Perkelahian para remaja berlangsung di sebuah cafe. Perkelahian mereka membuat pengunjung yang berada di sekitar menjauh karena salah satu kelompok membawa senjata tajam sehingga mereka tidak dapat melerai kedua kelompok yang tengah berkelahi tersebut.
Senja dan teman-temannya berkelahi dengan sekelompok lelaki yang sepertinya masih pelajar itu.
Berawal dari Senja dan teman-temannya yang tengah menikmati kopi di siang itu dan di hampiri oleh sekelompok orang yang langsung melayangkan pukulan kepada mereka hingga berujung perkelahian karena balas membalas. Hingga akhirnya, sang pemilik cafe tersebut menelepon polisi dan mereka pun di bawa ke kantor polisi untuk di interogasi.
Bercak darah berceceran di lantai, kursi dan meja yang bergeser secara acak dan semua makanan yang berjatuhan dengan pecahan gelas dan piring berserakan di lantai. Cafe itu mengalami kerugian yang sangat besar hingga sang pemilik meminta pertanggung jawaban atas kejadian tersebut.
Ivan dan Rani, kedua orang tua Senja datang menemui Senja di kantor polisi setelah polisi menelepon Ivan karena kasus putranya. Ivan marah besar atas apa yang putranya lakukan itu. Karenanya, dia harus membayar denda atas kerusakan cafe yang telah mereka perbuat.
Sesampainya di rumah, Ivan langsung meluapkan amarahnya pada Senja yang telah ia pendam selama ia di kantor polisi.
"Apa yang kamu lakukan, Senja! kamu sudah gila?" Ivan menghela napasnya.
"Bisa-bisanya kamu berkelahi di tempat seperti itu! Mau jadi apa kamu? Kamu pikir kamu hebat? Kamu pikir berapa uang yang papa keluarkan untuk membayar semua kerusakan yang telah kamu dan teman-teman kamu lakukan?" Napas Ivan berderu.
"Sudah Papa bilang, tinggalkan teman-teman kamu itu! Mereka itu memberikan pengaruh buruk buat kamu! Semenjak kamu berteman dengan mereka, kamu menjadi anak yang nakal! Kamu berkelahi lagi dan lagi, kamu tawuran dan karena itu kamu harus pergi ke rumah sakit lagi dan lagi. Lihat! Lihat wajah kamu di cermin! Kapan terakhir kali wajah kamu bersih tanpa lebam?"
Senja terdiam. Dia tidak dapat mengatakan apapun pada Ivan. Senja sepenuhnya menyadari hal itu, tetapi terlambat untuknya berhenti. Dua tahun mereka berteman dan itu bukan waktu sebentar.
"Sakit, Sayang? Mama udah bilang kan sama kamu, mereka itu gak baik! Gak bisa jaga kamu. Mereka cuma bisa bikin kamu luka kaya gini. Kamu tau Mama khawatir sama kamu, Nak, tolong jangan ulangi hal ini lagi ya, Sayang!" ucap Rani sembari terisak.
"Senja gak papa Mah, ini cuma luka kecil aja!"
"Luka kecil apa? Kamu gak liat ini? Ini, ini, ini!" Rani menunjuk satu persatu luka yang ada pada tubuh Senja.
"Kamu denger Papa gak, Senja?" Tanya Ivan.
"Iya, Pah!"
"Jangan cuma iya-iya aja! Dengerin papa ngomong! Jangan bergaul sama mereka dan jauhin mereka mulai dari sekarang!"
"Gak bisa gitu, Pah, kan mereka temen temen Senja! Senja gak bisa jauhin mereka!"
"Kalau teman yang buat susah aja, buat apa?"
"Tapi kan pah, mereka te--" ucapan Senja terpotong oleh ayahnya.
"Pokoknya jauhin mereka mulai dari sekarang! Papa gak mau tau. Gak ada alasan dan gak ada tapi-tapian!" Kemudian Ivan pergi meninggalkan Senja dan Rani di sofa memasuki kamarnya.
"Kamu nurut aja sama papa kamu ya, Sayang ... Papa ngelakuin itu karena papa sayang sama kamu! papa gak mau kamu kenapa-napa nak ...."
"Gak bisa, Mah! Mereka temen-temen Senja! Senja gak bisa jauhin mereka gitu aja, Mamah ngertiin Senja dong, Mah ...."
"Mamah mohon, Sayang, yah! Kamu ngertiin papa sama mama juga, Nak ... turutin papa kamu sebelum papa ngelakuin hal yang lebih dari sekedar nyuruh kamu jauhin mereka ...." Rani memohon pada Senja agar dia meninggalkan teman-temannya yang badung. Senja mengangguk pelan, tak tega melihat ibunya seperti ini.
"Terimakasih, Sayang! Terimakasih karena sudah mendengarkan Mamah." Rani tersenyum lega karena Senja mau mendengarkannya.
***
Senja termenung di kamarnya. Suara Ivan terngiang-ngiang di telinganya. Dia menyadari kesalahan yang dia lakukan. Dia menyadari betapa seringnya dia membuat kedua orang tuanya itu khawatir. Terutama Rani yang selalu menangis karena melihat keadaannya yang selalu babak belur dengan luka yang parah di tubuhnya.
Senja mengerti dengan Ivan yang menyuruhnya meninggalkan teman-temannya, karena memang merekalah yang secara tidak langsung membuat Senja seperti ini, tetapi dia tidak bisa meninggalkan teman-temannya begitu saja.
Helaan napas keluar dari mulut Senja. Dia memikirkan bagaimana kehidupannya nanti. Dia harus berhenti, tetapi dia tidak bisa.
Senja meraup wajahnya. Tiba-tiba dia teringat perpisahannya dengan Embun. Lagi-lagi Senja menghela napasnya, kemudian dia merebahkan tubuhnya di kasur dan menatap langit-langit kamar.
"Embun lagi apa ya sekarang?" gumam Senja.
***
"Riki gak masuk?" Tanya Senja pada teman temannya. Saat ini, Senja tengah bersama teman-temannya. Teman-teman yang membuat Senja menjadi anak yang suka berkelahi. Senja tidak benar-benar meninggalkan mereka. Kata "iya" hanya sekedar untuk menenangkan mamanya dan agar dia tidak di hukum oleh papanya.
"Lo gak tau soal Riki?" tanya Miko.
Senja mengerutkan keningnya. "Kenapa dia?"
"Kemarin Riki di keroyok sama Raga. Dia dapat luka tusukan di perutnya dan sekarang dia kritis di rumah sakit." Tambah Roni.
"Ko gue gak tau?" tanya Senja.
"Gue aja baru tau dari temen gue. Katanya kemarin ada yang di keroyok, terus dia kasih fotonya ke gue. Ternyata itu Riki," ucap Miko. Senja terdiam menatap Miko. "Pantas saja dia gak datang kemarin," batin Senja.
"Nanti kita harus balas dendam ke si Raga!" ucap Rizal.
"Kita jenguk Riki dulu, setelah itu kita buat rencana balas dendam!" ucap Senja dan mereka mengangguk setuju.
***
Jam pelajaran sudah dimulai. Para siswa dan siswi SMA Bima Sakti melakukan pembelajaran pertama mereka termasuk Senja dan teman-temannya dengan khidmat hingga pelajaran selesai.
Kini mereka tengah menunggu Bu Silvia untuk datang mengajar mereka di pelajaran matematika. Hingga pintu kelas terbuka dan datanglah seorang guru tetapi bukan Bu Silvia melainkan Pak Agus, kepala sekolah yang datang.
"Selamat pagi! Bapak mau minta perhatiannya sebentar, ya!" ucap Pak Agus saat dia sudah memasuki kelas mereka.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" Salam Pak Agus setelah dia meminta perhatian anak murid di kelas tersebut.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh!" Para siswa dan siswi di kelas menjawab salam Pak Agus dengan serempak.
"Murid-murid sekalian, mohon maaf Bapak mengganggu waktu belajar kalian. Bapak ingin menyampaikan hal yang sangat penting untuk kalian karena Bapak baru saja mendapatkan kabar duka bahwa teman kalian yang bernama Riki Wijaya meninggal dunia tepat pada pukul 07.00 tadi."
"Inalillahi wa innailaihi Raji'un!" ucap para murid serempak terkecuali Senja dan teman-temannya. Mereka terdiam mendengar kabar duka itu. Syok dan rasa tidak percaya menghampiri mereka. Ada perasaan marah sekaligus sedih dengan kabar duka tersebut. Segera mereka memasukkan alat tulis mereka ke dalam tas masing-masing.
"Pukul 11 nanti kita pergi ke pemakaman bersama-sama. Tetapi sebelum itu, mari kita membaca alfatihah untuk almarhum Riki, semoga dia di tempatkan di tempat yang terbaik di sisinya!" ucap Pak Agus bersiap memimpin doa.
Tetapi tiba-tiba Senja dan juga teman-temannya pergi meninggalkan kelas dengan tergesa hingga Pak Agus menghentikan kegiatannya untuk memimpin doa.
Pak Agus berteriak memanggil mereka. "Hei, kalian mau kemana? Kita akan pergi bersama-sama nanti!"
Mereka tidak menanggapi perkataan Pak Agus dan tetap pergi meninggalkan kelas dengan berlari.