Rasanya baru terlelap sejenak, tapi suara khas bunda sudah membangunkan ku dari alam mimpi. Bahkan suara bunda terdengar mengomeli Ana yang tidur disebelahku.
"Kamu ni Ana. Tahu kakaknya mau nikah, masih juga digangguin. Pasti kamu ajak begadang sampai dari tadi dipanggil nggak bangun-bangun." Omel suara bunda dengan suara paginya yang nyaring.
Bunda sudah lama tak membangunkanku dipagi hari. Sudah lama aku tak mendengar omelan bunda menjelang subuh begini. Karena semakin dewasa aku semakin paham fungsinya bagun pagi, juga karena tugas yang menunggu siap diselesaikan. Dan pagi ini, rutinitas yang sudah lama tak terdengar terulang lagi.
"Jam berapa sih, bun?" Jawabku masih mengantuk. Aku belum mendengar alarm ponsel yang telah aku stel. Biasanya aku langsung terbangun jika mendengar alarm ponsel yang berbunyi lima belas menit sebelum adzan subuh.
"Ya bunda ni. Ini masih pagi, bun." Rengek Ana yang ditarik selimutnya sama Bunda.
"Kalian ini, ini hari spesial kamu Nisa, harus bangun lebih awal. Masak calon pengantin bangun kesiangan?" Omel bunda, yang menyadarkanku dari mimpi lelap malam ini.
Oh ya, hari ini aku akan menikah dengan Rijal bukan? Hari dimana aku akan memulai kehidupan baru dengan orang terkasih. Mungkin ini pagi terakhir bunda membangunkanku. Besok sosok lain yang ku lihat saat aku bangun tidur. Bahagia, itu yang ku rasa. Membayangkan tinggal di rumah yang sama, bahkan tidur dikamar yang sama. Pulang ke rumah yang sama, setelah menghabiskan rutinitas harian yang pastinya berbeda. Makan selalu dimeja yang sama, bisa menyiapkan semua keperluannya. Oh....
"Cepetan bangun. Bukan malah senyum-senyum gitu." Seru bunda menyadarkanku dari lamunan hidup berumah tangga yang akan kujalani.
"Kamu juga Ana. Katanya di pondok bangun selalu pagi, bahkan mandi sebelum subuh. Ini dibangunin susah kali." Gantian adekku yang kena omel.
"Ini dirumah bunda, bukan di pondok. Lagian ini masih jam tiga bunda, subuh masih lama." Rengek Ana yang masih malas-malasan.
"Apa bedanya di rumah ama di pondok? lagian buka dulu tu mata sebelum protes. Udah mau jam empat ini." Sewot bunda.
"Ah, bunda. Nggak asik. Masih satu jam lagi, bun. Masih cukup untuk tidur dulu." Ana langsung bangkit dan keluar kamar. Pastilah pindah tempat tidur dia. Pindah ke kamarnya sendiri.
"Dasar anak gadis diajarin bangun pagi juga. Kamu juga. " Kini gantian menatapku yang sudah duduk malas diatas tempat tidur, dengan mata malas karna kantuk sempat menghilang, tapi kini datang lagi.
"Bentar lagi udah jadi istri orang. Pastikan kamu bangun lebih dulu dari suamimu itu. Jangan bikin malu bunda." Gantian aku yang kena omel.
Bunda sebenarnya orang baik dan penyayang pada semua putrinya. Tapi cukup cerewet untuk mendisiplinkan anak-anaknya yang cukup bandel ini. Dari kecil bunda membiasakan untuk bangun sebelum subuh, dan tidak boleh tidur lagi setelahnya. Tapi tetap saja kalo tidurnya larut, kami bangun sering kesiangan. Tapi sungguh, tak pernah lewat waktu subuh.
"Ya udah sih , bun. Biarin aku bagun siang untuk terakhir kalinya kalo gitu." Bujuk ku. Sungguh, mata masih ingin terpejam.
Sebenarnya cerita dengan Ana tak sampai kelewat tengah malam. Tapi mata sulit terpejam, bahkan setelah terdengar dengkuran Ana.
Apakah setiap calon pengantin seperti ini? Sulit sekali tidur. Bayang-bayang tentangnya, tentang kehidupan yang akan datang, bahkan saat ada sosok kecil yang memanggilku bunda, sudah terbayang. Sejauh itu hayalanku. Memiliki mertua yang menurutku cukup baik, tak akan membuatku mengalami drama seperti orang-orang yang sering berselisih dengan mertuanya. Banyak hal yang membayang di pelupuk mata semalam.
"Jangan macam-macam kamu. Yang mau ngantarin kamu nikah aja udah pada siap-siap, masa pengantinnya masih tidur?"
"Ini masih pagi ,bunda. Akad nikah masih jam sepuluh."
"Emang kamu mau akad nikah kayak gini? Sana mandi. Cepetan." Menarikku untuk turun dari kasur yang masih ingin memelukku.
Sungguh, aku bukannya tak bahagia memulai hari ini. Bukan pula karena tak semangat menjalani acara nanti. Hanya saja mata tak mau diajak kompromi. Ngantuk berat. Jam satu malam aku belum bisa tertidur. Tak tahu jam berapa pastinya aku jatuh tertidur. Dan jam empat kurang seperempat sudah dibangunkan lagi.
Bukan cuma suruh mandi, bahkan Bunda memberiku sebuah kotak kecil dengan tulisan body scrub. Seumur-umur aku belum pernah pake hal begituan.
"Pake ini. Biar wangi. Sebagai seorang istri sering-sering pake lulur, biar buat suami makin betah dan tak melirik cewek lain." Ucapnya.
"Apa sih bun." Malasku. Seakan-akan akan mempersiapkan malam pertama yang juga ku impikan. Tapi tak mungkin untuk terjadi bukan? Harapku terlalu tinggi. Haha. Aku tertawa miris membayangkannya.
Aku hanya bisa menuruti apa kata bunda. Tak lupa menyempatkan sholat tahajut juga tilawah sebentar, hingga adzan subuh berkumandang.
Pagi ini setelah subuh aku hanya turun untuk mengambil minum, itupun langsung disuruh naik lagi sama yang lain. Nanti semua kebutuhanku akan diantar kekamar, katanya.
Dari memulai hari, aku bener-bener diratukan dirumah sendiri. Jika aku minta sesuatu, para kerabat sigap untuk memenuhi. Tak ada yang ngeluh meskipun aku memanfaatkan kesempatan untuk bener-bener minta dilayani.
"Menjadi pengantin itu seperti ratu, jadi kalo butuh apa-apa bilang aja. Pasti kami turuti. Mau makan apapun boleh, tak ada pantangan. " Itu kata bude yang mengantarkan s**u coklat kesukaanku. Padahal biasanya aku minum s**u saat sarapan. Ini masih jauh dari waktu sarapan.
Baru mau main hp sejenak, pintu sudah ada yang ngetuk lagi. Belum diberi izin sudah masuk tante Ranti dan seorang wanita dibelakangnya.
"Ini calon pengantinnya." Kata tante, dan tanpa menjelaskan padaku langsung pergi dari kamar.
"Udah siap mbk?" Tanpa basa basi dan perkenalan langsung menanyakan kesiapan. Aku hanya diam, bingung. Siapa dia? dan siap untuk apa? Wanita berjilbab dan berpakaian trendy itu hanya tersenyum manis melihat reaksiku yang kebingungan.
"Namaku Lina. Aku masih saudara jauh tante Rani. " Ucapnya memperkenalkan diri, dan meletakkan tas di sampingku.
"Namaku Nisa. Anisatu Zahra." Aku ikutan memperkenalkan diri.
"Aku nail henna artis, yang akan mempercantik dirimu hari ini." Jelasnya dengan senyuman manisnya.
"Sekarang? Apakah harus?"
"Ini pesanan tante Rani. " Ungkapan yang tak bisa dibantah.
"Dia pesan terlalu mendadak. Minta tadi malam untuk datang kesini, tapi sayang aku sedang ada job lain. Dan hari ini pun sebenarnya masih ada jadwal, tapi rela ku gantikan deh, demi membuat calon pengantin saudaraku jadi cantik. InsyaAllah waktu masih cukup. Akad masih jam sepuluh bukan? Dan kamu sudah mandi bukan? " Jelasnya panjang lebar, dan bertanya yang hanya ku jawab dengan anggukan kepala.
"Pasti grogi ya? atau bingung?" Tanyanya dengan diakhiri tawa yang melihatku hanya terdiam. " Aku juga bingung kenapa pegantinnya berubah. Tapi aku suka aja, dari pada yang kemaren kurang sopan. Cantikan kamu, kalem lagi." Aku tak tahu itu pujian atau sindiran. Dia tak tahu aja kalo lagi kumat.
"Mau pilih yang mana?" Tanya sambil memperlihatkan beberapa warna innai, juga beberapa gambar referensinya.
"Terserah lah kak. Yang penting jangan terlalu banyak-banyak. Di jari aja." Jawabku sedikit bingung setelah melihat banyak gambar sebagai contoh.
"Oke. " Dia setuju aja. Dan mulai melakukan tugasnya. Aku hanya bisa diam dan diam.
Ternyata jadi pengantin cukup ribet juga. Belum selesai memakai henna, kini gantian MUA yang datang. Dan pagi ini aku sarapan dengan disuapin. Bener-bener dilayani bak ratu.
Bener apa kata bunda. Aku harus bangun lebih awal seharusnya. Meskipun akad nikah masih jam sepuluh, tapi sejak subuh sudah ada saja yang datang melakukan tugasnya untuk menyiapkan pengantin.
Jam sembilan masih belum siap. Bahkan gaun pengantin belum dipake. Baru kini aku mulai memakai gaun pengantin dan juga dipakekan jilbab yang terjadi sedikit perdebatan.
Aku tetap ngotot mau memakai jilbab syar'i yang menutup d**a. Tapi kata si mbaknya nanti motif gaun didada tertutup. Aku mah masa bodoh dengan motif dan manik-manik yang akan tertutup hijab.
"Cuma sekali ini aja mbk. Ini kan hari sepesial untuk mbk. Sekali seumur hidup mbk. Coba lihat. Ini cantik banget kalo begini. Sayang kalo ini tertutup. " Bujuknya sambil memakaikan jilbab sesuai seleranya.
"Nggak mau. Harus dadanya tertutup." Menjulurkan jilbab sebagaimana mestinya.
"Nggak cantik kalo begitu. Nggak nampak mewahnya. Sekali aja nggak papa toh, mbk. Khusus untuk hari sepesial ini." Tetap ngotot. Udah beberapa kali ini jilbab di naik turunkan. Hanya mengulur waktu saja.
Memang ini gaun didesain full manik dan permata yang kemilau di daerah d**a. Entah asli atau nggak aku tak tahu. Yang aku tahu, ini sudah yang paling sederhana yang ada dibutik kemaren. Yang lain banyak yang full dari atas sampai bawah.
"Karna ini pernikahanku. Jadi, aku yang menentukan." Ini sudah mutlak keputusanku.
Dengan tarikan nafas panjang, si mbak menurut saja. Karna memang sudah tak bisa protes.
Jam sepuluh tepat, jemputan sudah datang. Aku pun digiring untuk masuk mobil pengantin menuju tempat acara. Hatiku berdebar hebat. Antara bahagia, haru, juga takut. Takut hal yang tak diinginkan terjadi.
Ayah dan bunda mendampingiku dalam diam. Dengan tangan menggenggam kedua jemariku. Aku tak tahu apa yang mereka pikirkan. Kelak jika sudah tiba masanya aku juga akan tahu. Apa yang dirasakan saat melepas putra putrinya untuk menikah.