Aku tak bisa menolak jika tante Rani yang meminta. Meskipun enggan, aku tetap bersiap untuk pergi pagi ini.
"Tumben udah rapi aja." Tegur Bunda yang melihatku turun untuk sarapan. Aku hanya memanyunkan bibir mendengar ucapan bunda.
Pagi ini menu spesial karena bunda sendiri yang masak. Jika hari libur, bunda berubah jadi ibu rumah tangga yang siaga dan serba bisa. Sedangkan aku? Jika libur biasanya hanya mengurung diri dikamar atau ruang baca.
"Jangan ditumbenin ,Say. Doain biar rapi terus meskipun libur." Bela ayah.
Aku mengambil duduk dihadapan ayah, sedangkan ibu menyiapkan menu sarapan andalannya. Nasi goreng babat. Itu adalah menu sarapan terfaforit ayah, dan yang pasti harus buatan bunda.
"Emang apa planning weekendnya ni?" Tanya bunda yang sudah ikut bergabung dimeja makan.
"Mau ayah temenin jalan-jalan hari ini?" Kata ayah menarwarkan diri, tapi langsung dapat protesan dari istrinya.
"Katanya ayah mau nemenin bunda belanja?" Protesnya cepat. Tak memberiku kesempatan untuk menyetujui tawaran ayah.
"Ya, kan bisa belanja di mall sekalian jalan-jalan. Nungguin bunda belanja, papa bisa nongkrong sama Nisa. Siapa tahu ketemu calon mantu."
"Ayah." Teriakku bersamaan dengan seruan bunda, dengan mata mendelik tak suka.
"Nggak usah teriak-teriak. Telinga ayah masih normal ini." Jawabnya pelan karena mendapat protes dari dua wanitanya.
"Bunda mau belanja di pasar yang biasanya." Jawab bunda menegaskan tempat belanja yang akan dikunjunginya. Memang bunda lebih sering belanja dipasar tradisional dibandingkan mall.
" Terus Nisa gimana?" Tanya ayah dengan menampilkan wajah ingin dimengerti. "Masa ayah ajak jalan anak sendiri aja cemburu?" Tambah ayah dengan menaik turunkan alis, menggoda.
""Aku ada janji lain ,yah." Jawabku menghentikan drama pengantin lawas itu.
Memang aku tak menceritakan tentang rencana tante Rani yang mengajakku pergi hari ini. Lagian memang ayah dan bunda gak nanya.
"Mau kemana kamu?" Tanya ayah penasaran, namun dengan tatapan menyelidik. Bunda juga melihatku menuntut jawaban. Nampak sekali tanda tanya besar tergambar diwajahnya.
"Ada janji sama tante Rani." Jawabku santai dan jujur. Aku memang tak pernah bohong kok.
"Tante Rani? Kamu serius?" Tanya bunda tak percaya. Dan mukanya kini berubah menghawatirkanku.
"Kamu yakin mau ketemu tante Rani? Dan kemungkinan kamu juga akan ketemu Rijal lo." Tanya ayah lebih hawatir lagi.
"La emang kenapa yah, bun? Nisa nggak boleh ketemu mereka? Nisa nggak papa ko. Lagian kata Ayah aku harus ikhlas, move on." Ucapku meyakinkan kalo aku baik-baik saja.
Belum selesai sarapan mobil jemputan sudah ada didepan rumah. Setelah meyakinkan orang tua kalo aku nggak papa, akhirnya mereka mengizinkanku pergi menemui keluarga dari lelaki yang membuatku patah hati.
Lagian, patah hati tak harus membuatku memutus silaturahmi pada keluarga besarnya bukan? Meskipun nyatanya butuh usaha lebih untuk menyiapkan mental berhadapan dengan mereka.
"Kok sendiri pak? Tante Rani mana?" Tanyaku pada pak Tono yang dikirim untuk menjemputku.
Rata-rata aku sudah kenal dengan para pekerja dirumah Harsono. Kalo pekerja dipeternakan dan pabrik, barulah aku tak kenal. Banyak banget bro. Bahkan Rijal yang sebagai bosnya aja mungkin tak kenal satu per satu karyawannya.
"Nyonya lagi dirumah, non. Bapak cuma disuruh jemput non untuk kerumah dulu. Itu pun pesannya udah tadi subuh." Jelasnya sambil membukakan pintu mobil untuk mempersilahkan ku naik.
"Hati-hati pak." Kata bunda yang ternyata sudah duduk dikursi teras dengan ayah.
"Siap pak, bu." Jawabnya dengan hormat, lalu menutup pintu setelah memastikan aku masuk.
Tak ada percakapan didalam mobil dengan lelaki paruh baya itu.
Sampai rumah yang cukup megah aku turun dan disambut kang kebun yang sedang merapikan tanaman dihalaman depan.
Pintu depan terbuka lebar, tapi tak tahu dimana penghuninya. Salam yang ku ucap tak mendapat jawaban. Tapi aku tak menunggu depersilahkn masuk. Aku sudah terbiasa keluar masuk rumah ini.
"Aku tak mau tahu. Semua harus tetap berjalan." Suara pak Harsono yang sangat aku kenal terdengar nyaring.
Aku berdiri diruang keluarga, suara itu terdengar dari ruang kerja yang bersebelahan dengan ruang keluarga.
Aku berdiri mematung mendengar nada suara pak Harsono yang tegas dan penuh penekanan. Seakan sedang menahan amarah yang siap meledak.
"Tapi pa. Aku nggak mau dong nikah sama perempuan yan lagi bunting. Bukan anakku itu." Suara Rijal tak kalah kencang dan penuh penolakan.
Bunting? siapa? Aku menerka apa yang sedang diperdebatkan.
"Siapa yang jamin kalo itu bukan anakmu." Perdebatan masih berlangsung. Bukan niat menguping, tapi aku tak sengaja dengar. Juga penasaran, jadi tetap berdiri mendengarkan.
"Aku tak sebrengsek itu pa." Teriak Rijal tak terima.
Aku hanya mendengar suaranya, tak melihat orang-orang yang sedang berdebat itu. Aku mencoba memaknai apa yang sebenarnya terjadi.
"Mama percaya sama kamu, nak." Suara tante Rani terdengar lembut, dengan isak tangis yang masih terdengar. " Tapi, mama nggak mau pesta pernikahan yang sudah siap seratus persen gagal begitu aja. Mama sama papa malu. "
Besok adalah hari pernikahan yang sudah disiapkan. Persiapannya pasti sudah rampung. Jika digagalkan pasti itu memalukan, dan mungkin akan mempengaruhi nama baik dan usahanya yang sedang maju. Karna pasti tamu undangannya selain para keluarga , juga para kenalan dan kolega yang bukan orang sembarangan.
"Mama masih mau mengizinkanku nikah sama Riska? " Tanya Rijal dengan nada suara yang melunak, tapi syarat akan rasa frustasi.
"Tidak , nak." Jawab mamanya. " Mama yakin masih ada yang mau nikah sama kamu selain dia. Kamu bisa mencari pengganti mempelai perempuannya." Ucap tante Rani membujuk agar tak membatalkan pesta yang sudah didepan mata.
"Dalam satu hari?" Tanya Rijal masih mempertahankan suaranya agar tak meninggi. Setahuku, memang Rijal tak pernah membentak mamanya. Tapi dari suaranya dia juga ingin marah dan memaki.
"Terserah sama siapa, yang penting besok harus tetap berjalan sesuai agenda." Ini suara om Harsono.
Aku tak tahu apa yang ku rasakan. Antara sedih karena pernikahan sahabatku tak berjalan sesuai rencana. Melihat dia sedih, aku ikut sedih pastinya. Tapi ada sedikit rasa bahagia kalo Rijal tak jadi menikah dengan Riska.
"Mama yakin, Cantika pasti bersedia menikah denganmu."
Mendengar tante Rani kembali menyebut nama Cantika, kembali membuatku sakit.
"Eh, non Nisa sudah sampai? Silahkan duduk non." Sapa pelayan yang kebetulan lewat. Yang mengalihkan atensiku pada berdebatan diruang sebelah.
Aku menurut untuk duduk disofa ruang keluarga yang cukup jauh dari pintu tempatku berdiri tadi.
Ruangan ini memang cukup luas.
"Kamu sudah datang sayang?" Tanya Tante Rani yang menghampiriku. Mendengar ada yang menyebut namaku membuatnya keluar dari ruang diskusi keluarga, yang menciptakn perdebatan kecil.
" Sudah tante." Jawabku lugas. Ku lihat mata tante Rani yang masih sembab, bahkan masih ada jejak air mata dipipinya.
"Maaf ya. Kamu dengar perdebatan didalam?" Tanyanya memastikan, yang ku jawab dengan anggukan.
"Nis, ikut aku bentar. Aku mau bicara." Ini suara Rijal yang ternyata sudah berdiri dibelakangku. Melihatnya kusut masai begitu membuatku kasihan padanya. Pasti sakit banget saat apa yang kita rencanakan dari jauh-jauh hari, ternyata berantakan.
"Tapi..." Ucapku bingung, tapi langsung diputus olehnya.
Rasanya aku sedang salah pilih waktu dalam bertamu. Ada diantara orang yang sedang bersitegang begini membuatku bingung harus berbuat apa.
"Bentar. Ini penting." Ucapnya penuh penekanan dan tak terima penolakan.
Aku menoleh pada tante untuk meminta persetujuan. Tante hanya menganggukkan kepala sebagai persetujuan.
Aku mengikuti Rijal yang berjalan lebih dulu. Biasanya jika ada masalah memang dia serin menemuiku untuk curhat. Bahkan menurutku dia datang kerumah cuma kalo lagi butuh teman curhat.