Bab 4
Pagi itu, suasana kelas 11 terasa berbeda. Udara masih lembab sisa hujan semalam, jendela kelas terbuka sedikit, membiarkan angin masuk membawa aroma tanah basah. Murid-murid sibuk dengan buku, beberapa bercanda pelan, sementara Arfa hanya duduk menunduk di bangkunya.
Di sebelahnya, Lyra baru datang, rambutnya sedikit basah karena gerimis yang belum berhenti sepenuhnya. Ia tersenyum kecil pada Arfa, lalu duduk pelan tanpa banyak suara. Senyum itu biasanya cukup membuat hati Arfa terasa hangat, tapi entah kenapa pagi ini ada sesuatu yang berbeda.
Beberapa baris ke depan, Adrian sudah duduk santai. Posturnya tegap, seragamnya selalu rapi, wajahnya penuh percaya diri. Ia sedang berbicara dengan beberapa teman di sekitarnya, membuat mereka tertawa. Sesekali, tatapannya melirik ke arah Lyra. Tatapan itu jelas, tak berusaha disembunyikan.
Arfa menyadarinya.
Dan justru itulah yang membuat dadanya semakin berat.
---
“Fa, kamu udah sarapan?” suara Lyra memecah diam.
Arfa tersentak pelan, lalu tersenyum seadanya. “Belum. Hehe, aku kesiangan.”
Lyra menghela napas singkat, lalu merogoh tasnya. Dari sana, ia mengeluarkan roti yang dibungkus plastik. “Nih, makan dulu. Jangan biasain kosong.”
Arfa menatap roti itu. Sekilas ia ingin menolaknya, tapi Lyra sudah mendorongnya ke meja Arfa.
Dengan canggung, ia menerimanya. “Makasih, Ra.”
Adegan sederhana itu, yang seharusnya biasa saja, ternyata tak luput dari perhatian Adrian. Dari kejauhan, ia memperhatikan, bibirnya melengkung kecil, entah senyum entah hanya ekspresi yang penuh arti.
---
Pelajaran dimulai, tapi perhatian Arfa buyar.
Lyra mencatat serius, tangannya cepat menulis. Sesekali ia menoleh ke Arfa, memastikan Arfa juga memperhatikan. Tapi Arfa lebih sering menunduk, jari-jarinya mengetuk meja kecil, seolah pikirannya penuh.
Adrian, berbeda jauh. Ia bisa dengan mudah menjawab pertanyaan guru, suaranya mantap, membuat teman-teman lain terkagum. Bahkan guru beberapa kali memuji jawabannya.
Di sela pelajaran, ketika kelas agak ramai, Adrian sempat berbalik. Ia tersenyum pada Lyra, lalu berkata cukup keras, “Eh, nanti ada tugas kelompok, kan? Kalau bisa, bareng aja ya, Ly.”
Arfa yang mendengar itu langsung terdiam.
Sementara Lyra hanya menjawab singkat, “Kita lihat aja nanti.”
---
Arfa menelan ludah. Dadanya terasa sesak, tapi wajahnya tetap berusaha biasa.
Namun Lyra menangkap sesuatu—tatapan Arfa yang kosong. Ada bayangan sedih yang tak bisa disembunyikan.
“Fa, kamu nggak apa-apa?” tanya Lyra pelan, nyaris berbisik.
Arfa menoleh, tersenyum tipis. “Aku baik-baik aja.”
Jawaban itu jelas bohong. Tapi hanya itu yang bisa ia katakan.
---
Hari itu berjalan lambat. Semakin sering Arfa melihat Lyra dan Adrian berinteraksi, meski kecil, semakin berat langkahnya. Dalam hatinya, ia tahu Lyra sudah pernah berjanji untuk selalu bersama. Tapi janji apa artinya, ketika ada orang lain yang lebih segalanya darinya?
Dan Lyra pun mulai sadar—bahwa sesuatu sedang berubah dalam diri Arfa.
Langit pagi itu masih kelabu. Gerimis semalam meninggalkan jejak tipis di kaca jendela kelas, seolah-olah hujan enggan benar-benar pergi. Arfa duduk di bangkunya, kepalanya bersandar ke tangan, matanya kosong menatap papan tulis yang masih bersih. Suara riuh pelan dari teman-teman lain seperti jauh, meski sebenarnya hanya beberapa meter darinya.
Tak lama kemudian, pintu kelas berderit. Lyra masuk dengan langkah hati-hati, rambutnya yang panjang sedikit lembap, tampak basah oleh sisa gerimis. Ia tersenyum kecil ketika matanya bertemu dengan Arfa. “Pagi, Fa.”
Arfa tersentak sedikit, buru-buru menegakkan badan. Senyumnya muncul sejenak, agak kikuk. “Pagi, Ra.”
Lyra duduk di kursinya, tepat di sebelah Arfa. Tidak ada banyak kata yang keluar, tapi keheningan itu terasa nyaman bagi mereka berdua. Namun suasana itu tidak bertahan lama. Dari baris depan, sebuah tawa keras terdengar.
Adrian.
Ia sudah ada di kelas sejak tadi, duduk dengan santai sambil berbincang dengan beberapa teman baru yang langsung akrab dengannya. Seragamnya selalu rapi, rambutnya tertata, dan caranya berbicara membuat semua orang seolah terpikat. Sesekali, Adrian menoleh ke belakang—tepat ke arah Lyra—dengan senyum tipis yang seakan memiliki arti tersendiri.
Arfa menunduk, berusaha tidak memikirkan apa pun. Tapi setiap kali tatapan itu muncul, dadanya terasa sesak.
---
Pelajaran dimulai. Guru menuliskan soal di papan tulis, lalu menunjuk seorang siswa untuk menjawab. Adrian berdiri dengan percaya diri, suaranya jelas, dan jawabannya tepat. “Bagus sekali, Adrian,” puji guru sambil tersenyum.
Beberapa siswa bertepuk tangan kecil. Lyra pun ikut mengangguk, wajahnya menunjukkan kekaguman. Arfa melihat itu dari sudut matanya. Ia menggenggam bolpennya lebih erat, seakan-akan bisa meredam rasa tak nyaman di dadanya.
Saat guru kembali menulis soal lain, Lyra menoleh ke Arfa. “Fa, kamu ngerti nggak soal ini?” tanyanya pelan.
Arfa butuh beberapa detik sebelum menjawab. “Ngerti… dikit.” Ia tersenyum, tapi jelas sekali itu hanya untuk menutupi.
Lyra menghela napas pelan, lalu membisikkan penjelasan sederhana. Suaranya lembut, membuat Arfa sedikit lebih tenang. Ia ingin fokus pada itu saja—hanya Lyra, hanya suaranya.
Kelas mendadak hening sesaat. Beberapa murid lain menoleh, ada yang tersenyum menggoda. Lyra sedikit kaget, lalu menjawab singkat, “Lihat aja nanti, Adrian.”
Arfa menelan ludah, menunduk lebih dalam. Senyum tipisnya nyaris hilang.
---
Jam istirahat, suasana semakin jelas terasa berat. Lyra keluar kelas sebentar untuk ke kantin. Arfa hendak ikut, tapi langkahnya terhenti ketika ia melihat Adrian sudah berjalan lebih dulu, menyusul Lyra. Mereka sempat berbicara di koridor, entah tentang apa, tapi cukup untuk membuat d**a Arfa makin sesak.
“Bro…” Rama menepuk bahu Arfa. “Kamu kenapa diem aja?”
Arfa hanya menggeleng. “Nggak apa-apa.”
Fadil yang berdiri di samping menatap Arfa lama. Ia jarang bicara, tapi sekali ia membuka mulut, kata-katanya selalu tepat. “Arfa… kalau ada yang gangguin pikiranmu, jangan dipendam. Itu kelihatan banget.”
Arfa tersenyum kecut, lalu berbalik. “Aku lapar. Aku ke kantin duluan.”
Padahal ia sama sekali tidak berniat makan.
---
Hujan turun lagi saat jam pulang. Tidak deras, hanya gerimis yang jatuh pelan, membasahi halaman sekolah. Siswa-siswa lain berlarian dengan payung, tawa mereka memenuhi udara. Arfa berjalan perlahan melewati lorong yang sepi.
Langkahnya berat. Setiap detik, pikirannya hanya dipenuhi bayangan Lyra bersama Adrian. Meski hanya bercakap biasa, di mata Arfa itu sudah cukup untuk menyalakan api cemburu.
“Fa!” suara Lyra terdengar dari ujung lorong. Ia berlari kecil sambil mengangkat tasnya agar tidak basah. “Nggak bareng aku pulangnya?”
Arfa menoleh sebentar. Senyum tipis muncul di wajahnya, tapi ia hanya melambaikan tangan singkat. “Kamu duluan aja. Aku… masih ada yang mau dikerjain.”
Tanpa menunggu jawaban, Arfa berbalik dan berjalan ke arah lain. Lyra berdiri mematung, menatap punggung Arfa yang semakin menjauh. Ada rasa aneh yang menusuk di hatinya.
Dari kejauhan, Adrian melihat semuanya. Senyum samar terukir di bibirnya, tapi matanya tampak penuh arti—seolah ia tahu ada celah besar di antara Arfa dan Lyra yang bisa ia masuki.
---
Sore itu, di kamar sempitnya, Arfa duduk di meja belajar. Buku catatan terbuka, tapi kosong. Bolpen di tangannya hanya berhenti di atas kertas, tak menulis apa-apa.
“Kenapa rasanya kayak gini?” gumamnya pelan.
Ia menutup wajah dengan tangannya. Bayangan Lyra, senyum Lyra, suara Lyra… semuanya bercampur dengan tatapan Adrian. Tatapan yang seakan berkata bahwa Arfa tidak cukup.
Sementara itu, di rumahnya sendiri, Lyra juga tidak tenang. Ia duduk di ranjang, menatap ponselnya. Jarinya sempat mengetik pesan untuk Arfa—bertanya kenapa Arfa tiba-tiba menjauh. Tapi setiap kali hampir dikirim, ia menghapusnya lagi.
“Fa… sebenarnya apa yang kamu rasakan?” bisiknya.
---
Keesokan harinya, langit mendung lagi. Di koridor sekolah yang sepi, Arfa berdiri menatap hujan yang jatuh pelan di halaman. Anak-anak lain sudah masuk kelas, tapi ia masih terdiam, pandangannya kosong.
Suara tawa Adrian samar terdengar dari kejauhan, disusul suara Lyra yang ikut bercampur di dalamnya. Arfa menutup mata, merasakan sesak yang tak bisa ia ungkapkan.
“Aku bukan siapa-siapa…” bisiknya lirih. “Tapi kenapa rasanya kalau kehilangan dia… itu seperti akhir segalanya?”
Hujan terus jatuh, seolah menyamarkan air mata kecil yang akhirnya lolos dari sudut matanya.
Adrian sudah mulai tampak dari beberapa hari lalu. Dia selalu berusaha mendekati Lyra—membawa buku pelajaran, menawarkan bantuan kecil, bahkan sengaja mencari kesempatan duduk di dekatnya. Sementara itu, Arfa hanya mengamati dari jauh.
Lyra memang ramah, tapi terlihat jelas bahwa ia lebih sering mencari Arfa ketika butuh teman bicara. Adrian menyadari hal itu, dan meski tetap tersenyum, matanya menyimpan sedikit rasa tidak suka.
Hari itu, ketika jam istirahat tiba, Adrian datang lebih dulu ke kelas. Ia menaruh kotak bekal di meja Lyra.
“Ini aku bawakan kue, Lyra. Ibu yang buat,” ucapnya dengan senyum percaya diri.
Lyra tampak terkejut, belum sempat menjawab, Arfa masuk ke kelas. Ada jeda hening sesaat, tatapan Adrian dan Arfa bertemu—seakan ada tanda bahwa mulai sekarang, sesuatu berubah.
Lyra tersenyum kecil menerima kotak kue dari Adrian.
“Terima kasih, Adrian…,” ucapnya sopan. Ia menaruh kotak itu di pojok meja, belum dibuka.
Arfa melihat sekilas, lalu duduk di bangkunya. Ia tidak berkata apa-apa, hanya menyalakan pulpen dan mulai menulis catatan seadanya di buku.
Adrian menoleh, mencoba tetap tenang. “Arfa, kamu nggak mau coba juga? Aku bawa banyak kok.”
Nada suaranya terdengar ramah, tapi ada sesuatu yang samar—seperti ingin menunjukkan keberadaannya.
Arfa menatap sebentar, kemudian tersenyum tipis. “Nggak usah, terima kasih.”
Balasannya singkat, lalu kembali menunduk.
Lyra jadi kikuk. Ia menatap ke arah keduanya, lalu memilih membuka buku pelajaran sambil berkata, “Nanti kita belajar bareng ya, Arfa. Ada soal yang aku nggak ngerti.”
Ucapannya sederhana, tapi cukup membuat Adrian terdiam.
Suasana kembali hening sejenak, hanya suara kipas kelas yang berputar. Dari cara Lyra menyebut nama Arfa dengan begitu alami, terlihat jelas siapa yang lebih dekat dengannya.