Anto bekerja. Bukan sekadar bekerja, melainkan bekerja seolah-olah ia sedang audisi untuk mendapatkan pengakuan dari satu-satunya penonton yang ia pedulikan: Luna.
Ia menyekop tanah dengan ritme yang cepat dan tanpa jeda, mengangkut sak semen dengan tenaga yang biasanya ia simpan hanya untuk berdebat dengan Sari. Keringat membanjiri pelipisnya, membasahi kaosnya hingga membuat debu menempel seperti serbuk gergaji halus. Namun, ia tidak merasa lelah. Setiap gerakannya adalah upaya untuk terlihat tangguh, untuk terlihat berharga di mata Luna.
Di tengah kesibukan itu, Luna sesekali melintas, membawa baki berisi teh hangat dan air mineral untuk para tukang. Setiap kedatangan Luna adalah jeda yang penuh makna, sebuah micro-moment yang di tunggu-tunggu Anto. Ia akan buru-buru menyeka keringatnya dengan punggung tangan, berusaha terlihat bersih dan tidak terlalu kumal sebelum Luna mendekat.
"Ini Mas Anto, minum dulu," kata Luna, senyumnya sama tenangnya dengan air sungai yang mengalir pelan.
Anto meraih gelas itu, dan seperti ritual yang sudah ditetapkan di alam bawah sadarnya, jari mereka akan bersentuhan sekejap. Sentuhan itu singkat, tidak disengaja, namun cukup untuk mengirimkan kejutan listrik—jauh lebih kuat dari sengatan kabel yang biasa ia tangani.
"Terima kasih, Neng Luna. Neng Luna tidak capek bolak-balik?" tanya Anto, suaranya sedikit terengah-engah.
"Tidak, Mas. Justru senang lihat Mas Anto kerja se-semangat ini. Beda banget sama tukang-tukang lain, Mas," balas Luna. Pujian itu, sederhana dan jujur, adalah bahan bakar bagi Anto.
Setelah Luna pergi, Anto kembali menyekop dengan energi yang berlipat ganda. Ia merasa dirinya dilihat. Ia merasa dihargai. Dan rasa dihargai itu datang dari seseorang yang tidak meminta balasan berupa uang jatah bulanan. Luna telah memberinya identitas baru: Anto si Pekerja Keras, bukan Anto si Gagal.
Namun, identitas baru ini memiliki efek samping yang tidak dapat dihindari: Anto mulai melanggar batas. Meskipun ia sedang bekerja, fokus matanya selalu mencari celah pandang ke arah Luna. Saat Luna sedang menyapu teras, saat ia membantu ibunya di dapur, atau bahkan saat ia hanya duduk di kursi rotan sambil memainkan ponsel—mata Anto akan mencuri pandang, mengabadikan setiap gerakan Luna dalam ingatannya. Ia membiarkan pikirannya berkeliaran bebas, mengkhianati Sari dengan setiap pandangan yang ia curi.
Tiba-tiba, suara Pak RT yang berat menggelegar di samping telinga Anto, memecah lamunannya.
"Woi! Mas Anto!"
Anto terlonjak kaget, sekopnya hampir jatuh. Ia buru-buru menoleh ke arah Pak RT.
Pak RT, alih-alih menegur keras, justru tertawa renyah. Tawanya terdengar bersahabat, seperti seorang ayah kepada anaknya. Namun, Anto merasakan bahaya yang terselubung dalam tawa itu.
"Kamu ini, Mas," kata Pak RT sambil merangkul bahu Anto yang basah oleh keringat. Pak RT mencondongkan tubuhnya, berbisik seolah membagikan rahasia besar. "Kerja itu ya kerja. Tapi matamu itu lho, dari tadi kok ya betah banget lihatin si Luna terus. Jangan cuma pintar ngurus kabel listrik, Mas. Ngurus cewek cantik harus lebih berani!"
Jantung Anto seolah berhenti berdetak. Ia yakin Pak RT tidak hanya melihatnya sekali dua kali. Pak RT adalah orang desa yang tajam penglihatannya, dan dia sudah membaca gerak-gerik salah tingkah Anto. Anto merasa wajahnya memerah, bingung harus mengelak atau mengakui. Ia hanya bisa menundukkan kepala, membiarkan topi yang ia kenakan menutupi rasa malunya.
Saat Anto masih mematung, Tarno, mandor tukang yang bertubuh gempal dan bermulut pedas, menghampirinya sambil tertawa keras. Di belakang Tarno, dua tukang lain—Slamet dan Budi—ikut menyeringai.
"Woi, To! Kenapa kayak patung ketiban sial?" sapa Tarno, suaranya sengaja dikeraskan.
"Nggak, Bang. Cuma lagi mikir jalur kabel yang pas," Anto mencoba mengelak.
Tarno tertawa lebih keras. "Jalur kabel apaan? Paling jalur hati anak gadis Pak RT yang kau pikirin, hah?"
Slamet menyahut, "Tadi aku lihat matamu kayak CCTV ke mana-mana ngikutin Neng Luna. Kayak nggak pernah lihat cewek cantik aja!"
"Mas Anto kayaknya di rumah kurang asupan ya? Sampai lihat anak gadis Pak RT aja matanya kayak lampu senter 100 watt!" timpal Budi, mengejek.
Olok-olok itu membuat Anto sadar: pelariannya kini menjadi tontonan.
Tarno menyenggol Anto dengan sikunya. "Alah, To. Kita ini laki-laki! Di sini kita kerja keras biar dapat uang. Tapi kalau di rumah cuma dituntut, ya wajar kalau mata kita jajan sebentar. Apalagi Luna, manisnya kayak gula batu, To! Bini di rumah cuma gula jawa, pahit!"
Kata-kata Tarno tentang "dituntut" dan "gula jawa" menghantam Anto persis di ulu hati. Mereka memang mengolok-olok, tetapi mereka juga memvalidasi alasan tersembunyinya. Mereka seolah berkata, 'Kami mengerti mengapa kamu ingin lari, To.'
Mereka bertiga pergi, meninggalkan Anto sendirian dengan sekopnya. Olok-olok itu membuat Anto sadar: Jika ia mundur sekarang, ia akan dicap pengecut. Ia harus maju.
Pak RT kembali mendekat, mengabaikan gerombolan tukang yang kini sudah menjauh. Ia merendahkan suaranya, memberikan instruksi yang terasa seperti komando rahasia, sebuah dorongan yang fatal.
"Dengar, Mas. Nanti pas istirahat makan siang, kamu temui dia. Jangan cuma dilihat dari jauh. Ajak ngobrol. Tanyakan soal kegiatannya. Anak muda zaman sekarang, Mas, kalau cuma main mata tidak akan ada hasil. Harus ada keberanian."
"Bapak tahu, Mas," lanjut Pak RT, matanya menyipit penuh makna. "Gadis yang bikin kita semangat kerja, itu yang harus dikejar. Sari itu sudah biasa. Ini Luna, Mas. Anak Bapak sendiri. Dia itu bunga desa di sini, tidak banyak yang berani mendekat karena dia selalu serius. Tapi Bapak lihat dia senyum-senyum ke kamu. Jadi, jangan sia-siakan kesempatan."
Pak RT menepuk bahu Anto lagi, lebih keras. "Sudah, sana, kerja. Tapi ingat kata-kata Bapak, ya. Keberanian itu kunci. Luna itu anak Bapak satu-satunya, Mas. Jadi Bapak tahu siapa yang serius."
Pak RT berjalan pergi dengan santai, meninggalkan Anto yang kini berdiri terpaku. Perkataan Pak RT menghantamnya dengan telak. Ini adalah restu terselubung dari ayah Luna, lengkap dengan validasi bahwa Luna juga merespons.
Anto terhuyung, bersandar pada tembok galian yang masih basah. Ia tahu ini adalah garis start yang sesungguhnya. Sampai saat ini, ia hanya melawan Sari, dan hubungannya dengan Luna hanya sebatas fantasi dalam kepalanya. Sekarang, dengan dorongan Pak RT, fantasi itu berpotensi menjadi kenyataan yang merusak.
Anto menyekop tanah lagi, tetapi kini, setiap ayunan sekopnya terasa berat, diiringi irama drum: Sari—Luna—Sari—Luna. Ia terjebak. Dan ia tahu, ia tidak akan bisa lagi menyalahkan Sari sepenuhnya atas kehancuran yang akan datang. Sebagian besar salahnya, karena ia telah diberikan izin untuk jatuh.
Saat itu, Pak RT berteriak dari ruang tengah, "Mas Anto! Waktunya makan! Luna sudah siapkan!"
Teriakan itu adalah aba-aba. Anto menjatuhkan sekopnya. Ia tidak lagi bisa mundur. Ia membersihkan tangannya secepat mungkin. Ia memilih untuk maju.
Jam istirahat siang itu bukan sekadar jeda makan. Itu adalah garis start menuju masalah yang lebih serius. Anto kini dihadapkan pada pilihan mengerikan: menolak kebahagiaan yang ditawarkan Luna dan Pak RT demi komitmen yang sudah retak, atau maju dan mengorbankan rumah tangganya demi sebuah harapan baru.
Ia melangkah ke dalam rumah Pak RT, di mana Luna sudah menunggu, membawa nampan berisi makanan. Anto merasa seperti berjalan di atas tali. Di bawahnya, jurang kehancuran rumah tangganya menganga lebar.