"Mau bicara apa?" Membuka keheningan.
Kini aku berhadapan dengan Rijal di kafe yang biasa kami kunjungi. Sedari tadi tak ada yang membuat Rijal bicara. Sedari diperjalanan, hingga duduk dikafe selama tiga puluh menit, masih terdiam.
Melihat mukanya lesu begini membuatku sakit. Seakan aku ikut merasakan sakit yang dia alami. Apakah begitu cara kerja cinta?
Rijal menatapku sesaat, menarik dan membuang nafas kasar, kemudian kembali menunduk. Memainkan gelas kopi dengan isi yang masih utuh.
Aku masih sabar menanti dia bicara.
Bagiku, bisa berdua dengannya meskipun tanpa bicara, itu sudah cukup menyenangkan. Tapi tak jadi menyenangkan jika melihat wajah yang selalu ku rindukan itu sedang tak baik-baik saja. Seakan menyimpan banyak beban.
"Maaf kalo aku tadi tak sengaja dengar." Ucapku lirih. Berharap ada pembicaraan dalam pertemuan ini. Dan aku juga mengubah panggilan yang lebih akrab.
Tak enak lama-lama bungkam.
"Aku tak tahu pasti apa yang terjadi. Tapi semua persiapan sudah siap kan? " Biasanya jika dia diam, aku juga akan memilih diam. Tapi kini sudah berbeda. Dulu cuma masalah putus dari pacaran, sedangkan kini? Aku sedang mencoba menciptakan percakapan.
"Bahkan acara tinggal besok."
"Dia nggak pernah cinta sama aku,Sa." Akhirnya dia bicara juga.
Aku yang cinta sama kamu. Ingin aku menjawab begitu. Tapi kata-kataku hanya tertahan ditenggorokan.
"Kamu percaya sama aku kan, Sa?" Tanyanya sambil menatapku dengan tatapan sayunya.
"Percaya soal apa?"
"Soal yang loe denger tadi."
Aku menelan ludah. Tentang yang mana ini? Cewenya yang hamil? Atau tentang orang tuanya yang tetap memaksanya menikah? Atau tentang cari pengganti?
"Anak itu nggak mungkin anakku. Aku belum pernah menyentuhnya. Aku masih tahu batasan pacaran." Ucapnya lagi dengan kepala menunduk. Seakan ingin mengatakan kalo dia lelaki baik-baik yang tak akan merusak anak gadis orang.
Jika dia sudah mulai mau bercerita, maka aku hanya diam mendengarkan. Akan memberikan masukan atau komentar jika dia sudah selesai cerita. Itupun jika diizinkan.
"Dan kamu tahu dari mana aku tahu kalo dia hamil?" Tanyanya yang hanya ku jawab dengan gelengan.
"Aku tahu dari Bara. " Ucapnya yang membuatku mengerutkan dahi, bingung. Apa hubungannya dengan Bara?
Bara adalah teman yang ditemui Rijal saat masa kuliah. Saat kuliah aku memilih tempat yang berbeda. Jadi, dia dapat teman baru. Yaitu Bara. Dan dua kali aku diajak bertemu dengannya. Dia orang perantauan dari pulau sebrang, disini ngekos sendiri, dan bekerja dipabrik milik Rijal.
"Ternyata mereka ada main dibelakangku. Ku pikir dia teman, ternyata lawan."
"Serius?"
Ah, pertanyaan apa itu? Apakah dia akan bercanda dalam situasi begini?
"Pertamanya aku tak percaya, tapi mereka sendiri mengakuinya."
"Meskipun aku cinta mati sama dia, aku tak mungin menikahinya yang lagi hamil benih lelaki lain."
Aku hanya diam. Tak bisa berkata-kata. Takut salah memberi komentar. Ternyata jalan cintanya cukup rumit juga. Bagaimanapun juga setiap orang punya ujiannya masing-masing.
Lebih sakit mana antara dikhianati dan cinta tak terbalas? Ku rasa sama-sama menyakitkan bukan?
"Aku kecewa sama diriku sendiri. Sudah diduakan, tapi masih juga cinta." Ucapnya terdengar frustasi.
"Kamu nggak salah kok. Cinta tak pernah salah berlabuh. " Begitu juga cintaku yang tetap bertahan, meskipun bertepuk sebelah tangan.
""Tapi kamu tahu bagaimana keinginan orang tuaku tadi?" Dia sedang berada di titik terendah dalam hidupnya.
"Terus gimana keputusan kamu?"
"Aku tak tahu." Dia berulang kali menarik nafas berat. Seakan saat ini untuk bernafas saja dadanya sesak.
"Aku ngikut aja apa yang mama mau. Aku sudah pasrah dengan takdir yang ,entahlah...."
"Cantika masih cinta sama kamu." Aku tak tahu itu pernyataan atau pertanyaan.
"Apakah dia ltu tulus? Atau niatnya sama seperti dia?"
Seakan enggan menyebut namanya yang sudah berkhianat.
"Aku tulus mencintaimu. Bukan karna apa yang kamu punya." Jawabku yang hanya berani dalam hati.
Tapi lisanku tak bisa menjawab. Siapa yang bisa menebak hati orang lain? Kita tak pernah tahu niat tersembunyi dari setiap hati.
"Aku tahu dia pasti ada niat lain mendekatiku, sama seperti dulu." Ucapnya yakin, seakan tak tertarik dengan nama yang ditawarkan mamanya. " Kalo kamu?" Tanyanya tiba-tiba, yang membuatku tersentak kaget.
"Aku?" Tanyaku menunjuk diriku sendiri. Tak paham kemana arah pertanyaannya itu.
Kenapa jadi aku? Dia malah tertawa hambar melihatku yang bingung.
"Kamu pasti nggak mau ya, nikah sama aku? Wanita sholehah sepertimu pasti jodohnya seorang ustadz."
Aku mengerjapkan mata, tak percaya apa yang dikatakannya. Tak percaya dengan apa yang aku dengar.
Maksudnya tadi apa? Apakah dia menawariku untuk menikah dadakan? Menjadi pengantin pengganti. Melamarku yang tak romantis gitu?
Dia menunduk lagi. Menyesap kopinya yang sudah dingin. Bahkan es dalam teh ku juga sudah mencair dari tadi.
"Sebenarnya orangtuaku sayang sama aku nggak sih? "Tanyanya yang membuat aku tambah bingung.
Lagian pertanyaannya aneh sih. Orang tua mana yang tak sayang anaknya? Apakah karena masalah ini dia bicara begitu? Lagi patah hati karena dikhianati, tapi orang tuanya tetap memaksa untuk melanjutkan nikah yang entah siapa mempelai wanitanya.
"Aku jadi berpikir mereka lebih sayang nama baik dibanding anaknya."
"Setiap orangtua pasti sayang anaknya. Lagian, dibalik semua ini, pasti ada hikmahnya." Ucapku mencoba memberikan masukan. " Lagian kamu harus bersyukur mengetahui kenyataan ini sekarang, dari pada nanti setelah menikah? Mungkin itu akan lebih menyakitkan." Tambahku.
"Kalo boleh memilih. Aku lebih memilih untuk mengetahuinya nanti aja setelah dia sudah jadi istriku. "
Ah, jawaban gila macam apa itu? Ni orang emang sedang gila karena cinta.
Aku hanya melongo, tak percaya dengan jawaban diluar nalar itu. Rata-rata semua orang akan berterima kasih jika dikasih tahu kelakuan pacarnya yang jauh dari ekpektasi. La ini? Ini yang gila siapa sih?
"Jika sudah sah menjadi istri, dia sudah menjadi hakku. Kalo sekarang? dia memang cuma calon, masih punya hak untuk pergi. "
Aku bener-bener tak percaya dengan jawaban itu. Mungkin aku juga sudah gila karena sudah bertahan mencintai lelaki gila ini.
"Trus? Kamu juga berniat mempertahankan cintamu itu?" Tanyaku dengan was-was akan jawaban yang mungkin diluar prediksi.
"Nggak. Orangtuaku nggak setuju. Lagian dia tidak memilihku. Selama ini dia bersama ku hanya karna uang. Itupun karna perintah orang tuanya." Jelasnya.
Kenapa aku merasa lega mendengar jawabannya itu?
"Terus?"
"Terus apa lagi? "
"Pernikahannya."
"Kamu tahu sendiri apa kata papaku. Pernikahan harus tetap berjalan, meskipun calonnya hilang."
"Kalo aku?"
Sial. Kenapa aku tanya kayak gini sih? Mempermlukan diri sendiri aja. Tapi, bukankah dia tadi yang memulai bicara?
"Kamu? kenapa?" Tanyanya penuh tanda tanya.
"Nggak jadi. Lupakan." Tak ingin melanjutkan kebodohanku sendiri. Aku pasti akan malu jika mengatakan bersedia menggantikan pengantin perempuannya.
"Maksudnya?" Mulai menebak maksud dari ucapanku tadi. Masih menuntut penjelasan.
"Nggak ada."
" Jangan bilang kamu mau jadi pengatinku?" Tanyanya penuh selidik. Memaknai ucapanku yang tadi.
"Hah?" Kagetku tak percaya. Dan salah tingkah karena malu telah ketahuan.
" Aku akan terselamatkan kalo kamu mau menolongku untuk jadi pengantinku. Dari pada aku harus sama Cantika?" Ucapnya tanpa beban, yang membuatku tak bisa berkata-kata.
"Emang orang tua kamu setuju?" Tanyaku ragu untuk mengiyakn.
"Pasti lah. Kamu tu udah dianggap anak sendiri ama mereka. Pasti mereka senang kalo akhirnya mimpinya terealisasi." Ucapnya tanpa beban, dan tak memikirkan perasaanku yang tak bisa dideskripsikan.
"Mimpinya?"
"Ya. Punya anak perempuan seperti kamu."
Aku hanya manggut-manggut paham. Dan hening beberapa saat.
"Mama chat ni. Suruh ngantar kamu kebutik. Tadi udah janjian ya?" katanya setelah melihat hp nya yang berkedip.
"Oke."