Hari berganti hari. Waktu terus berlalu apapun yang terjadi. Tak peduli kita ingin beranjak atau bertahan, waktu terus berganti. Tak peduli mau kita isi dengan hal berarti, atau dia berlalu tanpa arti.
Katanya waktu adalah obat terbaik. Bagiku itu tak sepenuhnya benar, pun tak sepenuhnya salah. Bagiku yang sedang patah hati, waktu memang mampu mengobati luka, tapi harus tetap disertai usaha. Luka tak akan sembuh sendirinya hanya dengan waktu berlalu, tanpa upaya untuk memberi obat penyembuhnya.
Dengan bergantinya waktu. Kini aku mulai berdamai dengan takdir yang Allah gariskan. Meskipun perlu usaha mati-matian untuk mengumpulkan kewarasan agar tetap bisa tersenyum menjalani hari. Mengumpulkan kembali kepingan hati yang patah, agar waktuku tak ikutan patah.
Ini hari jum'at. Terakhir aku sekolah dipekan ini. Aku berangkat dengan penuh semangat. Bagiku, bertemu anak-anak disekolah menjadi hal yang menyenangkan. Belajar, berdiskusi, bahkan terkadang diselingi canda, sesekali anak-anak ada yang menambahkan rayuan dalam candanya. Ah, itu cukup mampu mengembalikan senyumku yang sempat memudar. Mereka adalah obat terbaik yang ku punya saat ini.
Hari jum'at pulang lebih cepat. Jika biasanya belajar hingga sore, hari jum'at hanya sampai sebelum sholat jum'at. Tapi setelah sholat jum'at disambung kegiatan halaqoh tarbiah.Meskipun untuk waktu tak harus dilaksanakan pada waktu yang dianjurkan. Bisa diganti dengan hari lain, sesuai kesepakatan murobbi dan mutarobbinya. Yang penting sebelum jum'at depan sudah terlaksana.
"Eh, Anisa. Gimana kabarnya sayang?" Sapa suara yang lama tak ku dengar.
Kini aku sedang mampir disalah satu minimarket untuk mencari minum. Hari ini sangat panas menyengat. Tumbler yang biasa ku bawa sudah kosong sejak disekolah tadi, dan disekolah stok minum juga sedang kosong, jadi aku mampir sejenak untuk sekedar mencari minum.
"Eh, tante." Jawabku saat melihat orang yang menyapa.
Dia tante Rani ibunya Rijal. Nyonya Harsono yang ramah banget padaku. Dia didampingi salah satu asisten rumah tangganya. Dia memang perempuan baik, meskipun kaya, tapi tak sombong, memperlakukan semua pekerja dengan berperikemanusiaan.
"Gimana kabarnya? Udah lama nggak main kerumah." Tambahnya saat sudah berdiri dihadapanku. Aku mengambil tangannya untuk salim seperti biasa.
"Alhamdulillah ,Nisa baik tante. Tante sendiri pa kabar?" Aku sedang mencoba seramah mungkin pada wanita yang baik sama aku ini.
"Tante baik, baik banget malah. Tapi capek." Jawabnya sambil tertawa.
"Capek nyiapin pesta ya, tan?" Aku ikutan tertawa.
Kini kami duduk dibangku yang memang disediakan didepan minimarket ini. Menikmati minuman yang ku beli, bahkan tante Rani menambah beberapa makanan ringan.
" Iya, sebel tente dibuat sama calon besan ni." Curhatnya dengan muka berubah masam. Kami cukup akrab dari kecil, jadi tante Rani memang sudah terbiasa bercerita jika bertemu. Tentang apa aja.
"Emang kenapa, tan?" Tanyaku heran.
Masalahnya aku tak terlalu kenal dengan keluarga Riska. Karena dia bukan dari kampung sini. Juga umurnya empat tahun di bawahku. Jadi kami tak terlalu akrab . Kenal juga Rijal yang ngenalin.
" Ya gimana coba? Dia udah minta uang panai yang tinggi, tapi tak mau ngurus pesta pernikahan. Kan lucu. Tante cuma punya anak satu, tak mau dong kalo nikah cuma pesta biasa aja. " Ceritanya menggebu-gebu.
Setahu aku memang uang panai adalah uang yang diberikan pihak lelaki untuk mengurus pesta pernikahan. Tapi jika ada uang panai tapi tak ada pesta? Atau mungkin hanya ada pesta sederhana yang tak sesuai harapan tante Rani.
Yang aku tahu memang semua urusan pesta tante Rani yang ngurus. Meskipun yang ngurus tetap WO sih, tapi pemilihan tema, gedung, catering semua tante Rani yang urus. Aku pikir karena tante Rani yang kaya, sedangkan besannya hanya orang sederhana, makanya semua tante Rani yang mengurus. Ternyata ada cerita dibalik itu semua.
"Begitu kah ,tan? "tanyaku , yang dijawab anggukan olehnya.
"Iya. Mana si Riska juga minta mahar nggak main-main. Sebenarnya tante nggak suka, tapi mau gimana lagi kan? Yang mau jalani mereka."
"Namanya jodoh ,tan." Jawabku seadanya.
Aku harus jawab apa kan? Haruskah aku membandingkan dengan diriku? Dan mengatakan jika aku lebih layak bersanding dengan putranya? Oh no.
"Jika boleh milih. Tante lebih milih sama Cantika. Toh dari yang tante lihat dia masih sayang sama Rijal." Ucapnya dengan nada pelan.
Bagaimana pun juga tante Rani tak jauh beda dengan ibu-ibu pada umumnya. Yang suka ngerumpi dan gosib. Dia sebenarnya tak membatasi pergaulan, kadang juga mau bergaul dengan ibu-ibu kampung. Tapi, dia tetap tak suka dimanfaatkan. Bukankah memang tak ada orang yang mau dimanfaatkan?
"Cantika?" Tanyaku mengulang nama yang disebut tante Rani
Mendengar pujian tante Rani pada wanita masa lalu Rijal membuatku merasa cemburu. Meskipun aku sudah berusaha untuk merelakannya dengan siapa pun. Tetap aja hati terkadang galau tanpa diundang. Tapi aku berusaha agar mukaku tak menampilkan perubahan yang mencolok. Tetap menampilkan senyum termanis.
"Iya. kamu masih ingat sama Cantika kan,nak?" tanyanya dengan mata berubah cerah.
Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Siapa pula yang tak ingat Cantika? dia adalah mantan pertama Rijal. Bahkan dulu aku pernah diminta untuk menjadi mak comblang untuk mereka. Dan saat mereka bersama aku akhirnya menyadari kalo aku cemburu melihatnya dengan wanita lain. Yang membuat aku menyadari kalo aku cinta dia.
Dan kenapa dia putus? itu juga karena aku. Cantika minta Rijal untuk menjauhiku karna cemburu, yang pasti mendapat penolakan. Yang tak lama setelah itu aku mengatakan pada Rijal kalo Cantika selingkuh dengan memperlihatkan foto saat dia berduaan dengan lelaki lain. Meskipun saat itu aku tak tahu lelaki yang bersamanya beneran pacar atau tidak.
Setahuku Rijal punya empat mantan. Dan hanya Cantika yang pernah diajak main ke rumah. Yang pasti bersamaku juga.
"Kan dia sekarang punya usaha kafe, dan sering datang mengambil s**u dari kita. Jadi, beberapa kali tante ketemu sama dia." Ceritanya.
"Benarkah? Hebat dia sekarang?" pujiku tulus.
Masih ku ingat siapa dia. Wanita cantik dan cukup populer di SMP dulu. Tapi dia cuma cantik dan supel doang, tapi pelajaran sering mengulang karena tak tuntas. Ternyata dia sekarang sudah jadi pengusaha? Itu bagus.
"Itulah. Dia juga makin cantik sekarang, dan tetap ramah seperti dulu." Pujinya.
"Ya udah kalo gitu. Tante masih ada janji. Tante pergi duluan gapapa?" Lanjutnya setah melihat ponselnya yang sempat bergetar.
"Iya. Gapapa, tan. " Jawabku.
"Besok ke rumah ya? atau kalo nggk mau ke rumah langsung ke butik langganan tante juga gapapa. Besok libur kan?" Tanyanya.
Oh ya. Aku jadi ingat permintaan Rijal untuk menemui mamanya yang belum sempat ku temui. Sedangkan pernikahan Rijal adalah lusa. Hari ahad.
"Libur tan." Jawabku.
"Kalo nggk besok biar dijemput. Nanti ke butik bareng tante." Putusnya.
"Emang harus, tan?" Karena aku paham kenapa dia mengajakku ke butik. kan udah dibilang oleh Rijal.
"Harus datang dong. Kamu teman Rijal dari kecil lo. Masa nggak mau datang? Pasti Rijal sedih kalo kamu tak datang."
Kenapa malah soal datang? Kalo soal datang aku pasti datang. Tapi, tak harus menggunakan pakaian khusus untuk datang kesana kan?
aku hanya diam. " Ya udah, tante pamit dulu ya. Kamu juga langsung pulang. Istirahat."