Bab 3
Hari-hari pertama sekolah terasa biasa saja bagi Arfa. Ia masih duduk di bangku samping jendela, tempat Lyra juga selalu ada. Mereka belum banyak bicara, hanya saling melirik, saling menahan kata.
Namun seiring waktu, ada tanda-tanda kecil yang semakin jelas:
Lyra mulai sering datang lebih awal dan memilih duduk di sebelah Arfa tanpa ragu.
Saat guru bertanya sesuatu, ia kadang melirik Arfa seolah menunggu tanggapan.
Senyum tipis yang hanya muncul sebentar ketika mata mereka bertemu.
Arfa sendiri merasakan perubahan. Ada rasa tenang ketika Lyra di sampingnya, meski tidak banyak kata yang terucap. Justru diam itulah yang membuat segalanya terasa lebih nyata.
Suatu siang, ketika jam pelajaran usai dan kelas mulai sepi, Lyra akhirnya membuka suara.
“Arfa…” panggilnya pelan, hampir seperti takut kalau suaranya terlalu keras.
Arfa menoleh. “Hm?”
“Aku boleh… pinjam bukumu? Aku ketinggalan catatan barusan.”
Sederhana. Sangat biasa. Tapi bagi Arfa, itulah percakapan pertama yang akhirnya pecah di antara mereka.
Dan di balik senja sore yang masuk lewat jendela kelas, Arfa tahu: ini bukan sekadar pinjam buku. Ini awal dari sesuatu yang lebih jauh.
Hari-hari berikutnya berjalan pelan, namun ada sesuatu yang berubah.
Arfa mulai menyadari—Lyra selalu saja muncul di sekitarnya.
Saat jam istirahat, Lyra datang ke mejanya sambil membawa bekal.
“Arfa, aku boleh duduk di sini?” tanyanya pelan.
Arfa mengangguk. “Boleh…”
Mereka makan bersama, awalnya canggung. Hanya suara sendok dan garpu yang terdengar. Tapi lama-lama, Lyra mulai bercerita kecil—tentang pelajaran, tentang guru yang kadang lucu, bahkan tentang hal-hal sepele.
Arfa mendengarkan, sesekali tersenyum tipis.
“Eh, kamu jarang cerita tentang dirimu sendiri,” Lyra menatapnya.
Arfa menunduk sejenak, lalu berkata singkat, “Aku… nggak terlalu pandai cerita.”
Lyra mengangguk pelan, seakan memahami. Ia tidak memaksa, hanya tersenyum lembut.
Sejak itu, setiap pulang sekolah mereka sering berjalan sampai ke gerbang bersama. Kadang Lyra sengaja menunggu, kadang Arfa yang memperlambat langkah agar sejajar dengan Lyra.
Tidak ada pengakuan, tidak ada kata-kata berlebihan. Tapi kebersamaan itu menjadi bahasa mereka sendiri.
Arfa mulai terbiasa melihat Lyra ada di sampingnya.
Dan Lyra, tanpa sadar, merasa tenang setiap kali Arfa ada di dekatnya.
Senja selalu menjadi latar—langit oranye yang sama, langkah kaki yang beriringan, dan rasa yang makin sulit untuk diabaikan.