"Ya. Gue emang sesibuk itu sih." Jawabku sekenanya.
"Tapi..." Ucapnya menggantung. Rijal menatapku lekat.
"Apa lagi? Gue udah capek ni.." Mencari alasan agar bisa segera kabur.
Meskipun ucapanku tak bohong. Tapi bukan badanku yang capek. Yang capek adalah hatiku. Aku capek menghadapi kamu.
"Loe nggak lagi menghindari gue kan?" Tanyanya menelisik.
"Menurut loe?"
Jika dia sadar kalo akhir-akhir ini aku menghindarinya. Seharusnya dia juga sadar kan kalo aku sayang sama dia? Secara aku sudah memberikan perhatian lebih padanya.
"Gur harap loe benar-bena sibuk sih. Bukan karena menghindar."
Ah, ternyata dia memang tidak peka.
"Yap." Jawabku Sambil melihatnya yang sedari tadi menatapku. "Lagian kita bukan anak-anak lagi yang pikirannya cuma main dan main. Sekarang kita punya tugas dan kewajiban yang harus ditunaikan. Jadi ya wajar aja." Jawabku serius. Aku menarik nafas perlahan, dan kubuang juga dengan pelan, untuk menetralkan jantung yang bekerja ubnormal. Jika kita rileks, detak jantung juga akan normal lagi bukan?
"Iya aku percaya. Kalo ada waktu luang kerumah ya?" Pintanya.
"Kenapa?" Tanyaku heran.
Kami sudah akrab sejak kecil. Jadi tak ada yang aneh jika kita ngobrol dimana aja. Semua orang tahu kami sahabatan dari kecil. Juga sering main bareng. Meskipun kalo main aku hanya sebagai obat nyamuk. Tapi jika aku di rumah atau tidak di pesantren , Rijal akan membawaku serta jika akan jalan sama pacarnya. Kecuali yang satu ini. Rijal mulai pacaran dengan Riska saat aku sibuk mengerjakan skripsi, jadi tak mau diganggu.
"Ada dres untuk acara nikahanku nanti. Kamu sudah dianggap anak tu sama mama, jadi ikut dibuatkan dres yang sama dengan keluarga." Jawabnya menjelaskan. Mungkin itu menjadi alasan dia memanggilku tadi. "Mama kangen sama loe. Udah lama tak main kan?" Tambahnya lagi.
"Iya. Nanti kalo ada waktu senggang aku main. Ya udah, aku pulang." Pamitku mengakhiri pembicaraan. Karena jika bukan aku yang mengakiri, Rijal tak mungkin. Dia akan bicara apa aja , yang membuatku tertahan lama dipinggir jalan ini.
"Iya, bu guru. Hati-hati dijalan." Sambil membungkukkan badan mempersilahkan.
Biasanya jika dia lebay begitu aku akan tertawa senang. Tapi kini? mataku malah menggenang siap tumpah. Detak jantung yang mati-matian ku normalkan kini kembali tak karuan.
Aku kembali melajukan motorku dengan pelan. Kaca helm yang biasanya ku buka kini kututup rapat, untuk menyembunyikan mata yang basah. Lelah aku membujuk diri dengan kata ikhlas. Tapi, ternyata ikhlas itu berat sekali. Berulang kali ku ucapkan aku ikhlas, tapi nyatanya hati masih tak rela. Mataku masih basah jika mengingatnya akan menikah dengan perempuan lain.
Bukankah aku masih bisa sahabatan dengannya setelah menikah? Tapi ku rasa tak ada istri yang merelakan suaminya menjalin sahabat dekat dengan wanita.
Sebelum sampai rumah aku menepi sejenak, untuk menghapus air mata dan menghilangkan jejak tangis diwajah.
"Assalamualikum." Ucapku tak semangat saat masuk rumah.
"Waalaikumsalam."Jawab ayah dan bunda yang sedang bercengkerama diruang keluarga. " Eh, anak bunda udah pulang. Gimana sekolahnya?" Tanyanya saat aku menyalaminya.
"Baik,bun." Jawabku tak bersemangat.
"Kalo baik kenapa mukanya begitu." Selidik ayah.
"Aku capek,yah. Gerah. Mau mandi." Jawabku agar segera diizinkan masuk kmar.
"Ya udah sana mandi. Bau Acem." Perintah bunda sambil menutup hidung setelah membaui aku yang didepannya.
"Oke. Ingin berendam rasanya."
"Habis mandi langsung turun lo." Pinta bunda lagi.
Kamarku memang ada dilantai dua. Dan dilantai dua hanya ada tiga ruangan. Ruang baca sekaligus perpustakaan pribada milik keluarga yang cukup luas, lalu kamarku, dan satu lagi kamar adekku yang masih kosong karna ditinggal nginap dipesantren.
Aku tak menjawab perkataan bunda. Hanya mengacungkan jempol tinggi-tinggi agar dilihat mereka.
Tapi nyatanya hingga malam aku tak turun kebawah. Bahkan melewatkan makan bersama. Beberapa kali bunda memanggil hanya ku jawab dengan kata nanti. Yang pasti dengan pintu kamar yang ku kunci rapat. Karna jika berhadapan, susah untuk menolak ajakan bunda atau ayah.
Tak ada yang ku lakukan didalam kamar. Hanya telentang menatap langit-langit kamar. Air mata tak lagi keluar. Tapi tetap membuatku tidak mood melakukan apapun.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu kamarku, yang langsung ku beri jawaban. "Aku belum laper, bun." Teriakku.
Memang patah hati membuat nafsu makan hilang. Padahal pagi hanya makan roti plus s**u, istirahat sekolah cuma makan bakso. Dan hingga kini belum makan lagi. Padahal aku orang indonesia. Katanya orang indonesia bila belum makan nasi, maka dianggap belum makan. Tapi itu tidak berlaku pada orang yang lagi patah hati.
"Ini ayah. Ayah boleh masuk?" Jawaban dari luar kamar.
"Iya, bentar yah."
Aku tak punya pilihan lain selain membuka pintu. Aku tak punya alasan untuk melarang ayah masuk kamar. Lagian jarang sekali ayah mau masuk kamar anak gadis. Jika ayah mau masuk kamarku, berarti dia akan membahas sesuatu hal yang menurut ayah penting.
"Lagi ngapain to? Kok pake kunci pintu segala?" Tanya ayah setelah melihatku.
"Lagi ingin sendiri aja,yah." Berharap dengan jawabanku itu ayah paham dan dengan senang hati tak mengganggu putrinya ini.
"Ayah ganggu dong?" Tanyanya dengan senyum jenakanya.
Kamu berharap mendapatkan jawaban apa dari anakmu? Aku tak mungkin bilang kehadirannya mengganggu bukan? Takutnya malah pergi, dan tak mau peduli lagi dengan urusanku.
Biasanya jika ada masalah bunda yang pertama mengajak aku bicara. Meskipun bunda tak pernah terang-terangan membicarakan Rijal, tapi menurutku bunda sering berbicara yang menjurus kesana. Tapi kalo bunda sudah tak bisa membujukku, barulah ayah turun tangan.
"Kehadiran ayah tak pernah menggangguku. Meskipun datang diwaktu tak tepat sekalipun." Jawabku sambil berjalan menuju sofa, membiarkan pintu terbuka dengan ayah yang masih berdiri ditempatnya semula. Mungkin jawabanku sedikit tak sopan. Tapi, itu jujur dari hatiku.
Terkadang, aku juga punya waktu ingin menyendiri dan tak mau diganggu siapa pun. Tapi aku juga sadar, seingin apapun aku untuk menyendiri, aku tak mungkin bisa menolak kehadiran ayah. Jika bunda mungkin aku masih bisa menghindar dengan memberikan alasan. Tapi ayah? Aku tak bisa. Karena aku juga tahu. Kehadiran ayah selalu menjadi alasan untuk kembali bangkit.
"Jadi ayah boleh masuk?"
Sungguh, itu yang ku suka dari ayah. Selalu izin jika ingin mengganggu kesendirianku. Juga menjadi alasan aku tak bisa menolak permintaannya.
"Ya boleh dong yah. " Jawabku manyun, menepuk sofa kosong disampingku.
Ayah berjalan masuk sambil mengedarkan pandangan kepenjuru kamar yang jauh dari kata rapi. Aku lagi badmood, tak minat untuk merapikan kamarku sendiri.
"Maaf ,yah. Belum diberesin." Kataku malu. Karena memang kamarku itu ruang privasiku dan tanggung jawabku. Ayah dan ibu tak pernah sembarangan masuk kamarku.
"Kenapa belum diberesin?" Tanyanya lembut, sambil duduk disampingku.
"Capek,yah. " Selalu itu yang bisa kujadikan alasan.
"Sebelum-sebelumnya juga rapi meskipun sibuknya sama. Nggak ngeluh capek."
"Ya, nanti aku beresin." Jawabku malu. Ayah tak menjawab lagi, hanya menatapku dalam, seakan ingin membaca cerita yang tertulis dalam pandangan mata.
"Emang anak ayah mananya yang capek? Mau ayah pijitin?" Dulu, kata itu selalu menjadi moodbooster bagiku. Tapi sudah hampir tujuh tahun aku tak pernah lagi dipijit oleh ayah. Selain malu karena sudah dewasa, juga malu karena ayah selalu bisa memancing aku untuk cerita banyak hal saat dipijit olehnya.
Aku hanya diam. Ditanya seperti itu membuat air mataku menggenang. Aku paham maksud ayah. Yang ditunggunya bukan waktu pijit memijit, tapi waktu aku terbuka menceritakan apa yang kurasa. Ayah tahu aku memendam rasa sakit seorang diri. Ayah selalu menawarkan itu saat hatiku tak baik-baik saja.
Sebelum air mataku mengalir deras, ayah menariku dalam pelukannya. Mengusap pelan punggunggu, yang membuat tangisku pecah tak terbendung. Seakan kini aku punya tempat untuk melepaskan semua rasa sakit.
Ayah memberiku waktu untuk menangis, tanpa bertanya dan berkomentar. Hingga saat aku mulai bisa tenang, dan mulai merenggangkan pelukan.
"Tak menyangka putri ayah sudah besar sekarang. Sudah tak mau lagi ayah pijitin." Kelakarnya yang membuatku tertawa kecil disela isak tangis yang belum mereda.
"Tapi tetap masih mau cerita kan sama ayah?" Tanyanya lagi.
"Cerita apa?" Ucapku serak, dan menghapus air mata yang membasahi pipi, bahkan juga membasahi kaos ayah.
"Atau mau dengar ayah cerita?" Tawarnya memberikan opsi lain.
Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.