Suasana di rumah duka sangat ramai dengan orang-orang yang tengah mengaji mengelilingi jasad Riki yang kini sudah di kafani dan tertutup oleh selembar kain di seluruh tubuhnya. Senja dan teman-temannya masuk menghampiri Winda, ibu dari Riki. Winda menatap mereka sembari menangis.
"Kami minta maaf, Tante karena kami gak tau tentang kejadian ini," ucap Senja dengan rasa bersalahnya.
"Riki terkena 2 tusukan di perutnya saat dia mau ketemu kalian," ucap Winda sembari terisak.
"Apa kalian punya musuh? Kenapa Riki jadi seperti ini?" tanya Winda pada mereka.
"Kami memang sempat punya masalah sama Raga, tapi itu hanya masalah kecil dan masalahnya pun sudah selesai." ucap Miko.
"Terus kenapa Riki bisa seperti ini? Kenapa dia sampai dikeroyok?"
"Maaf, Tante kami tidak tahu," ucap Rizal.
"Ya Allah!" Tangis Winda pecah disaat itu juga. Hatinya hancur menerima kenyataan menyakitkan ini.
Senja merasa marah sekali dengan keadaan ini. Teringat lagi dengan kejadian beberapa bulan yang lalu saat mereka dan geng Raga berdamai di sirkuit. Senja tidak menyangka jika dia akan kehilangan temannya karena Raga.
Lengan Senja mengepal hingga urat-urat di tangannya jelas terlihat. Wajah dan matanya memerah menahan amarah yang luar biasa pada Raga. Senja juga merasa bersalah karena dia tidak datang untuk menjemput Riki saat itu.
Senja memandangi teman-temannya dan menganggukkan kepalanya sebagai kode mereka untuk pergi dari tempat itu.
Kemudian Senja meminta izin pada Winda untuk urusannya itu."Tante Winda, Kami ijin untuk pergi sebentar!" ucap Senja. Winda mengangguk mengiyakan.
"Ayo!" ucap Senja berjalan mendahului teman-temannya.
***
Brak!
Senja menendang pintu dengan keras hingga terbuka dengan lebar dan masuk ke dalamnya. Terlihat geng Raga tengah menatap ke arah Senja dan teman-temannya karena terkejut dengan dobrakan pintu yang Senja lakukan.
Kini Senja dan juga teman-temannya sedang berada di markas Raga. Mereka biasa menghabiskan waktu mereka di tempat ini dengan bermain game online, berjudi atau sekedar minum-minum alkohol saja.
Raga dan teman-temannya pun bangkit dari duduk mereka dan menghampiri Senja dan teman-temannya.
"Mood kalian kurang baik, ya?" tanya Raga dengan santai.
"Diem lo! Gue pikir kita emang udah damai. Kenapa lo bunuh Riki?" tanya Senja.
Raga tersenyum. "Senja, kita emang udah damai, tapi Riki itu bener-bener nyebelin. Masa dia bonceng gebetan gue!"
"Gebetan? Terus lo bisa bunuh orang karena dia bonceng cewek yang lo suka? Yang jelas-jelas dia bukan cewek lo!" ucap Senja dengan nada tinggi. Senja tidak mengerti dengan apa yang ada di pikiran Raga. Karena hal sepele dia bisa bertindak semaunya. Membunuh manusia seperti membunuh seekor semut. Semudah itu dia melakukannya.
"Kalo dia gebetan gue, ya punya gue! Gak boleh ada yang deketin dia selain gue, ngerti!"
"Hebat lo bisa ngelakuin ini! Lo pikir kelakuan lo itu keren? Menjijikan!"
Raga yang mendengar kata "menjijikan" dari Senja pun emosi. Dan perdebatan antara Senja dan Raga berakhir dengan satu pukulan yang mendarat mulus di pipi kiri milik Senja. Tidak terima, Senja membalas pukulan Raga sembari membalaskan kematian Riki karenanya. Teman-teman Senja pun tidak tinggal diam. Mereka menyerang teman-teman Raga untuk membalaskan dendam mereka.
Pukulan demi pukulan mereka layangkan ke arah lawan mereka masing-masing. Kursi dan meja berjatuhan. Botol alkohol yang pecah, gelas pecah, dan kartu remi yang sudah berpencar ke sembarang arah.
Teman-teman Raga sudah kelelahan. Kini mereka pasrah tak berdaya mendapatkan pukulan dari teman-teman Senja. Tinggal Senja dan Raga yang masih saling memukul satu sama lain hingga perkelahian mereka berakhir dengan Raga yang menusukkan pisau ke perut Senja.
Senja terdiam merasakan benda tajam itu menembus permukaan kulit perutnya. Dia dapat merasakan darah yang mengalir disana. Setelah itu, Raga mencabut benda itu perlahan, berharap Senja akan merasakan sakit.
Senja meringis merasakan sakit saat Raga mencabut benda tajam itu secara perlahan.
"Lo curang! Lo selalu curang, Raga! Lo gak pernah berantem pake tangan kosong. Lo selalu pake senjata buat melumpuhkan lawan lo." ucap Senja dengan napas yang berderu setelah benda itu terlepas sepenuhnya dari perut Senja.
"Lo gak jago berantem. Lo gak pantes buat punya geng kaya gini. Lo lemah!" ucap Senja kemudian dia segera memukul bagian perut Raga hingga pisau itu terlepas dari tangannya karena pukulan tiba-tiba dari Senja.
Senja menendang pisau itu dan mulai memukuli Raga dengan sekuat tenaga, mengesampingkan rasa sakit di bagian perutnya. Dia tidak peduli dengan luka di perutnya, dia tidak peduli dengan aliran darah yang terus mengalir hingga membuat seragam putihnya berubah menjadi merah. Senja terus memukuli Raga hingga Raga terkulai lemas di lantai dengan luka di seluruh wajahnya.
Melihat Raga yang lemas dengan napas yang berderu, Senja menghentikan kegiatannya.
"Lo harusnya gak ngelakuin ini. Yang lo lakuin ke teman gue itu menjijikan, Ga! Lo keroyok dia dan lo kasih dia dua tusukan di perutnya. Lo udah bunuh temen gue! Dan gue gak terima itu!" ucap Senja seraya mengambil sebuah pisau berukuran panjang yang ada di dalam tasnya.
Dia kemudian menghampiri Raga dan berdiri di sampingnya. Napas Raga semakin berderu tatkala ia melihat Senja menatapnya dengan pisau panjang yang dia arahkan padanya.
Sreet!
"Akh!" pekik Raga saat benda tajam itu mengores pipi kirinya.
"Ini buat rasa kecewa gue ke lo!"
Sreet!
"Ini buat hal menjijikan yang lo lakuin!"
Senja memberikan satu goresan lagi pada Raga dan kali ini mengenai d**a bidang milik Raga.
Sreet!
"Ini untuk luka yang lo kasih ke Riki!"
Goresan yang mengenai tepat pada perut Raga.
"Kalo lo mau bunuh gue, cepet bunuh gue sekarang juga!" ucap Raga di tengah-tengah rasa sakit dari goresan yang Senja lakukan padanya.
Senja tak menghiraukan ucapan Raga.
Sreet!
"Ini untuk luka kedua!"
Goresan kali ini mengenai telapak tangan kiri Raga.
Sreet!
"Ini untuk pengeroyokan Riki yang lo lakuin sama temen-temen lo!"
Kali ini kembali mengenai d**a bidang Raga hingga membentuk huruf X.
Sreet!
"Dan ini buat luka Tante Winda!"
Goresan itu mengenai lengan Raga.
Sreet!
"Ini buat luka kehilangan gue dan temen-temen gue rasain!"
Senja terus memberikan luka goresan pada tubuh Raga dengan ringisan Raga setiap kali Senja memberikan goresan di tubuhnya.
Terakhir luka itu Senja arahkan ke telapak tangan kanan raga.
Raga memandangi Senja yang terlihat baik-baik saja meskipun dia sudah mendapatkan luka tusukan darinya. Raga menahan perih di tubuhnya. Senja tidak membunuh Raga namun menyiksa Raga dengan rasa sakit.
Goresan yang Senja lakukan hanyalah goresan biasa. Goresan yang tidak terlalu dalam hingga akan membunuh seseorang. Senja tidak berniat untuk membunuh Raga. Dia hanya ingin raga merasakan sakit di seluruh tubuhnya dengan luka goresan tersebut.
Cairan merah mengalir dari goresan yang Senja berikan di tubuh Raga hingga membuatnya meringis kesakitan karena perih yang dia rasakan. Sedangkan teman-teman Senja berhasil membuat teman-teman Raga lemas tak berdaya karena pukulan yang mereka berikan. Rasa marah, kecewa dan sakit hati karena kehilangan membuat mereka memukul lebih keras dari biasanya.
Senja meninggalkan Raga yang tengah kesakitan disana. Di susul oleh teman-temannya pergi meninggalkan markas milik Raga.
Senja memegang perutnya yang terkena tusukan oleh Raga. Kini dia sudah mulai lemas. Pandangannya mulai kabur dan kepalanya pusing dengan rasa sakit di perutnya.
Di tengah perjalanan pulang, Senja kehilangan kesadarannya.