Meski pernikahannya tak sehangat impian, tapi sejauh ini Kirana masih bertahan. Dia pikir, kehadiran anak bisa jadi solusi memperbaiki renggang hubungannya dengan Reno, sekaligus membungkam ocehan pedas mertuanya. Karena itulah diam-diam Kirana menjalani program bayi tabung, menggunakan s****a Reno yang dibekukan dari setahun lalu. Bukan hanya keluar ratusan juta dari tabungan pribadinya. Kirana juga harus bolak-balik ke rumah sakit sendirian. Menerima puluhan suntikan dan mati-matian menjaga kewarasan supaya tidak stres, demi perjuangannya bisa hamil.
Sayangnya program pertama gagal. Tak menyerah, dia kemudian mencobanya lagi. Bosnya dan Mia yang paling tahu seterjal apa hidupnya, sampai gedek mengatai bego. Orang-orang seperti keluarga Renandi, terlebih Reno yang egois sama sekali tidak pantas Kirana usahakan sampai segitunya.
“Om Manaf katanya mau nyusul Tante Rin? Jadi?” Kirana tersenyum geli ke pria paruh baya di depannya itu.
Dia Manaf Alkaezar. Boss besar Capital Grup, sekaligus papa Jonas dan Mia. Pria ramah yang sejak dulu selalu memperlakukan Kirana seperti anak sendiri. Tadi selesai menemani Jonas meeting di kantor papanya, dia diajak makan siang bersama.
“Nggak jadi, Kir! Tantemu bilang lusa pulang.” Keriput di dahi Manaf Alkaezar makin jelas saat terkekeh begitu.
“Baru juga ditinggal seminggu, sudah kelabakan! Kasihan mama di rumah juga kesepian ditinggal Papa kerja terus!” protes Mia melirik papanya.
“Kalau gitu tanya abangmu, kapan mau balik ke Capital?! Papa juga sudah capek, mau pensiun.”
Jonas masih anteng mengunyah makanannya. Bukan tidak mau, tapi ada seseorang yang ingin dia boyong lanjut jadi tangan kanannya di Capital. Hanya saja pembicaraan dengan papanya semalam tentang hal ini, belum mencapai titik temu.
“Baru ini nemu orang yang justru menolak dijadikan boss besar. Situ waras?!” ledek Kirana blas tidak ada sungkannya ke pak bos.
“Karena tanggung jawabnya juga berat. Kecuali kalau kamu mau ikut aku boyongan ke Capital. Tak apa kapanpun aku harus menggantikan papa,” lontar Jonas.
Mengira bercanda, Kirana malah tertawa mengaduk makanan yang nyaris tak tersentuh. Perutnya begah. Beberapa hari mual dan kliyengan.
“Kayak kucing saja, boyongan!”
“Jonas serius lho, Kin. Semalam kami membahas soal ini lagi. Ya itu, dia minta kamu tetap jadi tangan kanannya di Capital nanti.” Manaf membenarkan permintaan anaknya yang dikira guyonan oleh Kirana.
Bukan hanya Kirana yang melongo. Mia pun baru tahu soal ini. Dia jelas senang sahabatnya upgrade karir, bisa jadi salah satu orang penting di Capital.
“Terus gimana dengan Fusion, kalau Kirana juga ikut diangkut abang pergi, Pa?” Itu yang Mia bingungkan.
“Ya jadi tugasmu!” sahut Jonas.
“Gimana, Kirana? Kamu bersedia dimutasi ke Capital, lanjut jadi tangan kanannya Jonas?” tanya Manaf Alkaezar penuh harap. Masuk akal anaknya ingin menarik Kirana, karena kemampuannya tidak perlu diragukan lagi. Apalagi mereka sekarang beneran sedang butuh orang untuk posisi penting. Kirana adalah kandidat yang tepat.
Kirana meletakkan sendoknya pelan. Gugup, karena mendadak dapat tawaran tak terduga begini.
“Bukannya tidak mau. Hanya saja saya tidak yakin sanggup ditempatkan di sana, Om.”
“Itu sih namanya merendah untuk koprol, Kir! Papa sama Bang Jonas tidak akan asal memberikan kepercayaan, kalau tidak yakin dengan kemampuanmu. Aku sebenarnya ogah kamu tinggal, tapi kamu harus terima tawaran ini! Biar pada mingkem tuh mulut petasan yang suka meremehkan pekerjaan dan gajimu!” Mia berapi-api mengompori sahabatnya yang masih bingung.
Jonas dan papanya mengangguk sependapat. Gara-gara sikap angkuh Reno yang selalu menghina Jonas, Mia, Kirana, dan Fusion, berujung Manaf menolak mentah-mentah pengajuan kerjasama dari perusahaan Reno. Bukan tidak profesional, tapi buat apa memberikan makan ke piring orang yang meludah ke muka anaknya.
“Ayolah, Kirana! Ini kesempatan emas, biar mata mereka yang tidak pernah menghargaimu itu melek!” bujuk Jonas.
“Ok! Aman, selama bosnya kamu,” angguk Kirana.
“Ya jelas aman, lha kamu saja lebih galak dari bosmu!” dengus Jonas, kemudian tertawa lega tawarannya di ACC.
“Kalau begitu nanti mulai kita atur semuanya. Secepatnya kalian ambil alih tugas baru di Capital. Kursi manager produksi sudah mendapatkan calon pengganti yang akan menduduki. Ada kamu di samping Jonas, Om lebih tenang melepaskan Capital!”
“Lho …. Kok kursi manajer produksi sih, Om?! Saya kan asistennya Bang Jonas?!” Kirana terperangah kaget.
“Maksud Papa, kamu gantiin Pak Risman yang mengajukan resign karena sakit-sakitan!” jelas Jonas.
“Tapi, saya tidak yakin ….”
“Bisa! Kamu pasti sanggup, Kirana!” sahut Manaf Alkaezar. Kirana sudah hampir mewek.
“Wiihh, selamat naik jabatan! Gimana aku nanti ditinggal kamu, Bestie?” Mia menggeser kursinya, menggelendot di lengan sahabatnya.
Bergantian Kirana menatap mereka bertiga. Orang-orang baik yang tetap merangkulnya, ketika dia sekeluarga dihujat dan dihakimi karena kasus hukum mendiang papanya. Bahkan, Jonas memberinya kepercayaan penuh menjadi tangan kanan sejak Fusion baru berdiri.
“Terima kasih, Om. Sudah memberi saya kesempatan dan kepercayaan jadi bagian dari perusahaan kalian. Kalau bukan karena bantuan kalian, entah bagaimana nasib kami sekeluarga dulu. Saya pasti akan berusaha semampunya! Tidak akan mengecewakan Om Manaf dan Bang Jonas!” Kirana membungkuk dengan mata berkaca-kaca.
“Om juga kenal papamu, Kirana. Jadi yakin, dia tidak seperti yang mereka tuduhkan. Bukti bisa direkayasa oleh orang-orang kotor seperti mereka. Sangat disesalkan, sampai akhir hidupnya papamu tetap tidak mendapat keadilan. Maaf, Om tidak bisa membantu banyak, karena kasus papamu tidak sesederhana itu,” ucap Manaf masih menyisakan sesal.
“Iya, saya paham!” angguk Kirana.
“Halah … yang dulu ngaku-ngaku teman Om Yudha, nyatanya juga pret tuh! Awal-awalnya saja bapaknya Reno baik. Menjodohkan Kirana sama anaknya. Biar hubungan keluarga mereka tidak renggang setelah ditinggal Om Yudha, katanya! Belum juga setahun nikah, sudah keluar sifat aslinya. Sekeluarga busuk semua hati sama mulutnya.” Mia mencak-mencak membahas hutang budi yang secara tidak langsung selalu diungkit keluarga Reno.
Menelan ludah kasar, d**a Kirana terasa tertohok. Wajar Mia sesinis itu, karena apa yang dia ucapkan adalah fakta. Pernikahannya dengan Reno memang berawal dari perjodohan, tapi itu juga pilihannya sendiri.
“Biar bagaimanapun, dulu mertuaku yang membantu biaya pengobatan papa saat koma. Kalau sekarang sikap mereka berubah, mungkin memang ada banyak kurangku sebagai menantu tak seperti harapan mereka.”
“Idih, masih saja dibelain! Kamu belum hamil kan bukan salahmu. Sumpah ya, aku greget ingin bawa toa biar telinga mereka dengar, kecebong anaknya yang …”
“Haish!” Kirana membekap mulut sahabatnya yang terus nyerocos.
Manaf menatap iba. Dia tahu, sudah dua kali Kirana diam-diam melakukan program bayi tabung. Makanya beberapa bulan ini Jonas memberi kelonggaran. Mia juga sering menemani Kirana ke rumah sakit, atau bahkan membantu menyuntikkan hormon ke perut sahabatnya itu.
“Bagaimana program hamilmu kali ini?”
“Dokter bilang berjalan baik, Om. Besok saya ke rumah sakit untuk melihat hasil akhirnya,” jawab Kirana tanpa sadar mengelus perutnya yang mual.
“Bego! Aku kalau jadi kamu justru tidak bakal sudi punya anak. Kasihan anakmu, harus tumbuh dan jadi bagian dari keluarga toxic seperti mereka. Apa kamu yakin, Reno akan berubah setelah jadi papa? Sekeluarga sudah bobrok seakar-akarnya!” sahut Jonas nylekit bukan main.
“Jonas ….” tegur Manaf, tapi anaknya malah mendecih masa bodoh.
“Fakta! Aku mending cerai, daripada punya suami tidak berguna kayak si pecundang Reno. Istri diremehkan di depan mata, dia tidak membela. Otaknya taruh mana, tengah malam Kirana diturunkan di pinggir jalan dan ditinggal begitu saja! Heran, apa sih yang bikin kamu keblinger ke beruk impoten kayak dia?!” Mia menambah daftar panjang kebrengsekan Reno.
Seperti biasa, Kirana hanya mengulum senyum. Dia tahu sebodoh apa dirinya, tetap keras kepala bertahan di tempat dia tidak pernah dihargai. Mereka menuntut anak. Oke, Kirana mengusahakan itu sebagai harapan terakhir untuk memperbaiki semuanya.
“Mama dan adikmu apa kabar?” tanya Manaf mengalihkan obrolan. Kasihan melihat Kirana seperti tidak nyaman. Mau sebangsat apapun, Reno tetaplah suami pilihannya.
“Mama sehat, Om. Tala sibuk dengan kafenya.” Kirana meraih gelas minum. Mualnya makin menjadi-jadi.
“Ajak mereka datang, saat pesta serah terima jabatan ke Jonas dan pengangkatanmu di Capital nanti! Mamamu pasti bangga anaknya bisa sehebat kamu, Kiran.” ucap Manaf, tanpa menyinggung Reno.
“Iya, Om!” angguknya.
“Sekalian para kunyuk stres itu harus diundang. Wajib hukumnya, para penghina sialan itu melihat Bang Jonas diangkat jadi pimpinan perusahaan yang ngebet mau mereka ajak kerjasama! Kayak apa muka si Reno, tahu kamu bakal punya jabatan lebih mentereng. Gaji tak seberapa, katanya! Dia mana tahu, gajimu di Fusion saja lebih besar dari dia! Nggak sabar banget pokoknya!” Mia sudah cengar-cengir membayangkan akan seheboh apa pestanya nanti.
Entahlah, Kirana tidak tahu akan seperti apa reaksi Reno dan keluarga mertuanya nanti. Malu itu pasti. Selama ini kelewatan merendahkan Jonas dan Mia. Fusion diremehkan bisnis nggak jelas. Paling menusuk tentu saja menghina pekerjaannya yang dibilang bergaji tak seberapa. Besok ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga. Kirana akan memberitahu soal ini saat makan malam.
“Huuukkk ….” Kirana membekap mulutnya. Mereka kaget melihatnya buru-buru beranjak dari kursi, lalu keluar dari ruang VIP.
“Kiran!” seru Mia panik menyusul sahabatnya ke toilet.
Jonas dan papanya mengernyit saling lempar pandang. Isi kepalanya sudah pasti sama, mengira Kirana hamil. Percayalah, baru kali ini mereka tidak merasa ikut senang orang terdekatnya mau punya momongan! Bukan jahat. Justru kasihan ke Kirana dan nasib anaknya nanti.
Sementara Kirana melangkah lebar menuju toilet. Kepalanya kliyengan. Perutnya bergolak mual. Padahal dari pagi belum terisi apa-apa. Dia melewatkan sarapan, karena malas baru keluar kamar sudah mendengar ocehan mertuanya.
“Huuekk …”
“Kamu kenapa, Bestie?! Jangan-jangan beneran hamil!” Mia mengekor di belakang.
Kirana hanya menggeleng membekap mulutnya. Nafasnya tersengal. Namun, langkah kakinya seketika berhenti mendapati sosok tak asing yang duduk di salah satu meja bersama perempuan.
Bugh
“Argghh ….” Mia meringis memegangi hidungnya yang menabrak punggung Kirana. “Kamu kenapa tiba-tiba …. Renooo!”
Mata Mia terbelalak, tahu kenapa Kirana mendadak berhenti dan terpaku menatap meja di sana. Si beruk impoten ke istri sendiri saja dingin dan judesnya amit-amit. Giliran ke perempuan lain sok manis gitu.
“Tuh cewek anak bosnya Reno, kan?” Mia tahu, karena pernah dua kali bertemu Lusi. Di pernikahan Reno dan Kirana, lalu beberapa bulan lalu berpapasan di gerai tas. Sudah hampir dia tonjok, karena nyinyir ke Kirana mana gablek duit beli tas mahal di situ. Kan sialan mulutnya!
“Hm,” angguk Kirana merogoh ponselnya.
“Memangnya sudah nikah? Kok kayaknya dia bunting sih?! Terakhir ketemu dia perasaan nggak kembung gitu deh!” oceh Mia penasaran.
Masih menahan mual, Kirana merogoh ponsel menghubungi suaminya. Hanya ingin memastikan, apakah Reno akan menjawab jujur.
Terhubung! Pria di sana yang masih belum menyadari keberadaannya itu, malah mengabaikan ponselnya meski tahu siapa yang menelpon.
“Nggak usah telpon! Samperin saja langsung, terus guyur mukanya yang cengengesan sok manis itu! Najis banget di luar jalan bareng sama perempuan lain!” Mia gregetan melihat panggilan Kirana sengaja tidak diangkat oleh suaminya.
Sakit, tapi hebatnya Kirana bisa setenang itu. Tidak mau sembrono asal labrak, karena Lusi selain anak boss juga wakil pimpinan Purewell Grup. Wajar kalau misalnya keluar bersama Reno untuk urusan kerja. Jadi dia menghubungi suaminya sekali lagi. Muka Lusi keruh terusik ponsel Reno. Mungkin karena itu, telepon Kirana akhirnya diangkat.
“Apaan sih, berisik ngerusuhin orang kerja?!” Suara Reno ketus bukan main. Tangan satunya mencengkram sendok. Mukanya kaku, tidak sabaran ingin tahu untuk hal apa istrinya menelpon.
“Kamu dimana?” tanya Kirana serak. Matanya menatap nanar. Berharap Reno tidak berbohong.
“Kerja ya di kantor! Ada apa? Kalau bukan urusan penting, nanti kita bicarakan di rumah!”
Bibir Kirana berkedut. Gemetar tersulut amarah. Kenapa harus bohong? Atau selama ini Reno memang sudah biasa melakukannya!
“Sejak kapan kantormu pindah ke Blue Plate?!”
Mendengar itu Reno tersentak kaget. Gelagapan tolah-toleh mencari keberadaan istrinya. Sampai kemudian dia mendapati Kirana berdiri di sana. Reno pun terjengkit bangun dari kursinya. Bingung harus menjawab apa setelah ketahuan bohong!