paling teliti. Padahal yang lain sudah bolak-balik datang, Mas. Bapak senang kalau Mas Anto yang kerja," ujar Luna, senyumnya kini terasa tulus.
Pujian itu menghantam Anto lebih keras daripada tamparan. Luna memujinya karena keahliannya, bukan karena uangnya. Ia dipuji karena ia bernilai.
"Ah, Neng Luna bisa saja," Anto tertawa kecil, tawa yang benar-benar lepas dan tanpa beban, tawa yang sudah lama tidak ia dengar dari dirinya sendiri.
Luna pamit ke dalam, dan Anto kembali bekerja. Kopi pahit di tangannya terasa manis. Anto menyadari, ia telah menemukan sebuah pelabuhan—sebuah tempat yang menghargai dirinya apa adanya. Ia tahu persis apa yang ia pertaruhkan.
Saat senja mulai turun dan ia membereskan alat-alatnya, Anto merasa bahagia, sekaligus merasa menjadi pengkhianat terburuk. Kebahagiaan ini terlarang, tapi ia sudah tidak bisa melepaskannya. Ia masuk ke area belakang, mengambil obeng dan tang. Namun, kini ia tidak hanya memperbaiki kabel. Ia sedang merusak fondasi rumah tangganya sendiri, satu sentuhan, satu tatapan, dan satu kebohongan dalam satu waktu.
Ia akan pulang ke Sari, tetapi hatinya sudah mengunci diri di sini, di bawah senja desa ini, bersama bayangan Luna.