Ivan dan Rani saat ini tengah berada di rumah sakit di temani oleh teman-teman Senja. Saat Senja kehilangan kesadarannya, teman-temannya membawa Senja ke rumah sakit dan kini Senja berada di ruang operasi.
Mereka telah menunggu selama kurang lebih satu jam, tetapi tidak ada tanda-tanda jika operasinya sudah selesai. Mereka semua menunggu dengan risau. Terutama Rani, yang terus menerus menangis karena menghkawatirkannya.
Setelah 1 jam 30 menit, dokter keluar dari ruang operasi. Rani langsung menghampiri dokter yang kebetulan adalah anaknya sendiri.
"Langit, gimana keadaan Senja?" tanya Rani dengan nada khawatir.
"Senja belum melewati masa keritisnya, Ma! Kita tunggu dan berdoa semoga Senja bisa cepat melewati masa keritisnya, ya!" ucap Langit.
"Ya Allah, Senja!" Pekik Rani. Tangisnya langsung pecah saat dia mendengar kabar mengkhawatirkan itu dan langsung mendapatkan pelukan dari Langit. Ivan pun berusaha menenangkan Rani dengan mengusap punggung istrinya itu dengan lembut.
"Langit, separah itu luka Senja?" tanya Ivan.
"Cukup parah, Pa, soalnya dia telat di bawa ke rumah sakit. Seharusnya pas dia dapet tusukan itu, dia langsung ke rumah sakit." ucap Langit dengan posisi masih memeluk tubuh ibunya yang semakin menangis saat mengetahui keadaan Senja saat ini.
Perasaan Ivan benar-benar campur aduk. Antara marah dan khawatir karena keadaan Senja.
Teman-temannya hanya diam tidak bersuara. Perasaan khawatir pun mereka rasakan, tetapi mereka lebih merasakan takut karena Ivan menatap mereka dengan wajah yang merah padam.
Setelah beberapa saat, kini Rani sudah mulai tenang dan Langit kembali masuk ke ruang operasi untuk memeriksa keadaan Senja.
Ivan berada di samping Rani yang masih terisak. Dia membuka ponselnya dan alangkah terkejutnya dia saat melihat berita tentang meninggalnya remaja yang terlibat perkelahian. Dia membaca berita itu yang ternyata, kejadiannya baru beberapa jam yang lalu. Kemudian Ivan menatap ke lima teman Senja dengan marah.
"Apa kalian tadi berkelahi dengan Raga?" tanya Ivan berusaha menahan amarahnya. Teman-teman Senja mengangguk.
Deg!
Jantung Ivan berhenti sejenak.
"Apa Senja bawa pisau?" tanya Ivan lagi dan teman-teman Senja kembali mengangguk.
Rani menatap Ivan yang tiba-tiba menjadi sangat tegang.
"Kenapa, Pa?" tanya Rani. Ivan hanya menatap wajah Rani. Dia tidak tega jika harus memberitahukan kepada Rani tentang kejadian itu.
"Siapa yang menusuk Senja?" tanya Ivan lagi.
"Raga, Om! Dia yang nusuk Senja," ucap Miko.
"Astaga!" ucap Ivan sembari menatap semua teman Senja dengan wajah dan mata yang memerah.
"Pa, kenapa?" tanya Rani.
"Kalian tau gak, gimana keadaan Raga dan teman-temannya sekarang?" tanya Ivan marah dan teman-teman Senja menggeleng.
"Raga, dan dua orang temannya meninggal! 2 kritis dan 1 orang sedang koma!" ucapan Ivan membuat mereka mematung. Wajah Rani menegang dan berhenti menangis seketika. Dan detik berikutnya...
Bruk!
Rani kehilangan kesadarannya. Untungnya Ivan berhasil menangkap tubuh Rani. Dia segera membawa Rani ke ruang perawatan.
***
Setelah beberapa saat, Rani akhirnya membuka matanya. Dia langsung terbangun dan memeluk suaminya sembari menangis.
"Pa, Senja," guman Rani dengan terisak.
"Senja kita, Pa ... Senja gak mungkin ngelakuin itu kan, Pa? Iya, kan?" ucap Rani menatap wajah Ivan.
"Pa, jawab! Senja gak mungkin kan ngelakuin hal itu?" tanya Rani saat Ivan tidak menjawab pertanyaannya.
Ivan diam saja. Dia tidak tahu harus mengatakan apa setelah dia mengetahui fakta mengejutkan yang dilakukan putranya.
Elang datang menghampiri Rani yang tengah menangis. Dia memberi tahu mereka jika Senja sudah melewati masa kritisnya dan saat ini dia sedang koma.
"Mamah boleh liat Senja?" tanya Rani dan diangguki oleh Langit.
***
Rani mengelus rambut Senja dengan lembut. Dia mengecup kening putranya sangat lama dengan air mata yang terus berderai. Dia menggenggam tangan Senja dan duduk di kursi.
"Senja apa yang kamu lakukan? Apa yang kamu lakukan ke mamah kamu ini, Sayang? Kenapa kamu seperti ini?" gumam Rani.
"Cepat bangun, Senja! Bangun, Nak, bilang ke Mama kalo bukan kamu yang menyebabkan mereka meninggal. Bilang ke Mama kalo kamu gak bunuh mereka! Kamu anak Mama, kamu gak mungkin ngelakuin itu kan, Sayang?" Lanjutnya.
Ivan dan Langit yang kini berada di luar menatap Rani di balik kaca pintu ruang perawatan. Mereka menatap Rani dengan perasaan iba.
"Kalian sebaiknya pulang dan jangan pernah temui anak saya lagi!" ucap Ivan pada teman-teman Senja yang masih menunggu kabar baik tentang Senja.
Mereka tidak bisa menolak apalagi membantah ucapan Ivan. Sebelum mereka pergi, salah satu dari mereka mengucapkan permintaan maaf terlebih dahulu pada Ivan.
"Kami minta maaf, Om!" ucap Doni dan mereka pun pergi meninggalkan rumah sakit.
Ivan menghela napasnya. "Senja berkelahi dan tiga di antaranya meninggal. Dua orang masih kritis dan satu orang koma." ucap Ivan memberitahu Langit dan berhasil membuatnya tertegun.
"Papa gak bisa kontrol adik kamu, Langit. Papa gak tau dimana letak kesalahan Papa dalam mendidik Senja hingga dia menjadi anak yang seperti ini. Mungkin karena Papa yang terlalu memanjakannya." ucap Ivan dengan suara yang bergetar.
"Pa, ini bukan salah Papa. Papa dulu juga memanjakan Langit, sama seperti Papa memanjakan Senja. Senja itu salah pergaulan saja Pa. Kehidupan Senja terlalu bebas sampai akhirnya dia menjadi anak yang seperti ini." ucap Langit berusaha menenangkan papanya.
"Papa harus melakukan sesuatu pada adik kamu! Papa gak bisa membiarkan dia dengan kehidupan bebasnya itu. Bisa gila mama kamu jika itu terus terjadi." ucap Ivan sembari memandang Senja di balik pintu.
"Maaf, ya Pa, Langit jarang pulang ke rumah, jadi Langit gak bisa bantu Papa. Langit baru tau tentang hal ini." ucap Langit.
"Ini bukan salah kamu. Ini salah Papa. Papa yang tidak bisa mengontrol adik kamu. Papa bersalah pada kalian, terutama mama."
"Pa, udah! Jangan salahin diri sendiri. Ini bukan salah Papa. Nanti, kalo Senja udah sadar Langit bantu buat bicara sama dia, ya, Pa!" ucap Langit sembari mengusap pundak papanya.
"Kira-kira kapan Senja bangun?" tanya Ivan.
"Entah. Bisa cepat, bisa lambat." ucapan Langit membuat Ivan hancur. Dia terdiam dan duduk di kursi penunggu yang ada disana. Kakinya lemas mendengar ucapan putranya.
Langit menghampiri Ivan dan duduk di sampingnya.
"Pa, kita berdoa saja semoga Senja bisa segera bangun, ya! Langit yakin, Senja kuat!"
"Papa khawatir dengan masalah perkelahian mereka. Cepat atau lambat, polisi akan datang kemari dan membawa adik kamu. Mereka akan datang dan memenjarakan Senja. Bagaimana keadaan mama kamu nanti?" ucap Ivan dengan tatapan kosongnya.
Langit terdiam. Dia pun memikirkan hal yang sama. Dia tidak menyangka jika Senja bisa berbuat sejauh ini. Yang Langit tahu, Senja tidak akan membuat orang tuanya khawatir terutama mamanya. Dia tahu jika Senja nakal, tetapi dia sangat menyayangi mamanya. Dia selalu mengkhawatirkan mamanya, tapi Langit tidak pernah berpikir jika Senja bisa bersikap sejauh ini hingga mengancam nyawanya dan membuat tiga orang meninggal karenanya.