Setelah obrolan mereka semalam, Kirana tak lagi bisa memejamkan matanya. Sibuk menenangkan hatinya yang menjerit menangis, meratapi kebodohannya. Sudah serusak itu hidupnya, sampai bahagia terasa seperti pinjaman yang harus dibayar dengan luka.
Dulu dia sedang bersiap berangkat ke Shanghai, sebagai penanggung jawab proyek kerjasama perusahaan tempatnya bekerja, ketika tiba-tiba papanya kena kasus hukum. Imbasnya dia bukan hanya batal berangkat, tapi juga dipecat secara sepihak. Tragisnya lagi, papanya meninggal setelah sempat koma karena bunuh diri.
Tiga tahun pernikahannya hanya manis di awal. Cerai yang sempat dia lontarkan, dibalas makian atas hutang budi keluarganya. Bukan diselingkuhi yang membuat Kirana sehancur ini, tapi sesal kenapa harus menjadikan kehilangan anaknya sebagai luka terakhir untuk membuatnya menyerah!
Tadi dia sudah menghubungi Mia. Minta disusul ke rumah sakit dan dibawakan pakaian ganti. Kirana tetap bungkam dicecar pertanyaan sahabatnya yang panik, kenapa dirinya bisa di situ.
“Haii ….” sapa Rhea yang datang ngintilin Dokter Shinta melambaikan tangan. Suaminya juga menyusul masuk.
Kirana mengangguk canggung, lalu melirik Juna. Hanya ingin penjelasan, apakah sepupunya yang ini juga sudah tahu soal ciuman itu.
“Gimana Bu Kiran, masih menggigil dan nyeri perut?” tanya Dokter Shinta menghampiri pasiennya.
“Tidak menggigil lagi, tapi perut masih nyeri, Dok!”
Suster menutup gorden, karena dokter mau memeriksa pasien. Rhea langsung menyeret Juna ke sofa. Mendudukkan dia di sana, untuk diinterogasi. Bukan! Lebih tepatnya dibully seperti biasa.
“Ciee …. Junjun sudah berani kurang ajar sekamar dengan istri orang!”
“Mulut sialan!” umpat Juna melotot. Takut terdengar telinga Kirana.
“Pasti semalam tidak bisa tidur. Terbayang-bayang waktu digampar!” Rhea makin keranjingan.
Serius, dia masih syok tiba-tiba ketemu gorila galak yang selama ini membuat mereka penasaran setengah mampus. Terlebih statusnya ternyata adalah istri orang dan enam tahun lebih tua dari Juna.
“Kalian ngobrol, nggak?” pancing Genta.
“Hm,” angguk Juna.
“Ngobrol apa? Curhat kamu yang terus dibully hingga sekarang, karena bonyok habis nyosor orang? Deritamu semalaman berendam air es sampai meriang? Atau ... nagih ciuman pertamamu yang terenggut?" Rhea cengengesan puas bisa membuat Juna jantungan.
“Nggak! Aku cuma meluruskan soal kejadian di hotel waktu itu.”
“Plong kan, sudah tidak lagi jadi terdakwa!” Genta tertawa geli.
Juna nyengir. Mengangguk dengan senyum lega. Genta merogoh ponsel, lalu mengirim rekaman CCTV yang Juna minta semalam.
“Itu rekaman yang Aben dapat dari restoran. Mereka bilang tas Kirana tertinggal di sana. Ponselnya juga ditemukan satpam di depan restoran. Hanya saja harus Kirana sendiri yang mengambilnya. Mereka tidak mau ambil resiko, meski sudah diberi tahu dia sedang opname!”
“Hm, nanti aku bilang ke dia. Terima kasih, Bang.” Juna tidak sabaran melihat rekamannya.
Rhea dan Genta yang tadi sudah membuka lebih dulu videonya, hanya diam menonton seperti apa reaksi Juna melihat kejadian miris yang Kirana alami. Marah, sampai rahang Juna kaku dan matanya mendelik nanar. Bukan karena korbannya Kirana, tapi Reno dan gundiknya benar-benar kelewatan.
Tak terbayang sesakit apa rasanya, disuguhi pengkhianatan suaminya melamar gundiknya yang hamil, tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka! Terlebih setelah Kirana mati-matian berusaha memberi pria b******k itu keturunan.
“Tidak ada masalah! Nanti Bu Kiran sudah bisa pulang.”
Juna langsung menyudahi memutar rekaman. Menghela nafas panjang, mencengkram ponselnya. Rhea dan Genta paham, karena tadi juga misuh-misuh saat menontonnya.
“Terima kasih, Dok!” Kirana mengangguk sopan.
“Jadwal kontrol minggu depan, untuk melihat kondisi pemulihan rahim. Obatnya juga harus diminum sampai habis!” pesan Dokter Shinta sebelum keluar.
Infus sudah dilepas. Kirana menemui mereka di sofa. Orang-orang baik yang sudah menolongnya semalam.
“Kirana. Terima kasih, kalian sudah menolongku!” Kirana mengulurkan tangan ke Rhea.
“Rhea, bestinya Junjun dari orok!” Anak yang punya rumah sakit itu tersenyum lebar menjabat tangan Kirana.
“Kamu …. pernah sama Juna di iklan, kan?!” Mata Kirana menyipit. Memastikan dia tidak salah tebak. Kemarin di perjalanan pulang dari rumah sakit, dia iseng mengintip video Juna.
“Hm, kami ngedance di iklan brand pakaian! Dari jaman masih ingusan, kami belajar ngedance dan ikut event bareng,” sahut Juna.
Kirana kemudian duduk tak jauh di sebelah Juna. Sedikit tak nyaman, karena mereka masih asing. Hanya saja Kirana tahu bagaimana harus bersikap, ke orang yang memperlakukannya dengan sopan.
“Sedikit kurang ajar, tapi bolehkah aku jujur?”
“Jangan aneh-aneh kamu, Rhe!” Juna panik memperingatkan bestinya untuk tidak mengungkit soal ciuman itu di depan orangnya.
“Soal?” Melihat Rhea cengengesan, Kirana sudah bisa menebak arahnya.
“Aku masih syok. Tidak menyangka tiba-tiba ketemu orang yang gampar Juna sampai bonyok!”
“Bang … suruh istrimu mingkem!” teriak Juna jengkel, tapi Genta malah ikut cekikikan.
Alih-alih tersinggung, Kirana malah tersenyum melihat Juna yang panik dengan wajah merona salah tingkah.
“Aku juga tidak menyangka, malah dia yang datang menolong saat aku celaka. Kebetulan yang sulit dinalar.”
“Kalau nggak gitu, aku tidak akan punya kesempatan meluruskan salah paham waktu itu,” sahut Juna.
“Plenger sih!” olok Genta.
“Mana dari orok lagi!” angguk Rhea.
“Haish, sialan!” dengus Juna.
Tanpa sadar Kirana ikut tertawa. Tidak secanggung yang dia kira, karena ternyata mereka seramah itu.
“Orang suruhan Bang Genta semalam sudah ke Evening Eve. Tas sama ponselmu ada di sana. Mereka bilang harus kamu sendiri yang mengambilnya.” Juna memberitahu soal itu, supaya Kirana tidak kepikiran lagi.
“Terima kasih. Nanti aku mampir ke sana,” angguknya ke Genta.
“Juna yang semalam mintaku mendapatkan rekaman CCTV restoran. Bukan bermaksud lancang ikut campur urusan pribadimu. Hanya berjaga-jaga, sebelum ada orang yang sengaja ingin menghilangkan bukti. Kamu bisa pakai sebagai senjata, jika berniat menuntut suamimu dan selingkuhannya,” ucap Dokter Genta mengagetkan Kirana.
“Hm!” Juna mengedikkan dagu ke ponsel yang dia sodorkan.
Kirana mengambilnya. Terdiam menatap rekaman yang seperti membawanya kembali, ke kejadian menyakitkan sekaligus memalukan semalam. Tatap matanya menguar penuh emosi, saat sampai di potongan adegan dia didorong suaminya hingga perutnya terbentur keras. Mereka bertiga iba melihat tangan Kirana gemetar.
“Memalukan, hal begini malah jadi tontonan banyak orang. Sekali lagi terima kasih, kalian bahkan kepikiran membantuku mendapatkan lebih dulu rekaman CCTVnya.” Kirana hebat, bisa mengontrol emosinya. Pasti sakit hati banget, tapi dia tak lagi menangis. Justru tenang dengan wajah datarnya. Entah karena sudah mati rasa atau sudah terbiasa terluka!
“Hasil visum bukti kamu hamil dan keguguran. Ditambah lagi rekaman CCTV IGD saat kamu dibawa ke sini dalam kondisi pendarahan, pasti bisa membuatmu menang mutlak di pengadilan,” ucap Rhea.
“Pengadilan tidak akan bisa memberi harga setimpal untuk nyawa anakku. Arfan Widianto tidak mungkin tidak tahu, anak perempuannya punya hubungan dengan bawahannya yang sudah beristri. Dan dia juga tidak mungkin diam saja, kalau aku menuntut keduanya.” Kirana mengembalikan ponsel Juna.
“Jadi …. kamu tidak berniat menuntut suamimu? Bukti ada. Gundiknya pun sudah hamil. Paling tidak kalau cerai, kamu bisa menggunakan itu untuk menguras hartanya. Bukan berarti menghargai nyawa anakmu dengan uang, tapi kamu berhak mendapatkan itu!” Rhea ikutan greget, kalau Kirana melepas suami bangsatnya begitu saja. Pasti tuh sampah bakal langsung menikahi gundiknya.
Mendapat tatapan lekat dari mereka bertiga, Kirana hanya tersenyum. Cerai itu pasti. Dia bahkan sangat yakin, semalam Reno dan Lusi sudah menyiapkan rencana bagaimana mendepaknya. Bahkan kalau perlu, tanpa harus kehilangan harta gono-gini yang seharusnya jadi bagiannya.
“Cerai itu pasti. Tapi … menuntut hukuman atas perselingkuhan dan KDRT berujung keguguran yang suamiku lakukan, masih aku pertimbangkan.”
“Aku bisa minta bundaku untuk membantumu menuntut keadilan, kalau yang kamu khawatirkan bakal kalah karena mereka main kotor!” ucap Juna.
Genta dan Rhea cengar-cengir melihat anak emak yang tumben gercep, langsung nyambung. Juna takut ketahuan Jingga sudah nyebur ke kisruh rumah tangga Kirana, tapi malah menawarkan bundanya untuk jadi pengacaranya. Itu gimana konsepnya coba!
“Wah, bisa-bisa aku harus jual ginjal dulu buat bayar pengacara!” Kirana tidak bercanda. Bayangkan berapa uang yang harus dirogoh, jika ingin dibela pengacara kondang satu itu.
“Nggak usah jual ginjal. Dibayar pakai hati juga boleh kok!” celetuk Rhea langsung kena tonyor suaminya. Untung saja Kirana tidak ngeh maksudnya.
“Ck, aku serius!” dengus Juna.
"Aku juga tidak bercanda!" balas Kirana.
Pintu diketuk. Mia yang datang tergopoh bersama Jonas, seketika menatap bingung dengan keberadaan tiga orang asing di situ. Hanya beberapa detik, sebelum mata Mia mengerjap kaget begitu mengenali siapa pria ganteng di samping bestinya itu.
“Duduk sini!” Kirana melambaikan tangan.
“Kamu kenapa bisa opname? Semalam bukannya kamu bilang sudah sampai rumah?! Reno mana?” cecar Jonas khawatir setengah mati.
“Jangan bilang kamu diapa-apain sama tuh beruk impoten! Aku bikin bonyok beneran dia, kalau berani nyakitin kamu!” Mia duduk di samping sahabatnya. Mendelik memeriksa, apa ada luka memar bekas pukulan di wajah dan tangan Kirana.
“Beruk impoten? Serius?!” Antara percaya dan tidak, tapi Rhea terkekeh geli mendengar julukan mereka ke suami Kirana.
“Kenalkan dulu, mereka yang menolongku semalam. Yang itu Dokter Genta dan istrinya Rhea Pradipta, wakil pimpinan rumah sakit sini. Dan ini, Arjuna! Dia yang membawaku ke rumah sakit.” Kirana mengenalkan dulu mereka ke Jonas dan Mia.
“ Jonas, bosnya Kirana. Ini Mia, adik saya!” Jonas mengangguk sopan mengenalkan diri ke mereka.
“Arjuna yang model itu, kan?!” Mia berbisik di telinga Kirana.
“Hm.”
Mulut Mia sampai menganga dan melotot ke Juna. Kalau tidak malu, pasti dia sudah memekik girang. Kirana menyikut sahabatnya yang sudah membuat Juna beringsut menjauh, karena kelakuan nyleneh Mia.
“Kamu belum jawab pertanyaanku, Kiran. Kamu sakit apa sampai opname dan sendirian di sini? Semalam aku coba telpon kamu lagi, tapi nomormu tidak bisa dihubungi!” lontar Jonas.
“Aku keguguran.”
“Haaaa?!” Mia terpekik kaget.
“Keguguran?! Kok bisa?! Semalam pulang kamu kan masih baik-baik saja!” Jonas juga tampak syok.
“Semalam aku tidak pulang, tapi menyusul Reno yang sedang makan malam dan melamar Lusi di Evening Eve.”
Jonas dan Mia mematung mendengar pengakuan Kirana. Kecurigaan mereka akhirnya terbukti.
"Tuh kan! Aku bilang juga apa, mereka pasti selingkuh!" Mia mencak-mencak.
“Reno yang membuatmu keguguran? Dia memukulmu?!” tebak Jonas dengan suara bergetar.