Tibalah acara yang dinanti-nanti, yaitu pesta resepsi pernikahan. Mengumumkan pada dunia, kalo telah lahir pasangan suami istri baru. Aku dan Rijal.
Sejak tadi aku belum lagi ketemu Rijal. Sejak datang ke hotel, waktuku tersita sama tiga sekawan itu. Bahkan saat MUA datang dan mulai merias, mereka tetap menemaniku.
Rijal kemana? Aku tak tahu jawabannya. Mungkin dia juga sedang bersama para sahabatnya yang lebih banyak itu.
Sudah sah menjadi suami istri, kenapa dipisah ruang? Itu permintaan teman-teman. Mereka tak bisa bebas mengekspresikan rindu jika di ruangan ada seorang laki-laki. Jadilah aku ditarik ama mereka. Lagian sang suami juga tak nyariin. Tandanya tak keberatan.
"Masa keberatan kami nyita waktu sehari doang. Suamimu mah, nanti punya waktu seumur hidup ma kamu. Aman." Ini kata Laila yang ku protes saat aku minta ketemu suami baru, tapi dilarang oleh mereka.
"Kami masih kangen tahu." Setuju yang lainnya. Aku hanya bisa ikutan setuju, toh bagiku lebih membahagiakan menghabiskan waktu dengan orang yang tulus menyayangi kita, dari pada bersama orang yang ku cintai, tapi tidak mencintaiku.
Malam ini aku tak berjalan sendiri menuju ruangan resepsi. Entah bagaimana ceritanya, ketiga sahabatku sudah mendapatkan baju seragam untuk mengiring pengantin, begitu pula dengan Ana. Aku berjalan didampingi empat single yang tak kalah cantik. Mereka ikutan dimake over oleh MUA. Bagi wajah-wajah yang tak pernah tersentuh make up, sekali disentuh setipis apapun, tetap terlihat mangklingi.
Ternyata Rijal sudah menungguku didepan gerbang yang dibentuk dari rangkaian bunga. Memberikan lengannya untuk ku gandeng, aku menyambutnya dengan penuh senyum bahagia. Senyum tulus , tanpa drama dan rekayasa. Entah kalo Rijal sendiri.
Kami berjalan beriringan menuju pelaminan. Para tamu undangan sudah memenuhi ruangan, dan semuanya terasa asing dimataku. Karna banyaknya tamu undangan dari pihak lelaki, sedangkan dari pihak aku tak ada mengundang kenalan. Hanya saudara.
Duduk berdampingan dipelaminan memaksaku untuk selalu tersenyum ramah. Musik yang mengalun dari salah satu band nasional sedang mengisi acara. Menambah riuh dan meriahnya acara.
"Kamu nggak ngabarin murid-murid kamu?" Tanya Rijal saat kami duduk berdampingan. Sedangkan Tasya, Zakia , dan Laila setelah merasa cukup berfoto mereka menikmati acara dan berbaur dengan tamu undangan yang lain.
"Nggak. Nggak sempet." Jawabku seadanya. Mumpung belum ada tamu yang naik, jadi bisa ngobrol apa aja.
"Nggak sempat?" Beonya tak percaya.
"Kenapa? kaget gitu dengernya?" balasku memiringkan kepala menatapnya.
"Kan ngabarin nggak musti datang ke rumah kan? Zaman sekarang, bisa lewat medsos." Sok mengajari dia.
"Eh, undangan loe udah tersebar kemana-mana ya? Mana mungkin gue berani post undangan pernikahan ama lo? kan undangannya bukan gue pengantinnya." Balasku sengit. Tak terima disalahkan.
"Iya deh. "
"Lagian aku tak merasa rugi mereka nggak datang. Meskipun rasanya menyenangkan kalo acara spesial kita dihadiri orang-orang yang kita kenal. Tapi ...." Aku bicara dengan suara yang kembali normal.
"Ya maaf, aku salah. Pernikahan kita tak layak di share ya. Seharusnya kamu punya pernikahan yang lebih menyenangkan."
"Terserah lah apa kata loe. Sensi amat jadi laki."
"Jangan pake loe loe. Aku sekarang jadi suami mu." Protes lagi.
Duduk berdua di pelaminan bagaikan ratu dan raja, bukanya bercanda dan tertawa penuh mesra, malahan mendebatkan hal yang menurutku tak penting.
"Terus?"
"Apa aja. Yang penting jangan pake loe gue, aku nggak suka."
Perbincangan berhenti saat ada yang datang untuk memberikan selamat. Kami yang awalnya sedikit berdebat, dengan kompak berdiri dan menyunggingkan senyum termanis.
"Pengantin baru diskusiin apa sih?" Sapa pasangan muda dengan balita yang dituntunnya.
"Rahasia." Jawab Rijal dengan bercanda.
"Masih pertama, jangan kebanyakan gaya. " Kelakar si lelaki, yang disambut tawa oleh Rijal.
Aku tak paham gaya apa yang dimaksud. Aku hanya cukup tersenyum manis saat si wanita memberikan doa selamat dan kelanggengan hubungan.
"Biar cepet nyusul kamu." Balas Rijal masih dengan gaya candanya, sambil melepas pelukan singkat ala lelaki.
"Nyusul boleh, tapi jangan nyalip." Balasnya menepuk bahu Rijal.
"Nyalip juga boleh deh." Jawab si wanita yang sudah berjalan, pindah berjabat tangan dengan bunda yang ada disamping kiriku.
"Siap." Jawab Rijal. Aku hanya tertawa menangggapi.
"Siapa?" tanyaku saat pasangan itu turun dari pelaminan.
"Teman kuliah."
Kini mulai bergilir para tamu memberikan selamat pada kedua mempelai, juga pada keluarga besar. Dan semuanya mendoakan untuk kelanggengan hubungan dan kebahagiaan kami, juga keberkahan dan keberkahan.
Ternyata cukup melelahkan duduk dan berdiri menyalami tamu yang tidak sedikit. Menarik bibir hingga membentuk senyuman setiap ada tamu yang datang. Ditambah kaki yang memakai sendal hak tinggi, yang sebelumnya tak pernah ku pakai. Biasanya aku sekolah hanya memakai sepatu pantopel berhak 3cm. Lah ini? kurang lebih 10 cm. Biar tingginya tak jomplang dengan Rijal yang emang cukup tinggi, tak sepertiku yang minimalis.
"Selamat bro." Ucap salah satu lelaki yang datang dengan rombongannya. Sepertinya mereka juga teman Rijal yang cukup akrab. Terdengar dari sapaannya.
"Makasih sudah datang, kawan." Balas Rijal. Aku hanya tersenyum dan menangkupkan tangan didepan d**a.
"Pinter kamu cari istri, Jal." Ucap yang lainnya.
"Iya dong." Jawab Rijal dengan tawanya.
"Namanya cari istri, beda dong sama cari teman nongkrong." Timpal yang lainnya.
"Cewek spek bidadari kayak dia mah jangan sampai diajak nongkrong, loe tikung nanti." Kelakar yang lainnya yang megundang tawa bagi yang lainnya, yang juga membuatku tersanjung, sekaligus iri.
Berarti Rijal sudah memperkenalkan Riska dengan semua temannya. Sedangkan aku? aku tak pernah diajak Rijal untuk ketemu teman lelakinya, kecuali kalo memang tak sengaja ketemu dijalan. Aku hanya dikenalkan pada cewek-ceweknya.
"Bisa aja lo." Balas Rijal terlihat tak nyaman sambil melirikku yang terdiam.
"Kamu beruntung bro." ucap yang lainnya saat dapat giliran berjabat tangan, dan memberikan pelukan selamat.
"Beruntung kenapa?"
"Dapat pengantin pengganti spek bidadari." Jawabnya dengan serius sambil melirikku.
"Nggak usah banyak muji istri orang, kasian yang antri belakang." Timpal Rijal.
"Ck. Kamu lah. Bilang aja kami tak boleh lama-lama lihat istrimu ini." Timpal yang sudah jalan paling depan.
Sebenarnya orangnya kurang dari sepuluh, tapi cukup bikin riuh suasana dipelaminan. Meskipun tak sampai mengalahkan dentuman musik yang beralun.
"Tu tau."
"Iya deh. Selamat ya, moga cepet nyusul untuk diriku sendiri." Ucap lelaki yang sedang dapat giliran berjabat tangan dengan Rijal.
"Makanya cepet dihalalin tuh cewek, keburu basi." Timpal yang berdiri didepannya.
"Iya. Keburu ditikung tu ama Reno." Balas Rijal.
"Ck. Aku nggak sejahat itu, kecuali kalo memang ada kesempatan." Balas lelaki yang mungkin bernama Reno diakhiri tawa, dan mendapat hadiah keplak dari lelaki yang kini sudah berdiri dihadapanku.
"Selamat, moga jadi keluarga sakinah dan harmonis. Cepet dapat momongan yang banyak." Ucapnya tulus padaku.
"Amien." Balasku.
"Banyak banyak, kayak mau bantuin momong aja." Sewot Rijal menanggapi.
"Harusnya foto dulu nggak sih?" Tanya yang jalan paling akhir, yang membuat semuanya yang sudah berjalan lebih dulu kembali berkumpul.
"Boleh. Cepetan tapi, kasihan yang antri." Interupsi dari Rijal sambil melihat beberapa pasangan yang masih berdiri dibawah pelaminan.
"Bilang aja kamu yang mau cepat-cepat." Timpal yang lainnya.
"Tamunya aja sabar antri."
"Pengantinnya yang udah nggak sabar ."
"Masih sore, belum waktunya ngamar."
"Malah diperjelas." Sambil menoyor yang barusan bicara.
Aku malah malu sendiri mendengar pembicaraan para lelaki yang sama sekali tak memperkenalkan satu persatu padaku.
"Itu teman kampus juga?" Tanyaku saat rombongan sudah berlalu, berganti dengan para pasangan yang sudah berumur. Rijal yang banyak bicara dan menyapa saat tamu naik pelaminan, dan beberapa minta foto bareng dulu.
"Empat yang teman kampus, yang lima teman tongkrongan."
"Suka nongkrong juga kamu." Entah kenapa aku tak suka aja kalo dia suka nongkrong saat udah nikah nanti.
"Namanya anak muda." Jawabnya ngeles.