Kalau ingin melihat kejamnya perempuan tulus, maka lihatlah ketika mereka sudah menggunakan logika tanpa perasaan! Kirana yang biasa kalem, jadi kasar menakutkan. Dia tidak pernah menanggapi hinaan mereka, sekarang bahkan menelanjangi aib suaminya. Harga diri pria sialan itu bukan lagi urusannya. Reno harus tahu, seperti apa rasanya ketika aibnya dijadikan cemoohan di depan orang lain!
Kirana bicara fakta. Yang dia tutupi bukan hanya kekurangan Reno soal urusan ranjang, tapi juga hasil pemeriksaan kesuburan mereka tahun lalu, dan vonis dokter saat suaminya mengalami kecelakaan. Kalau Reno tidak bermasalah, buat apa Kirana sampai harus buang uang melakukan program bayi tabung!
Surat cerai yang kusut menggumpal itu teronggok di lantai, setelah menghantam muka Reno. Syok, mereka makin dibuat tercengang dengan kelakuan kurang ajar Kirana yang makin meledak-ledak. Dikira dia akan tunduk menurut diceraikan oleh Reno. Tahu diri, tidak menuntut apapun dan segera angkat kaki dari sana. Di luar dugaan, dalam semalam Kirana justru berubah jadi sekasar ini.
“Tidak tahu diri! Jangan lupa, kamu jadi menantu keluarga ini karena berhutang ke kami! Makan, tidur, dan hidup menumpang gratis. Masih untung kami tidak minta kamu mengembalikan uang yang dulu buat bayar pengobatan papamu. Bisa-bisanya malah tidak tahu malu, dicerai pun mau merampok uang anakku!” maki Silvi kesal, Kirana menolak tanda tangan.
“Gratis, katamu?!” Kirana tertawa merogoh ponselnya. Menunjukkan bukti barang-barang mahal yang selalu diminta mertuanya, dengan dalih hadiah ulang tahun maupun saat perayaan hari ibu.
“Melek dulu mata kalian! Apa saja yang sudah kamu minta dariku selama tiga tahun ini! Tas, dompet, perhiasan, bahkan anak perempuanmu ke luar negeri pun aku yang diminta bayar! Totalnya berkali lipat dari uang yang selalu kalian ungkit sebagai hutang. Jadi … siapa yang tidak tahu malu di sini, hm?!”
Disodori bukti, mama dan adik perempuan Reno pun kelabakan. Tidak menyangka, ternyata Kirana menyimpan sedetail itu nota pengeluarannya.
“Licik! Dulu kalian membayar biaya rumah sakit papaku, tanpa persetujuan kami. Setelahnya terus mengungkit dan menggunakan itu untuk menekanku. Sejak lama aku mau mengganti uangnya, tapi kalian yang menolak!”
“Hadiah kamu yang kasih. Kami tidak memaksa minta kok! Lucu, sekarang malah mengungkitnya!” cibir Nadin.
“Tidak memaksa, tapi terus menagih! Mental pengemis! Pantas saja kalian girang Reno selingkuh dengan anak bosnya. Karena nemu orang yang bisa kalian poroti! Benalu menjijikkan!” Kirana mendecih sinis.
“Aku bukan orang pelit. Beda dengan kamu yang perhitungan, karena gajimu tak seberapa. Sampai-sampai mengungkit pemberian ke mertua dan ipar sendiri!” Lusi tertawa mengolok.
Mendengar itu Reno pun bangga bukan main. Terlebih emak dan adiknya, girang layaknya nemu ladang uang.
“Berhentilah ngoceh! Lusi tidak sebodoh itu termakan hasutanmu. Kalau kamu tidak mau tanda tangan sekarang, maka pengacaraku yang akan mengurus semua di pengadilan! Sepeser pun, jangan harap bisa mendapatkan hartaku!” Reno menginjak kertas di bawahnya.
“Pengadilan?! Yakin, pengacara bisa memenangkanmu?!” Terkekeh, Kirana pamer rekaman CCTV dari Juna.
Lagi-lagi mereka dibuat jantungan, melihat bukti yang dimiliki Kirana. Reno dan Lusi melotot gusar. Di luar perhitungan mereka, kalau Kirana sudah gercep merencanakan semua hanya dalam waktu semalam.
“Sialan!” umpat Reno. Papanya mendelik kesal, karena anaknya malah terjebak permainannya sendiri.
“Diamku, bukan berarti bodoh. Hanya tidak sudi meladeni mulut-mulut sampah yang selalu ngoceh tanpa pakai otak. Tanpa kamu ceraikan pun, aku pasti menggugatmu! Jangan harap bisa menendangku begitu saja, tanpa menyerahkan apa yang seharusnya jadi hakku!” Kirana bahkan menunjukkan rekaman pertengkaran mereka barusan, yang ternyata diam-diam dia rekam.
“Kurang ajar! Kamu merekamnya!” teriak Nadin menerjang hendak merebut ponsel iparnya.
Tidak menghindar. Kirana justru menyeringai. Mendorong Nadin yang seperti orang kesetanan berusaha menyambar ponsel di tangannya, lalu menjambak rambut gadis itu kasar.
“Apa-apaan kamu menjambak anakku!” jerit Silvi buru-buru bangun menghampiri keduanya.
Pun dengan Reno ikut mendekat. Bukan menolong Nadin, tapi menggunakan kesempatan Kirana kewalahan menghadapi pukulan mama dan adiknya, untuk merebut ponsel itu.
Entah apa yang di otak mereka, sampai serendah itu mengeroyok Kirana. Padahal kalau bisa direbut dan menghapus rekaman juga percuma, karena itu hanya duplikat. Kirana masih bisa mendapatkan lagi sebanyak yang dia mau.
“Ambil ponselnya, Ren! Buruan!” seru Lusi.
Plaak
Pipi Kirana berdenyut panas kena tamparan mertuanya. Sementara Lusi yang meronta dengan wajah mendongak karena rambutnya dijambak ke belakang, juga memukul membabi buta.
“Mau memerasku?! Jangan mimpi!” geram Reno mencengkram pergelangan tangan istrinya.
Dalam kondisi masih lemah dan perut nyeri setelah keguguran, Kirana masih harus menerima perlakuan tak manusiawi dari suami, mertua, juga iparnya.
“Dasar tidak tahu diri! Mau main-main dengan kami, ha?!” Silvi balas menjambak Kirana.
Meringis kesakitan, Kirana pun kalap. Dia menendang mertuanya, tepat sebelum Edgar Renandi juga beranjak dari duduk mau ikut mengeroyoknya.
Braakk
“Argghhh ….” Silvi jatuh terjungkal.
Kepala Kirana berdenyut pusing, karena rambutnya yang dijambak tertarik kuat. Ponselnya sudah hampir terlepas. Tangannya seperti mau patah dicengkeram kasar oleh Reno.
“Kirana ….” pekik Mia yang muncul di pintu bersama abangnya. Keduanya nekat masuk, karena takut Kirana kenapa-napa. Dan ternyata sahabatnya benar-benar sedang dianiaya.
Mereka menoleh kaget. Darah Jonas mendidih melihat Kirana ditindih oleh Reno dan dipukuli oleh Nadin. Berlari dengan tangan terkepal, dia menjotos Reno yang gelagapan tanpa sempat menghindar.
Bugh
“Bajiingaan! Beraninya menyakiti Kirana!” teriak Jonas menarik kerah Reno yang terjungkal ke samping, lalu membogemnya bertubi tanpa ampun.
Kirana bangun. Masih dengan tangan menjambak iparnya, lalu menampar mulut kurang ajar yang selalu menghinanya itu.
“Paaaa, tolong!” teriak Nadin menangis minta papanya menyingkirkan Kirana yang kalap menghajarnya.
“Berhenti! Kalau tidak, aku akan telpon polisi!” ancam Edgar emosi.
“Telpon saja! Nanti aku bantu panggilkan pengacara dan wartawan, supaya makin geger skandal memalukan kalian. Anak boss Purewell Grup selingkuh dan sekongkol dengan kalian menganiaya istri sah!” tantang Mia ikutan memukuli Nadin.
Brukk
Nadin tersungkur keras jatuh ke lantai, setelah Kirana mendorongnya. Pipi Kirana merah kebiruan kena tampar. Dia menoleh. Menatap nyalang suaminya yang meringkuk digebuki Jonas.
“Sudah, Bang!” ucapnya serak.
“Sampah!” Jonas mundur. Tangannya yang terkepal gemetar hebat. Sementara Reno meringis dengan muka babak belur.
Kirana mendekat. Berdiri di hadapan suaminya dengan mata menguar terbakar amarah. Pergelangan tangannya sampai lebam.
“Mau ponselku?! Ambil!” Dia menyodorkan ponsel yang mati-matian ingin mereka rebut darinya itu.
Reno beringsut mundur. Tidak berani mengambil ponsel di tangan istrinya. Matanya jelalatan gusar. Ketakutan berhadapan dengan Jonas yang masih menatap berang, juga Kirana yang tampak seram.
“Ambil!” bentak Kirana menggelegar keras.
Suaminya sampai terjengkit kaget. Hanya dalam hitungan detik, Kirana menghantamkan ponselnya ke kepala Reno. Memukul sekuat tenaga, untuk membalas perlakuan biadab yang pecundang ini barusan lakukan padanya.
Bugh
“Arghhhhhh ….” Reno memekik keras. Dia sampai kliyengan saking keras pukulan istrinya.
“Renooo ….” jerit Silvi melihat anaknya kelicatan memegangi kepalanya.
Belum puas membalas, Kirana yang mati-matian menahan sakit hati kehilangan anaknya, melampiaskan emosi ke orang yang sudah membunuh darah dagingnya sendiri itu. Tak cuma menampar, dia juga menjambak dan menjotos suaminya. Orang tua Reno menjerit panik, tanpa berani mendekat, karena Jonas pasang badan di samping Kirana. Lusi apalagi. Malah menjauh, takut juga kena amuk Kirana yang menggila.
“Ampun! Cukup, Kirana! Aku suamimu!” teriak Reno yang kewalahan menghindar.
“Hajar sampai mati sekalian, Kiran! Sampah seperti dia jangan dikasih ampun. Dari dulu harusnya kamu tegas. Tidak membiarkan beruk impoten dan para manusia terkutuk kayak mereka menghinamu seenaknya!” seru Mia malah mengompori.
Tersengal, Kirana berhenti setelah puas menghajar pengkhianat sialan itu. Tangannya sampai kebas dan panas. Lihat saja muka Reno yang makin bonyok. Darah merembes dari kening.
“Darah! Sialan kamu, Kirana! Kami pasti akan menuntutmu!” pekik Silvi menangis menghampiri anaknya.
“Tuntut saja! Aku tidak takut. Ini bahkan belum seberapa, dari apa yang sudah dia lakukan padaku!” sahut Kirana menyeringai menyambar tisu, mengelap tangan dan ponselnya yang kena darah.
“Jangan pikir karena gundik itu anak orang kaya, lalu kalian bisa menggertakku! Mau ribut di pengadilan, ayo! Aku punya banyak bukti yang bisa menyeret anakmu ke penjara, juga menjadikan Purewell sebagai cemoohan. Mau coba?!” tantang Kirana membalas tatapan membunuh Edgar Renandi.
“Ular! Tidak seharusnya aku membawamu ke rumah. Kamu sama bangsatnya dengan papamu. Ditolong, malah balas menggigit!” desisnya.
“Siapa ularnya, kamu pasti lebih tahu! Mengaku teman. Datang seolah jadi penyelamat, tapi kemudian terus mengungkit untuk menekan kami sekeluarga. Apa sebenarnya yang kamu sembunyikan dari kami, sialan?!” cecar Kirana penuh selidik.
“Tidak ada! Hanya orang picik dan tidak tahu terima kasih sepertimu, yang membalas kebaikan orang dengan cara sehina ini!” ucap Edgar mendelik.
“Ini apa?!” Mia geram membaca kertas cerai yang tadi Kirana buang. “Setaann! Kalian benar-benar mau menendang Kirana, tanpa sudi memberikan bagian haknya!”
Jonas mengambil kertas itu. Mendecih jijik menatap Reno yang tertatih menjauh dipapah mamanya.
“Aku pastikan, Kirana akan cerai dan mendapatkan semua bagiannya! Coba saja bermain kotor, kalau kalian berani! Aku akan bongkar dan permalukan kalian semua. Terutama kamu, orang tuamu, dan Purewell!” Jonas menuding Lusi.
“Kita lihat, apakah para pemegang saham akan sudi mempertaruhkan perusahaan, karena kena imbas perselingkuhan memalukan kalian!”
“Jangan bawa-bawa perusahaan, sialan!” bentak Lusi panik. Papanya bakal mengamuk, kalau sampai skandalnya menyeret nama Purewell.
“Anak boss yang juga manajer di perusahaan, main gila dengan bawahannya di kantor sampai hamil. Bagaimana bisa ini tidak ada kaitannya dengan perusahaan kalian, ha?!” Jonas terkekeh meraih tangan Kirana mundur.
“Bereskan barang-barangmu, biar dibantu Mia! Aku tunggu di sini.”
“Mereka sudah melempar keluar semua punyaku!” Kirana menunjuk ke tumpukan plastik hitam di sana.
Mia dan Jonas menoleh. Menatap nanar barang-barang Kirana yang lancang diperlakukan seperti sampah.
“Kurang ajar! Kalian benar-benar binatang! Tiga tahun Kirana jadi menantu di rumah ini, tapi kalian perlakukan seperti sampah!” teriak Mia marah.
“Dia memang sampah kok! Perempuan mandul yang tidak berguna, hanya mengotori rumah kami!” sahut Nadin.
“Mandul?! Kirana mandul, katamu! Abangmu saja impoten, kok ngarep istrinya hamil. Tanya ke orangnya situ, kuat berdiri semenit nggak tuh empritnya yang jompo?! Aku kalau punya suami tidak berguna kayak dia, sudah aku jual ke pasar loak!” cemooh Mia ke Reno yang mukanya seperti terbakar.
“Mulut sialan!”
“Faktanya kamu memang letoy, kan! Sok iya banget bisa selingkuh sama rubah. Tes DNA dulu sana! Dia kalau tidak ada maunya, mana sudi ke cong kayak kamu!”
Braakk
Reno mengamuk menendang meja di depannya. Mia ngakak berhasil membuat dia tantrum, karena aibnya dikuliti di depan banyak orang.
“Ayo, pergi! Barangnya biar aku yang pindahin ke mobil!” ajak Jonas.
Kirana kembali menatap mereka satu persatu. Reno tampak dendam bukan kepalang. Dia seperti tidak mengenali lagi istrinya. Kirana yang biasa diam, mengalah, dan lebih banyak menurut. Sekarang jadi beringas dan kasar. Bagaimana bisa perempuan yang selama ini selalu tenang, bahkan membuatnya babak belur begini. Kirana yang berubah, atau dia yang sejak awal tidak benar-benar mengenali sifat asli istrinya?!
“Aku akan mengurus gugatan. Bukti ada. Semakin kamu berulah mau menjatuhkanku, semakin banyak aib kalian yang akan aku sebar! Jangan menantangku dengan cara kotor, karena aku kejam kalau soal membalas! Camkan itu!”
Mereka malah menertawakan peringatan Kirana. Lusi mengelus perutnya. Masih pongah pamer kehamilannya.
“Terima kasih sudah menyingkirkan sampah tidak berguna itu dari hidupku! Nanti aku akan kirim mainan buat teman kamu saat menggatal, biar tidak ngenes-ngenes banget punya selingkuhan tapi tidak berguna! Anak itu ….” Kirana menunjuk ke perut Lusi.
“Menurutmu kalau lahir kira-kira dia mirip siapa? Aku tahu rumah sakit bagus buat tes DNA. Kalau kalian minat, jangan sungkan menghubungi aku!”
Kirana melangkah keluar dengan tawa puasnya. Dia tidak kalah. Permainan ini baru saja dimulai, dan dia yang memegang kendali.