Hari senin adalah hari yang sibuk. Bukan hanya berlaku untuk diriku, tapi juga untuk bunda dan ayah. Dirumah ada ART yang datang hanya pas hari kerja. Saat weekend diliburkan.
Hari senin ini sama seperti hari senin sebelum-sebelumnya. Aku memulai hari lebih awal, dan berangkat sekolah lebih awal. Rutinitas itu sudah berlaku sebelum aku menjadi seorang guru. Meskipun pagi ini sedikit telat dibanding senin sebelumnya.
Ternyata susah menyingkronkan hati dan pikiran. Itulah yang kulakukan semalam. Logikaku memerintah untuk ikhlas menjalani takdir yang ada,menghibur diri menghadapi kenyataan menyakitkan ini, meyakinkan diri bahwa Allah sudah menyiapkan jodoh yang lebih baik dari pada si dia. Tapi nyatanya? Hatiku masih jatuh padanya. Sekali dia, yang ku inginkan tetap dia.
"Sarapan dulu, non." Perintah wanita paruh baya yang seumuran dengan Bunda. Keriput diwajahnya menunjukkan kalo umurnya tak lagi muda. Beda sama bunda, yang meskipun umurnya tak lagi muda tapi wajahnya tetap terjaga kesegaran dan kecantikannya. The power of skincare, yang mampu menunda munculnya tanda tua.
"Udah siang bik. Aku sarapan disekolah aja bik." Jawabku dengan mengambil tumbler yang memang selalu ku bawa.
"Duduk dulu. Makan roti ,dan minum s**u yang sudah disiapin bibik. Temenin ayah sebentar." Perintah ayah dengan nada pelannya. Ayah duduk dimeja makan sendirian. Sedangkan Bunda? Bunda sudah berangkat lebih dulu, menjadi pendidik anak-anak memaksa Bunda berangkat lebih awal untuk menjadi contoh, juga untuk mendisiplinkan anak-anak ,juga karna ada tugas yang belum diselesaikan. Sedangkan ayah? masuknya sesuai jadwal yang tertera.
"Udah siang ,yah." Tolakku, tapi tetap minum s**u masih sambil berdiri karna buru-buru. Sedangkan bibik sudah kembali dengan aktifitasnya.
"Minum duduk ,Nisa. Katanya guru? Harus jadi contoh yang baik." Tegur ayah yang melihatku minum sambil berdiri.
"Ini dirumah ayah. Dirumah aku tetap menjadi anak ayah, bukan guru." Sanggahku, meskipun tetap nurut untuk duduk menghabiskan minuman.
"Katanya santri, masak minum sambil berdiri." Cibir ayah mengingatkanku dengan status santri yang pernah ku sandang. Ayah selalu bisa membuatku menurut.
"Apa sih,Yah." Kesal Ku protes. Entah kenapa aku selalu kesal jika dikasih embel-embel santri. Aku memang pernah jadi santri, tapi kelakuan tak seanggun santriwati.
Ayah hanya tertawa menanggapi, sambil menikmati sarapannya dengan santai, tak terburu-buru sepertiku.
"Rotinya dimakan juga. " Ucap ayah lagi saat melihatku hendak berdiri. Mau tak mau aku makan roti sebentar dengan tetap duduk.
Senakal-nakalnya aku, jika diingatkan tentang kebaikan aku tak menolak. Meskipun nyatanya hal-hal sunnah sederhana sering terlupakan dan terabaikan, tapi jika diingatkan aku akan merasa berterima kasih.
"Memulai hari tu perlu sarapan biar semangat. Bukan dengan harapan dan janji manis." Tambah ayah dengan nada candanya.
Tapi sungguh, aku menanggapinya tidak dengan candaan. Harapan yang ku bangun seorang diri, dihancurkan oleh takdir.
"Ayah jangan nyindir Nisa, ya." Manyunku dengan mulut menggembung karna penuh oleh roti yang ku makan dengan tergesa.
"Ayah nggak nyindir,nak. Tapi ,itu kenyataan." Meskipun ayah mengucapkannya dengan sangat santai, tapi hatiku tak santai menanggapinya.
Aku tak marah dengan ucapan Ayah. Hanya saja ,kata-kata ayah mengingatkan ku pada hal yang ku alami kini. Mencintai dalam diam, dan membangun harapan untuk memupus kemustahilan.
"Apaan sih, yah." Aku sedang malas berdiskusi dengan ayah. Biasanya aku selalu semangat jika diajak sharing, namun kini waktunya tak tepat.
"Ya udah sana berangkat. Keburu telat." Perintahnya akhirnya saat melihatku sudah menghabiskan sarapan meskipun dengan terpaksa.
Aku langsung berangkat dan berpamitan dengan ayah. Sudah menjadi kebiasaan jika akan bepergian selalu cium tangan orang tua. Meskipun kini tanpa Bunda, karna sudah berangkat lebih dulu. Katanya hari ini akan ada akreditasi disekolah bunda, jadi banyak yang perlu disiapkan.
Hari ini aku menjalani hari tanpa semangat. Wajahku hanya full senyum saat dikelas dan didepan anak-anak. Berusaha untuk profesional. Sedangkan saat dikantor atau saat sendiri? Aku hanya sering melamun. Bahkan ,sudah ditegur dua kali oleh guru saat dikantor karna tak merespon saat diajak diskusi tentang anak-anak yang akan dipilih untuk olimpiade.
Kamu tahu bagaimana rasanya menjadi pengagum rahasia? Hati masih bisa optimis saat yang dikagumi masih sendiri. Sedangkan ini? Orang yang ku kagumi akan menikah enam hari lagi.
Rijal, satu-satunya lelaki yang bisa membuatku nyaman. Aku sudah dekat dengan keluarganya, begitu juga dengan dia yang sudah dekat dengan keluargaku.
Hubungan kami baik dari dulu. Berteman dari kecil, saat SD hingga SMP kami belajar disekolah yang sama. Berpisah sekolah saat aku masuk pesantren setelahnya. Tapi hubungan kami masih baik. Saat libur panjang aku masih sering menghabiskan waktu dengannya.
Benar kata orang-orang. Kalo persahabatan antara lelaki dan perempuan tak ada yang sehat. Pasti hubungan itu menguntungkan disalah satu pihak, atau ada yang merasakan lebih dari sekedar sahabat. Ada yang melibatkan hati dalam persahabatan itu. Dan sialnya, aku lah yang melibatkan hati dalam hubungan itu. Sakit sekali.
Denting lonceng otomatis sudah berdentang. Yang menandakan jam pelajaran sudah selesai. Sekolah islam terpadu Al-Islah ini sistemnya fullday. Jadi belajar hingga sore. Sebelum pulang para murid diharuskan sholat asar berjamaah terlebih dahulu.
Aku yang memang sedang libur bulanan langsung pulang lebih dulu, tak ikut sholat berjamaah dimushola sekolah.
Aku mengendarai motor matic dengan perlahan. Tak berani ngebut dengan keadaan kepala yang berseteru dengan hati. Juga ingin menikmati pemandangan pinggir jalan yang penuh orang jualan. Meskipun sama sekali tak mampir.
Melewati pabrik s**u milik keluarga Harsono membuat jantungku berdetak ubnormal. Hanya dengan melewati usaha yang dimiliki keluarga doi sudah membuat hati dag dig dug.
Aku mencoba fokus pada jalanan, tak ingin tolah toleh sekitar. Takut jika tak sengaja bertemu dengan Rijal alfikri harsono. Lelaki yang beberapa hari ini memang ku hindari.
Dulu aku sering datang kesini dengan alasan belajar, mesipun nyatanya ingin melihatnya yang bekerja. Rijal dari dulu sudah diajarkan untuk berbisnis dengan orang tuanya. Bahkan dia kuliah sambil mengembangkan usaha keluarga.
"Eh, bu guru sudah pulang." Tegur suara yang sangat aku hafal. Suara yang sering aku rindukan, sekaligus aku hindari. Suara yang sering terngiang saat kesendirianku, dan dalam sepiku.
" Kenapa pas banget dia lagi diluar sih? kan aku jadi bingung mau gimana ngehindarinya." Gerutuku dalam hati.
"Iya. mari. " Jawabku mencoba sesantai mungkin, dan tak lupa senyum ku paksa untuk sersungging manis.
Reaksi tubuhku tak bisa berbohong. Detak jantungku berlompatan saat berhadapan dengannya. Mulutku boleh mengatakan benci , tapi rasa hati tak bisa dipungkiri. Aku bukan benci dengannya yang tak menangkap sinyal cinta dariku, tapi aku kecewa dengan takdir yang tak berpihak padaku.
"Tunggu dulu dong." Cegatnya saat aku tetap melajukan motor dengan pelan. "Buru-buru amat sih?"
Mau tak mau aku menghentikan laju motor maticku. Aku tak mungkin menyelakainya dengan tetap menarik gas saat dia didepan menghentikan. Karna jika dia sakit, aku juga ikut sakit.
"Ada apa sih? gue capek ingin segera sampai rumah, biar bisa tidur." Ketusku yang dihentikan dengan paksa.
Sungguh aku masih belum berdamai dengan apa yang terjadi. Hatiku masih belum terima ditinggal nikah.
"Ck. Ketus amat sih. Lagian mampir dulu kali. Tak bagus sore-sore tidur. "
Aku hanya bisa diam, bingung mau menanggapi apa. Meskipun nyatanya otakku berisik sekali ingin mengatakan banyak hal. Yang pasti mengungkapkan isi hati yang selama ini tersimpan rapi. Sadar, Nisa. Kamu bukan orang b******k yang akan melakukan hal itu. Peringatan otakku. kamu tak ingin merusak acara orang dengan ungkapan tak perlu itu kan?
Ah, percara diri kali kalo acara akan rusak dengan ungkapan isi hatiku?
"Udah lama loe tak main. Dan kenapa tu muka? Lecek amat." Tambahnya lagi. Kami masih berdiri ditepi jalan, tepat didepan pabrik s**u yang Rijal kelola. Aku tak berniat turun dari motor.
Pabrik s**u ini baru berdiri setahun yang lalu. Dulu, keluarga Harsono hanya punya peternakan sapi yang luas. Sedangkan susunya dijual dalam keadaan yang masih murni.
Sedangkan saat Rijal ikut mengurusnya, kini berdiri pabrik s**u yang menyediakan berbagai rasa dan kemasan. Meskipun tetap menyediakan s**u yang masih murni.
"Gue sibuk, dan gue juga capek." Jawabku mencoba untuk tidak teriak marah.
Dari tadi mataku tak menatap padanya. Tak melihatnya saja mata terasa panas, dan memproduksi air mata yang siap jatuh. Tapi aku tahan dengan mengatur nafas agar tenang. Bagaimana kalo melihatnya? Entahlah.
"Ya. loe sibuk banget ya sekarang?" Suaranya mulai serius. Aku masih diam.
"Bahkan sampai nggak sempat ngucapin selamat. Gue ajak nemenin saat lamaran juga nggak datang." Keluhnya pelan.
Terus aku harus jawab gimana? Apakah aku harus jujur tak mau menemani dia lamaran karena cemburu? Dan kalo aku datang, apakah mentalku sudah siap?