"Maaf untuk apa?" Tanyaku heran.
"Untuk apa aja lah. Lihat mukamu memerah, mungkin ada yang salah tadi?" Jawabnya santai sambil memperhatikanku yang makin salah tingkah.
"Benarkah?" Tanyaku tak percaya. Gimana mungkin tak memerah, aku sedang malu-malu dan salah tingkah akut. Duduk berdampingan dengan lelaki yang berstatus suami, membuatku serba salah. Ingin mengekspresikan apa yang kurasa, tapi takut membuatnya tak nyaman. Ih.. Serba salah pokoknya.
"Coba lihat cermin." Pintanya, menunjuk sepion diatas yang tak menghadap kami. Tapi sang sopir dengan sigap membenarkannya.
"Nggak, ah. Mungkin cuma efek make up. Kan aku nggak biasa pake beginian. Ditambah hari ini panas banget." Mencoba mencari alasan yang masuk akal.
"Begitu kah?" Aku menjawab dengan anggukan kepala.
"Ya, bentar lagi kita sampai. Kamu bisa hapus tu make up jika tak nyaman."
"Iya." Jawabku dengan senyum kikuk.
"Tapi kamu cantik lo kalo begini. Aku aja pangling tadi. Tak seperti Anisa yang biasa ku kenal."
Ni orang kenapa jujur banget sih? Tak tahu apa jika kata-katanya mampu menerbangkan angan ku? Kalo jatuh kan sakit. Tapi bukankah tak ada salahnya memuji pasangan? Bukankah sudah sah-sah saja jika kini aku bener-bener menampakkan perhatian dan cinta? Dia kini sudah sah menjadi suamiku.
"Benarkah?" Tanyaku sambil memegang kedua pipiku yang terasa memanas.
"he'em." Jawabnya mengangguk. "Tapi paling cantik kalo lagi malu-malu begini." Tambahnya sambil ketawa.
Sialan. Ternyata dia cuma mengerjaiku? dia tak serius memujiku. Nampak kali dari renyahnya tawa dia, kalo dia hanya bercanda. Dia pasti tahu kenapa mukaku memerah.
"Jelek." Kesalku dan menarik tangan yang sedari tadi dipegangnya, lalu bersidekap menatap keluar jendela. Dan dia membiarkannya.
"Kamu itu, kalo cemberut gitu jelek." Balasnya masih dengan tawa khas yang selalu ku rindukan.
"Udah diam, ah." Ketusku. Baru sehari jadi suami udah bikin kesel aja.
"Kenapa sih? Baru tahu aku kalo Anisa bisa salting juga." Malah tambah menjadi.
"Diam." Tegasku memerintah. "Nggak lucu, Rijal." Mulai marah saat kata-kataku tak dihiraukan.
"Apa sih? Nggak boleh marah-marah. Gini-gini aku udah jadi suami kamu tahu."
"Terpaksa." Jawabku makin ketus.
"Iya. Maaf." Kini dia sudah terdiam. Bahkan ikutan melihat kedepan. Seakan tersadar akan setatus yang baru disandang. Aku jadi tak enak melihat perubahannya.
"Untuk?" Entah kenapa aku benci bnget jika dia bilang maaf tanpa ku tahu apa salahnya.
"Maaf, karena sudah membuatmu terjebak pada pernikahan ini. Seharusnya kamu bisa dapat lelaki yang lebih baik dari aku ya? Harusnya kamu menikah dengan lelaki yang kamu cintai, dan bisa membimbingmu ke syurga seperti apa yang diminta ayah tadi. Bukan pecundang seperti aku."
Kenapa bicaranya berubah jadi serius ya? Tak ada Rijal yang tadi bercanda dan meledekku. Ah, aku jadi tak nyaman.
"Kok gitu bilangnya?" Sungguh, aku tak suka mendengar ucapannya. Karena aku tak pernah terpaksa menikah dengannya, dialah lelaki yang aku cintai, yang memang seharusnya aku nikahi.
"Entahlah. Awalnya aku pikir semua ini hanya untuk menyelamatkan pernikahanku yang hampir gagal. Tapi mendengar ucapan ayah kamu tadi, membuatku aku sadar, kalo pernikahan ini tak main-main kan? Aku takut kamu tak bahagia memiliki suami seperti aku."
"Apa kamu tak bahagia menikah sama aku?" Aku membalikkan ucapannya tadi. Jika dia menghawatirkan kebahagiaanku, bagaimana dengan dia sendiri? apakah dia bahagia?
"Aku tak pernah berani berharap menikah sama kamu, Nisa. Kamu terlalu baik buat aku. Kamu selalu terjaga dari hal-hal yang dilarang agama, beda sama aku yang sholat aja sering bolong-bolong, sudah sering pacaran. Kita berbeda." Ucapnya merendah.
Tapi aku maunya kamu, Rijal. Seperti apapun kamu, aku tetap terima. Aku cinta apa adanya kamu.
"Apakah kamu menyesal aku menjadi istrimu?"
"Aku tidak pernah menyesal, Nisa." Jawabnya tegas.
"Sudah sampai ,den." Sela pak sopir yang sudah menghentikan laju mobil.
Kami tak melanjutkan pembahasan. Memilih untuk turun dan memasuki bangunan tinggi dan megah, sebagai tempat untuk acara pesta malam ini.
Kami berjalan beriringan dalam diam. Tak ada lagi gandengan tangan, juga pembahasan. Hening. Hanya suara alas kaki yang beradu dengan lantai yang terdengar.
Setelah sampai aku disambut bunda dan mama Rani, digiring kesalah satu ruangan. Sedangkan Rijal menuju ruangan lain.
"Kok Rijalnya kesana, ma?" Tanyaku saat kami ditempatkan diruangan terpisah.
"La emang kenapa? Ini masih siang, belum waktunya mesra-mesraan." Jawab mama mertua yang membutku tersipu malu. Apaan sih? kok jawabnya gitu.
"Yang sabar ya menghadapi Rijal nanti. Kalo dia kasar sama kamu, bilang sama mama." Kata mama Rani, yang membuatku tersenyum senang.
"Dari dulu Rijal tak pernah kasar sama Nisa. Meskipun juga tak pernah mencintainya." Ini jawaban menyindir dari bunda.
"Ya nanti kan kalo sering bareng juga jadi cinta. Tresno jalaran soko kulino."
Kurang kulino apa sih? Kami sudah bersama sejak kecil lo.
"Mau cinta atau nggak, kami sudah menikah Ma, bun."
"Betul itu." Setuju mama.
Entah kenapa aku melihat bunda seakan berat melepas aku menikah. Bukankah kemaren bunda yang ngotot menyuruhku cepat nikah? Entahlah. Mungkin hanya perasaanku saja.
"Halo pengantin baru. Sini-sini." Sapa riang suara-suara yang sudah lama tak terdengar.
Ternyata aku diajak kekamar yang sudah ada empat ukhti cantik. Salah satunya Ana, dan tiga lainnya teman aku saat nyantri.
"Subhanallah. Aku merasa terharu lo kalian datang."Seruku girang dan berlari melompat dan memeluk ketiga teman yang sedang duduk diatas kasur. "Kok nggak bilang-bilang kalo mau datang?" Tanyaku terharu sekaligus bahagia. Meskipun acaranya mendadak, ternyata ada teman dari pihak aku yang datang. Kami saling berpelukan, sedangkan Ana hanya main hp sambil berbaring.
"Bukan kami yang seharusnya bilang-bilang. Kamu tu yang nikah nggak undang-undang.Saat bahagia aja, lupa sama teman." Balas Tasya yang kini mengabdikan diri dipondok tempat kami sekolah dulu. Dia pasti yang mengajak dua teman lainnya untuk datang. Tasya pasti tahu dari Ana yang sekolah disana juga. Karena aku sendiri memang tak undang-undang.
"Iya. Kami jadi tamu tak diundang ini. Makanya sembunyi dikamar." Balas Zakia si paling pintar saat sekolah dulu. Bahkan kabar terbaru tentangnya sedang melanjutkan study di Mesir. Tapi kok disini?
"Kok gitu sih? Maaf . Aku emang nggak sebar undangan lo. Kenapa nggak temenin aku waktu ijab kabul tadi?" Protesku.
Karna saat ijab kabul tadi tak ada temanku yang datang. Hanya saudara-saudara aja.
"Tak diundang, Nisa." Suara ketus Laila yang tegas. Laila adalah teman paling dekat denganku saat nyantri dulu. Dan hanya dia yang masih suka bertukar kabar melalui medsos.
"Nggak kok, Kami baru datang Nisa. Ni si Laila dari tadi manyun karna tak dikabari. Marah dia." Kata Zakia menjelaskan.
"Ya, maaf." Kataku tulus sambil memeluk Laila dari samping. Membujuk gadis satu itu agar tak manyun.
"Dia jahat tahu. Padahal kemaren pagi kami masih sempat chatingan, tapi dia tak bilang apa-apa." Curhat Laila nampak kesal.
"Orang aku aja tahu baru semalam,kak." Timpal Ana.
"Beneran Nis?" Serempak ketiga temanku bertanya. Aku hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Kok bisa?" Kompaknya menuntut penjelasan.
"Bisa aja. Ceritanya panjang." Lagi males membuka cerita. Bagiku menjadi pengantin pengganti adalah suatu aib. Teman-temanku tak perlu tahu.
"Pendekkan." Masih kompak aja mereka.
"Emang kalian kesini cuma mau denger aku cerita? Tak mau foto sama pengantin baru ini?" Mencoba mengalihkan pembahasan. Aku tak ingin merusak momen bahagia ini dengan mengingat kenyataan setatus pernikahan.
Mereka saling pandang. "Keburu aku lepas semua ini." Tambahku lagi sambil menunjuk pernak-pernik yang melekat dibadanku.
"Okey.... Kita foto sama pengantin baru." Akhirnya Laila bersuara. " Ana." Mengulurkan ponsel, memintanya sebagai fotografer dadakan.
"Tapi nanti tetap harus cerita lo." Laila masih penasaran, namun juga disetujui yang lainnya. Aku hanya jawab dengan jempol.
Memang mereka bertiga juga masih lajang semua. Dari empat sekawan saat nyantri dulu, aku lah yang pertama soldout. Kami berempat dulu cukup akrab. Kemana-mana bersama, setelah lulus pun masih sering berbagi kabar. Terakhir setahun yang lalu, saat aku kehilangan tas beserta ponsel dan isinya, aku kehilangan kontak teman-temanku itu.
Kalo Laila? dia yang paling aktif disemua media sosial. Jadi mudah untuk kami kembali saling menyapa. Sedangkn Zakia dan Tasya cukup sibuk, jarang sekali online.
"Aku nggak diajak foto juga ni?" Ucap Ana yang sedari tadi mengambil foto.
"Sini-sini." Gantian mengambil gambar selfie.
"Sip. Upload." Si Laila langsung gerak cepat membagikan momen ini. Tak lupa sebelum diunggah dipilih paling cantik, dan sedikit di edit biar lebih estetik. Sedangkan yang lain? Tak terlalu tertarik dengan medsos. Nanti-nanti aja.
"Kalian tahu aku nikah dari siapa sih?" Tanyaku akhirnya.
"Dari aku." Ana yang menjawab, dan diangguki oleh yang lain.
"Kabarnya baru semalam datang. Makanya tadi aku baru sampai. Kebetulan pas aku ambil libur." Ini penjelasan dari Zakia. "Kemaren aku baru sampai indo lo. Capek sebenernya, tapi demi kamu aku datang." Tambahnya.
"Makasih lo." Ucapku tulus, sambil ganti pakaian yang lebih nyaman untuk istirahat.
"Iya. Kabarnya mendadak, jadi kami tak sempat menyiapkan kado." Ini jawaban dari si sibuk Laila. Dia bisnis skincare, makanya dia lah yang paling aktif dimedsos. Sekalian promosi dagang.
"Mau request kado dari kami nggak?" Tanya Tasya.
"Hemm." Jawabku sok berfikir. "Kehadiran kalian sudah jadi kado terindah tahu." Ucapku akhirnya dengan tulus.
"Uhhh... Co cweet." Kami kembali berpelukan.
Bahagia yang tak bisa dideskripsikan, kedatangan tamu sepesial di hari yang istimewa. Meskipun tak diundang, ternyata mereka menyempatkan untuk hadir. Membuatku super bahagia.