Tidak akan ada yang paham, bagaimana rasanya kuat tapi capek. Tiga tahun lalu, dia datang ke rumah ini dengan secuil harapan bisa menemukan bahagia di sini. Namun, ternyata tulus dan tidak pernah banyak menuntut pun, tidak cukup untuk membuatnya dicintai selayaknya. Lelah terus ditekan soal momongan, setahun lalu Kirana sampai pernah mengajak cerai. Reno kemudian mengalah, bersedia menjalani pemeriksaan kesuburan ke rumah sakit.
Sekarang Kirana paham. Kecelakaan yang Reno alami beberapa bulan lalu, adalah karma dari pengkhianatan pernikahan mereka. Tuhan menyempurnakan hukumannya, dengan mengambil kembali anak yang bahkan belum sempat Reno ketahui hadirnya di rahim Kirana.
Pulang diantar hingga depan rumah, Mia ngotot ingin menemani Kirana masuk. Melihat beberapa mobil terparkir di halaman, jelas mereka sudah berkumpul menunggu kepulangan Kirana. Selain spam panggilan tak terjawab, ponsel Kirana yang dari semalam mati kehabisan baterai dipenuhi chat masuk. Dia baru membuka puluhan pesan dari suaminya tadi.
“Kamu dimana?! Sudah berani kurang ajar, jam segini belum pulang!”
Itu Reno kirim saat Kirana pendarahan hebat dan anak mereka sedang sekarat. Sementara pria sialan itu tanpa rasa bersalah, justru mengumpat menanyakan keberadaan istri yang tadi dia dorong, seret, dan tinggalkan begitu saja di pinggir jalan. Pergi bersama selingkuhannya.
“Kirana! Angkat teleponku! Jangan ngelunjak kamu!”
“Pulang sekarang juga! Kita selesaikan soal tadi! Anakku tidak bisa menunggu lebih lama, tanpa kejelasan status!”
Kirana sampai gemetar. Saat dia merintih dan menangis minta tolong menyelamatkan anaknya, Reno malah mati-matian ingin memberi status ke si anak rubah.
“Aku sudah bersabar selama tiga tahun. Sadar diri, Kirana! Aku tidak butuh perempuan mandul!"
Dan masih banyak pesan menyakitkan hati yang Kirana dapat. Bukan hanya dari suaminya, tapi juga mertua dan iparnya. Dia diselingkuhi. Keguguran, terkapar belepotan darah di rumah sakit sendirian. Dan di waktu yang sama, para manusia terkutuk itu sibuk menghujatnya habis-habisan karena dikira mandul! Tidak sabar ingin menendangnya keluar dari rumah mereka. Menjadikan rubah betina bunting itu jadi menantu keluarga Renandi.
Demi cucu?! Munafik kalau mereka menjadikan cucu sebagai alasan. Kalau bukan karena Lusi anak boss Purewell Grup, mereka tidak akan rela malu begini menerima jalang selingkuhan anaknya sebagai menantu.
"Sekeluarga sampah semua! Pasti mereka sudah lama tahu anaknya selingkuh!" dengus Mia.
"Hm, aku juga mikir gitu," angguk Kirana.
“Kami tunggu di sini, Kiran!”
Jonas tampak khawatir, tapi dia tahu batasan. Bukan ranahnya ikut campur kisruh rumah tangga Kirana. Apalagi sampai ngintilin masuk menemui mereka. Bisa-bisa justru dijadikan celah menuduh Kirana yang semalam tidak pulang.
“Iya, aku dan Bang Jonas berjaga-jaga di sini! Kalau mereka macam-macam, teriak saja!” Mia masih menggenggam tangan dingin sahabatnya.
“Tidak usah! Mereka bukan tandinganku!” Kirana seperti mengingatkan Jonas dan Mia, kalau mereka tidak akan bisa menyentuhnya. Semalam kalau bukan karena perutnya sakit, maka sekarang Reno pasti menangisi tangannya yang patah.
“Gimana kalau kamu nanti diusir?” Mia sudah hampir mewek. Sakit hati banget dia, sahabatnya diperlakukan kayak gini.
“Tak diusir pun, aku juga tidak sudi tinggal seatap dengan mereka lagi! Setelah urusanku beres, aku akan membawa barang-barangku enyah dari sini,” sahut Kirana.
“Kalau kamu tidak ingin pulang ke rumah mamamu, tinggal dulu di rumah kami! Atau ikut aku ke apartemen, sebelum kamu dapat tempat tinggal!” ucap Jonas.
“Gampang! Aku selesaikan urusan dengan mereka dulu!” Kirana membuka pintu, lalu turun dari mobil. “Kalian balik saja ke kantor! Nanti aku kabari,” lontar Kirana sebelum kemudian menutup pintu dan melangkah ke arah gerbang.
Menghela nafas panjang, tangannya mendorong pintu di depannya. Mungkin ini kali terakhir, dia menginjakkan kaki di sini. Datang dengan harapan, pergi membawa luka. Tiga tahun hidupnya terbuang sia-sia di tempat dia tidak pernah dihargai.
Suara gelak tawa terdengar renyah dari dalam sana. Yakin, pasti ada Lusi! Kirana terkekeh geli. Apakah dia harus kasihan ke mereka yang sedang merayakan ketololannya?! Tawa yang sama, tapi untuk dua alasan berbeda. Satu menyambut calon cucu, satunya lagi girang umpannya tepat sasaran.
“Wah, baru ini lihat sekeluarga tertawa girang mukanya tercoreng aib! Di luar sana jadi gunjingan, tapi malah bangga selingkuh dan hamil anak haram!”
Seketika semua menoleh. Kicep, menatap berang orang yang semalaman tak pulang, lalu tiba-tiba datang dengan mulut kurang ajarnya. Reno mendelik. Tidak terima anaknya dihina sebagai anak haram.
“Jaga mulutmu!”
“Kata bajiingan laknat yang bahkan tidak bisa menjaga selangkangannya!” balas Kirana terkekeh jijik ke suami dan gundiknya.
“Kamu sendiri istri macam apa, tidak pulang semalaman?! Kemana? Jangan bilang tidak terima aku melamar Lusi dan mau punya anak dari dia, lalu kamu membalas dengan tidur bersama bosmu!” tuduh Reno sinis.
“Halah, paling juga sejak dulu mereka memang sudah selingkuh! Tiap hari berduaan sampai malam di kantor. Dikira kita segoblok itu bisa dikibuli!” adik Reno ikut mengompori.
“Jangan karena kelakuan kalian yang rendahan, lalu menganggap semua orang sama bejatnya dengan kalian. Sekarang semua tahu, aib memalukan anak boss Purewell Grup hamil dan jadi selingkuhan pegawainya yang sudah beristri. Itu yang kalian banggakan di depanku?!” Kirana tertawa remeh.
Tiba-tiba dia melempar tasnya ke Lusi yang duduk menggelendot di lengan Reno. Rubah bunting itupun menjerit gelagapan mundur. Reno dan yang lain panik, mengira Kirana mengamuk mau mencelakai Lusi.
“Minggir! Menjijikkan, menggatal ke suami orang sampai segitunya!” Kirana merebut posisi duduk di samping Reno.
“Kirana ….” bentak Reno melotot.
“Apa?! Aku istrimu. Selama aku tidak setuju cerai, dia tidak akan pernah bisa jadi nyonya di rumah ini! Anak itu, selamanya akan jadi anak haram tanpa status! Jadi jangan pernah berteriak mengancamku!” desis Kirana membalas dengan tatapan menantang.
“Renooo ….” rajuk Lusi memelas.
“Dasar gila! Awas saja kalau sampai Lusi dan cucuku kenapa-napa!” Silvi mama Reno beralih duduk di samping Lusi.
“Tidak tahu diri! Kalau bukan karena kamu mandul, Bang Reno juga tidak akan mencari perempuan lain untuk mendapatkan anak!” maki Nadin, ipar Kirana yang luar biasa tajam lidahnya.
Kirana menoleh. Tertawa mengejek ke Lusi yang mendekap perutnya. Mungkin takut ditonjok istri selingkuhannya yang sedang mengamuk. Mengingat semalam Kirana juga menggila mendorong dan menamparnya di restoran.
“Dengar, kan?! Kamu hanya alat penghasil anak bagi mereka! Dimana harga dirimu? Bangga jadi selingkuhan suamiku. Padahal dia hanya menjadikanmu batu loncatan, untuk ambisinya yang haus jabatan!” olok Kirana sengaja memancing rubah betina congkak itu.
“Jangan coba menghasut Lusi!” bentak mama Reno menuding ke menantunya. Lusi menyeringai pongah, mendapat pembelaan calon mertuanya.
“Kamu saja anak maling. Bagaimana bisa tidak malu, menghina Lusi yang punya latar belakang dari keluarga terhormat!”
Mendengar mendiang papanya dihina maling, emosi Kirana pun meluap. Dia menyambar telunjuk sialan yang menuding padanya, lalu memelintir hingga mertuanya menjerit histeris.
“Argghhhhh ….”
“Tante ….” Lusi gelagapan takut.
“Apa-apaan kamu, Kirana! Lepas! Mama kesakitan, sialan!” Reno menarik tangan istrinya. Berusaha melepas telunjuk mamanya yang dipelintir kuat. Papa dan adiknya juga mendekat, mencengkram tangan Kirana.
“Kurang ajar! Dia mertuamu!” bentak Edgar Renandi.
“Coba saja hina papaku lagi, kalau kalian berani! Aku patahkan leher kalian!” Kirana menepis kasar telunjuk mertuanya yang menangis kesakitan.
“Beraninya kamu menyakiti mamaku!” teriak Nadin dengan tangan terangkat tinggi, lalu melayang.
Belum sempat tamparan itu menyentuh wajah Kirana, Nadin sudah lebih dulu mental kena tendang.
Bruukk
“Nadiiinnn ….” teriak mereka melihat gadis itu terjengkang jatuh menghantam meja.
“Argghhhh …. keparatt kamu, Kiranaaa!” pekiknya sambil menggeliat meringis merasakan punggungnya berdenyut sakit.
Kirana tertawa. Duduk angkuh menikmati wajah-wajah syok mereka. Terlebih suaminya yang seperti bertemu hantu di siang bolong. Selama ini dia selalu diam. Jangankan bersikap kasar, membalas makian mereka saja jarang. Sekarang mendadak keranjingan garang main tangan ke ipar dan mertuanya.
“Selama ini aku diam, karena masih menghargai kalian sebagai suami, ipar, dan mertua. Sekarang aku tidak punya alasan lagi, memaklumi mulut sampah dan kelakuan tak bermoral kalian! Mau memukulku?! Coba saja kalau kalian bisa!” Kirana menyeringai mengangkat dagu di depan suaminya.
“Gila! Kamu benar-benar sudah tidak waras!” Reno menarik Lusi membawanya duduk menjauh dari Kirana.
“Barang-barangmu sudah kami kemasi. Tandatangani surat cerai, lalu minggat dari sini!” Edgar Renandi melempar berkas ke atas meja depan menantunya.
Kirana menoleh. Matanya tampak nyalang. Barang-barangnya diperlakukan seolah sampah. Ditaruh ke beberapa plastik hitam besar, lalu ditumpuk asal di lantai depan pintu kamarnya dan Reno.
“Kamu sudah tidak ada gunanya lagi di sini! Anggap saja kami yang sial. Membuang ratusan juta, hanya untuk mendapatkan menantu mandul sepertimu!” ucap Silvi sejahat itu mulutnya ke Kirana.
“Mandul?!” Kirana tertawa menatap Reno yang merangkul gundiknya.
“Kenapa?! Masih tidak terima dibilang mandul?” Reno mendecih mengelus perut Lusi yang sudah terlihat agak buncit.
“Tiga tahun perutmu masih kosong melompong! Lihat, anakku di sini! Dokternya saja yang idiott, tidak bisa membedakan mana wanita mandul dan mana yang rahimnya subur!”
Alih-alih marah dihina habis-habisan oleh suami yang mati-matian dia usahakan bahagianya selama tiga tahun ini, Kirana justru tersenyum geli. Dia bersumpah, tiba saatnya nanti akan membuat mereka semua membayar hinaan ini! Terlebih Reno. Kirana tidak akan membiarkan anaknya mati sia-sia.
“Reno … Reno! Tiga tahun menikah. Aku kalau jadi kamu, pasti tidak akan punya muka petantang-petenteng menghina istrimu mandul begini! Tanya ke Lusi yang juga sudah ngangkang kamu tiduri! Sepayah apa kamu di atas ranjang!”
Duaarr
Reno terperangah dengan muka memerah. Orang tua dan adiknya diam menatap kaget. Sementara Lusi gelagapan, tiba-tiba ditodong pertanyaan nyleneh begini.
“Sebelum menghinaku mandul, pastikan dulu apakah anak kalian cukup mampu menghamili istrinya! Aku heran, bagaimana bisa Lusi sudi ke pria yang kayak aki-aki impoten begini. Tak masuk diakalnya lagi, dia bahkan langsung hamil. Wow …. aku yang mandul atau Lusi yang kelewat subur, sampai kecebong jompo Reno yang tiga tahun gagal membuatku hamil, langsung jadi anak di perutnya!” Kirana benar-benar menelanjangi aib suaminya di depan keluarganya sendiri.
"Mulut sialan!" teriak Reno sampai gemetar saking emosi.
"Kenapa?! Tidak terima aku bilang impoten?" Kirana tersenyum puas, lalu meraih surat cerai di depannya.
"Apa gunanya ganteng, kalau loyo di ranjang! Paling sebentar lagi kamu juga dilepeh. Rubah liar haus belaian kayak dia, mana sudi harus merana dapat pria tidak berguna sepertimu!"
"Kirana ..."
Tidak menggubris teriakan marah suaminya yang merasa terhina. Mata Kirana menyipit membaca isi berkas di tangannya, lalu melempar ke muka Reno. Persis seperti dugaan Jonas. Mereka menyuruhnya menandatangani surat cerai dan pernyataan tidak akan menuntut apapun. Termasuk harta gono-gini.
"Jangan harap bisa menendangku pergi dengan tangan kosong dari sini, sialan!"