"Kamu tahu bagaimana ayah bisa menikah dengan bundamu itu?" tanyanya membuka cerita.
"Tahulah, yah. Karena perjodohan kan? " Jawabku ditambah pertanyaan yang diangguki ayah.
Kalo soal perjodohan antara bunda dan ayah aku pernah dengar. Aku tahu cerita itu bukan dari mereka, tapi tahu dari nenek saat liburan terakhir sebelum beliau berpulang ke rahmatullah lima tahun lalu. Nenek dan kakek dari ayah sudah wafat semua. Sedangkan dari bunda? hanya tinggal kakek yang sekarang ikut om Ridwan, adeknya bunda.
"Kok kamu sudah tahu?" tanyanya dengan raut heran yang kentara kalo dibuat-buat.
"Ya tahulah, yah. Anisa gitu loh." Jawabku bangga. Seakan kisah cinta ayah itu hal rahasia yang jarang diketahui orang. Padahal sudah menjadi rahasia umum.
"Ya, deh. Anak ayah memang tahu segalanya." Pujinya, tapi nadanya terdengar mencibir.
"Terus? Ayah kok mau sih dijodohin? sekarang bukan zaman siti nurbaya, yah." Tanyaku penasaran.
Dulu nenek cuma cerita tentang janji para orang tua yang ingin menjodohkan anak-anak mereka. Juga tanggapan anak-anak mereka yang menolak keras, tapi akhirnya menerima juga. Bahkan katanya lama sekali proses penjajakan diri hingga bisa saling mencintai. Bahkan yang aku tahu, aku lahir setelah tiga tahun terhitung dari tanggal di surat nikahnya. Tak tahu lamanya kelahiranku karna memang belum diberi amanah sama Allah, atau memang mereka yang belum saling menginginkan.
"Ayah nggak mau durhaka." Jawabnya jenaka. Pasti alasan aslinya bukan itu.
"Beneran itu alasannya?" Aku menyangsikan kejujuran ayah.
"Dulu sebelum ayah dijodohkan, ayah pernah mencintai seorang wanita. Bahkan ayah menyukainya selama masa sekolah, jadi kurang lebih selama tiga tahun." Pandangan ayah menerawang. Seakan sedang mengenang wajah perempuan itu.
"Ayah pacaran selama itu? kok dia mau dipacarin lama, tapi tak dinikahi?"
"Ayah nggak pernah pacaran, Nisa." Jawabnya tenang, namun meyakinkan.
"Terus itu?"
"Ayah sama seperti kamu. Mencintai dalam diam, dan tak berani menyatakan perasaan. Ayah tahu bagaimana sakitnya mencintai sendirian. Tapi bedanya ayah laki-laki dan kamu perempuan. Kendali kita berbeda. " Ayah bercerita.
"Ayah tahu tentang aku?" Tanyaku yang hanya di jawab anggukan oleh ayah.
Mendengar cerita ayah membuatku mengasumsikan hal lain. Mencintai dalam diam dan perjodohon. Ayah memilih memendam cintanya seumur hidup? ayah akhirnya menikah dengan bunda? Jangan bilang aku juga akan mengulang kisah yang sama. Big no.
"Ayah tak berani menyatakan perasaan karena merasa tak pantas. Sedang...."
"Tunggu dulu." Potongku. Ayah menatapku heran, apalagi melihatku yang memberikan tatapan menyelidik.
"Kenapa? Kamu tak jadi penasaran?" tanyanya.
"Bukan masalah penasaran, yah." Jawabku.
"Terus?"
"Kata ayah tadi, aku seperti ayah yang mencintai dalam diam dan tak tersampaikan. Tapi ayah dijodohkan sama bunda. Jangan bilang ayah juga berniat menjodohkan aku." Tanyaku dengan tatapan menyelidik penuh peringatan. Seakan ingin mengatakan, jika itu benar. Aku menolak sebelum ditawarin.
Mendengar perkataanku malah membuat ayah tertawa renyah.
" Nggak lucu, ayah." Protesku kesal. Aku sedang tak main-main, malah diketawain. Aku membuang muka, malas melihat ayah. Itu sebagai tanda protes dariku.
"Iya. Ayah nggak ketawa." Mulai berusaha menghentikan tawanya. "Lagian kamu lucu sih. Kenapa pikirannya jauh kali? Ayah tak pernah berniat menjodohkanmu. Tapi ,kalo kamunya minta dicarikan jodoh, ya beda cerita. Ayah pasti akan carikan yang terbaik." Jawabnya diakhiri dengan godaan yang membuatku melotot tak suka.
"Kalo minta dicarikan. Tapi kalo mau cari sendiri juga monggo." Tambah ayah lagi.
"Beneran ayah tak punya perjanjian sama orang tentang menumbalkan anak dalam perjodohan?" Tanyaku memastikan.
"Ah, bahasamu pake menumbalkan."
"Terus apa namanya? Ayah nggak mau jodohin aku kan?"
"Nggak lah. Katanya bukan zaman siti nurbaya? Ayah tak memaksa putri ayah menikah cepat, karena ayah masih ingin menikmati kebersamaan dengan putri ayah. Kalo sudah menikah, ayah pasti tak lagi jadi prioritas kamu kan?"
"Oke. " Jawabku merasa lega.
"Memang kalo dijodohin kenapa?" Tanyanya memancing emosi lagi.
"Ayah." Teriakku dengan penuh peringatan. Seakan ingin menyampaikan kalo aku akan marah jika itu terjadi. Sedangkan ayah malah tertawa renyah. Seakan melihatku marah menjadi hiburan tersendiri untuknya.
"Ayah senang akhirnya kamu bisa teriak lagi. Bisa menjadi Anisa yang biasa ayah kenal." Ucap ayah tulus sambil merangkul bahuku.
"Ceritanya tak jadi berlanjut nih?" mengingatkan tentang cerita yang entah malah lari kemana.
"Oh, iya." Setujunya untuk melanjutkan kisah. "Sampai mana tadi?"
"Ayah cemen, nggak berani ngungkapin cinta." Jawabku meledek, tapi ayah hanya senyum.
"Tapi asal kamu tahu. Ayah tak secemen itu. Sebelum perjodohan disetujui sama ayah dan bunda, ayah mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaan. Karena nenek kamu itu akan membatalkan perjodohan kalo kedua dari kami punya calon masing-masing. Padahal kami masih muda banget waktu itu."
"Ayah berani? Terus? Ditolak? " Namanya aku. Jika mendengar ayah cerita, tak bisa hanya diam mendengarkan.
Mendengar pertanyaanku membuat ayah menatapku keki. Tak terima.
"Tidak ditolak, tapi tidak juga dia menerima. Ternyata selama ini dia juga suka sama ayah. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ternyata dia di skolah teman dekatnya bunda."
"Waw. Siapa namanya?"
Siapa tahu kan nanti bisa dengar cerita versi bunda. Gimana rasanya menikahi gebetan teman. Ah, pasti lucu. Kisah ayah lebih unik dibanding kisahku.
"Namanya Resti. Dan kamu tahu apa yang dia katakan saat aku mengungkapkan perasaan?" tanyanya yang ku jawab dengan gelengan kepala.
"Semua perempuan tak akan menolak kamu,Zaka. Aku merasa terhormat mengetahui aku dicintai oleh kamu. Tapi, bukankah kamu punya calon? "
"Berarti ayah dulu banyak yang suka ya? Banyak penggemar dong?" Penasaran dengan kisah masa muda ayah.
"Yah, bisa dibilang begitu." Jawabnya membanggakan diri dengan membusungkan d**a.
"Terus? Dia bilang apa lagi?" Kalo dia juga suka, kenapa tak diterima kan?
"Aku tak mau mengorbankan persahabatanku dengan Arni hanya untuk menerima cintamu. Kami sahabat dekat dari dulu. Dia terlalu baik denganku. Jawab dia. Ayah jawab dong kalo kami tak saling mencintai. Dia bilang lagi. Bohong kalo Arni tak mencintai kamu. Aku paham betul bagaimana perasaan dia. Tapi, aku juga tahu. Dia tak akan menerima lelaki yang tak menginginkannya. "
"Dia baik ternyata?"
" Banget. Dan dia yang membuat ayah menerima perjodohan itu."
"Ayah tak ada usaha untuk memperjuangkan dia?"
"Buat apa memperjuangkan? jika yang diperjuangkan sudah putar haluan duluan?"
"Maksudnya?"
"Sebenarnya ayah sempat meyakinkan dia untuk bersanding dengan ayah. Bahkan dia sempat bersedia ku ajak ketemu nenek kamu. Tapi, seminggu setelah bertemu keluarga. Bundamu jatuh sakit, bahkan di opname. "
"Jadi Bunda beneran udah cinta sama ayah dari dulu?" Tanyaku tak percaya. Dari cerita nenek mereka sama-sama menolak perjodohan itu.
"Ayah nggak tahu. Karna bundamu juga nggk pernah bilang. Tapi setelah kejadian itu Resti pergi menghilang entah kemana. Jadi ayah tak punya pilihan lain selain menerima perjodohan itu."
"Cinta segitiga ternyata."
"Bukan masalah cinta segitiganya, tapi soal jodohnya."
Ayah diam sejenak, dan menarikku dalam pelukannya.
"Jodoh tak bisa ditebak nak. Jodoh itu rahasia Allah. Allah maha membolak balik hati. " Nasehat ayah sambil memelukku.
"Kita harus percaya kalo takdir Allah yang terbaik. Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan."
"Iya yah, aku tahu itu. Tapi butuh waktu kan untuk menyembuhkan sakit? butuh waktu untuk bisa berdamai dengan apa yang ada."
"Ayah dulu bisa melupakan cinta pertama ayah, dan mencintai bunda hingga sekarang. Jadi, ayah percaya kamu juga bisa mengikhlaskan dia dan mencintai dengan tulus jodoh yang sudah Allah siapkan."
"Aku akan berusaha, yah."
"Oke. Anak ayah hebat. Jadi,,,," Ucapnya menggantung dan melepaskan pelukan, kini ganti melihatku dengan lembut.
"Jadi....?" Menunggu lanjutan ucapannya.
"Jadi? Ayah tak ingin lagi melihat putri ayah sedih. Anak ayah harus bahagia."