Namaku Anisatu Zahra. Baru wisuda dua bulan lalu dari salah satu perguruan tinggi dikota ini. Kini aku bekerja sebagai pengajar disalah satu sekolah SMP Islam Terpadu.
"Nis. Nisa.." Itu suara panggilan Bunda yang melengking nyaring dari dapur rumah.
Hari ini hari libur karena akhir pekan. Bagi jomblo akut sepertiku tak ada jalan-jalan diakhir pekan. Biasanya akhir pekan ku nikmati dengan tidur sepanjang hari. Sama sekali tak ada yang spesial.
"Nisa." Kembali suara Bunda menginterupsi, memaksaku bangun dari tiduran. Dan berlari keluar kamar memenuhi panggilan Bunda. Karena kalo belum datang , panggilannya takakan pernah berhenti.
"Apa sih bun, teriak-teriak tak jelas." Sungutku malas.
Bunda nampak baru pulang dari warung, ditandai dengan tentengan plastik kresek yang dibawanya.
"Kamu ini. Anak gadis jam segini udah tidur aja. Pamali. Sesekali jalan-jalan gitu." Ceramah Bunda setiap akhir pekan.
Aku tahu, ini memang masih pagi. Belum jadwalnya tidur siang. Jam dinding baru menunjuk angka 10.25.
"Mau jalan-jalan sama siapa ,Bun?" Malasku ,dan duduk di kursi ruang makan yang menyatu dengan dapur. Sedangkan Bunda sedang menyimpan belanjaan pada tempatnya.
Sungguh, hatiku sedang tak baik-baik saja. Jadi seasik apapun aktifitasnya, tak membuatku tertarik.
Keluargaku bukan termasuk orang kaya, pun juga tak bisa dibilang miskin. Ayak dan Bunda sama-sama tenaga pendidik. Bunda seorang guru SD, sedangkan Ayah seorang dosen disalah satu universitas terbaik dikota ini.
Aku anak pertama dari dua bersaudara. Adikku masih kelas xii disalah satu pesantren yang dulu juga menjadi tempatku menimba ilmu.
Dulu aku pernah menjadi santri, selama tiga tahun. Tapi label santri tak lantas membuatku menjadi akhwat yang rajin ibadah dan berpakaian layaknya ukhti sholehah. Aku tetap menjadi aku. Yang pecicilan dan suka bikin rusuh. Meskipun aku tetap menutup aurat. Yang pasti hal-hal yang wajib masih aku jaga hingga kini.
"Jalan-jalan sendiri juga boleh. Siapa tahu ketemu jodoh." Jawab Bunda enteng, yang membuatku tambah malas menanggapi.
"Malas bun. Aku tu perempuan,Bun. Tugasku cuma nunggu dijemput ama jodoh."
Padahal umurku baru 22 tahun. Tapi Bunda sudah ribut soal jodoh. Memang sih. Hidup dilingkungan yang masih menjunjung tinggi gotong royong. Kami juga perlu mempertimbangan ucapan para tetangga yang tak pernah bosan bergosib.
Kalo aku sih masa bodoh,tapi tidak dengan bunda yang cukup sering berinteraksi dengan para tetangga. Sedangkan aku? Waktu luangku ku habiskan untuk tidur dan scrol sosmet. Mengikuti hot news dunia hiburan.
"Djemput kalo tahu alamatnya. Kalo tak tahu alamatnya ya nyasar."
Ah, bunda. Ada aja jawabannya.
"Yang ngasih alamat langsung Allah bun,Bukan ayu ting ting. Jadi, nggak mungkin nyasar."Jawabku masih mencoba sesabar mungkin.
"Ah kamu kalo dibilangin orang tua ada aja jawabannya."
"La emang iya lo bun."
Bunda nampak selesai menyusun belanjaan, kini ganti membawa beberapa sayur untuk dimasak, menyiapkan menu makan siang.
"Kamu itu cewek, masak kalah sama Rijal?"
Kata Bunda sambil membawa sayur kehadapanku .
Tanpa diperintah aku sudah paham apa yang bunda mau, disuruh membersihkan juga memotong sayur. Sedangkan bunda sendiri membersihkan ikan nila. Siang ini bunda akan buat sayur asem dan nila goreng, menu kesukaan ayah. Kalo aku sukanya cuma nila dan sambal trasinya, tanpa sayur asem.
"Nikah kan bukan balapan buk. Nikah cepat tak menjamin bahagia buk." Jawabku ngeles.
Kalian tahu kenapa sampai sekarang aku tak pernah membuka hati untuk laki-laki lain? Karena sudah tertulis nama Rijal disana. Dan sialnya, dia akan menikah dengan perempuan lain seminggu lagi. Kamu tahu bagaimana keadaan hatiku saat ini? Ah, tak berbentuk lagi.
Beberapa kali ada lelaki yang ngajak pacaran. Bahkan ada yang menanyakan kesiapan untuk berumah tangga. Tapi sungguh, hatiku masih menunggunya. Penantian yang sangat sia-sia, karena nyatanya bukan aku yang dia tuju. Jadi tak pernah sampai.
Harapanku patah, bahkan hancur. Memang aku tahu kalo dia punya pacar, tapi aku masih bisa optimis dengan menikung jalur langit. Sebelum janur kuning melengkung, masih ada kesempatan. Tapi kini? Aku tak pernah punya harapan lagi.
Apakah aku salah tak pernah mengungkapkan perasaan? Tapi bukan kah aku perempuan? Aku malu jika memulai lebih dulu. Usahaku cuma satu, menyebut namanya dalam setiap doa.
Tapi, Apakah Allah tak pernah mendengar doaku? Atau memang bukan yang terbaik untukku?
"Iya. kamu benar. "Akhirnya suara bunda melunak. "Tapi, bunda juga pengen cepet-cepet nimang cucu seperti mak Jah dan Mbok Yem." Ucap Bunda lirih, seakan bicara dengan dirinya sendiri.
Memang. Dua tetangga yang cukup dekat dengan bunda sudah pada punya cucu. Maklun anak mereka menikah sebelum lulus kuliah. Bahkan Ika ,anaknya mbok Yem tak kuliah. Dapat ijazah SMA, sebulan kemudian dapat ijab sah.
"Sabar dong ,bun. Bunda bantuin Do'a dong biar calon aku nggk klayapan mulu. Langsung datang kemari."
"Tiap malam Bunda doain, Nis." Jawabnya sambil membumbui ikan yang sudah dibersihkan. Dimarinasi sebentar sebelum dimasak.
"Tapi kamu benar, Nis. Nikah bukan soal jodoh siapa yang paling datang cepat, tapi yang datangnya diwaktu yang tepat. " Akhirnya Bunda setuju denganku.
Bunda ini sebenarnya orang yang baik. Namun terkadang juga suka terbawa perasaan saat dengar sindiran para tetangga yang pada julid.
"Tu bunda tahu. Nikah kan untuk seumur hidup buk. Jadi harus tepat segalanya. Tepat waktunya, tepat orangnya, juga siap mentalnya. Nikah itu perkara serius bun, bukan bercanda." Ah, kapan lagi kan aku cramahin bunda?
Meskipun sebenarnya bunda bukan termasuk orang melarang anak-anaknya untuk berargumen dan membela hak asasi, tapi bunda menjunjung tinggi adab sosialisasi. Jadi aku pun jika bersama bunda berubah jadi lembut dan kalem. Berpikir dua kali kalo akan menyampaikan hal yang serius begini.
"Iya ,bunda tahu. Tapi bunda kan dulu nikah muda. 18 Tahun udah nikah. Dan alhamdulillah langgeng sampai sekarang. Tapi, gimana pun juga tak semua lelaki seperti ayahmu yang setia dan bertanggung jawab kan? meskupun tetap banyak drama...." Ucapnya melemah diakhir kalimat.
"Iya." Jawabku sambil memberikan sayuran yang sudah ku bersihkan, juga dipotong. Siap diolah.
Aku dari dulu hanya bantuin bunda menyiapkan masakan, belum pernah sekalipun masak didapur sendirian.
"Maafkan Bunda. Tapi..." Menghentikan mencuci sayur.
"Tapi apa sih bun?"
"Bunda tetap ingin kamu segera nikah dengan lelaki yang tepat, juga diwaktu yang tepat."
"Ah, Bunda."
Membahas pernikahan bukan hal baru buatku. Tapi, aku tak pernah merasa terbebani dengan semua keinginan bunda. Karena aku tahu, bunda tak pernah memaksa kehendaknya.
Terkadang bunda memang suka ngatur, tapi lebih sering menjadi tempat sharing dan berbagi cerita.
Bunda tak pernah langsung marah saat aku melakukan kesalahan, tapi selalu menanyai alasan. Meskipun suaranya selalu kencang, tapi tak pernah tegaan.