Proses kuret sebenarnya cuma sebentar. Tidak sampai dua jam, Kirana sudah dipindah ke kamar rawat. Biasanya pasien bisa langsung pulang setelah kondisinya pulih. Hanya saja karena beberapa alasan, mereka menempatkan Kirana untuk menginap dulu.
Pulang kemana? Sedang mereka tahu, suaminya justru orang yang sudah membuatnya keguguran. Ponsel Kirana entah kemana. Mereka mana tahu, siapa lagi keluarga dan sahabatnya yang bisa dihubungi. Tanya Kirana juga tidak mungkin. Setelah tadi sempat sadar sebentar, dia kembali tertidur seperti orang pingsan.
Entah jam berapa, Kinan terjaga. Meringis merasakan nyeri perut dan menggigil kedinginan. Dia sempat bingung karena merasa asing dengan tempat itu, namun kantung infus mengembalikan ingatannya. Sekeliling tampak remang. Jantungnya hampir copot, mendapati pria yang tertidur pulas di springbed samping. Arjuna! Tak disangka bocah tengil itu bahkan masih menemaninya di situ.
Tangan Kirana berusaha menekan tombol panggilan. Rasanya mau mati kedinginan. Gerak sedikit saja, tubuhnya makin menggigil. Bibir Kirana mendesis gemetar. Kamar seperti kulkas raksasa membuatnya membeku.
“Kamu kenapa?”
Untung saja Juna bangun, karena mendengar suara aneh. Menyalakan lampu ruangan, dia terkejut melihat Kirana menggigil hebat.
“Ehh … Kenapa menggigil?! Mana yang sakit?"” Kantuknya seketika sirna. Meraba kening Kirana, karena kalau menggigil biasanya meriang.
“Diingiiinn ….” ucap Kirana lirih.
Juna berbalik menyambar selimutnya untuk menghangatkan tubuh Kirana. Panik, dia memanggil dokter jaga.
“Menggigil begini, kenapa tidak membangunkan aku?” Juna menatap khawatir wajah pucat yang mengernyit, seperti benar-benar tersiksa itu.
Tak punya tenaga menjawab, Kirana hanya menggeleng pelan. Juna mondar-mandir tidak tenang. Baru sekali ini dia jaga orang asing di rumah sakit. Mana perempuan yang baru keguguran lagi. Kalau sudah begini, dia harus bagaimana coba!
Pintu diketuk. Juna lega, melihat dokter dan seorang suster melangkah masuk menghampiri Kirana. Gorden pembatas ditutup. Menunggu dokter memeriksa keadaan Kirana, Juna kelicatan tidak tenang. Pukul tiga dini hari. Dia juga baru satu jam tertidur.
“Sial! Kenapa jadi aku yang khawatir begini? Suaminya malah enak-enakan kelon sama gundiknya!” Juna komat-kamit menggerutu.
Bukan tidak ikhlas. Nyalinya yang hanya seuprit, sudah berkali-kali dibuat jantungan dari kemarin mengurus istri orang keguguran. Gorden dibuka setelah dokter selesai memeriksa. Juna menghampiri Kirana yang sudah mulai tenang.
“Dia kenapa menggigil begini, Dok! Apa ada infeksi?”
“Pasien tidak demam. Bu Kiran menggigil, bisa jadi karena penurunan hormon kehamilan secara mendadak, jadi mempengaruhi sistem pengaturan suhu tubuh. Atau bisa juga karena dehidrasi dan kelelahan,” jelas Dokter Rini menyuntikkan obat lewat selang infus.
“Nanti kalau masih terus menggigil begini gimana, Dok?” tanya Juna lagi.
“Ini sudah saya kasih obat. Kalau nanti masih menggigil, besok Dokter Shinta pasti akan melakukan pemeriksaan lanjutan.”
Juna mengangguk paham. Sedikit lega melihat Kirana tidak lagi meringis. Setelah dokter pergi, keduanya terdiam canggung.
Memejamkan mata, bening meleleh di antara hening di sana. Di titik paling menyakitkan, Kirana menangis bukan lagi karena disakiti orang lain, tapi karena merasa kasihan ke dirinya sendiri. Tangannya mengelus perut yang masih terasa nyeri. Merasa bersalah, anaknya mati sia-sia di tangan bajiingan yang tak pantas jadi papanya.
Melihatnya seperti itu, Juna yang paling tidak bisa melihat perempuan menangis pun makin bingung, harus bagaimana menenangkan Kirana. Dia tahu, tangisnya bukan karena lemah. Mungkin karena terlalu lama berusaha kuat.
“Menangislah, kalau itu bisa membuatmu merasa lebih baik. Tidak apa-apa! Manusiawi kok. Air mata jatuh bukan berarti rapuh, tapi karena kita masih punya perasaan,” ucapnya menatap iba.
Perlahan mata Kirana membuka. Yang pertama dilihatnya, adalah tatapan lembut dan senyum hangat pria yang berdiri di sampingnya ini.
“Apapun masalahmu, kamu bisa bertahan sejauh ini saja adalah bukti kamu lebih kuat dari yang kamu kira!” Juna mengulurkan tisu.
Tak sepatah kata keluar dari bibir Kirana. Hanya menerima tisu dan mengusap air matanya. Lucu, justru bocah ini yang menemani dan menenangkan tangisnya. Bocah tengil yang kemarin siang membuatnya melengos menahan tawa, karena kelakuan konyolnya jatuh tersungkur menabrak bangku di lobi bawah.
“Masih dingin? Kalau perlu, aku minta diantar selimut lagi!”
“Nggak,” geleng Kirana tak kalah kikuk.
“Atau … kamu mau minum? Aku ambilkan, ya?” tawarnya.
“Hm.” Karena haus, Kirana pun mengangguk.
Juna menuang setengah gelas air putih hangat, lalu menaruh sedotan.
“Sudah kuat duduk? Kalau belum, aku tinggikan dulu tempat tidur bagian atas?”
“Tinggikan saja!” jawab Kirana, karena perutnya masih nyeri buat duduk.
Juna menekan tombol untuk meninggikan tempat tidur, hingga Kirana bisa duduk menyandar dengan nyaman.
“Pelan-pelan minumnya!” Juna menyodorkan gelasnya.
Canggung, tapi Kirana mode jinak begini setidaknya tak membuat Juna takut. Semalam saat belum sadar, dia yang gabut sendirian tanpa teman, sampai kayak orang sinting terus mantengin wajah si gorila galak. Tetap cantik, meski tanpa polesan make up. Terlihat tenang, seolah tanpa beban.
“Terima kasih,” ucap Kirana.
“Perutmu masih sakit?” Juna menarik kursi untuk duduk.
“Sudah mendingan.”
“Mau tidur? Aku turunkan lagi ranjangnya?” tanyanya telaten.
“Nanti.” Kirana menggeleng. “Kamu tidur saja dulu, tidak apa-apa!”
Hening lagi. Juna masih menimbang, mau menyingkir membiarkan Kirana yang butuh waktu untuk tenang, atau mengajaknya mengobrol.
“Sorry, kalau kamu tidak nyaman dengan keberadaanku di sini. Habisnya bingung harus menghubungi siapa buat jaga kamu.” Dia akhirnya memberanikan diri membuka percakapan.
Kirana menggeleng. Sumpah, dia masih tidak menyangka justru bocah ini yang menolongnya! Setelah dua kali kejadian tidak mengenakkan mereka, Juna bahkan masih sudi sampai menginap menjaganya di sini. Padahal bisa saja dia langsung pergi, setelah mengantarnya ke rumah sakit.
"Ponselku kayaknya jatuh di sana." Sekarang Kirana bingung. Dia tidak pulang dan tidak bisa dihubungi. Bagaimana kalau Reno dan mertuanya menelpon mamanya? Dia tidak peduli mereka marah, hanya khawatir mama dan adiknya bingung mencarinya.
"Aku sudah minta orang untuk mencoba mencarinya ke sana. Kalau ketemu, besok pasti diantar ke sini. Kamu kalau mau menghubungi keluargamu, bisa pakai ponselku dulu!" ucap Juna melihatnya diam.
"Hm, terima kasih sudah menolongku,” sahut Kirana.
"Namaku Arjuna. Panggil saja Juna!"
Arjuna, orang tua bocah ini tidak berlebihan memberi nama anaknya. Estetik dan sesuai wajahnya, Kirana akui itu!
"Yang mukanya berharga mahal itu, kan?!"
Disindir karena profesinya yang memang jual tampang, Juna malah terkekeh. Fakta, dia jadi brand ambassador skin care dan beberapa brand komersial lainnya.
“Boleh, aku minta waktu sebentar untuk menjernihkan kejadian waktu itu? Bukan mau membela diri. Apapun alasannya, aku tetap salah sudah kurang ajar ke kamu. Hanya saja, aku beneran tidak sebrengsek yang kamu kira!” Ragu, Juna mengeluarkan uneg-unegnya selama ini. Meski situasinya tidak tepat, tapi hanya ini kesempatannya bicara empat mata dengan Kirana.
Menatap Arjuna, Kirana justru ingat kejadian itu lagi. Bagaimana dia ditindih tubuh tinggi kekarnya, juga dicium panas oleh bibir kurang ajar itu. Yang paling keranjingan, bocah ini menggesekkan …
“Haish!” Tanpa sadar Kirana mendengus kesal dengan otak sintingnya. Bisa-bisanya malah ngelantur kemana-mana.
Mengira Kirana marah dia menyinggung lagi soal itu, Juna pun seketika kicep. Harusnya dia tidak makin membuat Kirana marah, di saat moodnya sedang morat-marit oleh perselingkuhan suaminya dan kehilangan anak.
“Sekali ini saja! Lain kali jangan bahas soal itu lagi!” ucap Kirana mengabulkan permintaan Juna.
Dapat kesempatan meluruskan masalah, Juna mengangguk lega. Dia menegakkan punggung. Sedikit grogi, hingga tangannya berkeringat dingin harus buka aibnya lagi.
“Hari itu sepupu kembarku, Sagara dan Biru menikah bareng di sana. Kamu pasti masih bingung yang mana orangnya, tapi mereka sudah tahu kamu!”
“Haa?!” Kirana betulan kaget. “Sepupumu bagaimana bisa tahu aku? Tahu dari mana? Ketemu saja tidak pernah!”
“Tahu dari rekaman CCTV. Mereka kan anak yang punya hotel, jadi punya akses mengecek kamera di setiap sudut sana. Tadi siang mereka juga di lobi bawah saat kamu pergi.”
Kirana syok. Dia pikir tidak ada yang tahu tentang kejadian memalukan malam itu. Ternyata malah jadi tontonan mereka. Sampai-sampai mukanya sudah ditandai. Kan sialan itu namanya!
Ditandai?! Matanya seketika melebar. Sekarang dia ngeh, kenapa perempuan bermuka judes di lift kemarin menatapnya sesinis itu. Jingga! Kirana sampai mengecek nama para cucu keluarga Lin, saking greget dipelototin di lift. Ternyata memang sudah tahu, dia yang menggampar Juna.
“Sepupumu yang hamil itu juga sudah tahu, kan?! Makanya tadi siang di lift sinis banget ke aku!”
“Siapa?!” Juna mengernyit.
“Oh … Jingga! Maaf, kalau kamu tersinggung. Dia dari cetakannya sana memang mukanya serem gitu kok!”
Juna nyengir. Bukan cuma mukanya yang serem, sepak terjangnya bahkan jauh lebih sadis. Anteng, tapi sekali gerak jangan harap ada yang selamat! Makanya Juna wanti-wanti ke Dokter Genta saat minta tolong mendapatkan rekaman CCTV restoran, supaya jangan sampai Jingga tahu. Dia sudah diperingatkan sepupunya itu, untuk tidak berurusan dengan Kirana.
“Kalau ada sepupu yang nikah, kami biasa suka ngerusuhin pengantinnya. Malam itu mereka usil kasih coklat begituan ke Gara. Sialnya karena tidak tahu, aku malah ikutan makan coklatnya!” Juna menceritakan akar mula dia keracunan obat perangsang.
“Bego!” Belum-belum Kirana sudah dibuat gedek.
“Merasa ada yang tidak beres, aku pulang duluan. Sayangnya sudah terlanjur bereaksi, sampai aku kliyengan. Waktu mau menyandar sebentar, kebetulan kamu juga buka pintu dari dalam. Sumpah demi Tuhan! Aku bukan pria b******k yang sengaja mau kurang ajar ke kamu. Cium kamu, itu juga diluar kendaliku. Maaf,” jelas Juna meringis sungkan.
Mata Kirana menatap lekat bocah tengil yang sedang gugup salah tingkah di sampingnya itu. Padahal dia tidak ingin mengingat-ingat lagi kejadian itu, tapi setelah beberapa bulan berlalu malah bertemu lagi dengan Juna. Tadinya dia kira Juna memang sebrengsek itu. Model kelas atas dan anak konglomerat, biasanya kan tak jauh dari kehidupan bebas.
Kirana bahkan sempat eneg banget, setiap kali melihat Sasha Dewanti muncul di berita. Pengacara kondang yang dikenal tidak pernah mau membela koruptor maupun kasus narkoba, tapi ternyata anaknya sendiri juga sebrengsek itu sepak terjangnya! Mana Juna kan digandrungi karena ganteng, biasa sok imut, jago ngedance, dan akrab dengan penggemarnya. Kirana kira nih bocah munafik poll, sok manis untuk menutupi kelakuan bejatnya.
“Kamu masih marah?” Juna yang terus dipelototi Kirana pun makin ciut nyalinya.
“Nggak,” geleng Kirana.
“Beneran?!” Seketika mata Juna melebar.
Melihatnya selucu itu, bagaimana Kirana tidak tersenyum coba! Mukanya seperti anak kecil yang syok, setelah permintaannya dikabulkan.
Kalau Juna sebrengsek yang dia kira, mana sudi menolongnya semalam! Bahkan, masih menemani dan menjaganya sampai sekarang. Padahal mereka tak saling kenal. Bisa saja Juna pergi meninggalkannya. Terlebih setelah mendengar cerita sebenarnya tentang kejadian malam itu, Kirana bisa memakluminya. Juna baik, begitupun emaknya yang kemarin menunjukkan kepeduliannya.
“Hm.” Kirana mengangguk. “Kamu juga tidak sengaja. Jadi ya sudah!”
“Hehehehe ….” Juna nyengir dengan senyum lepasnya. Seperti lega bukan main setelah divonis tak bersalah.
Bibir Kirana berkedut. Pantas saja masih gelendotan ke emaknya, ternyata memang selucu ini orangnya.
“Kamu kenapa memanggilku gorila galak?” tanya Kirana ingat bagaimana Juna kaget memanggilnya di depan Evening Eve.
“Haaa?!” Juna gelagapan. “Ituuu, bukan … maksudnya … kamu salah dengar!” Matanya mengerjab menjawab belepotan gagap.
Kirana tersenyum menggeleng, lalu menekan tombol menurunkan tempat tidurnya. Dia bahkan diberi panggilan gorila galak, oleh bocah tengil yang masih jadi bahan tertawaan sepupunya karena terjungkal mencium lantai kemarin.