Keluarga Harsono bergerak cepat untuk mengubah rencana pernikahan. Mengubah nama mempelai, juga foto yang akan dipajang pada pesta pernikahan. Hanya foto undangan yang sudah disebar yang tak bisa diganti.
Memang tak ada foto prewedding antara aku dan Rijal. Tapi foto kebersamaan kami cukup banyak, meskipun tak ada yang mesra. Cukup asal comot yang menurut WO cocok.
Aku sempat diajak mampir ketempat acara sama calon mama mertua. Sedangkan Rijal? Dia akan mengubah mas kawin. Sebenarnya aku sudah menyarankan untuk memakai yang sudah disiapkan aja. Toh aku tak memberi patokan besaran dan bentuk mas kawin yang akan diberikan. Tapi, tante Rani tetap kukuh untuk menyiapkan yang baru. Terutama untuk perhiasan. Tante Rani tak mau menantunya memakai perhiasan yang sudah diukir nama perempuan lain. Mending beli baru, meskipun tanpa nama itu lebih baik dari pada tertulis nama orang lain.
Aku bahagia mendapat mama mertua yang memikirkan perasaanku. Yang membuatku yakin untuk menikah dengan Rijal.
Aku hanya menurut saja, tak berani usul. untuk gaun pengantin aku juga memilih yang lain. Karena gaun pilihan pacar Rijal cukup terbuka, dan yang pasti tak pakai hijab. Aku ganti yang tertutup dan tetap cocok jika dipadukan dengan hijab syar'i.
Ternyata bukan cuma keluarga Harsono , dan para WO yang nampak sibuk. Memasuki rumah juga pada sibuk. Bahkan sanak saudara juga sudah ada yang datang kerumah.
Kapan pula mengabarinya? Cepat kali mereka datang? Padahal perjalanan dari rumah mereka kesini memakan waktu kurang lebih satu jam.
"Eh, cucu eyang. Sini sayang." Panggil lelaki sepuh yang duduk sendiri di bangku taman.
"Ya ,yangkung. Eyang apa kabar? Sehat?" Tanyaku dan menurut untuk duduk disampingnya . Tak lupa cium tangan sebagai penghormatan pada yang lebih tua.
Dari arah dapur terdengar banyak suara yang sedang bercerita dan bercanda, sesekali diselingi tawa. Mereka pasti sedang sibuk mempersiapkan makan malam. Sedangkan bapak-bapaknya kemana? Entahlah. Tapi tempat faforit para lelaki jika dirumah ini adalah kolam ikan yang ada dibelakang rumah. Pasti lagi membanggakan dan membandingkan hewan peliharaannya masing-masing.
"Eyang sehat. Apa lagi dikabarin kalo cucu Eyang mau nikah. Tambah sehat ini." Jawabnya diselingi tawa yang khas.
Ternyata kabar pernikahanku sudah menyebar. Kebetulan memang akhir pekan. Padahal baru beberapa jam lalu aku menyetujui pernikahan ini. Ah... zaman sudah modern memang.
"Eyang langsung nyuruh om kamu antar kesini setelah ayah kamu mengabarkan kamu menikah besok." Jelasnya, sambil menampilkan senyum yang tak pernah memudar menghiasi wajah rentanya.
"Apa eyang bahagia melihatku akan menikah?" Tanyaku yang sebenarnya ku peruntukkan untuk diriku sendiri. Apakah aku bahagia? Ya, aku bahagia. Ini mimpiku.
"Apakah kamu tak bahagia,nak?"
Ditanya bukanya dijawab malah balik nanya. Aku hanya menjawab dengan senyum malu-malu.
"Pertama dengar kabar dari ayahmu, eyang sudah berfikir macam-macam. Kenapa kabarnya datang terlalu mendadak? Apakah rencananya memang mendadak, atau kabarnya aja yang mendadak?Eyang sempet marah sama ayahmu yang mendadak kasih kabar. Tapi katanya memang acaranya mendadak. Bahkan tante kamu mengira kalo kamu hamil duluan." Cerita eyang diakhri tarikan nafas dalam.
Bukankah kebanyakan orang juga akan berfikir demikian? Ini terlalu mendadak buat keluarga besarku. Kabar ini terlalu tiba-tiba bagi kerabat dan kenalanku. Meskipun aku sama sekali tak mengabari kenalan dan teman-temanku. Tapi tidak mendadak bagi pihak lelaki. Sudah ada persiapan dari jauh hari.
Bahkan mungkin orang juga akan menilai negatif tentang diriku yang terkenal cukup alim dan kalem, tiba-tiba menikah mendadak. Pasti banya persepsi dan praduga yang muncul tanpa bisa dicegah. Entah karna hamil duluan lah, atau mungkin ada yang menilaiku merebut calon laki orang?
Ah, biarlah. Aku memang tak bisa mengontrol setiap mulut orang. Namanya manusia hidup bermasyarakat, pasti ada aja yang tak suka. Sebaik apapun kita, selalu ada cela dimata orang.
"Apakah eyang juga mikir kalo Nisa cewek seperti itu?" Tanyaku dengan nada kecewa.
Jika orang lain yang bicara, mungkin aku bisa masa bodoh. Tapi jika yang memberikan penilaian saudara dan kerabat?
Eyang tak langsung menjawab. Dia tersenyum lembut menatapku dalam, kemudian menggeleng pelan.
"Eyang percaya cucu eyang tak seperti itu. Apalagi saat eyang tahu siapa lelakinya."
"Emang eyang kenal dengan calon sumi,Nisa?" Tanyaku heran.
Masalahnya Eyang tinggalnya cukup jauh dari tempat ini. Bahkan eyang jarang sekali main kesini. Jika libur panjang, kamilah yang datang mengunjunginya. Eyang hanya datang saat dirumah ada acara seperti saat ini.
"Eyang nggak kenal." Jawabnya pasti.
"Terus?"
"Eyang mu ini, meskipun sudah tua, tapi belum pikun ,Nisa. Eyang masih ingat nama laki-laki yang sering kamu sebut waktu kecil. Dari kecil kamu sering sekali cerita dengan menyebut nama yang sama." Cerita eyang yang membuatku tersipu malu.
Ternyata dulu aku cukup sering cerita tentan Rijal? Memang aku sama Rijal bersahabat sejak masuk TK. Dari dulu aku suka dengannya. Meskipun dulu aku tak menyadari jika itu cinta. Aku hanya merasa nyaman bermain dengannya, dan dia juga memperlakukanku dengan sangat manis.
Dulu aku sering cerita tentangnya, dan mulai berhenti menceritakannya setelah aku sadar tentang apa yang ku rasa.
"Kamu mulai tak banyak cerita tentangnya setelah masuk pesantren kan? Ceritamu berubah tentang kegiatanmu selama disana. Eyang pikir ceritamu tentang Rijal sudah berakhir, ternyata belum ya? Ternyata cerita itu masih berlanjut, tapi cucu eyang mulai paham menyikapi perasaan yang belum halal." Lanjut eyang sambil mengusap kepalaku dengan sayang.
Aku tersenyum malu mendengar penuturan eyang. Aku pikir aku cukup pandai menyimpan perasaan ini, karena tempat berlabuhnya rasa tak pernah menyadarinya, atau memang tak pernah berniat untuk menyambutnya? Tapi ternyata keluargaku menyadari apa yang aku rasa, meskipun tak pernah membahasnya.
"Jadi, bagaimana mungkin eyang akan berfikir ada hal memalukan yang terjadi sebelum pernikahan ini? Eyang percaya sama kamu. Eyang percaya didikan orang tuamu yang baik, juga pemahaman agama yang pernah kamu pelajari ,akan menjadi pedoman untukmu dalam mengambil langkah. Eyang percaya ,cucu eyang yang satu ini tak akan melewati batas."
"Makasih,eyang. Udah percaya sama,Nisa. Juga paham apa yang Nisa rasa." Ucapku tulus, dan menghambur dalam pelukan lelaki sepuh yang selalu menjadi tempat ternyaman untuk berbagi cerita.
"Dan dengerin saran eyang. Jangan dengar kata-kata orang yang akan menggunjing dibelakang. Karena eyang yakin, akan ada gosib besar tentangmu ini."
"Gosip?" Ulangku dengan perasaan heran.Menebak. "Eyang belajar jadi peramal ya?" Tuduhku, yang membuatnya terkekeh.
"Lihat aja nanti." Jawabnya santai.
Percakapanku dengan eyang masih berlanjut kepembahasan selanjutnya, hingga suara Bunda memanggilku untuk beriap-siap.
Meskipun semua mendadak bagiku, tapi keluarga Harsono akan mengulang prosesi pernikahan dengan lengkap. Dulu keluarga itu pernah melamar wanita pada keluarganya, namun gagal ditengah jalan.
Dan malam ini Keluarga Harsono akan datang untuk lamaran. Permintaan izin untuk menikahiku secara resmi pada keluargaku. Esok adalah ijab kabul. Jadi yang akan datang melamar hanya beberapa orang. Yang pasti orang tua dan Rijalnya sendiri. Sedangkan persiapan yang awalnya sudah siap sempurna, namun ada perubahan dibeberapa bagian dipercayakan pada keluarga untuk memantaunya.
Bukankah lamaran adalah izin awal dari pihak lelaki pada pihak perempuan untuk menikah. Jadi, meskipun ijab kabulnya tinggal besok. Ayah tetap mau ada lamaran sebelum ijab kabul.
"Kamu yakin dengan pilihanmu, nak?" Tanya bunda yang menemaniku didalam kamar. Sedangkan keluarga yang lain menyambut tamu yang akan datang diruang tamu.
"Apakah aku salah memilih jalan ini,Bunda?" Tanyaku pelan.
Kami sedang berdua didalam kamar. Bunda membantuku dandan. Aku orangnya tak pandai pake makeup. Selama ini bunda hanya membelikanku peralatan skincare untuk merawat wajah agar tetap sehat. Tidak dengan makeup yang fungsinya untuk menghias wajah.
"Bunda percaya sama kamu nak." Jawabnya lembut, dengan senyum samar menghiasi bibirnya. "Bunda percaya, sebelum memutuskan kamu pasti sudah mempertimbangkannya. Makanya bunda langsung setuju saat tante Rani mengabarkan rencana kalian. Lagian bukankah ini mimpimu dari dulu? Meskipun caranya tak sesuai harapan bunda." Jelasnya lagi.
"Tapi, apakah kedepannya sesuai dengan mimpiku?" Tanyaku entah ditujukan pada siapa. Bukankah masa depan adalah misteri?