Acara lamaran berjalan dengan lancar. Hanya acara singkat, yang menyiapkannya pun mendadak. Hanya sebagai formalitas acara.
Tepat saat pak Harsono dan rombongan pulang dari rumah, adikku Ana khoirunnisa datang. Padahal om Ridwan sudah sejak ba'da asar menjemputnya, tapi sampai malam baru datang. Aku sudah paham, mungkin perizinan yang sedikit susah karena malam ini ada acara ekskul yang tak bisa ditinggal.
Malam ini, aku masih tidur dikamar ternyaman ku. Meskipun nyatanya sulit untuk tidur. Meskipun mata terpejam, tapi tak bisa terlelap.
"Kak." Panggil Ana tanpa izin asal masuk kamar. Lagian sejak datang memang dia belum menemuiku yang sudah kembali masuk kamar. Ana langsung disambut hangat dengan pada kerabat yang asik bercengkrama di ruang tamu. Jadilah dia beberapa saat tertahan disana.
"Hem." Gumamku yang masih asik berbaring sambil memainkan ponsel. Sebenarnya malam sudah semakin larut. Aku sudah sedari tadi disuruh tidur biar besok fres untuk acara nikahan. Tapi bagaimana bisa tidur jika dibawah masih ramai suara orang bercerita dan tertawa?
"Kakak nggak mau cerita gitu?" Tanyanya yang ikut berbaring di sampingku, ikutan melihat apa yang ku lihat di hp.
"Cerita apa?" Jawabku malas, menutup ponsel, dan memejamkan mata.
Aku memang cukup sering bercerita sama dia. Begitu juga sebaliknya. Aku dan Ana sama seperti para saudara lainnya, sering tengkar, tapi juga kangen kalo berjauhan. Sering rebutan barang, marah kalo dia pinjam barangku sembarangan, tapi kalo ada masalah sering curhat.
"Aneh tau nggak sih." Ujarnya. Ana pasti lah belum masuk kamarnya sendiri. Dia masih berpakaian lengkap sebagai santriwati.
"Kenapa?" Tanyaku kembali membuka mata, dan mendapatinya berbaring miring menghadapku. Dengan mata penuh penasaran.
"Ceritanya gimana?"
"Cerita apa sih?" Tanyaku bingung. Tak paham kemana arah pembicaraannya ini. Jika dia penasaran kenapa aku mendadak nikah? kenapa pertanyaannya gitu?
"Akhirnya si Riska itu ketahuan ya kalo dia selingkuh? bagus deh. Allah mengijabah doaku." Tebaknya tepat sasaran, dan diakhiri ucapan syukur. Dan kenapa pula si bocil ini memanggil Riska dengan nama? Tanpa embel-embel? Dan dia punya doa apa? Doa agar pernikahan orang gagal?
Aku langsung duduk mendengar ucapan adekku satu-satunya itu.
"Nggak usah heran juga kali, kak. Ucapanku benar kan?" ucapnya lagi yang melihat reaksiku saat mendengar ucapannya.
"Kok kamu tahu kalo Riska selingkuh?" Tanyaku penuh tanda tanya.
Masalahnya Ana anak pesantren yang jarang berkeliaran diluar. Dari mana dia tahu soal Riska? Mereka juga bukan seumuran, jadi mereka tak mungkin kenal kan? Ana pulang ke rumah aja hanya saat libur panjang, dan saat ada acara di rumah aja.
"Dan emang doa mu yang mana yang terkabul?" Tanyaku lagi yang melihat Ana masih berbaring di kasurku.
Kami punya kamar masing-masing, tapi Ana kalo di rumah cukup sering tidur di kamarku. Katanya sudah biasa tidur ada kawan, jadi aneh kalo tidur sendirian, itu salah satu alasannya saat kutanya kenapa sering numpang tidur. Dan begini ni, sebelum tidur selalu ada pembahasan tentang banyak hal. Bahkan kadang juga gosib tentang orang-orang.
"Aku ni adek yang baik hati dan pengertian lo, kak." Jawabnya dengan senyuman bangga, sambil memainkan alis menggoda.
"Baik hati apanya? pengganggu iya. Sana pergi ke kamarmu sendiri. Jangan ganggu calon pengantin." Jawabku ketus dan mengusirnya. Malas kali bicara sama adek yang super pede begitu.
"Ck." Decaknya. " Kakak nggak jadi penasaran? Padahal tadi penasaran banget lo." Godanya lagi, dengan senyum tengilnya.
"Nggak." Jawabku dan kembali ambil posisi ternyaman untuk istirahat.
"Adeknya Riska kan sekolah di pesantren juga, adek kelasku." Ceritanya, dan aku masih diam mendengarkan. Karena jika dipotong, ceritanya tak akan selesai, malah melebar kemana-mana. Bahkan jika aku menampilkan rasa penasaran, ceritanya akan berbelit-belit kemana-mana. Mendramatisir cerita.
"Beberapa kali dia datang menjenguk adeknya dengan cowok, saat ku tanya sama adeknya katanya pacarnya. Aku tanya dong tentang bang Rijal. Awalnya dia nggak mau cerita, karena itu rahasia keluarga. Lagian kami tak terlalu dekat untuk berbagi cerita tentang urusan keluarga. Tapi akhirnya dia cerita juga." Ceritanya sambil melihat langit-langit kamar.
"Aku tahu, bahkan semua anggota keluarga juga tahu kalo kakak suka sama bang Rijal. Aku tahu kakak berusaha ikhlas melepas bang Rijal menikah dengan wanita lain. Kakak mati-matian untuk bersikap biasa saja, meskipun dalan hati sakit saat melihat orang yang kita sayang sedang berbahagia dengan orang lain. Apa lagi kakak tak mungkin putus hubungan dengan bang Rijal, kan keluarga kita sudah dekat. " Lanjutnya lagi. Aku masih diam mendengarkan.
"Aku tahu, kakak tak akan berhasil moveon jika tahu tentang bang Rijal dihianati. Kakak pasti akan selalu berharap dia kembali. Tidak mudah melupakan orang yang bertahun-tahun mengisi hati kita, apalagi kita tahu jika dia tak bahagia dengan kehidupan barunya."
"Apa sikap kakak terlalu menampakkan kalo kakak suka dia?" potongku saat Ana terdiam sesaat.
"Nggak juga. Tapi kita bersama nggak sehari dua hari, kak. Dari kecil kita bersama, aku tahu kebiasaan-kebiasaan kakak. Salah satunya kebiasaan kakak setelah ketemu sama dia."
"Emang apa?" Tanyaku sambil mengulum senyum malu. Apakah aku punya kebiasaan khusus jika habis ketemu dia? perasaan biasa aja.
"Mau aku ceriatain? " tawarnya dengan tertawa meledek, tanpa persetujuan Ana memperagakan yang katanya kebiasaanku setelah ketemu dia. Senyum-senyum sendiri, tertawa dan menyapa semua penghuni rumah dengan ceria dan full senyum bahagia. Tapi karena Ana memperagakannya dibuat-buat, jadi allay sekali. Aku tertawa melihat Ana yang memperagakan tingkahku saat kasmaran.
"Mana ada? Kakak nggak gitu ya." Elakku tak mengakui. Perasaan aku biasa aja selama ini.
Ku pikir adekku masih bocil, ternyata dia sudah mulai dewasa. Atau dia juga sudah pernah merasakan jatuh cinta? Hingga seakan paham akan apa yang aku rasa? Lagian kini dia sudah MA, wajar jika merasakan cinta monyet. Asalkan paham bagaimana menghadapi perasaan yang dirasa aja. Jangan sampai pacaran. Karena itu termasuk larangan dalam keluarga kami.
"Udah udah. Lanjut saja sama ceritamu tentang Riska tadi." Mencoba mengalihkan pembicaraan.
Ana kembali naik ketempat tidur, tapi masih menggodaku dengan menirukan senyuman bahagia yang dibuat-buat.
"Udah. " Kesalku akan tingkah adikku itu, dan menariknya agar kembali berbaring disampingku.
"Kakak harus terima kasih sama aku." Ucapnya entah kemana arahnya. Emang dia ini suka kali loncat-loncat topik pembicaraan.
"Kenapa?" Heranku tak paham.
"Ya selama ini aku selalu berdoa untuk kakak tahu."
"Doa apa? Lagian emang doa mu terkabul?" Cibirku.
"Terkabul ini. Nyatanya kakaku akan nikah sama bang Rijal." Ucapnya bangga. Seakan itu adalah mimpi yang selama ini diusahakannya.
"Owh. Jadi kakak bisa nikah sama bang Rijal karna doamu?" sindirku.
"Bisa jadi. Lagian aku nggak rela bang Rijal nikah sama tukang selingkuh kayak Riska. Padahal ada hati yang selalu menunggunya dengan sabar. Menjaga hati dan pandangan hanya untuk bang Rijal." Entah apa maksud kata-katanya. Yang pasti dari gaya bicaranya dia sedang meledekku habis-habisan. Dan sialnya itu nyata.
"Bang Rijal itu emang cocoknya untuk kak Nisa." Tambahnya lagi dengan senyum anehnya.
"Tapi?" Mulai memasang muka serius.
"Kenapa?" Heranku dengan perubahan mimik wajahnya.
"Kakak bisa menikah dengan bang Rijal karena dia yang minta atau kakak yang menawarkan diri?" Tanyanya yang bener-bener membuatku kesal.
"Menurutmu?" Ketusku. Ah, memang anak ini suka kali ganti topik pembahasan sesuai selera dia.
"Apapun itu, yang penting kakak bisa menikah dengan orang yang kakak cintai." Ucapnya terdengar tulus.
Hening. Aku maupun Ana sama-sama melihat langit-langit kamar dengan pikiran masing-masing.
Apakah aku bahagia? Bukankah mimpi setiap orang adalah mengakhiri masa sendiri dengan orang yang dicintainya? Begitu pula denganku.
Dan aku sangat bahagia dengan takdir yang menyatukanku dengan Rijal. Cinta pertamaku, dan ku harap juga akan menjadi cinta terakhirku.
"Malam ini aku tidur disini." Ucap Ana lagi memecah keheningan. Tapi setelah bicara begitu dia langsung bangkit dan keluar kamar. Aku membiarkannya.
Beberapa saat kemudian dia kembali dengan pakaian tidurnya.
"Ini malam terakhir aku bisa tidur sama kakak, besok-besok nggak bisa lagi. Udah punya suami." Ucapnya. Aku sudah memejam, meskipun belum terlelap. Aku hanya merasa dia memelukku untuk tidur.