Bab 2
Hari kedua di sekolah. Arfa datang sedikit lebih pagi dari biasanya. Ia pikir dengan begitu, ia bisa memilih bangku yang sama seperti kemarin, duduk agak tengah, lumayan aman dari perhatian.
Ia menaruh tasnya di kursi, lalu mulai mengeluarkan buku. Kelas masih sepi, hanya ada suara kipas angin tua yang berdecit.
Tak lama kemudian, suara langkah terdengar. Seorang murid baru masuk dengan percaya diri. Tubuhnya tegap, wajahnya bersih, dan senyumnya seolah sudah dirancang untuk menarik perhatian. Anak itu menoleh ke arah Arfa, lalu tanpa basa-basi menarik kursi kosong di sebelahnya.
“Bangku ini kosong, kan? Gue duduk sini, ya.”
Arfa yang sedang menulis sesuatu terhenti. Ia menoleh sebentar, agak kaget.
“Eh... iya, boleh aja.”
“Nice,” jawabnya singkat sambil menepuk bahu Arfa, seakan mereka sudah akrab.
---
Saat kelas mulai penuh, bisik-bisik terdengar. Beberapa murid perempuan mulai melirik ke arah anak baru itu. Bahkan Rama sempat menyenggol Fadil sambil berbisik,
“Wih, ini orang baru kayak artis aja. Pasti langsung populer.”
Fadil hanya mendesah pelan, kembali menunduk membaca bukunya.
Arfa sendiri mulai merasa tidak nyaman. Anak baru itu terlalu percaya diri, mudah menyapa semua orang, bahkan dengan cepat membuat kelas ramai dengan ceritanya.
“Eh, nama gue Adrian,” katanya lantang saat perkenalan, dengan senyum lebar. “Gue suka olahraga, musik, apa aja lah. Semoga kita bisa jadi teman baik.”
Sekelas langsung bersorak kecil.
Arfa hanya bisa menunduk, mencoret-coret bukunya, berusaha tak terlihat tersingkir.
---
Saat istirahat, Lyra menghampiri meja Arfa. “Arfa, kamu udah makan? Yuk, ke kantin bareng.”
Sebelum Arfa sempat menjawab, Adrian sudah berdiri lebih dulu.
“Ayo, Lyra. Kebetulan gue juga mau ke kantin.”
Lyra menoleh ke Arfa, seolah menunggu jawaban. Tapi Arfa yang biasanya ceroboh justru terdiam, lidahnya kelu.
“A-aku... nanti aja deh. Masih pengen di kelas dulu.”
“Yaudah,” kata Lyra singkat, lalu ikut melangkah bersama Adrian.
Arfa menatap punggung mereka menjauh, lalu menghela napas panjang. Rama menepuk bahunya dari belakang.
“Bro... kayaknya saingan lo berat banget tuh.”
Arfa memaksakan senyum. “Iya, kayaknya...”
Tapi dalam hatinya, ada rasa yang belum pernah ia rasakan: campuran antara takut, cemburu, dan... sakit.
Arfa masih sedikit kaku, menunduk sambil merapikan buku-bukunya. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Dari sudut mata, ia bisa merasakan ada seseorang yang baru saja duduk di kursi sebelahnya. Perlahan ia menoleh.
Seorang gadis dengan rambut terurai rapi, wajahnya teduh, dan senyum tipis menghiasi bibirnya. Dialah Lyra.
Hening sejenak. Suara ramai kelas serasa menghilang. Hanya detik jarum jam dinding yang terdengar.
Lyra menoleh, mata mereka saling bertemu. Tidak ada kata-kata, hanya tatapan yang sederhana tapi mampu membuat d**a Arfa sesak tanpa alasan.
Ia merasa dunia berhenti sejenak.
Arfa masih terdiam. Tangannya pura-pura merapikan pulpen, padahal pikirannya bercampur aduk. Tatapan Lyra tadi menancap di benaknya, seolah meninggalkan tanda yang tidak bisa dijelaskan.
Lyra pun tidak berkata apa-apa. Ia hanya menunduk sebentar, kemudian menatap papan tulis kosong di depan kelas. Tapi ada sesuatu di matanya, seperti isyarat samar—sebuah tanda yang hanya Arfa rasakan.
Bukan kata, bukan senyuman penuh arti. Hanya hening…
hening yang entah kenapa terasa begitu dalam.
Seakan semesta sedang membisikkan sesuatu:
“Perhatikan baik-baik, karena gadis ini akan mengubah harimu.”
Arfa menatap papan tulis yang masih kosong, mencoba mengalihkan pikirannya. Namun dari sudut matanya, ia sadar Lyra sesekali melirik, lalu buru-buru menunduk.
Tidak ada kata. Tidak ada senyum.
Tapi justru itulah tandanya.
Keheningan itu seolah punya makna, sebuah awal yang diam-diam menyisakan rasa penasaran di hati Arfa.
Dan di saat hening itu makin menebal…
tok… tok… tok… suara langkah guru mulai terdengar dari luar kelas.
Suasana yang tadinya hanya berisi tanda samar kini seakan “terputus”, digantikan oleh rutinitas sekolah. Tapi Arfa tahu, dalam hati kecilnya—ia sudah membaca tanda pertama dari Lyra.