Aku sudah sampai ditempat acara akad akan digelar. Acara akad nikah diadakan di masjid agung, sedangkan resepsi pernikahan diadakan nanti malam disalah satu hotel ternama di kota ini.
Memasuki masjid yang sudah dipenuhi tamu undangan, membuatku sedikit gerogi saat setiap pasang masa menatap kearahku dengan bisik-bisik yang tak bisa terdengar oleh indraku.
Ayah menuntunku hingga ketengah masjid yang dikelilingi para hadirin yang sudah di set sebagai acara ijab kabul. Sedangkan bunda sudah bergabung degan Ana dan tante Rani, serta saudara lainnya yang duduk dideretan belakangku.
Aku didudukkan tepat disamping Rijal yang sedari masuk sudah menatapku lekat. Dan ayah kini duduk disamping penghulu, dan tepat didepan Rijal duduk. Kami duduk berhadapan dengan dipisah meja panjang.
Aku menoleh kebelakang, melihat bunda yang tersenyum menenangkan saat melihatku menoleh.
"Sudah siap?" Tanya pak penghulu memulai acara.
Aku hanya mengangguk dan menjawab singkat saat ditanya, begitupun saat Rijal yang ditanya.
Katanya, calon pengantin seharusnya mendapatkan penyuluhan sebelum diadakan ijab kabul. Ada nasehat dan arahan sebagai bekal menjalani kehidupan berumah tangga.
Aku hanya mendengarkan semua wejangan dengan hati dag dig dug tak karuan. Tanganku terasa dingin, berkeringat. Aku hanya bisa menunduk dan berdzikir dalam hati. Berdoa, agar acara lancar sebagai mana mestinya.
Hingga terdengar suara ayah yang mengalihkan perhatianku.
"Rijal. Siapkah kau menikah dengan putriku, Anisatu Zahra?" Suara tegas ayah.
"Siap ayah." Jawab Rijal lugas dengan mengganti panggilan om menjadi ayah.
"Selama ini ayah membesarkannya dengan penuh cinta dan kasih sayang, menafkahinya dengan rezeki yang halalan toyiba, membimbingnya meniti jalan yang diridhoi oleh Tuhannya." Suara ayah cukup pelan namun tegas, tetap terdengar jelas dengan menggunakan pengeras suara.
Entah kenapa, suara ayah yang memulai acara untuk serah terima tanggung jawab atas diriku ini cukup membuat bulu kuduk meremang. Bukan karna takut, tapi karna terharu atas cinta dan kasih sayang ayah, serta tanggung jawabnya atas diriku.
"Nak, kini ayah menyerahkan tanggung jawab itu padamu. Ayah tidak memaksamu memberikan cinta dan kasih sayang yang setara bahkan lebih dengan apa yang kami berikan, ayah tidak menuntutmu memberikan kenyamanan dan materi seperti apa yang kami usahakan. Ayah ikhlas kamu membawa putri ayah kemana pun kamu mau, aya ridho kamu akan memberi nafkah berapa pun yang kamu bisa. tapi, dengarkan baik-baik pesan ayah ini... " Ucapan ayah terjeda sejenak.
Aku ikutan merinding mendengar ucapan ayah. Begini kah rasanya akan menikah? Dan ternyata bagi seorang ayah cukup sedih akan melepas putrinya. Apalagi bagi ayah yang paham aku dinikahi tanda dicintai. Pasti ada sedikit rasa tak rela, tapi ini keinginanku yang tak bisa dia bantah.
"Tolong gantikan posisi ayah untuk membimbingnya menuju syurga Allah. Menafkahinya dengan rezeki yang halal. Jika suatu saat kamu mendapatkan cela atau kekurangannya, beri tahu kami agar kami bisa membantu menasehatinya. Jika kamu bosan dan tak menginginkannya lagi, ketahui lah,nak. Pintu rumah ayah selalu terbuka untuk Anisa, kembalikan dengan baik-baik sebagai mana kamu mengambilnya dari ayah."
Mataku memanas mendengar ucapan ayah. Apakah ayah menginginkan pernikahanku berujung perceraian? Tapi bukankah memang tak ada yang menjamin kalo pernikahan akan langgeng selamanya? Setiapa orang tua pasti menginginkan anaknya menikah sekali seumur hidup.
Buliran bening menetes membasahi pipi. Air mata yang tak mampu melunturkan makeup yang dipakekan oleh MUA.
Ucapan ayah masih berlanjut, tapi otakku sudah sibuk sendiri dengan berbagai praduga, dan mencoba memunculkan opini untuk menghibur diri.
Hingga suara serentak mengucap kata sah, menyadarkan aku dari lamunanku. Hingga semua mengangkat tangan untuk mengaminkan doa yang dipimpin petugas dari KUA.
Usai berdoa, kini acara berlanjut pada penyerahan mahar yang pasti diabadikan dalam foto. Maharnya satu set perhiasan, dan uang tunai yang aku lupa berapa jumlahnya. Karena disebutkan dalam dolar, juga nominalnya tidak bulat. Susah diingat. Biar nanti ku hitung ulang ya.
Rijal memakaikan cincin nikah pada jariku, begitupun sebaliknya. Aku melihat cincin nikah ini bukan terbuat dari emas, namun tetap kemilau cantik terkena pantulan sinar lampu. Kan memang cincin nikah itu sepasang bukan? dan lelaki tak boleh pake emas.
Aku memang tak ikut memilih mahar yang akan diberikan. Cincin nikah pun Rijal yang mengurusnya.
Setelah memakai cincin, kami berjabat tangan. Ternyata bukan cuma aku yang berkeringat dingin. Jemari Rijal juga terasa dingin saat menyentuh tanganku.
Saat aku akan melepas jabat tangan, Rijal tetap menggenggamnya, bahkan mengangkat genggaman tangan.
"Cium tangan suaminya dong. Sekarang sudah sah, sudah boleh cium tangan." Canda pak penghulu yang melihatku grogi dan kini malah membuatku malu-malu, karna tak menangkap maksud Rijal yang mengangkat genggaman tangan kami.
Usai aku mencium tangan yang sudah lama sekali tak ku genggam, karna sejak masuk MA aku mulai membatasi interaksi bebas, meskipun tetap menjalin komunikasi yang baik. Kini terasa Rijal mendekat, dan menangkup pipiku, mencium lama dikeningku. Lalu membisikkan kata " Terima kasih " Yang terdengar tulus di telingaku.
"Maaf, berhubung ada sedikit perubahan, jadi surat nikah belum bisa keluar. Nanti kalo sudah siap kami kabari." Ucap pak penghulu mengabarkan.
Kini acara sungkeman pada orang tua. Bunda hanya memelukku lama tanpa memberikan nasehat dan wejangan apapun. Hanya berkata, "kamu pasti lebih tahu apa hak dan kewajibanmu setelah ini."
Aku melihat Rijal juga tersenyum cerah tanpa beban. Seakan ini memang mimpi dan harapannya.
"Yang sudah ganti setatus." Ledek Ana saat aku menyalaminya. Bagi pengantin disuruh salim sama semua saksi yang hadir. Yang pasti aku hanya salim sama yang akhwat saja, begitu pun sebaliknya. Kecuali keluarga yang masih mahram ku.
"Iya dong." Balasku bangga, dengan senyum mengembang sebagai cerminan hatiku yang bahagia.
"Ku doain langgeng sampai maut memisahkan, kak." Doanya tulus, dan memelukku singkat.
"Aamiin."
Bukankah jodoh tak bisa ditebak? Tak peduli bagaimana prosesnya takdir mempertemukan jodoh. Yang pasti jika jodoh tak akan tertukar, apalagi nyasar. Karna alamat kita langsung Allah yang berikan. Jadi jika jodoh pasti akan bersatu.
Sejauh apapun jarak memisahkan, jika jodoh pasti akan bertemu. Masa bodoh dengan kata gosip jika aku merebut jodoh orang. Yang penting, jika takdir berkehendak maka dialah jodohku, mau sejauh mana dia tersesat, dia pasti akan kembali padaku.
Aku juga tak percaya jika akhirnya aku bisa bersama dengannya. Allah mengabulkan doaku yang hampir putus asa. Saat semua asa dan harapan ku kembalikan hanya pada-Nya. Ternyata semudah itu Allah mengubah sesuatu yang menurutku tak mungkin menjadi mungkin.
"Setelah ini kita istirahat dulu. Siap-siap untuk acara nanti malam." Instruksi mama Rani setelah acara akad nikah ditutup dengan makan-makan.
Rasanya menyandang setatus baru itu berbeda. Sungguh membuat hatiku terharu.
Kini aku sudah naik mobil berdua dengan suami baru. Tapi tetap pakai sopir ya. Mama dan Bunda tak akan membiarkan pengantin baru mengendarai mobil sendiri.
Rasanya aku lupa jika aku hanya menjadi pengantin pengganti. Karna nyatanya, Rijal memperlakukanku dengan baik. Sepanjang perjalanan, tanganku selalu digenggamnya.
Aku melihat jemari kami yang bertautan. Ada yang terasa mekar, namun bukan bunga.
"Kenapa?" Tanyanya saat mendapatiku memperhatikan tangan kami. Tapi dia sama sekali tak berniat melepasnya.
"Nggak." Jawabku malu-malu.
"Sini." Mengambil ponsel, dan cekrek. Menggambil gambar tangan kami yang bertautan dengan cincin yang sama.
"Kenapa gitu?" Tanyaku melihatnya yang mengambil foto, tapi langsung menyimpan ponselnya kembali.
Kirain langsung mau dipasang di story. Pengumuman status baru gitu kan? Ah, harapanku terlalu tinggi.
"Ingat nggak? Sudah berapa tahun aku tak menggenggam tangan ini?" Tanyanya sambil mengangkat tangan kami yang masih bertaut.
Sungguh, aku masih ingat dengan jelas kapan waktu itu dimulai.
"Berapa tahun emang?" Jawabku basa basi. Siapa tahu dia mau ngegombal kan?
"Berapa ya?" Malah balik nanya dia, kirain beneran ingat. " Yang pasti sudah lama sekali. Bahkan kamu pernah marah kan saat jalan bareng dan aku menggandengmu begini?"
Beginilah rasanya menikah dengan sahabat ya? Nostalgianya banyak.
"Benar kah?" Tanyaku pura-pura amnesia.
"Makasih ya." Ucapnya terdengar tulus.
"Untuk?"
"Sudah menyelamatkanku dan keluargaku dari rasa malu."
"Aku ikhlas dan senang hati melakukan pernikahan ini." Jawabku yang hanya berani dalam hati.
"Aku boleh peluk nggak?" Izinnya yang membuatku mengerjap tak percaya.
"Hah?" Kagetku dengan permintaannya yang diluar prediksi.
"Lupakan." Jawabnya akhirnya dengan senyum yang tak memudar.
Apakah reaksiku menunjukkan penolakan? padahal aku tak menolak lo. Jeritku dalam hati.
"Maaf." Dia nampak biasa aja, tapi aku luar biasa salah tingkahnya.